Cantik (The Queen Of Power)

Cantik (The Queen Of Power)
Cantik (Bab XIX)


__ADS_3

" Jadi ini keluarga nya dave" kata ayah angkat kak romi. "Kami mengucapkan terimakasih karena selama ini mengurus romi" kata ayah. Lalu mereka pun berbincang-bincang. Malam ini orang tua angkat kakak menyewa hotel satu gedung untuk malam tahun baru an.Setelah 4 hari dirumah sakit akhirnya aku diperbolehkan pulang. Aku memutuskan menjadi model setelah mendengar kalau dalang sebenarnya adalah kirana. Sesuai dengan instruksi jennie, aku pun mulai merawat penampilan ku. Mulai dari badan, dengan instruktur olahraga nya hans tentu saja atas permintaan jennie. Karena katanya hans juga menguasai olahraga, bahkan ia mempunyai gym sendiri. Lalu untuk perawatan muka, jennie sendiri yang turun tangan. Jennie memintaku tinggal di salah satu apartemen nya agar bisa langsung memantau ku. Walau awalnya ditentang oleh kakak, namun jennie langsung meminta izin kepada orang tua ku. Mereka pun mengizinkan nya dengan syarat bertanggung jawab mengurus ku dan jennie menyetujui nya.


Mau tidak mau akhirnya kakak memperbolehkan dengan syarat kakak harus ikut. Tentu saja itu ditolak oleh jennie, sebagai gantinya ia memperbolehkan untuk mengunjungi ku kapan pun. Tanpa terasa waktu berlalu sampai malam tahun baru ini. Dalam malam tahun baruan ini, orang tua angkat kakak memperbolehkan mengundang siapa saja. Prioritas utama ku tentu saja aku mengundang vika dan wina, lalu aku mengundang hans dan jennie. Sedangkan kakak mengundang teman-teman terdekatnya, begitu juga dengan angela adikku. Vika aku tidak tau mengapa, ia sudah putus valentino. Padahal mereka baru saja jadian, dan kulihat mereka sangat romantis. Vika belum menceritakan apapun tentang putusnya dia dengan orang itu. Aku juga tidak bertanya kepadanya, karena aku tau betapa sedihnya vika. Walau vika terlihat baik-baik saja ceria seperti biasa, namun aku tau dia sebenarnya mencoba menutupi nya saja.


"Wah calon model kita sangat cantik ya" kata vika dengan ceria. " Iya benar, malam ini kamu kelihatan bersinar" sambung wina. Menurutku mereka berlebihan, walau badanku memang jadi agak langsing dan mukaku mulai mulus. Sebenarnya aku tidak tau kenapa, baru beberapa hari olahraga ini berat badanku turun. Memang selain aku baru pulih dari sakit, aslinya badan ku bukan gemuk banget hanya berisi saja. Jennie juga melakukan perawatan mukaku selain masker dan lulur, ia juga memperhatikan nutrisi vitamin ku dan lain sebagainya. Karena kata jennie kalau cuma luar doang di urusin percuma saja, jadi semua harus totalitas. " Kalian berlebihan" kataku, " mereka benar kok, kamu sangat cantik" kata kakak. "Tentu saja kamu cantik, tapi ini baru awalnya kamu akan lebih cantik lagi setelah satu bulan berlalu." kata jennie. Aku harap seperti itu, karena sudah banyak yang ia keluarkan untuk diriku. "Iya kamu sangat cantik" kata hans, "Terimakasih semuanya" kataku dengan malu.


Tiba-tiba terdengar sebuah alunan musik, kulihat ada beberapa yang berdansa. "Oh maaf aku lupa bilang, kalau disini ada dansa juga." kami terkejut mendengar kan kak romi. Pantas saja kakak bilang wanita dress code nya gaun dansa. Bahkan kakak membelikan gaun dansa untuk ku dan angela. Untung nya vika, wina, jennie mempunyai gaun dansa. Untuk pria dress code nya kemeja hitam."Kalau gitu, maukah kau berdansa denganku?" ajak kakak kepada ku. "Tapi kan aku gak bisa dansa kak" kataku, " Gak apa-apa kakak tuntun" kata kakak. Sebenarnya aku ragu tapi melihat pandangan kakak, akhirnya aku menuruti permintaan kakak. Dan kulihat hans juga mengajak jennie berdansa. Sepertinya ini adalah waltz, tarian ini sering dipakai berdansa. Aku mencoba mengikuti gerakan kakak, walau sebenarnya masih agak kaku dan beberapa kali menginjak kakinya. "Kau berdansa dengan baik" kata kakak. "Baik gimana, udah berapa kali aku nginjak kakak" kakak hanya cengengesan mendengar nya.


