Cantik (The Queen Of Power)

Cantik (The Queen Of Power)
Cantik (Bab V)


__ADS_3

"Rosella Levender Anggraini" kak dave memanggil ku. Ku tenangkan diriku dan menghampiri nya, "Iya kak?". Pandangan kak dave sangat misterius, ia mendekat dan menatapku lekat lekat. "Sekarang hukuman mu karena tidak ikut pemilihan, sekarang kau.." aku bersiap apa kata selanjutnya. "Kau harus berkencan denganku", "Hah?" ku terbengong mendengar nya. "Apakah kau mengerti? Mulai hari ini kita berkencan." belum lama keterkejutan ku, tiba-tiba sebuah tangan merangkul pundak ku, dan itu adalah kevin.


"Enak saja ngajak kencan, dia itu milikku" kata kevin lalu mengedipkan sebelah matanya. Aku terdiam melihat nya, lalu kak dave menarik tangan ku dan kevin menahannya. Mereka saling menatap, ku merasakan seperti ada aliran listrik dari tatapan mereka. "Hentikan!" seru kirana menghampiri kami. Hanya saja pakaian nya aneh, ia menggunakan dress merah ketat dengan dandanan yang mencolok. Semua terpesona dengan penampilannya tidak terkecuali kevin dan dave. Lalu ia melepaskan pegangan tangan kevin dan dave.


" Hentikan keisengan kalian, jangan mempermainkannya" ujar kirana menatap ku tajam. " Baiklah kalau gitu, hahahaha... kalian lihat ekspresi nya tadi." kata dave sambil menunjuk ku. Ku lihat sekeliling, mereka menertawakanku bahkan kevin pun juga. Entah bagaimana menjelaskan nya sedih, sakit, marah bercampur aduk. Apalagi melihat kevin yang selalu dipihakku juga menertawakanku, membuatku benar-benar sakit. Dengan susah payah ku menahan air mata ku. "Kau benar bagaimana bisa dengan wajah ini bisa menarik perhatian kami" kata kevin sambil memegang wajah ku.


Hancur sudah perasaan ku, aku merasakan sakit. Nafasku sangat sesak, air mataku tidak dapat tertahan lagi. Suara tawa semakin keras dan memutar di kepalaku. Ku menggeleng-gelengkan kepalaku dan menutup kupingku "Hentikan!!" mereka tidak berhenti tertawa, malah semakin menjadi. Ku memutuskan untuk berlari sejauh mungkin, namun mereka tetap disana seolah-olah aku hanya seperti lari ditempat. Lalu sebuah tangan menarik ku keluar, "hans".


Ia membawa ku ke mobil nya, dan membukan pintu menyuruh masuk. Aku pun masuk ke dalam mobil, dan ia mulai melajukan mobilnya dengan cepat. Ku lihat di belakang beberapa mobil mengejar kami, hans yang menyadari nya semakin mempercepat lajunya. Sebuah truk datang dari samping menabrak. Badanku terlempar keluar saat pintu mobil terbuka sendiri. " Aakkhh.. " ku menoleh ke arah mobil hans, disana ia tidak sadarkan diri. "Hans!!!" ku coba bangun untuk menghampiri nya, tapi badanku tidak mau bangun. Ada apa dengan diriku? Apakah aku lumpuh?


Lalu kulihat kirana tidak jauh dari nya, "kirana tolong hans! kumohon" entah dia mendengar ku atau enggak, ia tersenyum kepadaku lalu ia mengeluarkan korek api gas. Dan menyalakan api, setelah itu melempar kannya ke mobil hans!! "Tidaaaakk...!!!" mobil hans meledak seketik dengan ada hans didalamnya. "Haaaans!!! tidak..hans" ku menangis sejadi-jadinya. Kirana menghampiri ku, lalu membisik "memang begini seharusnya, kau harus nya tidak bahagia" mendengar itu air mataku mengalir, dadaku merasa sangat sakit.


