Cantik (The Queen Of Power)

Cantik (The Queen Of Power)
Cantik (Bab II)


__ADS_3

" Ternyata di buku ini tidak terlalu dalam bahasnya" walau sangat sulit menemukan buku tentang itu, setidaknya lumayan aku dapet referensi 3 buku." Kau tau yang lebih mengherankan?" tanya kevin tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop." Apa? Fakta bahwa kamu menjadi kan 20 buku jadi referensi?" sembari ku lihat tumpukan buku didekatnya.



" Hey, aku masih normal karena yang akan ku bahas itu tentang pajak. Daripada kamu mahasiswa jurusan akuntansi, tapi memilih yang akan jadi topik makalah mu tentang smile mask syndrom" jawabnya lagi-lagi pandangan nya tetap fokus pada laptop. Aku mendengus kesel karena apa yang dikatakan nya benar juga, " biarin, kata dosen juga topiknya bebas".



Setelah itu kami masing-masing tenggelam dengan apa yang kami kerjakan. Memang aku anak akuntansi, tapi ini bukan jurusan yang aku mau. Karena jurusan yang aku mau itu psikologi. karena jurusan psikologi sangat mahal jadi keputuskan untuk melanjutkan jurusan SMK ku saja. Setidaknya aku memilih topik ini untuk melepas rinduku dengan dunia psikologi.



Hingga suara perut keroncongan memecah keheningan kami. Dan kulirik sumber suara itu, yaitu Kevin. Hanya saja Kevin berpura-pura tidak tahu/mendengarnya. "Kau dengar suara itu? Astaga.. jika aku jadi wanita itu aku akan malu" bisik orang yang dibelakang sambil cekikikan. Aku sangat kesel lagi-lagi aku tertuduh, namun aku gak bisa menyanggah nya karena sama saja aku mempermalukan kevin.



" Sela, ayo kita makan. Lama-lama suara perutku ini makin menjadi" ujar kevin dengan suara yang keras sembari menutup laptopnya ( sebelumnya nya ia save dulu). Dan ia segera pergi, aku pun segera menyusul nya. Kami pun menitipkan buku dan laptop di orang yang nunggu disana. Di lift kami hanya diam-diaman saja, sampai di lantai 4 tempat kantin berada.



"Kev, kamu tadi sengaja ?"kevin menghentikan makannya dan menatapku. "Lalu kamu sendiri kenapa diam aja? Udahlah lebih baik jangan bahas, lebih baik kita fokus makan saja" setelah itu ia melanjutkan makannya. Walau aku masih tidak paham, mengapa ia melakukan itu? Memang perkataan orang itu sedikit membuatku tersinggung, tapi bukankah itu sedikit berlebihan.



" Sela kamu mau nonton gak? Nanti setelah kita selesai ngerjain tugas ini." "Kayaknya enggak deh, soalnya takut kemalaman." Karena kemungkinan kami selesai jam 4, belum nanti cari bioskopnya dan waktu filmnya. Belum nanti waktu aku dijalannya pas pulangnya. Bisa-bisa aku nyampe rumah jam 9. Jika itu terjadi, orang tuaku bisa mengamuk, dan itu akan jadi mimpi burukku.



" Jangan khawatir, nanti kita ngebut aja ngerjainnya. Kamu kan ngetiknya cepat..Duuuhh..." ia mengaduh kesakitan setelah kepalanya aku jitak. "Enak benar ngomongnya, kamu pikir segampang itu apa. Ini bukan masalah mengetik, tapi masalahnya nyusun itu makalah pake bahasa inggris. Emang nya gak mikir apa!" aku benar-benar kesal dengannya yang kadang ngomongnya seenaknya.



"Yaudah kalau gitu aku bantuin, gimana?" aku terdiam sesaat karena ini sangat aneh. " Tunggu dulu, ini perasaan ku aja atau emang kamu ngebet mau nonton sama aku? " " Jangan ke pd an, aku mau nonton karena aku ingin nonton lengsir wengi yang kebetulan rilis hari ini di bioskop. Dan aku udah beli tiketnya di bioskop GI." Sebenarnya aku masih agak heran, tapi kalau dipikir emang dia maniak film horor dan aku juga maniak film horor asal tidak ada pembunuhannya.


__ADS_1


" Yaudah deh kalau gitu, ingat perkataan kamu mau bantu aku. nanti kalau selesai jam 3 kurang kita nonton" " Ok kalau begitu" sesuai perkataan nya dia bantu aku kerjain. Setelah itu kami bergegas pergi ke bioskop. Sebenarnya ada yang memalukan sih kami sampai nyasar di mall itu sampai harus nanya satpam. Karena kami kira itu eskalator ke lantai bioskop itu, saat di atas taunya ke parkiran.



