CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
Kehancuran Safira


__ADS_3

Darren tidak bisa berkata-kata lagi. Bahkan berpikir pun sulit. Gadis di depannya itu sepertinya begitu rapuh sampai-sampai berani menawarkan tubuhnya sendiri pada laki-laki.


"Safira ... hentikan ini," ucap Darren lembut mencoba menenangkan Safira.


Safira tidak menggubris perkataan Darren. Dirinya malah menatap Darren dengan tatapan yang sulit ditebak.


Safira pun perlahan melepas selimutnya dan mulai membuka sisa-sisa kancing kemejanya yang masih terpasang. Melihat tingkah Safira, reflek Darren membuang muka.


"Kenapa, Pak? Bukannya semua laki-laki ngincar dada saya ya? Kenapa bapak malah buang muka seperti itu?" Safira berucap dengan suara bergetar.


Darren cukup kebingungan di situasi seperti ini. Padahal jika dipikir menggunakan logikanya, bisa saja ia menerkam gadis impiannya itu sekarang juga. Tapi perasaannya berkata sebaliknya. Entah kenapa ia tidak tega melihat Safira seperti ini. Dirinya tidak suka Safira yang rapuh seperti ini.


"Safira ... dengarkan saya! Pakai kembali baju kamu itu!" titah Darren dengan posisi membuang muka.


Safira tetap batu. Dia malah mendekati Darren dengan gerak-gerik menggoda.


Darren terus berucap dalam hatinya. Semoga Tuhan masih memberikannya iman dan akal sehat agar tidak kelepasan menyentuh gadis cantik di depannya.


Darren menghindar cepat saat wanita itu hendak menyentuhnya. Lalu secepat kilat ia membalikkan posisi Safira agar membelakanginya. Darren melepaskan dasi dari lehernya lalu mengikat tangan Safira, kemudian melemparkan gadis itu ke kasur.


"Apa maksudnya ini, Safira? Kamu sudah bosan hidup?!" tanya Darren geram.


Safira yang Darren kenal bukanlah Safira yang seperti ini. Bahkan Darren masih ingat saat pertama kali dirinya berjumpa dengan Safira. Safira sampai bermohon-mohon dan kabur saat Darren mengerjainya seolah-olah hendak menerkamnya waktu pesta saat itu.


"Iya! Saya emang bosan hidup! Bapak mau apa?! Emang bapak bisa nyelamatin hidup saya yang udah hancur ini?! Saya capek, Pak! Capek!" teriak Safira lalu merintih. Dirinya muak dengan kehidupan.


Hidup seorang diri tanpa dukungan dari orang tua membuatnya menderita. Kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan dari kecil juga tidak pernah dimilikinya. Sejak kecil ia dirawat oleh neneknya. Sampai tamat SMA, neneknya meninggal karena usianya yang sudah tua. Sejak saat itu Safira hidup menyendiri dan berjuang demi kehidupannya sendiri. Memang tidak semua orang bejat, ada juga orang baik, Dara contohnya. Dara selalu memberikannya dukungan dan hiburan sejak pertama kali mereka berteman.


Tapi kebanyakan orang itu bejat. Apalagi laki-laki. Hampir semua laki-laki di kehidupan Safira adalah baj*ngan. Tak terkecuali ayah kandungnya.


Safira sudah lelah dengan kehidupan yang begitu kejam. Setelah menembus jasa Darren dengan tubuhnya, Safira akan berniat untuk bunuh diri. Itulah keputusan akhirnya.


"Oke! Ini mau kamu kan?! Jangan nangis kalau saya menyentuh kamu saat ini juga!" bentak Darren lalu membuka jasnya.


Safira menangis dalam diam. Bukankah ini keputusannya sendiri? Tapi kenapa dirinya malah ketakutan.


"Safira!" Suara cempreng dari seorang wanita mengagetkan keduanya. Darren yang panik langsung membungkus tubuh Safira menggunakan selimut.


Pintu kamar pun didobrak oleh beberapa orang. Saat pintu terbuka terlihatlah beberapa orang dan juga ada Ucen di sana.


"Betulkan kata saya Pak, Buk?! Mereka ini mau berbuat yang enggak-enggak! Saya udah coba buat ngelarang mereka, tapi pria ini malah menghajar saya!" Ucen memprovokasi para warga.

__ADS_1


"Mending mereka dibawa ke polisi aja!" sambungnya.


Darren begitu murka melihat Ucen yang ternyata masih nekat mengusiknya.


"Kamu tidak akan lepas setelah ini, Rusen! Tunggu saja neraka duniamu sendiri!" ucap Darren dalam hatinya.


"Enggak, Buk! Enggak! Ceritanya bukan gitu! Laki-laki itu sendiri yang ma—"


"Diam Safira! Jangan ngelak lagi kamu! Semua sudah jelas disini!" potong Buk Titin, pemilik kontrakan Safira.


"Bapak-bapak ibuk-ibuk, lebih baik masalah ini di selesaikan dengan kekeluargaan saja ya? Kita nikahkan saja mereka berdua, jangan sampai bawa-bawa polisi," ucap Buk Titin pada warga. Dia tidak mau kontrakannya ditutup jika harus bawa-bawa masalah ini ke kepolisian.


"Iya benar! Nikahkan saja mereka berdua!"


"Cih, padahal tampang orang kaya, tapi sewa hotel aja gak bisa!"


"Loh? Bukannya kamu kerja di perusahaan gede kan, Fira? Kok bisa kepergok di kontrakan sih?"


