CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
Cinta Pertama


__ADS_3

Safira meremas ujung jaket rajut yang dipakainya. Saat ini ia berada di ruangan kosong, entah apa gunanya di sekolah itu. Safira sadar telah dijebak oleh kakak-kakak seniornya.


"Heh, Sapi! Sini lo!" teriak siswi bersuara cempreng.


"I-iya, Kak?" jawab Safira gugup bercampur takut.


"Gatel banget sih lo pakai daleman busa segede itu! Mau jadi lont* lo?" cecar siswi senior itu.


"A-aku ga pake busa, Kak."


Safira memang memiliki ukuran dada yang lumayan besar untuk ukuran siswa seumurannya. Banyak siswi-siswi senior yang iri dengki padanya karena banyak lelaki yang melirik pada Safira.


Jauh di lubuk hati Safira, dirinya tidak pernah berniat untuk menggoda siapapun. Bahkan Safira merasa insecure dengan dirinya sendiri. Bagi Safira, kelebihan yang ia miliki cukup mengancam kehidupannya.


"Halah bohong! Cen, coba lu cek sendiri deh!" titah siswi itu pada teman lelakinya.


Sontak Safira menggeleng. Sejak dulu dirinya takut dilecehkan. Apa yang ia takutkan selama ini benar-benar akan terjadi.


Siswa bernama Ucen itu perlahan mendekat ke arah Safira.


"Jangan, Kak. Jangan! Aku mohon!" Safira memelas kepada semua orang yang berada di gudang itu.


"Ga usah melas-melas gitu, gue malah jadi makin kepengen! Asal lo tau ya, gue ngeliat lo dari jauh aja udah terang*ang," ucap Ucen yang membuat Safira menangis sejadi-jadinya.


Hanya sisa sejengkal tangan Ucen untuk menyentuh Safira, tiba-tiba pintu gudang didobrak oleh seseorang.


"Liat tuh, Pak! Mereka mau ngelecehin Kak Safira!" teriak Azzam sambil menunjuk-nunjuk orang-orang yang membuli Safira.


Semua siswa yang melakukan pembulian itu kemudian disidang oleh pihak sekolah. Tak lama setelah mereka disidang, akhirnya terdengar kabar kalau mereka semua dikeluarkan dari sekolah. Hal itu cukup membuat Safira tenang. Namun dirinya tidak bisa melanjutkan sekolahnya di sekolah itu lagi.


Sejak saat itu Safira memendam rasa cinta pada Azzam. Bukan hanya pada ketampanan, tapi juga kebaikan hatinya. Azzam bagaikan pahlawan bagi Safira. Namun, karena kepindahannya itu, Safira jarang bahkan tidak pernah lagi bertemu dengan Azzam.


Setelah lulus kuliah, Safira melamar kerja di salah satu perusahaan terkenal di kota tempat tinggalnya. Dirinya tidak sendiri, tapi berdua dengan sahabatnya yaitu Dara.


Dara adalah gadis yang imut. Semua lelaki pasti tidak bisa menolak pesona seorang Dara. Lucu, imut, manis, dan menggemaskan yang dimiliki seorang Dara cukup membuat kaum Adam tergila-gila. Ditambah lagi dengan kepintarannya. Kadang Safira merasa iri pada sahabatnya itu, tapi bagi Safira, Dara terlalu baik jika dirinya menaruh iri.


"Eh kalian tau ga? Hari ini katanya putra bungsu pak Alberto bakalan datang ke kantor! Duh, cakep kaya pak Alberto gak ya? Secara kan, Pak Alberto bukan orang asli Indonesia, alias bule!" gosip Nunu saat makan siang di kantin. Safira dan Dara juga ada di sana.


"Dih, yang cakep-cakep aja lo kenceng! Tau kabar dari mana lo? Jangan ngarang ya! Gue laporin ke pak Alberto nanti lo," jawab Hasnah, lawan bicara Nunu.


"Siapa juga yang ngarang! Gue denger sendiri kok!" balas Nunu tidak mau kalah.


"Nguping lo ya? Wah parah sih! We, cepuin Nunu we. Nunu nguping! Nunu nguping!" ejek Hasnah dan diikuti beberapa karyawan lainnya.


