
Awal tahun baru 2020 ini, adalah kesempatan ku membuka lembaran yang baru. Kuliah sekarang reguler karena kakak memindahkan kelasnya. Selain itu kakak juga sudah menyerahkan surat resign ku, alhasil aku sekarang tidak bekerja. Waktu itu aku sempat mengamuk sama kakak, karena melakukan nya tanpa membicarakannya denganku. Akhirnya aku pun menerima apa yang dilakukan kakak setelah dia memohon. "Nah sempurna" kata sang penata rias tersenyum puas. Aku memandang diriku tidak percaya. Ya waktu telah berlalu, setelah semua perawatan, olahraga dan lain sebagainya akhirnya aku telah siap menjadi model. Dan hari ini adalah sesi fotoku untuk profil perusahaan atau yang lainnya oleh karena itu aku izin untuk tidak kuliah. Aku akan melakukan foto 5 konsep yaitu polos, terluka, kemarahan, ketenangan, bersinar.
Sebenarnya para model lain tidak melakukan 5 konsep, hanya foto biasa. Cuma karena aku tidak melalui audisi,/lomba/selebgram/lainnya, aku pun melakukan 5 konsep untuk memperlihatkan pesona yang ada di diriku. "Ya bagus, ok telah selesai" kata fotografer itu, ini adalah konsep yang terakhir. Aku pun ikut melihat hasilnya, disini juga ada jennie. " Hhmm..ini sudah ok. Kerja yang bagus rosella" kata jennie. Setelah itu aku segera mengganti pakaian dan menghapus riasan ku. "Bagaimana menurutmu hari ini?" tanya jennie menghampiri ku. "Lumayan, aku tadi sempat kesulitan tadi" jelasku. Walau kadang aku berlatih sesi foto sama hans atas saran jennie, aku masih saja gugup saat melakukan nya tadi. "Tidak apa-apa, asal jangan sampai kedua kalinya" kata jennie, aku mengangguk mengiyakan. "Oh ya kamu pulang duluan aja, aku ada beberapa kerjaan" kata jennie. "Baiklah aku pulang ya" kataku lalu segera pulang.
Aku sekarang tinggal di apartemen jennie, karena jennie turun tangan dalam perawatan ku. Selain itu katanya memang untuk model mereka sudah menyiapkan tempat tinggalnya. Karena aku belum debut, jadi itu juga salah alasan mengapa aku sementara di apartemen jennie. Di lobi apartemen tidak sengaja aku bertemu hans. Bisa dibilang letak apartemen hans berada disamping apartemen jennie. Setelah hari itu, hans tetap memperlakukan ku seperti biasanya, tidak berlebihan atau kurang. Seakan-akan pernyataan cinta itu tidak terjadi. Tapi sekarang aku tau bahwa perhatian dia kepada ku sangat tulus. "Bagaimana sesi fotonya?" tanya hans. " Lumayan sih" jawabku dengan singkat.
"Hhmm....apa kamu mau makan malam bersama ku? Aku yang masak, kamu pasti lelah setelah melakukan sesi foto hari ini." ajak hans. "Sebenarnya tidak terlalu lelah sih, tapi aku sekarang lapar. Daripada kamu masak sendiri, bagaimana kalau kita masak bersama? Karena aku gak enak kalau sahabat ku ini memasak untukku "usul ku. Aku tidak bisa menolak ajakannya, jadi aku menerima nya dengan usul lain sekaligus menegaskan batas. Aku tidak ingin memberi harapan palsu karena aku sendiri tidak tahu perasaanku. "Baiklah, kalau gitu ayo kita belanja dulu bahannya" kata hans, dia tau betul kalau di kulkas jennie hanya ada cemilan/snack dan buah. Karena jennie lebih sering memesan makanan. Singkatnya kami pun berada di supermarket, "hhmm..enaknya nanti masak apa ya?" tanya hans. "Entahlah, aku juga bingung" jawabku.
"Kalau gitu bagaimana dengan samgyetang( sup ayam ginseng)? Itu bagus untuk kesehatan." kata hans. "Baiklah itu saja, bagaimana makannya dengan gorengan dan terong balado? Apakah itu cocok?" tanyaku. "Entahlah...tapi tidak ada salahnya untuk mencoba"kata hans. Setelah selesai berbelanja, kami pun ke apartemen jennie. Singkatnya kami pun selesai memasak, walau sebenarnya agak aneh sih kombinasi nya. "Wah.. sepertinya enak" kata jennie yang baru saja pulang. Kami pun makan bersama, rasanya memang agak asing dengan kombinasi makanan ini.
