Cantik (The Queen Of Power)

Cantik (The Queen Of Power)
Cantik (Bab XIV)


__ADS_3

"Little berry coba lihat apa yang kakak bawa" kata kakak menunjukkan bungkusan ditangannya. "Apa itu kak?" tanyaku, kakak lalu mengeluarkannya dari bungkusan dan itu adalah buah persik. "Terimakasih kak" kataku, "Iya sama-sama. Kamu cepat sembuh ya adikku" kata kakak tersenyum. Ya benar esoknya aku jatuh sakit karena asam lambung ku kambuh sangat parah. Aku terus-terusan muntah, kakak yang masuk ke kamarku terkejut menemukan diriku lemas dikasur. Kakak yang sudah panik segera membawaku ke rumah sakit, dan diagnosa nya adalah asam lambung ku udah kronis. Sebenarnya aku masih mau masuk kerja, tapi kakak melarang ku. Akhirnya sekarang aku dirawat di rumah sakit, tentu saja itu mau kakak. Dan ini sudah hari ke 2, asam lambung ku belum baikan juga. Aku tidak diperbolehkan memegang hp oleh kakak, karena aku harus istirahat total.


"Kakak aku mau pulang" kataku dengan nada memelas. "Tidak adikku tersayang, asam lambung kamu sudah kronis masih kambuh kan. Jadi kalau udah gak kambuh dan sudah agak pulih baru boleh pulang." aku cemberut mendengar nya. "Oh ya nanti vika dan hans akan menjenguk mu. Begitu juga dengan teman mu yang bernama navier dan wina. Sebenarnya banyak yang ingin menjenguk mu, tapi orang tertentu saja kakak perbolehkan." jelas kakak. "Mereka akan bersamaan datengnya kak?" tanyaku. "Enggak, wina akan datang jam makan siang. Navier akan datang saat sore, sementara vika dan hans akan datang malam." jelas kakakku. "Kakak tidak kerja?" tanyaku, "kakak ambil cuti seminggu untuk menjaga mu" jawab kakak. "Apa gak masalah kak? tanyaku. "Tentu saja" jawab kakak, entah lah wajahnya tidak begitu meyakinkan.


"Haloooo.. jennie datang" aku terkejut dengan kedatangan jennie. "Apa kau mengenal wanita itu?" tanya kakak, "Itu adik kak hans" jawabku. "Kak?" tanya kakak dengan heran, "aku baru mengetahui nya dia lebih tua dari kita" jelasku. "Aku dengar kamu sakit jadi aku jenguk, dan liat taraaa.." kata jennie menunjukkan apa yang dibawa dengan ceria. Lalu ia mengeluarkan isinya yaitu madu, beberapa buah dan biskuit. "Kak jennie bukankah ini terlalu banyak?" tanyaku. "Jangan panggil kak, panggil jennie saja" kata jennie. "Tapi kan kakak lebih tua" kataku. "Cuma beda setahun doang" kata jennie. "Hans dia tidak jadi datang?" tanya kakak, "jadi, cuma aku diam-diam melihat rumah sakit rosella berada di hp kakak. Ia tidak membiarkan ku menjenguk rosella" jelas jennie dengan cemberut.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pintu terbuka, itu adalah hans. "Jennie sudah kubilang jangan, nanti kamu malah ribetin orang" kata hans. "Siapa yang mau ribetin, orang mau ngejenguk" kata jennie. Lalu kami menyadari maksud hans, sepanjang berbicara ia membicarakan hans. Sebenarnya tidak masalah sih ia membicarakan hans, cuma masalahnya Jennie berbicara nonstop tanpa titik koma. "Hey.. emangnya ia sebawel ini?" bisik kakak. "Saat waktu itu pertama bertemu dia gak sebawel ini kak" bisik ku. "Sudahlah jennie, kakakmu bukan barang. Jadi berhenti membicarakan tentang kakak" kata hans. "Memang kenapa? Siapa suruh jomblo akut. Rosella apa kamu mau sama kakak ku?" kata jennie. "Jennie" aku pertama kali mendengar hans setegas ini. Jennie pun akhirnya tenang, "maafkan aku karena ke bawelan adikku ini" kata hans. "Gak apa apa kok kak hans" kataku.


"Jangan panggil kak, itu jadi sangat kaku" kata hans. "Tapi kamu lebih tua dari ku" kataku, "panggil senyamanmu saja " kata hans. "Baiklah" kataku, habis itu kami diam karena tidak ada pembicaraan. " Hans aku titip adekku ya, aku ada janji dengan adik bungsu ku." kata kakak. "Katanya kakak mau jaga aku." kataku, "ya maaf soalnya adik bungsu kita kan kakak baru ketemu kan. Biar adil akrabnya gak berat ke kamu doang" kata kakak mengusap rambut ku. "Yaudah hans titip ya" kata kakak lalu pergi. "Bagaimana keadaan mu? Apa masih sakit? atau udah mendingan?" tanya hans. "Sekarang sudah agak mendingan" jawabku. "Kakak aku mau ngomong" kata jennie dengan nada memelas. "Yaudah, asal jangan berlebihan ngomong nya" kata hans. "Baik kak" jawab jennie dengan ceria. "Oh ya rosella sebenarnya aku ada mau bicarakan" kata jennie dengan wajah serius.