"Hhhmm.. emang orang tua angkat kakak suka waltz ya?"tanyaku. "Iya mereka suka, dulu mereka pertama kali bertemu di klub tari. Mereka suka sekali menari terutama waltz dan salsa." jelas kakakku. "Astaga..maaf" kataku setelah merasa aku menginjak kaki kakak. "Kau tau namanya ya, biasanya pada kurang tau jenisnya. Yang mereka tau hanya dansa doang atau dansa kerajaan dan lainnya." kata kakak. "Tentu saja aku tau kak" kataku tanpa menjelaskan lebih ini lagi. Sebenarnya selain menulis, aku sangat menyukai tarian. Tentu saja jenisnya aku tahu lumayan banyak. Dan dansa kami pun berakhir, kami pun kembali ke kawananku. "Kalian berdansa dengan baik" puji vika. "Baik gimana, aku kebanyakan menginjak kaki kakak" kataku dengan cemberut. "Benarkah? tapi yang kulihat enggak kayak gitu kok." kata wina.

__ADS_1


"Sepertinya lagu akan diputar lagi" kata kakak. Dan kulihat dua pria menghampiri kami, ternyata teman kakak. "Perkenalkan ini teman ku, yang ini alex dan yang di samping danny" kata kakak memperkenalkan mereka, kami pun menyalami mereka. "Kalau berkenan maukah nona ini berdansa denganku?" ajak alex ke jennie, dan ia menerimanya. "Nona mau berdansa denganku?" ajak danny kepada wina. "Aku tidak pandai berdansa" kata wina, "Tidak apa-apa" kata pria itu akhirnya wina menerima nya. "Kalau begitu maukah kau berdansa denganku nona vika?" ajak kakak. "Jangan konyol kak dave" kata vika dengan ketus, "bagaimana kamu terima atau enggak?" kata kakak. "Baiklah karena aku berbaik hati, aku terima" kata vika, "baiklah terimakasih atas kebaikan hatimu" kata kakak dengan kesal. Aku tersenyum geli melihat tingkah mereka. Entah kenapa aku merasa ada chemistry antara kakak dan sahabat ku vika.


"Rosella maukah kau berdansa denganku?" ajak hans. "Gak apa-apa nih? Kamu kan tau tadi aku menginjak kaki kakak" hans tersenyum mendengar ku. "Aku akan membuatmu tidak bisa menginjak kaki ku" kata hans. "Baiklah"terima ku, lalu kami pun ke lantai dansa. Saat dansa dimulai, aku terkejut sesuai dengan kata hans aku tidak menginjak kakinya. "Sudah kubilang kan aku tidak akan membiarkan kakimu menginjak ku" aku tersenyum mendengar perkataan hans. "Sepertinya kamu sangat menguasai waltz ya" kataku. "Tentu saja, aku mempelajari nya dengan jennie" kata hans. "Kau ahli dalam menulis, komputer hardware & software, 5 bahasa negara, olahraga juga, dan sekarang waltz. Aku sangat penasaran apalagi yang kau kuasai" kataku. "Aku juga menguasai tango, cha-cha, salsa, modern dance dan lain sebagainya" aku terkejut mendengar nya, banyak sekali yang ia kuasai.Aku tidak tau sebutan apa untuk nya, mungkin jenius saja tidak cukup.


