
Hampir sepuluh menit sepasang manusia itu saling berdiaman. Tidak ada satupun yang mau memulai pembicaraan. Safira juga takut untuk mengajak atasannya mengobrol duluan, apalagi saat melihat muka yang ditekuk seperti itu.
"Kerjaan kamu sudah? Coba sini saya lihat, dari tadi kayaknya kamu diam saja," tegur Darren lebih dulu.
Gara-gara kedatangan Luna, suasana jadi kacau dan canggung. Huh, malu sekali rasanya Darren didatangi mantan modelan seperti Luna. Sejenak Darren berpikir, kenapa dulu dirinya mau menjalin hubungan dengan gadis macam itu?
"Su-sudah, Pak. Kalau ada salah bilang baik-baik ya, Pak. Saya kan baru belajar," peringat Safira mewanti-wanti. Takutnya kesal sama siapa, marah sama siapa.
Darren mengambil iPad dari tangan Safira lalu melihat hasil kerja gadis itu. Hm, cukup bagus, batinnya.
"Oke good. Mulai sekarang kamu harus memahami lagi cara buat schedule yang rapi, jangan sampai ada jadwal yang tabrakan," jelas Darren.
"Baik, Pak," jawab Safira lega. Untung saja hasilnya bagus.
"Jadi mulai sekarang semua schedule saya kamu yang mengatur, ingat itu," seru Darren. Safira pun mengangguk mantap.
Tok tok tok!
Suara pintu terketuk dari luar.
"Siapa!" teriak Darren begitu kencang. Safira saja sampai tegang dibuatnya.
"Pelayan," jawab seseorang yang diduga adalah pelayan.
Darren hendak berdiri untuk membuka pintu, namun Safira menahannya.
"Biar saya aja Pak yang buka pintunya," tawar Safira. Darren pun menurut dan kembali duduk. Sedangkan Safira bergegas membukakan pintu.
"Biar saya yang ambil, Mas," ucap Safira pada pelayan itu.
"Eh, biar saya saja, Mbak. Gapapa. Sudah tugas saya," tolak pelayan itu dengan sopan. Akhirnya Safira membiarkan pelayan itu masuk.
Pelayan itu mulai menaruh satu persatu pesanan di meja.
"Ini buat bapak dan ini buat mbaknya," ucap pelayan itu sopan sambil memberikan keduanya jus jeruk.
Setelah itu pelayan itu pun keluar dari ruangan.
"Maaf saya pesan tanpa nanya kamu dulu," ucap Darren. Dirinya memesan melalui ponselnya dalam diam tadi.
"Enggak apa-apa kok, Pak. Saya makan semuanya kok," jawab Safira.
Keduanya pun mulai menyantap makanan dan minuman masing-masing. Safira ingin membuka pembicaraan, tapi dirinya bingung harus membahas apa.
Entah kenapa badan Safira tiba-tiba merasa aneh. Apa dirinya kecapekan?
"Pak saya permisi ke toilet dulu, ya," ucap Safira sempoyongan.
"Kamu kenapa?" tanya Darren heran karena wanita itu terlihat aneh. Bahkan pipinya pun memerah.
__ADS_1
"Toilet dimana, Pak?" tanya Safira sambil memegangi kepalanya.
Darren pun segera bangkit dan memegangi badan Safira agar tidak tumbang.
"Sini saya antar," tawar Darren.
"Enggak usah, Pak. Kejauhan. Bapak bilang aja dimana, saya pergi sendiri," tolak Safira dengan suara yang melemah. Badannya panas.
"Enggak jauh, dekat. Di ruangan ini ada toiletnya," jawab Darren lalu menuntun gadis itu ke arah toilet.
Safira pun masuk dan langsung membasuh wajahnya. Tidak peduli mau eyelinernya lunturkah, atau lipstiknya memudar, itu semua tidak penting.
"Kenapa badan gue panas gini, ahh." Bahkan Safira sudah meracau tidak jelas. Dirinya sudah tidak tahan lagi. Kenapa dengan tubuhnya?
Safira membuka pintu dan mendapati Darren yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang cemas.
"Pak Darren," lirih Safira setengah mendes*h. Darren saja sampai terkejut mendengar Safira bisa bicara seperti itu.
Safira sudah hilang kendali, melihat Darren yang tampan membuatnya haus sentuhan. Dengan tubuh gontai, Safira langsung menabrak tubuh Darren dan memeluknya.
"Pak Darren," lirih Safira kedua kalinya.
"Safira kamu kenapa?" tanya Darren panik. Apa maksudnya ini? Gadis itu berniat menggodanya kah?
