CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
CEO VS DOKTER


__ADS_3

Dokter Yohan mendadak nge-blank alias hilang fokus saat jari-jari lentik wanita yang menjadi pasiennya itu menjalar di dadanya. Sungguh, selama ini Yohan selalu menjaga diri dari yang namanya wanita. Dia memang pernah berpacaran tapi itupun hanya sebatas pegangan tangan atau gandengan. Inilah pertama kalinya ada wanita yang menyentuhnya sejauh ini.


"Yohan! Cepat biusnya! Lo jangan nyari kesempatan sama asisten gue ya!" cecar Darren lalu menyadarkan Yohan yang masih terpaku di tempat.


Dokter Yohan pun dengan sigap mengambil lengan Safira dan menahannya lalu langsung menyuntikkan obat tidur dengan hati-hati. Beberapa detik kemudian gadis itu pun melemah dan tertidur pulas.


"Cih! Kalau kerja tuh yang bener!" rutuk Darren begitu kesal karena kejadian tadi.


"Loh? Gue udah bener kok. Di mana salahnya?" Dokter Yohan bingung dengan sikap Darren.


"Ah sudahlah. Sekarang gimana? Berapa lama gadis itu tertidur seperti itu?" tanya Darren.


Dokter Yohan pun mempersilahkan Darren duduk di sebuah kursi. Mereka saling berhadapan dengan pembatas sebuah meja.


"Efek biusnya enggak akan lama, dosisnya rendah. Gue gak menjamin kalau dia bangun dalam keadaan udah normal atau belum. Kalau dia bangun cepat, kemungkinan dia masih dalam keadaan mabuk," jelas Yohan.


Darren pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa bisa sampe minum obat kek begituan?" tanya Yohan penasaran.


Darren pun langsung memicingkan matanya menatap Yohan dengan penuh selidik. Apa maksudnya itu? Kepo banget, batinnya.


"Dijebak," jawab Darren sedikit ketus.


"Kok bisa dijebak? Siapa yang ngejebak dia?" tanya Yohan begitu penasaran.


Darren makin kesal dibuat dokter itu. Apalagi mengingat kejadian tadi, ah rasanya mau dia usir saja pria dihadapannya ini. Tapi ini adalah rumah sakit, bukan miliknya pula.


"Luna. Luna salah sasaran. Dia ngincar gue, tapi yang kena malah Safira," ungkap Darren.


Yohan kaget saat Darren menyebut nama Luna. "Luna?! Pacar lo pas SMA itu? Iya kan? Kok bisa kalian ketemu? Ketemu di mana?" serang Yohan dengan rentetan pertanyaan.


Belum hilang kesal Darren karena kejadian tadi, kini makin membesar pula kekesalannya karena dokter di depannya ini begitu berisik.


"Udahlah! Gue pusing!" sungut Darren lalu menyenderkan kepala di senderan kursinya. Harap-harap sakit kepalanya hilang.


"Btw, Ren. Itu asisten lo udah punya pacar belum?" tanya Yohan sambil tersenyum-senyum malu.


Jujur saja, waktu pertama kali gadis itu menyentuh tubuhnya, jantungnya berdetak tidak karuan. Padahal Yohan tidak punya riwayat penyakit jantung sama sekali.


"Kenapa lo nanya begitu?" Darren langsung menegakkan duduknya. Sepertinya dirinya harus siaga 1 terhadap Safira. Lengah sedikit, bisa-bisa dihembat pria lain. Apalagi kali ini rivalnya adalah seorang dokter yang tampan.


"Cih, masih gantengan gue lah!" Darren memuji dirinya sendiri dalam hati.


"Gue tertarik sama Safira," jawab Yohan dengan mata berbinar cerah. Sepertinya dokter itu benar-benar jatuh cinta pada sentuhan pertama dengan Safira.


"Dia udah punya calon suami!" tukas Darren sedikit berbohong agar Yohan mundur untuk mendekati Safira.


"Gue calon suaminya!" sambung batinnya. Kenapa makin banyak saja hambatan untuk dirinya saat mendekati Safira? Huh, menyebalkan.


"Baru calon kan? Berarti gue masih ada kesempatan dong?" Ternyata Darren salah perhitungan. Bukannya mundur, Yohan malah makin semangat mengejarnya.


"Calonnya ganteng, kaya raya, dan mapan. Lo ga sebanding sama dia," balas Darren lagi.


"Gue kurang apa? Gue juga ganteng, ganteng banget malah. Kaya raya juga tujuh turunan, apalagi mapan!" Yohan masih kukuh untuk mendekati Safira.

