
"Benarkan dugaan saya? Kamu suka sama Azzam." Darren mengulangi pertanyaannya untuk Safira. Safira merasa dirinya terpojokkan.
"Ih, enggak kok. Mana ada saya suka sama Azzam. Bapak kan tau sendiri Azzam itu pacarnya Dara," elak Safira.
"Ya ... saya cuma penasaran aja sih. Gak mungkin kan kamu nangis tanpa alasan di depan ruangan Azzam?" serang Darren lagi.
"I-itu ... itu tadi saya cuman kelilipan debu," bohong Safira. Dia tak berani menatap mata Darren, takut ketahuan berbohong.
"Kelilipan debu atau cemburu sama dua orang yang lagi memadu kasih itu?" jebak Darren. Kenapa susah sekali Safira terbuka padanya. Padahal Darren ingin sekali mengenal Safira lebih dalam. Tentu saja untuk melancarkan niat awalnya.
Safira benar-benar mati kutu untuk kesekian kalinya karena Darren. Safira sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut atasannya.
"Kenapa? Benarkan?" tanya Darren lagi.
Sumpah demi apapun, Safira rasanya ingin lari dan kabur dari sini.
"Pak ... bisa kita berhenti bicara soal ini? Saya gak mau bahas ini, Pak." Akhirnya Safira pun memberanikan diri mengungkapkan unek-uneknya.
"Ou, oke. Bukan masalah buat saya." Jujur, Darren merasa sedikit kasihan melihat Safira yang dirinya paksa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Darren yakin seribu persen, pasti ada sakit hati yang mendalam bagi Safira.
"Makasih, Pak. Kalau gitu saya pulang dulu ya," ucap Safira. Sedetik kemudian Safira menutup mulutnya sendiri karena keceplosan.
"Pulang? Ini baru jam berapa?" tanya Darren penuh curiga.
Safira jadi gelagapan dan bingung. "Anu ... itu ... saya ... saya udah izin tadi kok, Pak. Aduh, kepala saya sakit, Pak. Makanya saya izin pulang," bohong Safira.
Namun Darren tidak mudah dibohongi begitu saja.
"Oh seriusan? Coba sini saya liat surat izinnya," pinta Darren.
Mati. Tamat sudah riwayat Safira.
Safira diam tidak menjawab, kepalanya terasa kebas karena kelamaan menunduk.
"Kamu mencoba bolos ya?" tuduh Darren.
Safira yang ketakutan tanpa sadar memegang tangan Darren.
"Saya minta maaf, Pak! Saya janji gak bakalan bolos lagi! Maaf ya, Pak! Plis, jangan pecat saya, Pak!" rengek Safira bergelantungan di lengan Darren.
Tanpa bisa ditahan, senyum Darren pun melebar dengan sendirinya. Ahh, senangnya ditempeli wanita cantik seperti Safira.
__ADS_1
"Oke, lain kali jangan diulangi!" tegas Darren.
Safira pun melepaskan lengan Darren.
"Hehe, makasih Pak. Kalo gitu saya masuk ke dalam dulu ya," ucap Safira lalu pergi dengan sedikit berlari.
Melihat Safira begitu terburu-buru, Darren jadi curiga. Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh gadis cantik itu?
"Ah sial, bayarannya! Beraninya kamu kabur, Safira!" decak Darren. Sedetik kemudian dirinya tersenyum. Lucu.
"Hah? Aku ini kenapa? Udah kek anak ABG aja senyam-senyum gak jelas!" Darren merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Malas berpikir terlalu jauh, akhirnya Darren pun memilih untuk pergi ke apartemennya.
Sampai di apartemen, Darren langsung menghempaskan tubuhnya yang sudah tanpa jas ke kasur.
"Ah, enaknya," gumam Darren begitu puas.
Sedikit lagi Darren terlelap namun suara dering ponselnya membuatnya kaget dan terbangun.
"Sial! Siapa sih yang ganggu orang pagi-pagi!" kesal Darren lalu menggapai ponsel di nakas samping ranjang.
Darren melihat layar ponselnya, terpampang nama Harry di sana. Dengan cepat Darren menekan tombol merah. Malas sekali rasanya mendengar suara teman sialan yang sudah mengirim pria cabul ke perusahaannya. Darren kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
"Ck! Mengganggu saja!" kesal Darren lalu menekan tombol hijau di ponselnya.
"Ya?" ucap Darren terlebih dahulu.