"Hah..hah.. ternyata mimpi" ku mencoba menenangkan diri, tadi itu mimpi yang menakutkan. Ku raih hpku untuk melihat jam, ternyata jam 03.00. "Masih pagi ternyata" kulihat ada notice chat. Itu ternyata dari kevin, jam 23.00


"Kamu gak ikut milih ya?"


" Kak dave memberitahu kan kami kalau ada yang kabur, walau dia tidak kasih tau siapa tapi kurasa itu kamu"


Aku keheranan karena kak dave tidak menyebutkan namaku. Aku merasa gelisah mengapa kak dave tidak memberi tahu kalau aku yang kabur. Eh. tapi bisa saja karena dia tidak tau namaku. "Duh bodoh nya aku, tadi itu mimpi dia tau namaku" bisa-bisa nya aku mengira dia tau namaku. Udah lebih baik aku membalas chat Kevin dulu.


"Iya aku gak ikut milih, dan saat kabur aku tertangkap kak Dave huhuhu...☹️😭"


lalu ku kirim chat balasan nya. Tidak lama kemudian kevin membalas ku.


" Lalu bagaimana?"


" Untung nya aku bisa melarikan diri"


"Lalu bagaimana caranya kamu kabur? Setau ku pintu sudah dijaga ketat."


Baiklah aku bingung apakah aku harus jujur kalau aku loncat dari balkon ke dahan pohon lalu turun? Tapi jika aku mengatakan ini, bisa bisa ia memarahi ku dan menasehati ku panjang lebar. Setelah mikir panjang aku pun memutuskan jujur.


" Baiklah aku jujur, aku lompat dari balkon ke dahan pohon lalu turun😶"


Kevin seketika langsung menelepon ku, aku pun menutup teleponnya.


"Maaf gak bisa angkat, masih jam segini. Takut kedengaran keluarga aku🙏🏻🙏🏻"


"Kamu sudah gila ? Bagaimana kalau kamu kecelakaan? Apa kamu gak mikir diri kamu Hah!?"


Aku tau pasti dia bakal respon seperti ini.


"Tapi aku terpaksa, aku gak suka kalau berkaitan dengan PMM atau organisasi sejenis seperti itu"

__ADS_1


"Tapi gak gitu juga caranya, lagipula apa susahnya sih milih! Kan kamu bisa saja asal milih."


" Maaf aku gak mau, walau asal pilih tapi sama aja pengaruh. Dan aku juga gak mau pilih, karena keduanya sama saja. Tidak, lebih tepatnya semua manusia sama saja. Jika seseorang sudah menjadi calon pemimpin, pasti mereka hanya berambisi. Memang ada yang berniat baik saat ingin menjadi pemimpin, tapi saat waktu berjalan apakah masih sama? Dengan segala kondisi dan tekanan apakah masih sama? Jadi menurut ku sama saja, mereka tidak ada yang 100% ekspetasi yang diharapkan oleh kebanyakan orang."


"Yaudah terserah kamu, mau kayak gimana saya gak bakal peduli lagi"


Kevin benar benar marah kepada ku, apa aku keterlaluan ya? Terserah dia mau marah atau enggak, kalau waktu berulang aku juga akan melakukan hal sama. Karena kalau aku gak suka atau benci, gak bakal kulakukan. jika ku lakukan, itu juga setengah hati. Kalau dia mau marah sama aku yaudah terserah itu juga hak dia.


"Ok terserah kamu"


Setelah membalas chat itu, aku berusaha untuk tidur lagi. "Aaaarrghh..sial kenapa gak bisa tidur lagi sih" aku menendang-nendang kesal. Dan kulihat sudah jam 03.45, aku menghela nafas kesal.


Ku coba untuk tidur lagi, sialnya makin dipaksa justru makin gak bisa tidur. "Duuhh..kenapa makin gak bisa tidur sih!?" baiklah sepertinya aku harus tenang kan diriku. Ku tarik nafasku lalu ku hembuskan. Lalu aku segera mengambil earphone ku dan ku pasangkan ke kuping ku. Aku klik apps Suara Tidur, dan memilih suara hujan di malam hari. Setelah suaranya tersetel pikiran ku mulai agak tenang, rasa kantukku mulai datang dan aku pun mulai tertidur. Entah karena gelisah mimpi tadi atau karena habis bertengkar dengan kevin aku terbangun lebih awal jam 06.00 dalam kondisi badanku yang sangat lemas.


