
Sengaja seharian ini Darren membiarkan Safira bebas. Harap-harap gadis itu datang sendiri padanya dengan niat membayar hutang. Namun sampai jam pulang pun Safira sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di depan Darren.
"Dara di mana Safira?" tanya Darren pada Dara saat berjumpa di lift. Azzam dan Dara juga ingin pulang dan tidak sengaja bertemu dengan Darren.
"Saya cuman ngelihat Safira pagi tadi, Pak. Pas agak siangan dia udah nggak ada, kata temen-temen sih dia izin pulang karena sakit, "jawab Dara.
"Saya chat di WhatsApp nggak dibalas sama sekali," sambungnya.
"Ya iyalah nggak dibales! Kalian itu bikin Safira sakit hati," batin Darren.
"Oke, makasih infonya," ucap Darren lalu pergi berjalan duluan saat pintu lift terbuka.
"Wah, kayaknya impian gue bakal terwujud, By!" ucap Dara girang.
Dari zaman SMA Dara sudah berteman dengan Safira. Dara menganggap Safira seperti kakaknya. Karena itulah dia terobsesi untuk menjadi ipar Safira.
"Haha, impian iparan sama Safira kan?" tebak Azzam. Dara mengangguk lucu hingga satu kecupan mendarat di keningnya.
Dara langsung memukul lengan pacar jahilnya itu. "Ih liat-liat tempat dong! Kalau diliat orang gimana?!" sungut Dara merajuk.
"Iya deh iya, maaf ya, Sayang. Tapi kalo lagi di ruangan aku, gapapa kan?" goda Azzam. Dara tersenyum tipis lalu berjalan mendahului Azzam.
"Ih malu-malu kucing. Tadi aja di dalem minta nambah," cekikik Azzam lalu menyusul pacarnya.
Sementara itu, Darren sekarang sedang menyetir mobilnya. Pikirannya tidak fokus karena memikirkan Safira. Apakah gadis itu benar-benar sakit atau cuma berpura-pura supaya bisa menghindar dari Azzam dan Dara?
"Segitu sakitnya ya hati kamu, Baby Girl?" gumam Darren tanpa sadar. Bahkan dirinya sendiri kaget dengan ucapannya. Apa tadi? Baby girl?
"Bagus juga," kekeh Darren sambil membayangkan dirinya memanggil Safira dengan sebutan itu.
__ADS_1
*****
Hari ini Safira kembali bekerja seperti biasa. Semalam dia beralasan sakit dan meminta izin untuk pulang lebih awal kepada ketua divisinya. Safira cukup puas tidur dari siang ke malam, lanjut malam ke pagi. Gadis itu tidak membiarkan otaknya memikirkan Azzam dan Dara walaupun di dalam mimpi.
Sampainya di depan lobi, Safira langsung masuk. Tapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh seseorang.
"Mau kabur kemana kamu, Safira?" Suara itu begitu Safira kenali. Siapa lagi kalau bukan CEO nya yang begitu sombong dan pamrih.
"Bapak kok bisa ada di sini?" tanya Safira bingung. Pasalnya saat dia masuk tadi merasa tidak melihat siapapun. Seketika tubuhnya merinding.
Darren tersenyum miring.
"Kamu pasti gak fokus karena dua orang itu kan?" tuduh Darren.
"Ah sial! Kenapa harus membahas orang itu? Safira bisa-bisa sakit hati lagi. B*doh kamu, Darren!" batin Darren menyesali perkataannya.
Nah benar kan! Safira langsung murung saat itu juga.
Safira pun hanya bisa pasrah. Bisa-bisanya dia berharap seorang Darren bisa ikhlas dan melepaskan dirinya begitu saja.
"Apa bayarannya?" tanya Safira langsung.
"Jadi istri saya."
Tidak! Bukan gitu seharusnya, batin Darren. Lagi-lagi Darren keceplosan.
"Hah?!" Safira berharap dirinya salah dengar.
Menjadi istri Darren?
__ADS_1
"Kenapa ada masalah kalau kamu jadi aspri saya? Asisten pribadi itu jabatan yang tinggi loh," ucap Darren mengecoh. Untung saja dua kata itu beda-beda tipis penyebutannya. Darren jadi bisa sedikit bersandiwara. Demi harga diri tentunya.
"Oh aspri ... saya kira—"
"Jadi gimana setuju atau tidak?" potong Darren.
Safira bingung. Sebenarnya tawaran Darren cukup menggiurkan baginya. Safira dulu punya impian menjadi sekretaris CEO, bukankah sekretaris dan asisten pribadi itu beda-beda tipis?
"Fira!" Suara Dara mengejutkan keduanya.
"Dara," lirih Safira.
"Lo kemana aja sih, Fir! Dari semalam gue spam gak ada satu pun yang lo bales," keluh Dara to the point. Keberadaan Darren sepertinya tidak mempengaruhi keduanya.
Jujur Safira masih tidak bisa menerima kenyataan kalau Dara bisa begitu mudahnya merebut hati cinta pertamanya. Tapi balik lagi, Safira tau ini bukan salah keduanya. Baik Azzam maupun Dara tidak ada yang tahu tentang perasaannya.
Tapi hatinya terlanjur sakit dan itu tidak bisa dibohongi lagi.
"Gue sakit, Dar," jawab Safira.
"Sakit hati," sambung batinnya.
"Kenapa gak ngasih tau gue?" tanya Dara lagi.
Huh, malas sekali rasanya Safira beradu mulut di pagi yang cerah ini.
"Gue gak mau ganggu lo sama Azzam yang lagi pacaran," jawab Safira dengan sedikit sindiran. Entahlah Dara merasa tersindir atau tidak.
"Maaf ya, Dar. Gue masih punya urusan sama Pak Darren, gak sopan kalau kita ngomong berdua kayak gini di depan beliau," usir Safira secara halus.
__ADS_1
Dara pun langsung pamit pada keduanya.
"Pak, saya sudah punya jawaban!" jawab Safira mantap.