"Wow..aku kehabisan kata-kata" kataku. " Lalu bagaimana dengan mu? Di antara semua tarian kamu sangat menyukai yang mana?" tanya hans. "Mungkin tango, karena gerakannya yang lumayan rumit. Namun sangat indah, aku melihat nya sangat kagum." kataku. "Mungkin kamu tau lagu tango ini" kata hans lalu memberi tahuku sebuah nada yang familiar untuk ku. "Tentu saja aku tau, aku menonton video tarian itu. Dan sangat menakjubkan" kataku sambil mengingat tarian tango yang pernah aku tonton. "Kalau begitu apa kamu mau menarikannya?" tanya hans. "Apa? " tanyaku dengan terkejut, pas sekali dansa kami selesai. Aku yang masih kebingungan dibawa hans menghampiri kakakku. "Dave jika kau mengizinkan, apakah kami boleh diperbolehkan menari tango?" tanya hans. " Tunggu bentar hans, tapi aku belum bisa" kataku. "Yang lagunya yang mana?" tanya kakak, hans menyebutkan judul nya.


"Baiklah aku akan tanya dulu dengan orang tua angkat ku" kata kakak lalu pergi. "Tunggu kak.." aku benar-benar panik, karena aku belum mencobanya. "Tenang saja, aku yakin kamu bisa" kata hans menenangkan, sementara yang lainnya menyemangati aku. Lalu aku mendengar petikan gitar, itu adalah awalan lagunya. Kulihat orang-orang memberi kami ruang, hans menuntunku ke lantai dansa. Aku menenangkan diriku dan mencoba mengingat tarian nya. Saat mulai aku mencoba gerakan kakinya, lalu berputar dua kali dan menghadap hans. Tangannya merangkul pinggang ku, membawa memutar badanku dengan kakiku yang kutahan sebelah. Lalu gerakan kakiku, setelah itu memutar ku dan gerakan menopang badanku. Saat ada kata sotas dan closer, disitu beat tango sesungguhnya dimulai.


"Luar biasa sekali" kata kakak yang menghampiri ku. "Ayo jujur, kalian pernah latihan kan?" tanya jennie. "Enggak, ini pertama kalinya untuk ku" kataku. "Benarkah? Itu sangat luar biasa untuk yang pertama kali" kata ayah angkat kakak. " Itu sangat indah" puji ibu angkat kakak, aku pun berterimakasih. Kulihat orang tuaku bahkan adikku angela, sangat bangga kepada ku. "Sepertinya aku harus tambah kan bakat menari dalam profilmu" kata jennie, aku hanya tersenyum saja. "Rosella tadi itu keren banget" kata vika. "Iya keren banget" kata wina. "Menurutku yang paling berperan besar adalah hans, dia yang menuntunku." kataku. "Kamu juga rosella, sepertinya kamu mempunyai bakat itu" kata hans. Lalu tanpa terasa waktu berlalu, hingga mau menjelang tengah malam. Kami semua pun menghitung mundur.

__ADS_1


"5..4..3..2..1." lalu kembang api bermunculan. Kami semua pun saling mengucapkan selamat tahun baru. Setelah itu kami kembali menonton pertunjukan kembang api yang meriah. Aku merasakan seseorang menggenggam tanganku dan kulihat itu tangan hans. Ia tersenyum kepadaku, lalu menyelipkan kertas ditangan ku. Dan pergi ke sebelah jennie, aku pun melihat kertas itu tertulis Aku mencintaimu. Aku terkejut mendapatkan pernyataan cinta dari hans. Aku tidak pernah menyangka bahwa ia mempunyai perasaan kepada ku. "Ada apa?" tanya kakak, "tidak apa-apa kak" jawabku sembari menyembunyikan kertas dari hans. Setelah acara selesai, kami pun ke kamar masing-masing. Memang karena acaranya malam terlalu rentan pulang jam segini. Makanya orang tua angkat kakak menyewa hotel satu gedung selama 3 hari.


Setelah mandi dan mengeringkan rambut ku, aku berbaring di kasurku. Kukeluarkan lagi kertas dari hans. "Apa yang harus kulakukan?" tanyaku kepada diri sendiri. Aku tidak tau harus apa, aku tidak memikirkan cinta lagi setelah apa yang terjadi. Yang kupikirkan sekarang hanya pembalasan ku terhadap kirana. Dan juga aku masih takut akan cinta. Aku takut terluka lagi, aku takut sakit lagi. Bahkan sampai besok paginya, aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Seharusnya gampang saja aku menolaknya. Tetapi aku merasa ragu, sebuah perasaan bimbang ku muncul. Ada sebuah perasaan mengganjal dalam diriku. Sekarang aku tidak tau bagaimana perasaan ku dengan hans. Apakah aku juga memiliki perasaan yang sama? Ditengah aku melamun, kudengar sebuah ketukan pintu.


