CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
Menjauh


__ADS_3

Setelah tertidur selama satu setengah jam, akhirnya Safira terbangun. Dirinya mulai membuka mata perlahan sembari menghilangkan sedikit demi sedikit sakit di kepalanya.


"Aww," rintih Safira saat mencoba memaksa untuk bangun.


Dara yang tadinya terlelap langsung terbangun dari tidurnya.


"Lo udah bangun, Fir?" ucap Dara sambil membantu temannya itu untuk duduk senderan. Safira pun mengangguk lemah.


Safira mencoba untuk mengingat-ingat apa yang terakhir kali terjadi padanya. Betapa malunya Safira saat berhasil mengingat kejadian itu. Mau ditaruh dimana wajahnya jika berhadapan dengan Darren nantinya.


"Gue panggilin dokternya ya, Fir?" bujuk Dara.


Mendengar nama dokter, Safira langsung menahan tangan Dara.


"Plis ... jangan, Dar," mohon Safira. Pasalnya dirinya itu teramat malu jika dipertemukan dengan lelaki itu. Apalagi Safira juga telah mengingat kelakuannya pada dokter tampan itu.


"Gak papa. Paling cuman dicek doang," ucap Dara yang sepertinya tidak mengerti maksud Safira.


Dara pun keluar dari ruangan itu dan mencari keberadaan dokter. Namun saat pintu dibuka, yang pertama kali dirinya jumpai adalah Darren yang kini tengah tertidur duduk di sebuah kursi tunggu.


"Pak." Dara mencoba membangunkan Darren. Tak lama Darren pun membuka matanya.


"Maaf, Pak. Kalau bapak capek, bapak pulang saja, saya bakal nungguin Safira di sini," ujar Dara kasihan melihat Darren.


"Safira udah sadar?" Bukannya menanggapi Dara, Darren malah menanyakan keadaan Safira.


Dara pun mengangguk memberi jawaban.


"Kalo gitu bapak tolong temenin Safira sebentar ya. Saya mau cari dokter buat cek Safira," seru Dara lalu pergi. Sedangkan Darren beranjak dari kursi menuju ruangan Safira.


Saat Darren memegang gagang pintu, pintu itu langsung terbuka dari dalam. Darren begitu kaget saat melihat Safira tepat dihadapannya. Begitu juga dengan Safira.


"Kamu mau kemana?" tanya Darren.


"Sa-saya mau ke toilet, Pak," bohong Safira. Sejujurnya Safira ingin kabur. Dirinya begitu malu berjumpa dengan orang-orang.


"Toilet ada di dalam, gak perlu keluar ruangan," seru Darren.


Safira mati kutu. Dirinya bingung mau beralasan apa lagi agar bisa kabur dari rumah sakit ini.


"Sa-saya mau pulang, Pak," cicit Safira sambil menunduk.


Mendengar permintaan Safira, batin Darren langsung menolak.


"Tunggu sebentar lagi, kamu harus diperiksa terlebih dahulu," seru Darren lalu mencoba menuntun Safira untuk masuk kembali.


Namun Safira terus menolak. Mau tak mau Darren pun mengangkut Safira dengan cara yang sama saat di kafe. Persis seperti mengangkat karung beras di pundak.


"Pak!" Safira berteriak saat Darren memaksanya.


"Diam! Kamu mau saya banting?!" ancam Darren. Darren hanya mengancam, tidak bersungguh-sungguh. Ya kali banting-banting manusia!

__ADS_1


Safira langsung bungkam seribu bahasa.


Setelah Darren membaringkan Safira di kasur, tak lama datanglah Dara berserta dokter Yohan.


"Saya periksa dulu ya ... Safira," ucap dokter Yohan sangat ramah. Melihat itu Darren langsung cemberut. Dirinya tidak suka Yohan tebar pesona pada wanita idamannya.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, akhirnya Safira diperbolehkan pulang.


"Semuanya udah oke, kamu udah boleh pulang. Kalau mau nginap di sini juga boleh, saya bisa temenin," goda dokter Yohan.


Safira hanya tersenyum kecil menanggapi gurauan dokter Yohan. Sedangkan Dara merasa takjub, sahabatnya ditaksir oleh seorang dokter! Darren tentu saja tengah menahan tangannya agar tidak kelepasan meninju teman sekaligus rivalnya itu.


"Saya pulang aja, Dok," jawab Safira sopan.


"Ayo, saya antar kalian berdua," seru Darren. Namun Safira yang masih merasa canggung dan malu memilih untuk menolak.


"Saya pulang sama Dara saja, Pak," tolak Safira.


"Kamu bawa apa ke sini?" tanya Darren pada Dara.


Dara pun menjawab lemah. "Pakai motor, Pak," jawabnya.


Darren tidak mau Safira pulang bersama Dara, apalagi Dara hanya mengendarai motor. Safira baru sembuh, lebih baik menggunakan kendaraan tertutup, pendapat Darren.


