
"Yang, kamu ada ngehubungin Safira gak?" tanya Azzam saat makan berdua dengan sang pacar di ruang kerja pribadinya.
"Ada. Dia bilang lagi sakit, makanya gak masuk kerja hari ini. Semalam tuh yaa sampe frustasi gue ngehubungin dia gak dibalas-balas! Untung aja pagi ini dia udah ada ngabarin," sungut Dara.
Semalam Dara tiba-tiba risau tanpa alasan. Pikirannya selalu tertuju pada Safira. Dara sudah mencoba menghubunginya, namun tidak ada jawaban sama sekali. Bahkan saat malam harinya pun Dara mengunjungi kontrakan Safira namun kosong.
"Sakit?" tanya Azzam dan dibalas anggukan oleh Dara.
"Enggak mungkin ah! Kamu sendiri liat kan Bang Darren tadi di ruangan, pas kita lewat tadi?" seru Azzam.
"Lah apa hubungannya pak Darren sama Safira yang sakit?" Dara bingung. Entah kemana arah pembicaraan pacarnya itu.
"Safira udah nikah sama Bang Darren. Otomatis kalau Safira sakit, pasti Bang Darren gak di sini," ungkap Azzam.
Dara langsung tersedak nasi mendengar ucapan Azzam. Gak mungkin, batin Dara.
"Jangan ngaco deh Zam! Gak mungkin Safira nikah gak ngabarin gue," cecar Dara.
"Yang! Jangankan kamu, aku yang adiknya bang Darren aja gak ada dikasih tau sama sekali!" rutuk Azzam. Dirinya juga kesal.
Dara mengerutkan keningnya heran. Kenapa Safira bisa tiba-tiba nikah? Dengan pak Darren pula.
"Terus pak Alberto sama tante Mulan, gimana?" tanya Dara lagi.
"Aku juga gak tau," jawab Azzam.
Azzam dan Dara sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka berdua sama-sama memikirkan skenario yang masuk akal yang menjadi penyebab keduanya menikah tanpa kabar.
Ya walaupun memang ini yang diharapkan Dara, tapi kan setidaknya mengabari. Lalu Dara juga penasaran dengan wali nikah Safira. Dara tahu kalau Safira punya hubungan yang buruk dengan ayahnya. Safira pernah berkata padanya dia malas menikah karena tidak mau berhubungan dengan sosok yang katanya ayah itu.
"Yang, gimana kalau kita diem-diem ke apartemen? Pulang kerja nanti," ajak Azzam. Ia benar-benar mati penasaran dibuat dua insan itu.
"Apartemen? Safira di sana?" tanya Dara lalu dibalas anggukan oleh Azzam.
*****
"Yes! Akhirnya selesai!" ucap Darren lega. Dirinya benar-benar lelah seharian bekerja tanpa henti. Namun, mengingat ada wanita cantik yang menunggu di apartemen, membuatnya bersemangat kembali. Semangat untuk pulang. Pikirannya bahkan sudah menerawang jauh kemana-mana.
Ting!
Satu notifikasi menghentikan pikiran iya-iya Darren.
"Safira udah sehat kan?" pesan Yohan pada Darren.
Darren langsung berdecih tidak senang. "Gatel banget nih orang sama bini gue!" rutuknya tiba-tiba kesal.
"Gak usah sok perhatian sama bini gue!" balas Darren pada sahabat karibnya sejak SMA itu. Sahabat ya sahabat, tapi untuk gatal ke istri pokoknya gak ada toleransi.
Darren menepis pikirannya terhadap Yohan. Ia pun mulai fokus pada Safira lagi. Untung saja ruangan ini kosong. Kalau tidak ... pasti yang melihat Darren senyum-senyum sendiri seperti itu bakal ketakutan.
Darren yang sudah selesai berkemas langsung menuju parkiran. Dengan kecepatan sedang ia memacu mobilnya menuju apartemen. Darren sama sekali tidak mengetahui kalau Azzam dan Dara kini tengah mengikutinya dari belakang.
Darren memencet bel saat tiba di depan pintu apartemennya. Padahal Darren bisa saja langsung memasukkan sandi apartemen itu, hanya saja dia ingin disambut. Siapa sih yang gak mau disambut sama istri?
"Hai, Baby Girl," sapa Darren begitu romantis.
Bahkan kedua insan yang sedang mengintip itu pun tertegun tidak percaya dengan pemandangan yang mereka lihat.
"Kamu udah pulang, Mas?" tanya Safira dengan senyuman yang mengembang.
"Loh? Mas?" tanya Darren sambil terkekeh. Perasaannya begitu berbunga-bunga.
"Iya, aku udah mutusin buat manggil mas," ucap Safira.