"Rosella ayo kita makan"ajak kakak, "Ok kak" aku pun mengikuti kakak ke restoran di hotel itu. Setelah mengambil makan, kami pun ke meja yang disana sudah ada vika, wina, hans dan jennie. Aku merasa gugup berhadapan dengan hans. Jadi aku hanya makan dalam diam, aku bisa merasakan debar jantung ku. "Rosella kemarin kamu benar-benar keren" kata vika. "Iya benar, aku sangat terkejut kamu bisa nari tango" lanjut wina. "Menurutku rosella dan kakak chemistry nya sangat cocok, iya kan kak?" kata jennie menyenggol hans. "Benarkah ? terimakasih" kata hans sedikit gugup yang membuat ku gugup juga. "Menurutku pasangan chemistry cocok itu kakakku dengan vika"perkataan ku berhasil membuat vika dan kakak terkejut. "Tunggu dulu mengapa tiba-tiba kita dikaitkan?" tanya kakak dan vika dengan kompak. "Aku tiba-tiba teringat saat kalian dansa" kataku yang disambut tatapan heran mereka.


Ya aku mengatakan itu untuk mengalihkan karena itu membuat ku gugup. Tapi tidak ku sangka ternyata aku salah topik pembicaraan. "Aku sudah selesai makan, aku pergi dulu ya" kata hans, entah kenapa sepertinya aku merasa telah membuatnya tidak nyaman. "Aku juga" kataku segera menyusul hans. "Tunggu" aku berhasil menghentikan pintu lift menutup, hans terkejut aku mengikutinya. Didalam lift kami hanya diam saja, aku tidak tau apa yang mau dibicarakan. "Rosella.." "Hans.." kami terdiam kebingungan."Kamu duluan" kata kami lagi-lagi bersamaan. "Hans aku minta maaf kalau aku membuat mu tidak nyaman" kataku. "Tidak, justru aku yang harus nya minta maaf. Karena aku telah membuat mu tidak nyaman" kata hans. Baru aku mau berbicara, tiba-tiba lift terbuka. Banyak orang yang masuk lift, "kita lanjut ngobrol nya di taman rooftop" bisik hans. Akhirnya kami sampai di taman rooftop hotel ini, kami duduk disalah satu bangku disana.


"Sejak kapan kamu mulai ada perasaan kepada ku?" tanyaku. "Itu rahasia, karena aku tidak mau kamu terbebani. Aku ingin menyatakan perasaanku, karena dulu aku pernah mencintai seseorang. Tapi aku tidak pernah mengatakannya, aku memendam nya saja karena takut ia menjauh dariku. Aku pikir ia akan bahagia, ternyata aku salah. Sekarang aku ingin mengatakan nya, karena aku tidak mau kehilangan kesempatan ku." jelas hans. "Rosella apa kamu mempunyai perasaan yang sama dengan ku? " tanya hans. Aku terdiam karena aku tidak tau perasaan ku. "Jika tidak, gak apa-apa. Karena aku tidak bisa memaksa sebuah perasaan. Tapi aku harap hubungan persahabatan kita tidak renggang, karena lebih menyakitkan kalau aku kehilanganmu seutuhnya" aku terdiam mendengar nya dan menghela nafas ku.

__ADS_1


"Hans sejujurnya aku tidak tau bagaimana perasaan ku. Aku pernah terluka sekali karena cinta. Dan itu membuat ku sangat takut. Jadi bisakah kita bersahabat dulu?" hans tersenyum getir mendengar nya. " Baiklah, kita bersahabat dulu" kata hans tersenyum. Aku lega setidaknya hubungan persahabatan kami tidak renggang. Aku tidak tau mengapa aku merasakan sesak, aku tau ia terluka tapi ia tetap tersenyum."Kamu mengapa menangis?"tanya hans sembari mengusap lembut air mataku. "Maaf kalau aku membuat mu terluka" kataku. "Tidak, tidak sama sekali" kata hans menenangkan ku. Air mataku terus saja mengalir, hans memeluk menenangkan ku sembari terus mengatakan tidak apa-apa.


__ADS_2