__ADS_1


"Cih! Yang jelas—"


Ucapan Darren terpotong karena mendengar suara derit ranjang. Kedua pria itu pun langsung mendekati Safira.


"Kamu udah sadar?" tanya Yohan.


"Saya di mana?" tanya Safira belum sadar sepenuhnya.


Netranya pun menangkap sosok Darren walau samar-samar. Walaupun tidak jelas tapi Safira dapat melihat dada bidang Darren yang memang belum ditutup sejak tadi. Tiba-tiba tubuhnya memanas lagi. Efek obat itu mulai menyerangnya lagi.


"Pak ... to-tolong ... ah." Safira menggeliat tidak karuan di atas ranjang itu sambil meraba-raba tubuhnya sendiri.


Darren sontak memandang ke Yohan. Yohan sendiri saat ini tengah terdiam dengan mata yang melebar. Sesekali dirinya meneguk salivanya sendiri.


"Ah sial*n!" rutuk Darren lalu mendekati Safira. Darren menahan tangan Safira agar tidak membuat hal aneh-aneh lagi.


"Yohan biusnya!" teriak Darren. Yohan yang tadinya terbengong langsung tersentak kaget.


"Hah apa? Kenapa?" tanya Yohan linglung.


Safira makin menggila, bahkan dirinya mulai menggerayangi tubuh Darren. Tidak hanya meraba, Safira bahkan sudah nekat mengecup beberapa bagian tubuh atas Darren.


"Safira, hentikan! Saya laki-laki normal!" desis Darren begitu frustasi. Namun Safira tak peduli, dirinya tetap melakukan hal yang dia inginkan. Safira mengambil satu tangan Darren lalu membawanya ke bagian dadanya. Sontak saja Darren membeku, begitu juga dengan Yohan. Ada rasa iri saat melihat tangan Darren menempel di sana, namun dirinya dominan shock karena belum pernah melihat hal semacam ini sebelumnya.


"Pak, iya begitu ... ah." Leng*han Safira membuat Darren semakin gila. Dokter itu malah diam saja tanpa membantu sama sekali.


"Yohan, biusnya!" perintah Darren sekali lagi.


Yohan pun bergegas menyiapkan suntikan baru dan bius baru untuk Safira. Sementara itu Safira masih dalam kondisi mabuk dan terus mengarahkan Darren untuk menyentuhi tubuhnya.


Saat Yohan berbalik, dirinya lagi-lagi dikagetkan dengan Safira. Suguhan apa lagi ini? Batinnya.


Yohan mencoba tidak peduli pada kedua manusia beda gender yang sedang berc*mbu itu. Dirinya tetap mendekat dan langsung memberikan bius pada Safira dengan teliti. Tak lama Safira pun melemah dan kembali tertidur.


Darren pun merasa kehilangan wanitanya.


"Ah, sial! Mengganggu saja!" batin Darren sedikit kesal karena Yohan membius Safira. Loh? Yang tadi minta bius siapa? Aneh kamu Darren!


"Lo keterlaluan Darren!" ucap Yohan sedikit gemetar.


"Kenapa?" tanya Darren.


"Lo berani nyium asisten lo sendiri! Gila lo ya?" sungut Yohan tidak suka. Dirinya merasa terkhianati oleh Darren. Apa kurang jelas ungkapan perasaannya tadi? Bisa-bisanya Darren mencium gadis pujaannya di depan mata kepalanya sendiri.


"Gue normal, Han," jawab Darren seadanya.


Namun Yohan sudah kepalang kesal. Dirinya sangat kesal pada Darren.


"Kali ini dosisnya lebih besar, kemungkinan Safira bangun sekitar satu sampai dua jam ke depan. Lo bisa pulang dulu atau urus administrasinya sekarang," ucap Yohan dengan nada bicara sudah tidak bersahabat.


Tentu saja Darren tidak mau meninggalkan Safira sendirian disini, apalagi ada dokter Yohan yang jelas-jelas menyukai Safira. Darren tidak mau ada pria lain yang menyentuh Safira walaupun itu temannya sendiri.


"Gue bakal nungguin Safira disini," jawab Darren lalu mengambil kursi dan duduk di samping ranjang Safira.


"Cih! Bayar dulu administrasinya! Udahlah datang gak ngantri, bayar pun nunda-nunda! Lo pikir ini rumah sakit moyang lo?!" Yohan menjadi emosi. Entahlah, rasanya Yohan ingin mengusir Darren dari sini. Loh kok pada main usir-usiran?