" Apa itu?" tanyaku, "kamu mau jadi model agensi ku" pertanyaan jennie membuat ku terkejut. "Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk menawarkan itu" kata hans. " Ya aku tau kak, cuma aku gak sabar bawa rosella masuk ke agensi ku" kata jennie. "Tunggu apa kamu gak salah orang? Orang seperti ku tidak pantas untuk menjadi model." kataku. "Siapa bilang? Kamu pantes kok, cuma kamu itu seperti batu berlian yang belum di olah." kata jennie. "Bukankah itu berlebihan menggambarkan diriku" kataku. Jennie menggeleng kan kepalanya, "tidak, itulah yang sekarang aku lihat. Kamu tau agensi Starlight?" tanya jennie. "Tentu saja tau, itu kan agensi kirana berada" kataku. " Agensi itu merupakan pesaing kami, mereka memiliki dua model yang sedang naik daun sekarang. Aku membutuhkan mu agar agensi kami bisa bersaing." jelas jennie.

__ADS_1


Bagaimana seorang CEO bisa ada disini, bukankah harusnya sangat sibuk? Apalagi itu adalah agensi elit, entah kenapa aku merasa tidak enak karena tadi menolak nya. "Kamu jangan merasa gak enak, aku tadi sengaja tidak menyebutkan agensiku agar kamu menentukan nya sesuai keinginan mu" jelas jennie. "Sudahlah jangan bahas itu lagi, kita bicarakan hal lain aja" kata hans. Setelah itu kami pun berbincang-bincang, jennie kadang melontarkan lelucon. Kehadiran mereka disini membuat ku lupa sedang sakit. Saat makan siang wina pun datang menjenguk ku, ia langsung memeluk ku. "Bagaimana bisa kamu jadi kayak gini? Awas saja kevin kalau ketemu kamu bakal habis." sepertinya wina sudah mendengar dari kakak apa yang terjadi.


Lalu wina tanpa sengaja melihat hans, " wina perkenalkan ini hans dan disebelah adiknya namanya jennie." kataku memperkenalkan mereka. "Hhhmm.. boleh juga, kamu sama rosella sedang pdkt?" aku terkejut mendengar pertanyaan wina. "Bukan wina, dia itu temanku" kataku, "kasihan kena friendzone" kata wina. "Kamu mau aku jitak ya?" tanyaku dengan kesal, wina hanya senyum. Lalu kami pun berbincang, 15 menit kemudian ia pamit karena jam makan siang nya mau habis. Jam setengah 6 navier datang menjenguk ku dan pulang jam 7 malam. "Teman-teman kamu sangat baik ya" kata jennie, "iya" kataku. "Kalian tidak makan?" tanyaku, karena mereka sudah lama disini. " Ini lagi pesan makanan, kita makan bareng yuk" kata jennie.


"Emang boleh bawa makanan masuk" tanyaku, " entahlah" kata jennie. Kami pun mendengar suara ribut diluar, dan aku mengenal suara itu. "Sedang apa orang itu kemari coba" gerutu jennie. "Sudah kubilang jangan pernah menemui rosella" itu suara kakak. "Kumohon izinkan aku bertemu dengannya. Saya sangat menyesal, kumohon berikan aku kesempatan lagi" mohon kevin. Aku mendengar nya hanya bisa terdiam, perasaanku mulai bergejolak. " Kamu sendiri yang udah nyia-nyia in kesempatan terakhir." kata vika dengan dingin. " Kumohon berikan kesempatan sekali lagi" mohon kevin. "Gak ada kesempatan lagi" kata kakak. Aku mengepalkan tangan mendengar pembicaraan mereka. Kevin terus memohon walau kakak dan vika sudah mencacinya.

__ADS_1


Aku tidak ingin mendengar pembicaraan mereka , aku gak mau. Aku berusaha menutup kuping ku sekeras mungkin agar tidak bisa mendengar nya. Namun percuma, karena masih terdengar. Telinga ku menjadi agak sakit karena aku menekan nya terlalu keras. Lalu sebuah tangan menghentikan nya, itu hans melepaskan kedua tangan ku. Lalu memasang kan headphone, dan memutar lagu. Hans tersenyum menenangkan ku, setelah itu ia keluar. Jennie yang masih disampingku merangkul menenangkan ku. Entah kenapa kepalaku terasa pusing, padanganku mulai kabur. Aku melepaskan headphone nya, dan masih terdengar suara kevin masih disana. "Tolong panggilin kakak, mataku terasa berat. Perutku sakit, nafasku mulai sesak." kataku.


"Baiklah tunggu" kata jennie, kemudian kakak masuk menghampiri ku. "Kenapa? Asam lambung mu naik lagi?" tanya kakak, aku mengangguk mengiyakan. "Kevin!!" aku dan terkejut mendengar bentakan hans untuk pertama kali. "Apa kamu mementingkan egomu dibandingkan keadaan rosella?Jika ingin bertemu dengannya jangan saat ia sakit, tapi saat dia sehat. Jika kau tetap memaksa nya, aku sendiri yang akan menghabisi mu kalau keadaan nya semakin parah." entah kenapa air mataku mengalir mendengar perkataan hans. "Sakit banget ya?" aku mengangguk mengiyakan, kakak semakin panik saat badanku semakin lemas. "Vika panggilkan dokter cepat!!"teriak kakak. Badanku tidak kuat lagi, akhirnya kehilangan kesadaran. Jadi ini rasanya pingsan, walau sudah kedua kalinya tapi ini masih terasa baru untuk ku.


__ADS_2