"Bro, kenapa Rusen tiba-tiba datang ke perusahaan gue? Terus marah-marah ke gue, katanya lo gak professional sama sekali, nolak dia gitu aja," jelas Harry tanpa basa basi.
Darren yang mendengar cerita Harry sedikit kesal. Apa katanya? Menolak begitu saja?
"Harry, lo dengar gue ya! Orang yang lo kirim ke gue itu sama sekali gak bermoral!" jawab Darren tanpa segan sama sekali.
"Hah? Maksud lo?" Harry bingung. Cerita yang didengarnya adalah Rusen yang ditolak begitu saja oleh Darren. Tanpa tahu apa alasannya.
"Orang yang lo kirim itu berani gangguin karyawan gue," jawab Darren dengan malasnya.
"Tapi ...." Darren yang malas mendengar unek-unek Harry pun langsung memutuskan panggilan.
"Mau istirahat saja susah!" gerutu Darren sebal. Niat hati ingin istirahat, malah ditimpa banyak masalah!
__ADS_1
Lagi-lagi ponsel Darren berbunyi. Dengan penuh kekesalan Darren pun mengangkat panggilan itu tanpa melihat layar lagi.
"Gue gak peduli lagi! Udahlah gak usah bahas itu lagi! Gue capek, mau tidur!" cecarnya tanpa ampun.
"Darren! Di mana kamu?! Berani-beraninya kamu kabur dari tanggung jawab!" oceh Alberto pada putra sulungnya.
Darren yang kaget mendengar suara Daddy-nya langsung mematikan telepon begitu saja. Dengan secepat kilat ia menyambar jas dan memakai sepatunya.
"Ah sial!" geramnya sambil berlari menuju parkiran.
Darren memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampainya di kantor dirinya langsung berlari menuju ruangannya.
"Darimana kamu, Darren?" tanya Alberto saat Darren membuka pintu.
Darren memang pria dewasa, tapi saat berhadapan dengan Alberto Darren adalah seorang putra. Entah kenapa nyalinya sedikit menciut. Hanya sedikit.
"Dari apartemen, Dad," jawab Darren dengan suara pelan. Darren tahu betul kalau dirinya bersalah.
"Daddy tadi kesini mau nanya perkembangan kerjaan kamu, tapi ternyata ruangan kamu kosong. Mana gak ada ngasih kabar, bahkan ke Azzam pun kamu gak ngasih tau," jelas Alberto.
"Dia lagi sibuk sama pacarnya," jawab Darren sedikit membela diri.
Ah, benar juga. Alberto lupa kalau putra sulungnya punya kekasih.
"Terus, kamu? Kamu sibuk ngapain sampai ninggalin kantor begitu saja?" tanya Alberto mengintimidasi Darren.
Darren diam.
"Sibuk sama pacar juga? Atau wanita bayaran? Oh ayolah Darren! Buang kebiasaan buruk kamu itu, kamu bukan di luar negeri lagi. Dibandingkan pacar lebih baik kamu cari istri secepatnya! Ingat umur kamu udah kepala tiga!"
Mendadak telinga Darren menjadi panas mendengar nasehat serupa omelan daddy-nya. Ternyata orang tua sama saja, enggak laki-laki atau perempuan semua omelannya sangat-sangat pedas.
"Secepatnya Darren bakal bawa calon istri ke depan Daddy and Mommy," ucap Darren begitu yakin. Darren menjadi semakin semangat mengejar Safira, bukan hanya untuk pemuasnya, tapi juga untuk menjadi istrinya!
"Oke, Daddy percaya. Tapi jangan sampai kamu sembarangan milih wanita! Istri itu bukan wanita bayaran. Bahkan mencari wanita bayaran saja harus pilih-pilih, apalagi istri! Daddy gak mau punya menantu yang aneh-aneh," pesan Alberto. Selebihnya ia mempercayakannya ke Darren.
"Pilihan aku jarang meleset Daddy," ucap Darren begitu yakin.
"Kamu sudah dewasa, gak perlu hukuman apapun untuk menembus kesalahan kamu! Kamu pastinya bisa menembus sendiri kesalahanmu. Pahamkan, Darren?"
Darren pun mengangguk mantap. Setelahnya Alberto pergi meninggalkan Darren sendiri di ruangan itu.
__ADS_1
"Bersiaplah calon istri," seru Darren dengan senyum miringnya.