Nunu hanya bisa menggerutu karena diejek oleh teman-temannya. Teman-teman tertawa puas melihat Nunu si ratu gosip terpojokkan.


"Eh, tapi gue jadi penasaran beneran deh sama anaknya Pak Alberto," seru Dara tiba-tiba kepada Safira. Jarak meja mereka terpaut beberapa meter dengan meja Nunu dan teman-temannya.


"Haha, gue lebih suka sama Pak Alberto sih daripada anaknya," cekikik Safira sambil mengunyah mie gorengnya.


Dara mendelik tajam ke arah Safira.


"Cih, dasar penyuka om-om!" ledeknya.


"Biarin! Om-om juga laki-laki kali. Lagipula gue juga milih-milih, kalau om-omnya kaya pak Alberto mah gue gak bakal nolak!" sambung Safira lagi.

__ADS_1


"Tahu ah! Males ladenin pecinta om-om!" sungut Dara.


Safira hanya bisa terkekeh melihat Dara yang sepertinya hampir tidak sanggup meladeni dirinya yang memanglah penyuka om-om.


Setelah jam makan siang berakhir, semua karyawan balik ke meja masing-masing. Semuanya fokus mengerjakan tugas masing-masing.


Tanpa Safira sadari, ternyata putra bungsu Alberto adalah cinta pertamanya. Azzam Pradita.


"Kak Fira?" gumam Azzam yang tanpa sengaja melihat Safira saat sedang berjalan menuju ruangan daddynya.


"Dad, bisa panggilin karyawan Daddy yang namanya Safira? Dia temen aku waktu SMA, Dad. Aku pengen nyapa dia," ucap Azzam pada daddynya saat di ruang kerja.


"Safira? Sebentar ya," ucap Alberto lalu menyuruh asistennya memanggil Safira melewati telepon.


"Sudah. Sebentar lagi juga Safira nya datang. Kamu suka sama Safira, Zam?" tanya Alberto pada Azzam.


"Ih enggak, Dad. Kak Fira itu temen aku di SMA dulu," jawab Azzam yakin.


*****


"Gue takut, Dar."


Safira meminta ditemani oleh Dara menuju ruangan Alberto. Ini adalah perdana dirinya dipanggil ke ruangan Alberto. Selama ini Safira hanya bisa melihat Alberto dari jauh. Bahkan menginjakkan kaki ke lantai teratas ini pun tidak pernah. Begitu juga dengan Dara.


"Tenang, kan ada gue yang temenin lo," ucap Dara memenangkan Safira.


Sampainya di depan ruangan Alberto, Safira mengetuk pintu.


"Permisi," ucap Safira pelan namun tegas.


"Kak Fira!" seru Azzam bersemangat.


"Hahaha. Hai ... Azzam. Eh Pak Azzam," ucap Safira kebingungan.


"Ga usah formal gitu, Kak. Panggil aku kek biasa aja," protes Azzam.


"Kamu juga ga usah panggil aku pake Kak ya, kita seumuran tau!" ucap Safira yang kini mulai terbiasa.


Tiba-tiba di belakang Azzam muncul Alberto.


"Kenapa ga masuk, Zam?" tanya Alberto.


"Oh iya! Lupa, Dad. Ayo Fir masuk, kamu juga masuk," ajak Azzam pada Safira dan Dara.


Safira dan Dara masuk dengan canggung. Ada Alberto di depan mereka.


"Zam, Daddy pergi keluar dulu ya. Kamu nanti kalau udah selesai urusan sama teman kamu, langsung kerjain yang Daddy suruh tadi, oke?" ucap Alberto pada Azzam.


Safira maupun Dara terkagum-kagum dengan sikap kebapakan yang dimiliki Alberto.


"Ga salah gue suka sama pak Alberto," batin Safira.


"Oh iya, Dad. Makasih ya pengertiannya," ucap Azzam pada daddynya.


"Lama kita gak ketemu, Fir," ucap Azzam berbasa-basi saat Alberto sudah keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Haha iya, Zam. Aku juga gak nyangka kamu anak dari bos aku," jawab Safira.