Kepalaku mulai sakit, apalagi dengan perutku yang gak enak. " Astaga...asam lambungku apa kambuh lagi ya? Padahal masih pagi kenapa kambuh sih!?" gerutu ku kesal. Aku memaksa kan badanku yang lemas ini untuk bangun. Setelah sudah bersiap, aku pun ke bawah untuk makan. Aku menahan rasa sakit di perut, dan bersikap seperti tidak apa apa. Ku ambil piring lalu ku ambil makanannya dan makan. "Masih pagi makan udah banyak begitu, gimana gak gendut" kata adikku. Dan masih banyak lagi kritikan yang tertuju kepada ku. Aku mempercepat makan ku, agar segera berangkat karena ini benar benar membuat asam lambung ku makin bergejolak.


Sepanjang hari ini, badanku benar benar lemas. Perutku makin gak enak, dadaku makin engap hingga nafas pun jadi sedikit menyulitkan. Kepalaku semakin pusing, bahkan sepertinya aku merasakan asam lambung ku sudah sampai tenggorokan. Walau gitu aku berusaha sangat keras agar terlihat baik baik saja. Yang aneh adalah wajahku tidak memucat sama sekali. Jadi dikantor tidak ada yang menyadari bahwa aku lagi sakit. Hingga sampai jam pulang kantor, asam lambung ku belum mereda.


Aku pun menjadi dilema apakah harus ngampus atau tidak. Akhirnya aku memutuskan untuk memaksakan diriku untuk ngampus. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku baik baik saja, aku gak sakit. Hanya saja ternyata itu tidak berhasil. Sepanjang perjalanan di kampus menjadi neraka untuk ku, perutku sangat sakit. Sampai dikampus pun, langkah kakiku jadi sangat berat. Saat di pintu masuk gedung aku bertemu kevin, ia benar-benar sangat dingin kepadaku. Bahkan ia berpura-pura seperti aku tidak ada dan melewati ku. Entah kenapa aku merasa rasa sakit ku ditambah karena sikap dingin nya kepada ku.


Di kelas aku meletakkan kepalaku di meja dengan tangan ku sebagai bantalan nya karena rasa lemas, pusing, sakit di perutku. Aku harap kelasnya segera berakhir, agar aku bisa pulang dan beristirahat. "Permisi, saya mau mencari seorang gadis cantik yang menarik" aku mengenal suara itu. Ya itu kak dave, ini benar-benar hari sialku. Udah asam lambung kambuh, ada kak dave lagi disini. Tenang rosella, kak dave kesini pasti mau ketemu Kirana. Karena siapa lagi gadis cantik yang menarik disini selain kirana. Oh ya sekilas info, mungkin aku lupa jelas in. Sebenarnya kirana itu satu jurusan plus satu angkatan denganku.


"Ada apa kak dave mencari ku" kata kirana. "Pfftt..maaf yang aku cari gadis cantik yang menarik ya bukan gadis yang bertopeng." balesnya. What ? Gadis bertopeng? Aku tidak tau kenapa kak dave memanggil kirana gadis bertopeng. Entah apapun maksudnya itu, aku merasakan firasat gak enak. Aku memutuskan untuk tetap menunduk kan kepala ku di meja. Ku merasakan sebuah tangan menepuk pundak ku. "Hei kau.." aku pun tetap menunduk pura pura tidur, kenapa sih pria ini malah nyamperin aku. Ia menepuk pundak ku sekali lagi, aku tetap diam saja.