__ADS_1


"Kalau gue mau, gue bisa beli rumah sakit ini," jawab Darren masih dengan mode keras kepalanya.


"Oh gue tau!"


"Lo suka juga kan sama Safira?" tanya Yohan penuh selidik pada Darren.


"Kalau iya kenapa?" Kini Darren pun mulai berani mendeklarasikan peperangan pada dokter tampan itu.


"Oke! Gue bakalan bersaing sama lo buat dapatin Safira! Pemenangnya harus dipilih langsung sama Safira. Atas pilihan Safira sendiri! Lo gak boleh maksa atau pun ngancam dia," tantang Yohan sambil menjelaskan aturannya.


Darren tidak menolak maupun menerima tantangan itu. Darren hanya diam sambil menemani Safira yang tengah tertidur pulas akibat bius.


"Gue yakin Safira bakal milih gue Han, walaupun tanpa paksaan atau ancaman," tegas Darren namun dengan suara yang melirih.


Yohan tetap bersikeras ingin bersaing. "Kita harus bersaing dulu, baru ada pemenangnya. Gue gak akan melepas Safira begitu aja."


Setelah mengatakan hal itu Dokter Yohan pun pergi keluar. Dirinya berjalan menuju meja administrasi dan mengurus segala peradministrasian Safira, sekaligus pendaftarannya. Karena Darren tidak mendaftarkan Safira tadinya.


"Permisi, Mbak. Ruangan atas nama Safira di mana ya?" tanya seorang wanita tepat di sebelah Yohan. Mendengar nama Safira di sebut, Yohan pun dengan cepat menoleh.


"Kamu siapanya Safira?" tanya Dokter Yohan.


"Saya temannya, Dok. Dokter tau Safira?" Ternyata wanita yang mencari Safira itu adalah Dara. Dirinya langsung datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Darren. Darren sempat mengirim pesan singkat pada Dara. Darren butuh seseorang untuk mennggantikannya menjaga Safira, karena Darren tidak mau Yohan yang menjaga Safira.


Dokter Yohan pun menuntun Dara menuju ruangan Safira.


"Kalau boleh tau Safira kenapa bisa sampai masuk rumah sakit, Dok?" tanya Dara saat berjalan di lorong rumah sakit.


"Safira dijebak orang dan meminum obat perangs*ng," jawab Yohan. Dara sedikit terkejut mendengar penuturan dokter Yohan. Emangnya dimana temannya itu berada sampai bisa dijebak seperti itu?


Sampainya di depan pintu ruangan, keduanya langsung masuk. Tentu saja Darren terkejut ketika melihat kedatangan keduanya.


"Cih, pasti dia sok akrab sama Dara!" batin Darren tidak suka Yohan yang mulai masuk ke kehidupan Safira.


"Pak Darren," sapa Dara.


"Hm, kamu jaga Safira sebentar di sini. Saya mau keluar ngurus administrasi Safira," jelas Darren lalu beranjak dari kursi.


Dara pun langsung memutari ranjang dan duduk di mana tempat Darren duduk tadi.


"Tidak perlu repot-repot, gue udah ngurus semuanya," cicit Yohan sedikit bangga. Darren sudah kalah cepat darinya.


"Safira itu tanggung jawab gue, dia asisten gue! Lo gak perlu repot-repot peduliin dia, duit gue masih banyak!" balas Darren tidak senang.


Dara yang melihat interaksi keduanya merasa aneh. Seperti ada aura peperangan di antara keduanya.


"Cepet bilang! Berapa jumlah uang yang harus gue ganti?" tanya Darren.


Yohan langsung mengembangkan senyum sombongnya. "Sudahlah, Darren. Gue juga berhak peduliin Safira, bukan cuman lo doang," balas Yohan tidak mau mengalah.


Kedua pria satu generasi itu pun terus-terusan beradu mulut di dalam ruangan. Dara yang pusing mendengarnya mencoba memberanikan diri mengusir keduanya.


"Bapak-bapak, mohon maaf ya saya lancang. Tapi bisa tidak kalian kalau mau berantem jangan disini? Lebih baik kalian keluar saja, baru lanjut berantemnya. Kasihan Safira bisa terusik gara-gara kalian berdua," ucap Dara berusaha sesopan mungkin.


Keduanya yang sedang di sungut emosi langsung menatap Dara dengan cepat. Dara pun langsung kikuk mendapati tatapan aneh seperti itu dari dua pria dewasa di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2