
Aku sangat terkejut dengan perilaku kirana, bisa kurasakan tangannya bergetar saat memelukku. Terlebih lagi dengan respon nya yang sangat aneh, ia terlihat ketakutan. Setelah mengetahui jejak terakhir pelaku adalah tempat tinggalnya kak dimas, kami pun mencurigai nya. Apalagi di kampus tidak ada yang tidak tau kalau kak dimas juga merupakan teman dekat kirana.
Flashback
“Apakah ini jangan-jangan ulah kirana?” tanya kak dave. “Tidak. kita tidak bisa mencurigai kirana hanya karena ini” jawabku. Walau sebenarnya aku mencurigai nya, hanya saja firasatku mengatakan bukan dia. “Lalu apa yang mau kita lakukan? Apakah menyerahkan ini ke polisi?”tanya kak dave. “Jangan, apa yang kita lakukan ini adalah tindakan ilegal. Bukannya kita bisa menangkap pelaku, malah kita yang akan dapat masalah”jelas hans. Semua terdiam untuk memikirkan apa selanjutnya yang harus dilakukan.
Aku pun memutuskan untuk menemui kirana, “kak boleh minta no kirana?” tanya ku. “Buat apa?” tanya balik kak dave, “aku ingin menemui nya” jawabku. “Jangan itu berbahaya, bisa saja dia pelakunya” kata kak dave. “Tapi kak firasatku mengatakan aku harus bertemu dengan dia. Aku merasa ada sesuatu yang janggal, dan mungkin saja ada petunjuk saat bertemu dengannya.”jelasku. Kak dave tidak menyetujuinya, kami pun berdebat sangat lama. Aku tidak tau kenapa pikiranku tertuju pada kirana, ada sebuah perasaan gelisah jika aku tidak menemuinya.
Ditengah perdebatan kami, terlihat hans memegangi kepalanya seperti kesakitan.”Hans ada apa? Kamu sakit” tanya ku dengan khawatir. “Tidak apa-apa, hanya kelelahan” jawab hans. “Ah, maaf aku lupa kamu semalaman tidak tidur.”kata kak dave merasa bersalah. Kami pun menyudahi debat kami dan memutuskan untuk beristirahat. Tentu saja aku hanya berpura-pura, saat aku yakin mereka benar-benar beristirahat aku pun segera mencari no kirana lalu diam-diam pergi keluar.
Flashback end
__ADS_1
Kirana melepaskan pelukannya, “maaf”katanya lalu segera pergi. Aku menatap kepergiannya dengan bingung, semakin kurasakan perasaan yang mengganjal seperti ada yang salah.
떨려오는 별빛 반짝이는데.넌 어디를 보고 있는지.금방이라도 사라질 것 같은데
Terdengar dering lagu time for the moon night gfriend, ku ambil hp terpampang no dengan nama “Kak Romi”. haaah..sepertinya sudah terbayang omelannya, aku pun memutuskan untuk tidak menghiraukan panggilannya dan segera pulang. Sesampainya dirumah, terlihat kakakku yang sudah berdiri di depan pintu begitu aku masuk melipat tangannya dengan tatapan kesal.” Bagus ya sudah pergi diam-diam, gak angkat teleponnya lagi” aku hanya bisa cengengesan mendengarnya. “Kamu pergi menemui kirana?” tanya kak dave. “Iya”, mendengar jawabanku kak romi menjentikkan dahiku. Aku pun mengusap-usapkan dahiku sambil menatapnya dengan kesal.
“Bagaimana hasilnya” tanya hans yang baru saja keluar dari kamarnya, wajahnya terlihat tidak terlalu baik. “ Kamu baik-baik saja? Wajahmu masih terlihat pucat” tanya ku khawatir. “Sekarang sudah lebih baik kok, hanya saja tadi bermimpi buruk”jawab hans, “hey anak nakal kamu belum menjawab pertanyaan hans tadi, bagaimana dengan hasilnya tadi kamu bertemu dengan kirana?” kata kak romi. “Iiiisshh kakak, duduk dulu kali” gerutuku sembari ke sofa. Aku pun menceritakan semuanya, kak dave dan hans mengernyit keheranan mendengarnya.
Tidak ada di antara kami yang bisa menyimpulkan dengan perilaku kirana, kami hanya diam berpikir.
Braaakkk!! Sebuah mobil menabrak kami hingga mobil kami terpental, airbag di mobil pun mengembang. “Kau tidak apa-apa” tanya kak romi dengan lemah, mataku terbelalak melihat keadaan kak dave. Ia hanya tersenyum mencoba menenangkan ku, hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya. Aku segera mengambil hp ku mencoba menghubungi rumah sakit terdekat. Sebenarnya jarak kami dan rumah sakit terdekat sangat jauh, aku sangat tidak tenang melihat darah yang terus mengalir. Aku pun merasa mual hingga akhirnya muntah, kucoba tenangkan diriku. Sekitar setengah jam lebih kemudian datanglah ambulan, yang membuatku sedikit lega.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, kakak pun segera di operasi. Aku pun duduk dengan lemas menunggu sembari berdoa agar operasi kakak berjalan dengan lancar. “Ini minumlah” ucap pria yang memakai jaket hitam, mengulurkan cup yang berisi teh hangat. “Terimakasih” ucapku sambil mengambil minuman yang diberikannya. Aku hanya menatap pantulan wajahku di teh dengan air mata yang mengalir. Seketika aku teringat belum memberitahukan kondisi kami ke keluarga, aku pun segera menelpon papa. Namun, tidak terima begitu juga dengan mama juga adikku. “Sepertinya anda tidak usah menelepon mereka” ujar pria berjaket hitam itu, aku pun menatap tidak mengerti apa yang dimaksudnya.