Walau begitu kami sangat menikmati makan malam ini. Jennie langsung menyuruh kami istirahat, sementara ia akan membereskan piringnya. Sebenarnya kami menolak dan meminta nya mengerjakan bersama. Namun, jennie bersikeras mengerjakan sendiri. Untung nya peralatan masak sebelum ia datang sempat kami cuci. " Apa kau lelah?" tanyaku, "tidak kok" jawab hans tersenyum. "Beneran? kalau iya aku pijitin sini" tawar ku. "Kalau dipikir lagi sepertinya aku memang lelah. Daripada kamu pijitin, mending aku nyandar di bahu mu aja boleh?" kata hans. "tentu saja" jawabku dengan bingung, hans pun langsung menyenderkan kepalanya ke bahuku lalu ia menyalakan tvnya.
Kalau boleh jujur aku tidak terlalu fokus menonton. Walau tv dalam keadaan nyala, aku bisa melihat pantulan bayangan kami. Aku yang tinggi nya 162 cm dan hans 192 cm, karena perbedaan tinggi yang jauh hans sedikit memberi jarak agar bisa menyender kepada ku. Namun ia terlihat nyaman, entah kenapa aku juga merasa seperti itu. "Aku ikutan nyender ya"kata jennie langsung menyenderkan kepalanya. Mengapa aku jadi tempat senderan ya? Apakah senyaman itu bahuku? "Astaga kau ini" kata hans langsung bangun dengan kesal. "Kenapa aku gak boleh kak? rosella kan sudah aku anggap sebagai saudara juga" tanya jennie, "enggak sih, gak apa apa. eheeemm.." kata hans. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
"Oh ya saya lupa bilang, rosella fotomu sudah aku unggah." aku terkejut mendengar perkataan jennie, aku tidak mengira akan secepat itu. "Dan respon nya sangat bagus, kamu mau lihat?" tanya jennie lalu menunjukkan nya. Banyak komentar yang positif di postingan. Tanpa rasa air mataku mengalir, ini baru pertama kalinya bagiku. "Eehh..kok malah nangis" kata jennie kebingungan. "Tidak apa-apa, aku hanya senang" kataku sembari mengusap air mataku.
Singkatnya banyak yang tertarik dengan ku, dan banyak tawaran iklan untuk ku. Menambah kepadatan kegiatan hari-hari ku. Memang sangat melelahkan, tapi semua terbayar kan karena tanpa disangka popularitas ku meroket jauh dibandingkan kirana. Sekarang aku penasaran bagaimana ekspresi kirana dengan ini semua. Aku ingin sekali melihat wajahnya mengkerut kesal. Oh ya ditengah kepadatan jadwalku ini, aku tetap berkuliah. Memang aku tidak pernah bertemu dengan kevin lagi. Nomor telepon ku, media sosial memang diganti oleh kakak. Sehingga aku memang tidak berhubungan dengan dia lagi, namun aku punya firasat karena biografi di internet tentang ku tertera aku berkuliah di kampus itu. Pasti cepat atau lambat ia mengetahui aku pindah ke kelas reguler.
Hingga suatu saat kulihat di pintu keluar ada kevin, ia seperti menunggu sesuatu. Aku memutuskan mengambil jalan keluar lain, hingga kevin memanggil ku. Aku tidak menghentikan langkahku dan terus berjalan, namun tangan kevin memegang pundak dan membalikkan ku sehingga kami berhadapan. "Rosella akhirnya aku bisa berbicara denganmu." kata kevin. "Ada apa?" kataku dengan dingin. "Sebelum itu walau sangat terlambat aku ucapkan selamat atas debutmu" kata kevin sembari mengulurkan tangannya. Aku hanya melihat tangan nya lalu berbalik pergi, tapi kevin segera mencegah ku. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" kata kevin. "Tidak ada yang bisa kita bicarakan" kataku melepaskan tangannya dariku lalu berjalan pergi. "Aku telah berhasil membatalkan perjodohan ku" perkataan nya membuat langkah ku terhenti. Aku tidak tau apa aku harus senang, karena kirana telah kehilangan salah satu hal yang berharga darinya. "Dan aku telah berbicara dengan kakakmu, ia berkata akan memberikan ku kesempatan terakhir asalkan kau memberikan nya juga" aku berbalik melihat kevin setelah mendengar perkataan nya.