Untung nya kami tidak telat, setelah kami sampai 2 menit kemudian filmnya mulai. Filmnya emang lumayan sih, sampe ada scene pembunuhan nya. Rese kenapa ada pembunuhan nya sih! Belum beberapa lama adegan itu, ada adegan motong kaki! Aku pun memalingkan mukaku. Dan tanpa sengaja muka kami bertemu, kami saling menatap lumayan lama.



Aaaarrghh..kami terkejut dengan suara teriakan yang di depan kami. Lalu aku kembali fokus menonton filmnya. "Kev, tadi kamu kenapa natap aku?" kevin terkejut dengan pertanyaan ku. "Enggak kok, tadi saya lagi malingin muka karena adegan tadi. Makanya tadi kebetulan kamu juga." "Ooohh..gitu" aku baru tau kalau dia gak kuat juga adegan pembunuhan. Ternyata ia sama sepertiku, hanya kuat sama hantunya aja.



Kevin mengantar ku pulang, selama perjalanan kami membicarakan film tadi. Memang agak menyeramkan, hanya saja kami kurang puas dengan film itu. Karena ending filmnya berakhir seperti itu aja, tidak ada pembahasan lebih ini lagi bagaimana mayat yang dibunuh hantu itu ? Lalu apakah keluarga dari yang dibunuh itu gak nyari? Dan juga dibilang gantung juga bukan.



" Oh ya btw, kamu mau makan gak?", "Kayaknya mau deh kev" sebenarnya aku bingung juga mau makan atau enggak."Mau makan dimana"tanyanya. "Hhmm..gimana kalau ke ropang gabut?" itu tempat makan favorit ku. Itu ropang modern hampir seperti restoran, tapi menu nya seperti pada umumnya ropang. Seperti mi rebus/goreng, roti bakar, pisang bakar, dan lain sebagainya. Aku suka tempat itu harganya terjangkau, dan makanan nya lumayan enak gak bikin kecewa.



"Kayaknya kamu gak jauh-jauh dari itu makanannya, yaudah kita kesitu." "Tapi kev aku ada satu syarat, untuk makanan ini aku yang bayar" karena aku gak enak tadi dia bayar tiket bioskop nya. "Permintaan ditolak, harga diri saya bisa jatuh kalau ditraktir cewek." jawabnya sedikit ketus. Selama perjalanan ke ropang gabut, kita debat siapa yang akan bayar makanannya. Karena tidak ujung nya sesampai disana kami suit untuk siapa yang bayar, dan ternyata yang menang suit kevin.




Setelah makan, Kevin mengantar ku pulang, tapi hanya sampe 200 meter jarak rumah. Karena aku gak mau keluarga ku salah paham. Aku ini memang agak intorvert makanya belum ada temanku yang aku ajak main ke rumah. Oleh karena itu bisa terjadi salah paham besar, kalau keluarga ku sampai lihat kevin mengantar ku. Ditambah aku sampe rumah jam 19.00, untungnya hari ini tidak yang mengomel.



"Segarnya udah mandi" setelah mengering kan rambutku. Aku rebahan dikasurku, "hari ini lumayan juga ya". Mengerjakan tugas, menonton film dan makan bersama kevin membuatku lumayan senang. Karena biasanya di hari minggu, biasanya aku mendekam dikamar. Menunggu hari berlalu, kadang omelan orang tuaku terdengar. Tapi karena kevin hari ini terasa berbeda.



Setelah hari minggu berakhir, dimulai lagi rutinitas sehari-hari ku. Kerja, lalu setelah itu kuliah. Untung nya semester ini, matkul yang aku terima ada 9. Senin-jumat jam 18.00 kuliah satu matkul, Sabtu pukul 13.00 ngampus 4 matkul. Hingga hari sabtu matkul terakhir, tugas yang aku kerjakan (dengan bantuan kevin) untungnya mendapat nilai a. Akhirnya terbayar juga otakku yang terkuras ini, materi yang kubawa menarik perhatian dosen. Dia heran karena aku anak ekonomi, membawa topik psikologi bukan hal yang berkaitan dengan akuntansi.

__ADS_1



"Baiklah matkul hari ini sampai disini, dan Rosela bisa kamu temui saya" aku terkejut dipanggil oleh dosen." Baik pak" lalu dosen itu keluar ruangan. Setelah membereskan barang-barang ku, aku segera menemui dosen itu. "Maaf pak ada apa ya?" tanyaku hati-hati. Aku bertanya-tanya apakah aku melakukan kesalahan? Atau dosen itu curiga aku menerima sedikit bantuan dari kevin? Dosen itu menatap ku lekat semakin membuat ku tegang.