Masih banyak lagi gunjingan-gunjingan yang dilontarkan untuk keduanya. Safira hanya bisa menangis tersedu di atas kasur mendengar semua gunjingan itu. Dirinya tidak tau mau berbuat apa lagi.


Sedangkan Darren, dirinya pasrah saja jika harus dinikahkan dengan Safira. Itu sama sekali tidak membebankannya. Hanya saja, dirinya belum bisa terima dengan kelakuan Rusen. Darren menyimpan dendam begitu besar pada laki-laki licik itu.


Rusen sebenarnya ingin menjebloskan mereka ke penjara. Tapi warga malah memilih untuk menikahkan mereka dan itu membuatnya kesal. Jika dirinya tidak bisa menyentuh Safira, maka Darren juga tidak boleh menyentuh gadis itu!


Saat sampai di depan rumah Pak RT, Safira langsung mendapatkan satu tamparan dari seorang laki-laki paruh baya.


"Dasar anak gak tau diuntung! Malu-maluin keluarga!" hardik pria itu berdrama.


Safira yang mengetahui pria itu langsung tersenyum sinis.


"Anak? Anak katamu? Emang anda siapa?! Keluarga, gigimu itu keluarga!" lawan Safira. Matanya sudah memerah dan membengkak karena kebanyakan menangis sejak tadi. Tapi saat berhadapan dengan pria ini, air matanya tidak akan luruh.


Laki-laki tadi hendak melayangkan satu tamparan lagi, namun Darren dengan sigap menangkisnya dan membalas dengan satu tinjuan.


Darren memang tidak mengenal pria di depannya, tapi mendengar perkataan Safira tadi, Darren menjadi yakin untuk melayangkan tinju kebanggaannya.


"Jangan sentuh calon istri saya!" tegas Darren pada laki-laki yang tersungkur di tanah.


Laki-laki itu pun bangun dan mulai mendekati Darren.


"Oh ... jadi kamu laki-laki itu?" sinis pria tua itu.

__ADS_1


Darren diam tidak mengerti maksud perkataan pria di depannya.


"Punya uang berapa kamu untuk nikahin anak saya?" tanya Wawan, ayah kandung Safira.


Wawan memang tidak tinggal jauh dari kontrakan Safira dan beberapa warga juga tau kalau Safira adalah anak Wawan. Maka saat warga sepakat untuk menikahkan keduanya, mereka langsung memanggil Wawan.


Safira yang mendengar perkataan Wawan, langsung mendorong pria itu dan memakinya.


"Jangan seenaknya lo, anj*ng! Lo kira gue apaan?! Lo gak pernah ngerawat gue dari kecil, enak aja lo berani ngejual gue kayak barang begitu!" maki Safira sudah tidak peduli dengan tatakrama. Warga yang melihat drama keluarga itu sampai shock. Bahkan tak sedikit ibu-ibu yang menagis melihat Safira. Mereka tau Safira tidak pernah tinggal bersama keluarganya.


"200 juta," jawab Darren membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya. Begitu juga Safira. Dirinya tidak menyangka Darren berniat menukarnya dengan sejumlah uang.


"Kurang," jawab Wawan tidak tahu malu.


"500 juta," tawar Darren lagi.


Kali ini Wawan langsung sumringah. Mendengar uang sebanyak itu membuat matanya hijau.


"Oke, deal!" ucapnya.


Safira hanya bisa membatu. Harga dirinya sudah hancur. Sehancur hidupnya. Bahkan detik-detik dirinya akan menikah saja, dirinya harus dipermalukan dan Darren ... kenapa laki-laki itu malah ikut-ikutan? Itu sama saja Darren menukar dirinya dengan uang 500 juta. Entahlah, rasanya Safira mau bunuh diri saja. Darren yang dikiranya laki-laki baik saja sudah menunjukkan kebejatannya.


Safira sudah muak. Memang di dunia ini tidak ada laki-laki yang baik, pikirnya.


Safira sudah lelah batin. Dirinya pasrah saja saat penghulu menikahkan mereka berdua. Bahkan baju saja masih memakai baju pagi tadi. Tidak ada baju pengantin yang mewah.


Hari sudah menunjukkan pukul enam. Hari sudah menggelap sejak tadi. Bahkan suara adzan tengah menggema. Setelah pernikahan selesai, mereka langsung pergi. Darren saat ini tengah mengendarai mobilnya menuju apartemen. Tentu saja dengan Safira disampingnya.


Darren sebenarnya mau menegur dan berbincang dengan Safira. Tapi melihat Safira yang sepertinya lelah membuat Darren mengurungkan niatnya. Mereka hanya diam satu sama lain sampai akhirnya tiba di apartemen.


Darren membukakan pintu untuk Safira. Lalu ikut masuk setelahnya.


"Kamu pergilah mandi dulu, kamar mandi ada di sana," ujar Darren sambil menunjuk kamar mandi.


Safira sudah hilang respect pada laki-laki yang dikiranya baik itu. Seketika kebencian menumpuk di hatinya.


"Bapak gak mau mandi bareng saya? Sekalian perk*sa saya di dalam kamar mandi. Percuma aja bapak beli saya mahal-mahal kalau gak bisa dipakai kan?" sinis Safira.


Darren terkejut bukan main mendengar kata-kata yang keluar dari mulut wanita yang sudah resmi secara agama menjadi istrinya itu.


"Stop Safira. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh! Kamu mandi saja dulu, baru kita bicarakan ini semua baik-baik, oke?" ucap Darren berusaha menenangkan situasi.

__ADS_1


Safira pun langsung pergi ke kamar mandi tanpa menjawab sepatah kata pun.


__ADS_2