"Hentikan omong kosong mu, aku tidak mendengar apapun dari kakak tentang itu" kataku. "Aku tidak berbohong, kau bisa tanyakan kakakmu." perkataan kevin masih belum bisa aku percaya. Aku menghela nafas, aku tidak tau alasan kakak seperti itu. Aku langsung menelepon kakak untuk menanyakan kebenaran nya. "Halo kak, aku mau tanya emang benar kakak kasih kesempatan terakhir ke dia? Oh ya nih orangnya ada disini, aku loud speaker ya" tanyaku. "Ah..itu, iya kakak akan kasih kalau kamu kasih kesempatan kepadanya" aku memejamkan mataku mendengar kannya. Kakak tidak mungkin memberikannya begitu saja, pasti ada maksud tersembunyi dari kakak.
" Baiklah aku kasih kesempatan terakhir tapi sebagai TEMAN, kau mengerti! Dan kakak aku langsung ke apartemen aja ya, gak usah antar aku ya." kataku lalu menutup telepon dan segera pergi. "Tunggu, bisakah aku meminta nomor teleponmu?" tanya kevin. " Minta saja sama kakak ya, aku ada jadwal lain jadi gak sempet"kataku lalu melangkah pergi dengan cepat. Bruuk... manager ku kaget mendengar ku menutup pintu dengan keras. " Jhonson ayo kita segera pergi" kataku, managerku menurut ia segera mengemudi kan mobilnya. Berbicara dengan kevin menguras energi ku yang membuat ku menjadi sangat lelah hari ini.
__ADS_1
"Apa ada masalah?" tanya jhonson sambil memperhatikan ku. "Tidak, hanya saja aku sedang capek" jawabku. "Apa pemotretan iklan hari ini mau ditunda?" tanyanya lagi. "Tidak usah, aku mau lakukan saja." jawabku. Setibanya disana aku masih merasakan bad mood. Staf beberapa kali bertanya tentang keadaan ku, tapi aku menenangkan mereka. Aku pun mencoba menenangkan pikiran ku dan mencoba profesional. Aku pun meminta waktu 10 menit untuk istirahat sebentar. Setelah aku sudah agak tenang, lalu aku minta untuk mulai. Untung saja berjalan lancar, walau untuk diriku merasa tidak puas dengan hasilnya.
"Jhonson sebelum pergi bisakah kau membelikan ku jus buah? Kepalaku agak pusing, jadi aku butuh sesuatu yang fresh." kataku. "Baiklah tunggu aku akan segera membeli kannya" jhonson pun pergi. Aku pun memasang earphone ku dan mendengar lagu sembari menunggu jhonson dalam mobil. Karena aku merasa mengantuk, aku mulai mengubah posisi kursi. Tanpa sengaja melihat spion mobil, aku melihat dari kejauhan ada seseorang mengawasi mobilku. Aku yang mulai ketakutan, langsung segera mengunci mobil. Aku segera menelepon jhonson,
"Hallo, iya ada a.."
"Jhonson segera kemari, lupakan jus itu ada seseorang yang mencurigakan disini"
"Baik, saya segera kesana secepatnya"
Telepon masih terhubung, takut kalau aku kenapa-napa. Dari spion aku masih melihat orang itu mengawasi. Aku sudah berkeringat dingin karena ketakutan.
"Jhonson aku mohon cepat" kataku dengan suara bergetar. Kulihat orang itu mendekati mobil ini membawa sebuah linggis ditangannya. Lalu orang itu mulai memukul belakang mobil, aku yang didalamnya menahan suaraku dengan ketakutan. Aku tidak tau apakah orang itu melihatku, karena kaca di mobil ini gelap. Orang itu memukul-mukul kaca di sebelah, aku reflek pindah ke sebelah menjauh. Hingga kaca itu mulai pecah, aku segera keluar dan berlari sekencang mungkin dengan membawa hp di tangan ku.
Untung di lantai satu banyak orang, semua melihat ku bingung. "Ada apa? Mengapa anda berlari?" tanya salah seorang mereka. Aku tidak menjawab, aku hanya bisa menangis ketakutan. "Tunggu bukankah itu rosella" seru yang lain. Orang-orang mulai mengenal ku, namun aku tidak peduli dengan itu. Sekarang yang aku rasakan hanya sebuah perasaan takut. Lalu ada yang membawa ku duduk agar aku bisa tenang. Bahkan ada yang membawa ku sebotol air minum. Mereka terus menanyakan kepada ku apa yang terjadi, tapi aku hanya bisa diam membeku. Karena hpku terus bergetar, orang yang di depan meminta izin mengangkat telepon dan aku mengangguk memperbolehkan.