"Kamu ikut saya saja!" ujar Darren.


"Tapi pak—"


"Tapi saya gak mau diantar bapak," jawab Safira lalu tertunduk. Dirinya merasa bersalah telah mengatakan hal itu pada Darren.


Mendengar jawaban Safira, akhirnya Darren mengalah. Takutnya Safira makin tidak suka padanya jika dipaksa.


"Oke. Tapi kamu kabari saya kalau sudah sampai rumah," titah Darren lalu keluar dari ruangan.


Kini Safira berada di motor Dara. Dara dengan telaten membonceng Safira.


"Makasih ya, Dar," ucap Safira saat di motor.


Dara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Gue ngerasa kehilangan sahabat gue, Fir," lirih Dara namun masih bisa terdengar di telinga Safira.


"Gue ngerasa kehilangan lo. Gue ngerasa semenjak gue pacaran sama Azzam lo terus ngejauh dan ngehindar dari gue," seru Dara mengeluarkan semua unek-unek yang sudah lama ia pendam. Jujur saja Dara sedih saat Safira terus menghindar darinya. Seperti ada sesuatu yang Safira sembunyikan darinya.


Mendengar isi hati sahabatnya, Safira pun menjadi merasa bersalah. Hanya karena perasaannya yang tak terbalaskan, dirinya jadi mencoba melupakan sahabatnya sendiri. Menyadari hal itu, Safira langsung menangis sejadi-jadinya.


"Maafin gue, Dar," ucap Safira sambil terisak.


Dara yang mendengar tangisan Safira langsung menepikan motornya.


"Lo kenapa? Ada yang sakit? Kalo gitu kita balik ke rumah sakit aja ya?" cerocos Dara begitu khawatir.

__ADS_1


Namun Safira menggeleng. "Maafin gue, Dar. Gue janji gak akan ngehindar dan ngejauh dari lo lagi," isak Safira.


Dara pun langsung memeluk sahabatnya itu. "Safira gue bakalan balik lagi," ucap Dara lalu ikut menitihkan air mata.


*****


Hari ini Safira tetap bekerja walaupun Darren dan Dara sudah memperingatinya untuk mengambil cuti saja. Namun Safira lebih memilih untuk pergi bekerja.


Saat sampai di kantor, Safira langsung menuju ruangan tempatnya bekerja dulu. Satu ruangan dengan Dara.


"Fira!" Dara begitu senang saat temannya kembali lagi. Kemarin Dara merasa begitu kesepian. Walaupun dirinya juga sering bolak-balik ruangan Azzam, tapi tetap saja tempatnya bekerja adalah di ruangan ini dan biasanya selalu ada Safira yang menemaninya.


"Yaa," jawab Safira santai.


"Wah member cewek gatel full yah hari ini," sindir senior mereka.


"Gak usah nyari masalah! Mood gue lagi baik hari ini," sentak Dara begitu kesal.


Namun Safira langsung menenangkannya.


*****


Sudah jam 12 siang, Safira tidak ada mengabarinya. Darren saat ini begitu frustasi memikirkan gadisnya itu. Dirinya sudah mengirimkan pesan singkat pada Safira, namun belum terbaca.


Daripada kepalanya pusing tidak karuan, akhirnya Darren turun ke lobi untuk pergi ke kafe sebelah kantor.


Saat sampai di kafe, Darren tidak sengaja melihat wanita yang mirip dengan Safira.


"Tidak salah lagi. Itu Safira! Tapi kenapa dia tidak datang ke ruangan?" gumam Darren heran.


Darren melihat Safira dari kejauhan. Melihat senyumnya yang begitu mengembang membuat perasaannya meneduh.


"Akhirnya dia udah bisa menerima Dara lagi," batin Darren saat melihat keduanya bersenda gurau.


"Kamu hebat, Baby Girl."


Saat asyik memandangi gadis pujaannya, tiba-tiba seseorang datang dan bergabung di meja gadis-gadis itu. Siapa lagi kalau bukan adiknya, Azzam.


"Cih! Gimana kalau Safira masih suka sama Azzam?! Gak bisa dibiarin!" batin Darren.


Darren pun dengan gagah mendekati meja mereka. Tidak ada satu pun di antara mereka yang menyadari kedatangan Darren.


"Berani ya kamu ninggalin kerjaan?" ucap Darren begitu mengintimidasi.


Safira yang tadinya sedang meminum kopinya, tidak sengaja menyembur ke arah Azzam. Alhasil baju Azzam jadi basah.


Dara dan Safira pun langsung membantu Azzam membersihkan kemejanya yang basah menggunakan tisu.


Darren yang melihat Safira memegangi Azzam, menjadi semakin kesal saja.


"Kamu itu asisten saya, Safira. Udah berani kamu sama saya?!"

__ADS_1


Azzam dan Dara kompak terkejut mendengar ucapan Darren. Apa katanya tadi? Asisten?


__ADS_2