"Apakah dia tidur?"tanyanya ke vika, "entahlah" jawab vika. Tiba-tiba kak dave menggendong ku, aku yang terkejut melihat nya. "Ternyata pura-pura tidur" katanya sambil tersenyum. Ku dengar yang lain mulai bisik-bisik. Mungkin karena mimpi semalam, aku jadi sensitif dan menjadi takut. "Kak dave lepaskan", "ok kalau begitu" "Aaahh.." aku terkejut kak Dave tiba tiba mau menjatuhkan lalu menangkap ku lagi. "Katanya lepaskanlah, tapi wajahmu ketakutan jadi aku tangkap " aku benar-benar kesal jadi aku pukul kepala nya, otomatis ia melepaskan ku untungnya aku mendarat dengan kedua kaki ku.


Aku segera keluar dari kelas, dan tempat yang ku tuju adalah toilet. "Hooeekk..." rasa mualku gak reda, kepalaku semakin pusing, badanku sangat lemas. Bahkan berdiri pun sulit untuk ku, sekarang aku hanya bisa jongkok di toilet. "Sella, asam lambung kamu kambuh?" tanya vika, "Iya vika" jawabku dengan suara lemah. Aku keluar dari toilet langsung dipapah oleh vika. "Kamu lemas banget, aku antar pulang ya" aku mengangguk membolehkan. Ku lihat kak dave disana, entah kenapa dia disana. Ia melihat ku keluar langsung menghampiri ku.


"Apakah bohong itu kebiasaan mu? Saya tanya apa kamu sakit, kamu bilang enggak. Dan liat sekarang..." kata kak dave. "Maaf kak ini bukan urusan kakak" jawabku, lalu aku melanjutkan jalanku. Tapi kak dave menghentikan ku, "Saya antar pulang ya" tawar kak dave. "Jangan! Saya saja yang antar pulang" kata kevin yang baru datang. Aku hanya tersenyum kecil mendengar nya, bukan karena senang hanya saja dia baru peduli dengan ku saat aku benar-benar terlihat sakit. "Tidak perlu, aku pulang sama vika aja. Ayo vika...." aku segera pergi dari mereka berdua.


Sesampainya di parkiran, vika mengulurkan helm untuk aku pakai. " Kamu beneran kuat sella kalau aku antar pakai motor?"tanya vika terlihat khawatir. "Iya kuat kok" jawabku, " Harusnya kamu tadi terima aja tawaran kak dave. Dia kan bawa mobil, kamu bisa sambil tiduran" aku menghela nafas mendengar nya. "Apakah kamu yakin keamanan ku jika bersama kak dave? " tanyaku. "Enggak juga sih, tapi kayaknya dia gak bakal macam macam deh" jawab vika. "Tapi kan kita pikirkan manusia gimana" jelas ku. "Iya juga sih" bales vika kebingungan. Vika pun mengeluarkan motor nya dari parkiran, lalu menghampiri dan aku pun naik motor nya.


Diperjalanan badan benar benar terasa lemas, asam lambung ku makin menjadi. Angin malam membuat badanku semakin gak enak, rasa mualku pun muncul lagi. "Vika, kita mini market dulu. Beli obat soalnya asam lambung ku semakin menjadi." kataku. "Ok ok" belum minimarketnya ketemu, pandangan kumulai kabur dan kurasakan mulai kehilangan keseimbangan aku memegang pundak vika sangat erat. "Eh..eh.. sella kamu jangan pingsan dulu." vika lalu minggir dulu ke tempat yang aman. Setelah berhenti, aku turun dari motornya dan jongkok karena lemas.


"Sella udah aku telepon kak dave ya, bahaya kalau naik motor." kata vika. " Kamu ada no nya?" tanya ku. " Oh iya aku gak punya, duuhh.. gimana nih?" tanya vika benar benar kebingungan. Entah kenapa aku teringat hans, "vika ambil hpku" vika dengan cepat mencari nya ditasku dan memberikan nya ke aku. Aku langsung mencari no hans dan menelepon nya.


"Halo hans"


" Iya halo, suara kamu kenapa lemas ?"


Aku langsung memberikan nya ke vika untuk ambil alih tentu saja dengan suara di loud speaker.


" Halo, tolong dong antar si rosella mau pingsan nih."