Beberapa saat jhonson pun datang, dan ia segera membawa ku pergi menggunakan taksi online. Kudengar jhonson menghubungi jennie dan menjelaskan apa yang terjadi. "Rosella, kamu tidak terluka kan?" tanya jennie khawatir. Aku berusaha menahan diriku dan ingin menjawab tidak apa-apa. Namun, mengingat itu kembali membuat ku bergetar ketakutan dan hanya bisa menangis. Jennie memeluk menenangkan, "maaf kan aku, harusnya aku harus lebih waspada" kata jennie. Bahkan saat tidur pun, aku kembali terbangun karena memimpikan kejadian itu. Aku menutup mulutku agar tangisanku tidak terdengar oleh jennie. "Apa kau bermimpi buruk?" aku terkejut melihat kakak ku sudah ada di kamarku. "Begitu aku mendengar apa yang terjadi, aku langsung kemari hanya saja kamu sudah tidur" jelas kakakku. "Little berry, maaf harusnya kakak ada disamping mu saat itu terjadi" aku hanya menangis dipelukan kakak.
Keesokan harinya, aku terbangun jam 06.30. Kulihat kakakku disamping masih terlelap, sepertinya setelah aku tidur kakak masih terjaga menjaga ku. Aku merasa bersalah membuat repot kakak, aku pun pelan-pelan bangun dari kasur agar kakak tidak terbangun. Aku keluar kamar ku untuk mengambil air minum. Namun aku dikejutkan melihat keberadaan hans disini. "Kau sudah bangun, apa kau sekarang sudah lebih baik?" tanya hans. Kulihat penampilan hans tidak karuan, wajah yang lusuh ditambah ada lingkaran hitam di matanya. "Sedang apa kau disini? Dan apa kau tidak tidur?" tanyaku balik. "Ada sesuatu yang sedang ku urus" kata hans.
Aku menatap nya meminta penjelasan, hans langsung ke laptopnya. Lalu menunjukkan sesuatu, dan itu adalah rekaman CCTV saat aku diserang. Aku gemetaran teringat kejadian yang menjadi trauma untuk ku, hans memegang tangan menenangkan ku. "Aku kerja sama dengan kakakmu sudah meretas CCTV disana, dan beberapa tempat lain mencoba mengikuti pergerakan nya" kata hans memperlihatkan CCTV ternyata orang itu kabur menyamar menjadi petugas kebersihan. Dan orang itu sempat menoleh kepadaku saat manajer ku menghampiri. Aku terkejut ternyata orang itu ada disana memperhatikan ku. "Aku tidak tau orang itu ada disitu" kataku.
Beberapa menit kemudian setelah aku pergi, orang itu baru pergi. "Memang agak ribet mengikuti jejaknya dari CCTV terdekat. Setelah meretas beberapa CCTV, akhirnya kami buntu disini. Di sekitar situ ada apartemen tidak ada CCTV, jadi tidak diketahui apakah orang itu tinggal disitu atau telah pergi" jelas hans. Entah kenapa aku merasa familiar dengan lingkungan itu. Hingga aku menyadari sesuatu dan pergi ke kamar membangun kan kakakku. "Rosella kamu sudah bangun" kata kakakku yang masih mengantuk. Aku langsung menyeret kakakku, "kakak merasa familiar gak dengan tempat ini?" tanyaku. "Enggak..hoaaamm.." walau gitu aku gak yakin dengan jawaban kakak. "Yakin?" tanyaku, "Iyaa..kakak gak tau sama sekali. Tapi tenang saja, kakak udah minta seseorang kesana mencari petunjuk tentang orang itu" kata kakak.
__ADS_1
"Hans pinjam hp kamu" hans pun meminjam kan hpnya. Aku segera video call kevin dengan mematikan kamera depan. "Ngapain nelepon orang itu!" aku menyuruh kakak diam. Kevin telah menerima panggilan video call nya, hanya saja camera menghadap ke langit.
"Ya ada apa?"
" Kamu gak sopan ya"
Terlihat kevin yang terkejut, langsung mengambil hpnya.
"Rosella bagaimana kau bisa memakai no hans? apa kau bersamanya? "
"Kev aku mau tanya, kamu tau tempat ini?"
Aku langsung mengubah kamera belakang, dan menunjukkan layar laptop.
"Itu bukannya jalan dekat apartemen kak dimas?"
.
.
.
Jangan lupa like dan komen 🙃
__ADS_1