"Rosella apakah kamu menyukai psikologi?" "Iya pak, saya sangat menyukai psikologi" jawabku, aku sedikit bingung mengapa dosen itu menanyai itu. " Jadi begini sebenarnya bapak kasih tugas ini bukan untuk pertama kali. Bukankah waktu itu bapak pernah kasih tugas ini?" tanya dosen itu. " Iya pak waktu itu pernah bapak kasih tugas bikin makalah pake bahasa inggris, cuma tema waktu itu bapak nyuruh temanya akuntansi. Bukan bebas kayak yang bapak kasih tugas kemarin" jawabku dengan hati-hati.



Dosen itu terdiam sebentar, " sebenarnya bapak merhatiin kamu dalam tugas makalah ini. Dan perbedaan nya lumayan besar, karena makalah sebelum nya yang tema akuntansi kamu hanya seperti ngasal. Tidak ada niat dalam mengerjakan, tapi saat bapak kasih temanya bebas. Makalah yang kamu kerjakan sangat detail, bahkan kamu bisa lancar menjawab pertanyaan bapak." Aku terdiam mendengar nya, memang aku akuin memang seperti itu.



"Sekarang bapak tanya, mengapa kamu milih jurusan akuntansi? Tidak, milih psikologi?" tanyanya, aku sempat terdiam lagi. Aku agak ragu menjawabnya, "Sebenarnya saya terpaksa pak. Saya milih akuntansi karena jurusan psikologi membutuhkan biaya lebih besar dibandingkan akuntansi. Apalagi kelas karyawan nya, dan juga saya meneruskan jurusan SMK saya pak." dosen itu terdiam dengan jawaban saya.



" Nak, kamu tau segala yang dipaksakan tidak akan berakhir baik atau berjalan baik? Memang bisa berjalan atau berakhir dengan baik, tapi persentasenya itu hanya 20%. Jadi sebelum itu memburuk, bapak sarankan kamu hentikan. Kamu berhenti saja, dan kamu tabung uang nya untuk jurusan yang kamu mau." aku tau perkataan dosen itu benar benar tulus mengatakan itu kepada ku. Hanya saja aku tidak bisa berhenti sekarang.



Bisa-bisa aku diremehkan adekku karena dia lebih duluan lulus. "Maaf pak, aku tau bapak tulus mengatakan itu. Tapi saya tidak bisa berhenti pak, saya akan mencoba nya pak walau itu 20%. Maaf pak saya tidak bisa mengatakan alasannya." dosen itu hanya menghela nafas mendengar jawaban ku. " Kalau gitu bapak doakan agar kamu bisa bertahan dan kuat melaluinya, sekarang kau boleh pergi" aku hanya diam lalu memberi salam.



Sekarang perasaanku berkecamuk, aku masih mengingat apa yang dikatakan dosen tadi. Baru kali ini dari sekian banyak dosen, ada yang benar-benar memperhatikan ku. Aku memang sesak dengan jurusan dan pekerjaan ku ini. Ada kalanya aku ingin menyerah, semua ini benar benar melelahkan untukku. Tapi aku lebih lelah dan sesak menghadapi keluarga ku. Aku gak tau apa yang terjadi jika aku tidak kuliah, dan aku sangat takut membayangkannya.



Dan kulihat dihadapan ku, Kevin sedang bersama Kirana. Mereka bersenda gurau, entah mengapa perasaan ku semakin gak enak. Seperti ada sesuatu yang membara, aku memutuskan memilih jalan keluar lain. Tidak, ngapain aku menghindar, aku kan gak ada hubungan apa apa dengan kevin. Lagipula Kirana itu sangat berbeda denganku, bagaikan bumi dan langit. Jika dilihat mereka sangat serasi, kevin yang lumayan tampan dengan kirana yang cantik. Mereka bagaikan pemeran utama dalam sebuah cerita.



" Pak David!!! " suara teriakan dari ruang dosen mengejutkanku. Pak david adalah dosen bahasa inggris yang berbicara denganku tadi. Segera ku hampiri ruang dosen, dan disana orang tersedu-sedu. Dan yang kulihat membuat ku sangat shock, orang yang tadi masih berbicara denganku. Sudah berbaring kaku, mukanya ditutupi sapu tangan putih.

__ADS_1


Seketika ruangan dipenuhi mahasiswa/mahasiswi untuk melihat apa yang terjadi.


Tentu saja sepertiku banyak yang shock atas kejadian ini. Badanku menjadi lemas seketika, dan seseorang menahan badanku. Dan ternyata itu kevin, ia segera membawaku keluar. Terdengar beberapa suara tangisan, dan itu tanpa sadar membuat air mataku keluar. Mengapa ini terjadi ? Bagaimana bisa seorang dosen yang tadi masih berbicara dengan ku sudsh tidak ada di dunia ini.


__ADS_2