Safira tipe wanita yang pintar menyembunyikan perasaan. Walaupun dirinya memendam cinta pada Azzam, tapi itu sama sekali tidak terlihat oleh mata manusia.


"Haha, aku juga gak nyangka ada kamu di sini, Fir," sambung Azzam sambil tertawa renyah.


Dara yang memang tidak mengenal siapa Azzam hanya bisa menyimak pembicaraan dua orang teman yang sudah lama terpisah itu.


"Oh iya, kalau kamu namanya siapa?" tanya Azzam pada Dara.


"Gue? Eh, saya?" ulang Dara karena kaget.


Azzam tertawa. "Iya dong kamu, siapa lagi? Kan kita cuman bertiga di sini," jawab Azzam begitu manis.


"Saya Dara," jawab Dara berusaha bersikap sopan. Sebenarnya dirinya malu karena salah bicara pakai lo-gue tadi.


"Cantik kayak orangnya," gumam Azzam yang hanya didengar oleh Safira.


*****


Sudah satu bulan Azzam bekerja di perusahaan ini. Pertemanan antara dirinya Safira dan Dara pun terjalin makin erat. Azzam berencana mengundang keduanya untuk menghadiri ulang tahunnya. Sekaligus ingin menembak wanita pujaannya pada hari itu.


"Kalian datang ya, jangan sampe ga datang. Nanti acaranya gagal," ucap Azzam saat mereka makan di kafe samping kantor.


"Haha, aman itu, Zam. Kita pasti datang kok. Iya kan, Dar?" tanya Safira pada Dara.


Dara hanya membalas mengangguk kepada keduanya.


*****


"Duh, seneng banget deh kalian bisa datang!" ucap Azzam girang saat Safira dan Dara menemuinya, mengucapkan selamat ulang tahun.


"Kami pasti datang, Zam. Gak mungkin gak datang, apalagi banyak makanan mewah di sini," gurau Safira.


Dara sontak melototkan mata menegur Safira. Dara takut Azzam tersindir karena mengira makanan lebih penting daripada ulang tahunnya. Padahal yang punya acara biasa saja, bahkan tertawa lepas mendengar gurauan Safira.


"Oh iya, kayaknya di belakang kami banyak yang ngantri buat ngucapin. Kami pergi dulu ya, Zam," ucap Safira lalu pergi berlalu tanpa menoleh sama sekali. Tanpa dirinya sadari, Dara tengah ditahan oleh Azzam.


"Sini dulu, Dar. Temenin gue," ucap Azzam pada Dara. Azzam tidak sungkan pakai lo-gue ke Dara.


"Ntar ada pak Alberto. Gue segan," jawab Dara. Mereka memang terlihat canggung saat ada Safira. Tapi tanpa Safira ketahui, keduanya tengah mempererat hubungan.


"Lo tuh harus biasain diri di depan Daddy. Kan calon mertua!" gurau Azzam sambil tertawa menggoda. Alhasil sebuah cubitan mendarat mulus di pinggang Azzam.


"Aww! Sakit tau, Dar! Gue balas gigit nih," sungut Azzam kesakitan.


"Jaga image, Zam! Ini pesta, banyak yang liatin kita!" ucap Dara memperingati.


"Biarin aja! Gue sengaja!" jawab Azzam santai.


Safira menyadari Dara yang hilang dari sisinya. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan Dara.


Netranya menangkap sosok Dara kini tengah berdiri cantik di samping Azzam. Kini perasaannya menjadi campur aduk. Ternyata benar tebakannya, Azzam punya perasaan lebih pada sahabatnya itu. Jujur, Safira iri. Bahkan sakit hati. Dirinya yang lebih lama mengenal Azzam, bahkan menyukai Azzam selama ini. Tapi hasilnya apa? Dara dengan lebih mudah mengambil hati seorang Azzam.


Safira ingin marah dan mengamuk pada Dara. Kenapa Dara seolah-olah merebut cinta pertama Safira? Safira tidak pernah menceritakan perasaan terpendamnya terhadap Azzam kepada Dara. Itulah penyesalan Safira.

__ADS_1


"Harus ya semua laki-laki mandang Dara? Gue kurang cantik kah? Atau kurang menarik?" lirihnya begitu sendu.


__ADS_2