“Saya dari pihak kepolisian xxxx, ingin mengabarkan kalau seluruh keluarga anda tewas dalam peristiwa kebakaran baru saja terjadi sejam yang lalu” bagaikan tersambar petir mendengar kabar tersebut. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku menolak kenyataan ini, dengan gelisah aku berkali-kali mencoba menelepon keluargaku. “Ayolah angkat! Ini gak lucu,kumohon angkat” ucapku sambil menangis, setelah sekian kali telepon ku gagal akhirnya aku hanya bisa menangis. Kenapa ini terjadi padaku? Tidak cukup kah apa yang terjadi dengan kak romi? Aku pun mulai kesulitan bernafas, hingga kehilangan kesadaran ku.
Entah berapa lama diriku pingsan, begitu tersadar aku ada di sebuah kamar inap. Di sebelahku sudah ada hans yang tertidur memegang tanganku.Aku pun merubah posisi badanku ke posisi duduk, melihat keadaan ruangan ini. Terlihat sebuah ranjang disebelahku terbaring kak romi, dengan beberapa alat yang menopang tubuhnya. Air mata ku mengalir mengingat apa yang terjadi pada seluruh keluarga. Sebuah tangan dengan lembut mengusap air mataku dengan lembut, ya itu hans sepertinya ia terbangun karena tangisanku. Hans memeluk menenangkan ku yang sedang menangis.
Setelah tenang aku pun diberitahu keadaan kakak, bahwa karena banyaknya darah yang keluar ia mengalami koma. Kak romi juga kehilangan kakinya, karena keadaannya sangat parah. Lalu untuk keluarga ku yang tewas karena kebakaran saat mereka sedang tertidur lelap. Untuk penyebab kebakaran nya yaitu korsleting listrik. Aku pun perlahan mencoba kenyataan yang pahit ini walaupun tidak mau. “Untuk yang mengurusi pemakamannya, aku dengar keluarga dari ayahmu yang akan mengurusnya. Karena melihat keadaanmu yang seperti ini, mereka pun memutuskan untuk membantumu” mendengar penjelasan hans aku pun terdiam. Keluarga papa ataupun mama aku tidak mengenalnya sama sekali, mereka sama sekali tidak pernah menceritakannya.
“Maaf” aku menatap hans dengan keheranan, aku tidak mengerti mengapa ia meminta maaf. “Maaf untuk apa ?” Tanya ku, hans hanya menatapku dengan wajah seperti merasa bersalah. “Sudahlah lupakan saja, kamu istirahat saja” ucap hans sambil mengusap kepalaku dengan lembut. Sebenarnya aku ingin meminta penjelasannya tapi badanku tidak mendukung karena masih lemas. Esoknya keadaan ku mulai membaik, hans memintaku untuk pulang beristirahat. Tentu saja aku menolak karena aku akan menjaga kak romi. Tapi hans bersikeras aku segera pulang, “Aku akan menjaga kakakmu ini jadi istirahat lah” ucap hans. Aku pun akhirnya pulang di antar oleh manajerku.
“Setelah memasuki apartemen, air mataku kembali mengalir mengingat sebelum kejadian itu kakak masih disini mengomel dan berdiskusi bertiga soal penyerang itu. Lalu saat mama, papa, kak romi dan adikku yang beberapa kali kesini mengunjungiku karena masih khawatir aku tinggal sendiri. Tangisanku kembali pecah saat mengingat itu, badanku yang tidak kuat pun terduduk lemas. Manajerku yang khawatir pun membantuku berjalan ke sofa dan menyiapkan teh hangat untuk menenangkan ku. Manajerku pun menyiapkan makanan untukku, tidak berapa lama kemudian menyajikan makanannya. “Makanlah, jagalah kesehatanmu” ucap manajerku, “baiklah terimakasih” ucapku. Aku pun segera makan untuk mengisi tenaga ku kembali, walau sebenarnya aku tidak berselera untuk makan.
__ADS_1
Ting nong..terdengar suara bell rumah yang dibunyikan. Manajerku segera ke pintu untuk melihat siapa, “katanya ini dari keluarga almarhum ayah anda” jelas johnson. “Biarkan ia masuk” kataku menyudahi makanku dan membawa piring serta gelas ku ke dapur. Lalu segera ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesai aku menghampiri tamu itu yang sudah duduk di sofa, johnson terlihat mempersiapkan sesuatu untuk tamu itu. Terlihat seorang pria yang sudah tua tapi sangat berwibawa . Aku pun mengira-ngira apakah ia adalah kakekku? Lalu aku dikejutkan seseorang disampingnya yang sangat mirip dengan ayah cuma versi muda. Siapakah pria itu?
{Terimakasih kepada kak shadow atas bantuan konsultasi tentang keadaan secara kondisi karakter}