Safira benar-benar tebar pesona pada suaminya hari ini. Safira sudah yakin sembilan puluh sembilan persen untuk memberikan cinta yang banyak kepada pria itu.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Darren langsung menyosor bibir istrinya dengan penuh ga*rah. Safira pun membalas suaminya dengan semangat yang tak kalah membara.
Azzam sampai menelan air liur melihat abangnya yang begitu liar.
Apalagi Dara. Ia benar-benar shock melihat sahabatnya yang ternyata suhu. Ternyata selama ini Safira menonton banyak film romantis untuk belajar, pikir Dara.
"Akhirnya bakat terpendam temen gue udah kepake," batin Dara merasa lucu.
"Jadi gimana ni, Zam? Jadi nggak?" tanya Dara. Dara jadi takut-takut mau mengunjungi Safira di saat Darren sedang bermain dengannya.
"Gas aja!" jawab Azzam yakin.
Di saat Darren hendak membuka resleting baju Safira, tepat saat itu bel berbunyi.
Safira langsung menepis tangan Darren.
"Mas ada orang," seru Safira sedikit panik.
"Udah gak usah dibukain. Kita lanjut aja," ucap Darren tak mau rugi.
"Mas ...," tegur Safira. Mau tak mau Darren pun dengan gontai membukakan pintu.
"Cih siapa sih, mengganggu orang saja!" sungut Darren. Dirinya menarik gagang pintu dengan kesal.
Saat pintu terbuka, tampaklah Azzam dengan senyum tengilnya. Di sampingnya berdiri Dara yang menyapa canggung lewat anggukan.
"Kenapa kalian kesini?!" sungut Darren.
"Baju abang kenapa kebuka tuh?" goda Azzam tak menghiraukan pertanyaan Darren.
"Pulang sana! Aku lagi sibuk!" celetuk Darren mengusir adiknya.
"Safira ... main yuk!" teriak Dara persis seorang bocah yang memanggil temannya untuk bermain di lapangan.
Darren langsung mendelik garang pada Dara. Dara hanya menyengir tak berdosa. Dara berani pada Darrem karena yakin Safira pasti bisa mengendalikan emosi Darren. Yasudah, sekalian saja Dara ikut mengerjai Darren. Satu visi misi sama pacarnya.
"Dara? Kok lo di sini?" tanya Safira heran lalu menatap suaminya seakan meminta penjelasan.
"Ah udahlah, kalian pulang aja! Kami sibuk!" ucap Darren hendak menutup pintu. Namun dengan gesit Azzam langsung masuk ke apartemen.
"Permisi ya, Pak Darren," ucap Dara lalu ikut masuk.
Darren cemberut. Padahal dirinya mau bersenang-senang dengan Safira tadinya. Tapi mereka berdua malah datang mengusik.
"Mengganggu saja," sinis Darren merajuk.
Safira yang melihat Darren kesal pun langsung memegangi lengan kekar suaminya.
"Mas, kok mereka bisa ke sini? Mereka udah tau tentang kita?" tanya Safira pada Darren.
Darren mengangguk. Dirinya menatap nanar ke arah Azzam dan Dara yang sekarang tengah mengotak-atik kulkas mencari makanan.
"Yaudah, bagus deh kalau mereka udah tau. Aku gak perlu jelasin apa-apa lagi. Kamu jangan marah ya, Mas. Malam nanti kan bisa kita ulang lagi. Mungkin mereka penasaran sama kita makanya nyusulin ke sini," bujuk Safira. Darren yang mendengar ucapan Safira yang seolah-olah 'mengajak' itu, mendadak sumringah. Suasana hatinya kembali cerah.
"Tapi kamu yang di atas ya?" goda Darren. Safira pun langsung mencubit perut Darren dan membuat pria itu terkikik geli.
Ekhem!
"Enak yah pengantin baru, romantis-romantisan mulu. Ingat umur, Bang!" ejek Azzam.
Untung saja ada Safira di dekatnya, kalau tidak, sudah pasti sepatu Darren melayang ke kepala Azzam.
Safira yang ketangkap basah mendadak malu, pipinya memerah.
Karena tau istrinya malu, Darren pun mengajak istrinya untuk duduk di ruang tamu minimalis yang ada di apartemennya ini. Apartemen ini memang dibuat sesimple mungkin. Setiap ruang-ruang di apartemen milik Darren hanya dibatasi oleh sekat-sekat yang kokoh.
__ADS_1
"Cepat kesini kalau kalian mau tau kejadiannya!" titah Darren.
Kedua anak muda itupun langsung mendekat dan bergabung dengan keduanya.
Darren hanya menceritakan garis besarnya. Di mana mereka menikah paksa karena digerebek oleh warga karena difitnah.