__ADS_1


"Ini siapa?"


" Aku sahabat dekatnya, udah cepetan dia beneran lemas banget"


Ya begitulah vika dia langsung to the point.


" Baiklah saya akan kesana, shareloc tempat kalian berada."


"Ok"


Vika langsung menutup teleponnya, dan sepertinya ia sedang shareloc. Lalu memasukkan hpku ke tasku.


"Btw hans itu siapa? Aku baru dengar namanya." tanya vika. " Dia temannya kevin, kemarin aku baru bertemu dengan dia kemarin." jawabku. "Hah? Kamu dikenalin sama kevin?" tanya vika. "Tidak juga sih, kami kebetulan ketemu. " jawabku." tunggu dulu, pertama kali ketemu dia langsung ngaku ke kamu kalau dia teman kevin? atau dia pernah dengar kamu bicara ada sebut nama kevin?" tanya vika lagi. " Dia pernah dengar aku bahasa kevin sama sahabat SMK ku" jawabku. "Astaga rosella gimana kalau dia bukan teman kevin? gimana kalau dia cuma ngaku aja buat modusin kamu?" Aku sempat berpikir seperti itu, hanya saja entah kenapa dari sorot matanya ia terlihat jujur. Lalu kulihat dia meraih teleponnya menelepon seseorang.


"Halo kev, saya mau tanya kamu ada teman yang namanya hans ?"


Astaga dia menelepon kevin, tapi emang gak salah juga sih buat mastiin.


"Hans Canovus Kang?"


Vika beralih ke aku "apakah namanya itu?", aku mengangguk mengiyakan.


"Iya katanya"


" Coba sebutkan ciri-ciri nya "


Lalu ia menyerahkan hpnya dan meminta ku untuk menyebutkan ciri-ciri nya.


" Tinggi, badan atletis, dan wajahnya sangat mirip yang Sechan running man"


"Ini sella? suaramu kenapa.. tunggu itu tidak penting, kenapa kalian tanya tentang hans? Apa ia disana?"


Lalu vika mengambil alih teleponnya lagi


" Tadi kami telepon dia, aku minta tolong dia antar sella pulang. Karena dia hampir mau pingsan, tadi aja hampir kecelakaan badannya sella oleng tadi di motor."


"Kenapa tidak menghubungi ku?"


Aku bisa merasakan kemarahan dari suara nya.


" Tidak, sekarang tidak penting. Sekarang share loc lokasi kalian, saya kesana sekarang"


Lalu kevin mematikan telepon nya, vika menatap ku kebingungan"Kau berhutang penjelasan denganku sella". "Iya " kataku dengan suara lemah, karena aku benar benar hampir tidak bertenaga lagi.

__ADS_1


Susah payah aku menahan sakit, vika pun memegang badan ku dengan kedua tangannya jaga jaga jika aku ambruk. Dari kejauhan aku melihat mobil hans, lalu mobil hans menepi di dekat kami. "Sella jangan bilang itu dia" kata vika yang terkejut melihat mobil hans, "Iya itu dia" jelasku. Kulihat hans turun dan segera menghampiri ku. Tapi karena badanku tidak kuat lagi, saat mencoba berdiri saat itu pandanganku kabur. Aku merasa badanku jatuh, dan tangan vika yang menahan badanku. Pandangan ku semakin meredup, suara mereka yang memanggil namaku masih terdengar.


Lalu aku juga sepertinya mendengar suara kevin. Ternyata cepat juga ia kesini, suara perlahan menghilang, pandanganku juga gelap. Jadi ini rasanya pingsan, selama 21 tahun aku hidup aku tidak pernah pingsan separah apapun aku sakit. Apakah ini berarti kesehatan ku sudah jadi sangat buruk? Apakah aku sudah melemah? Apakah aku tidak akan berumur panjang? Asam lambung ini benar benar memuakkan. Seperti aku memang gadis yang bernasib buruk, dan mungkin tidak pantas bahagia. Benar-benar sangat menyebalkan!


__ADS_2