"Kenapa kalian gak ngelawan? Kenapa gak dilapor ke polisi buat diusut tuntas?" tanya Azzam. Uang Darren banyak, bisa saja ia membawa masalah ini ke polisi maupun pengacara untuk membelanya.
Darren melirik tajam ke arah Azzam.
Dara di situ hanya diam menyimak. Dara bisa menebak bahwa Darren memang sengaja tidak memberi perlawanan karena bosnya itu memang menyukai Safira. Dara pun tersenyum simpul.
"Maaf, Fir. Bapak lo gimana?" Dara penasaran.
"Ya gitu deh," jawab Safira malas membahas pria itu.
"Abang belum ada laporan ke Daddy and Mommy?" tanya Azzam. Azzam beberapa hari terakhir ini tinggal sendirian di rumah karena orang tuanya tengah berlibur ke luar negeri.
"Tadi siang aku udah ngabarin Mommy, tapi blum ada jawaban. Mungkin lagi sibuk romantisan sama Daddy," jawab Darren acuh tak acuh.
"Hmm, terus gimana, Bang? Kalian kan jatuhnya nikah siri, kapan kalian mau daftar ke KUA?" tanya Azzam lagi.
"2 minggu lagi kami akan sebar undangan untuk akad sekaligus resepsi!" jawab Darren yakin. Safira yang tidak tau dengan rencana itu ikut menoleh ke arah suaminya.
"2 minggu?" tanya Safira.
"Maunya sih besok kalau bisa, tapi kan banyak yang harus di siapin, jadinya 2 Minggu," jawab Darren dengan senyum menggoda kepada istrinya.
Azzam sampai bergidik ngeri bercampur jijik melihat abangnya yang tiba-tiba menjadi bucin seperti itu. Udah tua juga, batin Azzam.
"Beb, kita kapan ke KUA?" tanya Azzam pada Dara. Dirinya juga maulah bucin-bucinan. Masa iya kalah sama orang tua.
"Terserah kamu maunya kapan," jawab Dara sambil tersenyum lucu. Dirinya juga ikut-ikutan menjadi bucin.
"Gimana kalau barengan mereka aja?" usul Azzam.
Safira dan Dara kompak saling memandang. Double wedding pernah menjadi impian mereka. Mendengar usulan Azzam membuat keduanya antusias.
"Gak ada. Kalian nikah sendiri aja! Gak usah ikut-ikutan!" tolak Darren mentah-mentah.
Ketiganya kompak cemberut mendengar penolakan dari Darren.
"Udah kan keponya? Sekarang kalian pulang deh, pergi mojok juga boleh. Yang penting jangan di sini. Kami sibuk!" usir Darren. Safira terkekeh melihat tingkah suaminya. Segitu tidak sabarnya.
"Kakak ipar ... masa kami diusir?" Azzam memelas. Safira hanya bisa tertawa. Apalagi mendengar sebutan 'kakak ipar' dari mulut Azzam.
Darren mendengar tawa Safira begitu renyah. Dirinya menjadi iri dan was-was pada adiknya sendiri.
"Pulang sana!" usir Darren untuk kesekian kalinya.
Pasangan muda itu pun akhirnya menurut dan pulang. Mereka juga pahamlah kalau Darren dan Safira pasti lagi romantis-romantisnya menjadi pengantin baru.
"Berani ya kamu senyum secantik itu di depan pria lain?" desis Darren cemburu. Ia cemburu mendengar tawa renyah Safira saat bergurau dengan Azzam tadi.
"Azzam?" tanya Safira.
Darren pun langsung menggendong paksa Safira dan menghempaskannya ke kasur.
"Ini beda ya sama jatah nanti malam. Ini tuh hukuman buat kamu karena udah tebar pesona ke pria lain," jelas Darren.
"Nanti aku kecapekan gimana, Mas? Kamu gak kasihan ya sama aku? Lagipula kan Azzam adik ipar aku sekarang, gak lebih." Safira memelas sekaligus menggoda suaminya.
Safira sebenarnya ngeri-ngeri sedap mendengar kata hukuman, walaupun Safira tau hukuman yang akan diberikan Darren adalah hukuman yang menyenangkan. Emang ada ya?
"Nakal ya kamu sekarang, udah berani menggoda saya?" ucap Darren dengan nada suara persis saat menjadi atasan Safira kemarin.
__ADS_1
"Kan kamu sekarang suami aku, wajar dong aku godain kamu. Gak mungkin aku godain dokter Yohan!" jawab Safira memanas-manasi Darren.
"Safira!" Darren yang terpancing pun langsung melahap Safira. Dirinya berencana memberikan banyak tanda kepemilikan di seluruh tubuh wanita itu. Supaya semua orang tau, kalau Safira hanyalah milik Darren seorang!