"To-tolong saya, Pak," lirih Safira lagi. Safira tidak melepaskan pelukannya. Dirinya takut hilang kendali saat menatap wajah Darren.
"Ya katakan dulu kamu kenapa?!" tanya Darren kebingungan bercampur panik.
Tak lama pintu dibuka oleh seseorang. Luna!
"Sayang, kamu butuh bantuanku?" tanya Luna dengan suara yang mendayu-dayu.
"Keluar kamu dari sini!" bentak Darren.
"Oh ayolah, Sayang. Kamu butuh bantuanku kan? Aku tau cara mengatasi tubuhmu yang kepanasan itu," ucap Luna membongkar kejahatannya sendiri.
Darren memicingkan matanya tajam pada Luna.
"Kamu memasukkan obat per*ngsang ke minuman itu?!" selidik Darren.
Luna malah mengangguk mantap, dirinya merasa yakin kalau Darren sudah dalam pengaruh obat. Tapi dirinya salah besar.
"Bod*h! Kau salah sasaran, Jal*ng!" teriak Darren.
Safira yang kelamaan menahan diri pun sudah tidak kuat. Dirinya mulai menggerayangi tubuh Darren dan membuka kancing kemeja atasannya itu.
"Hei Safira! Stop! Jangan macam-macam kamu!" bentak Darren merasa terlec*hkan. Bukannya tidak senang, tapi tidak etis rasanya jika menikmati semua ini sedangkan Safira dalam keadaaan dibawah pengaruh obat.
"Pak ... hanya sedikit, boleh yah?" pinta Safira dengan suara yang begitu manja. Darren sudah tidak tahan dibuat gadis ini.
__ADS_1
Darren segera menggendong tubuh Safira seperti karung beras di pundaknya. Dia pun melewati Luna yang berada di ambang pintu.
"Terima kasi sudah memberikanku makan siang yang indah," ucap Darren penuh tekanan pada Luna.
Luna pun tersadar kalau pelayan yang disuruhnya itu salah sasaran. Alih-alih Darren yang kena, malah Safira. Sudah bisa ditebak, Darren pasti melakukan cara 'itu' untuk membantu gadis itu.
"Ah sial! Bajing*n kamu Darren!" maki Luna tidak terima. Seharusnya dirinya yang berada di posisi itu, bukan Safira.
"Sayang? Kamu kenapa disini?" tanya seorang pria muda pada Luna.
*****
"Pak, sedikit saja. Saya mohon." Safira memelas pada Darren saat mereka berada di dalam mobil yang masih bertengger di parkiran.
"Sedikit apanya?" Darren mencoba menepis tangan Safira yang meraba-raba dadanya dari tadi.
"Hanya sedikit, Pak," ucap Safira lalu segera mengecup tonjolan kecil yang ada di dada sebelah kiri Darren.
"Safira! Hentikan! Apa yang—"
"Lucu, bentuknya lucu." Safira meracau layaknya orang mabuk.
Tidak bisa dibiarkan! Lama-lama Darren bisa gila kalau seperti ini. Bahkan celananya sudah merasa sesak akibat ulah Safira yang mabuk.
Darren memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Safira tidak berhenti menggerayangi tubuh Darren selama mobil itu berjalan.
Darren dengan sekuat tenaga berusaha fokus agar sampai tujuannya dengan selamat. Kepalanya sudah sangat pusing menahan hasr*t yang begitu menggebu.
Sampainya di rumah sakit, Darren pun langsung membopong Safira ke ruangan dokter yang merupakan temannya. Darren bahkan tidak peduli pada bagian dadanya yang masih terbuka.
"Astaga Darren! Lo gak punya tatakrama banget, main masuk aja! Ambil antrian dulu dong!" ujar Yohan. Dokter Yohan.
"Gak ada waktu lagi! Cepat kasih bius asisten gue!" desak Darren lalu membaringkan Safira di ranjang rumah sakit.
"Kenapa dia?" tanya Yohan sambil mempersiapkan segala peralatannya.
"Dia minum obat perangsang," jawab Darren cepat.
Safira yang berbaring di atas kasur tidak mau diam dan meronta-ronta ingin menggapai tubuh Darren. Namun Darren terus menghindar darinya.
Safira pun mengganti sasarannya pada dokter tampan yang kini berada di dekatnya.
"Hanya sedikit, Dok," pinta Safira sama seperti tadi. Darren segera memperingati gadis itu.
"Safira! Jangan!" ancam Darren.
"Pak Darren pelit! Aku sama dokter ini saja," ucap Safira begitu lucu.
Dokter Yohan tidak mengerti pembicaraan kedua manusia itu. Dirinya hanya diam.
__ADS_1
"Boleh ya, Dok. Hanya sedikit," ucap Safira lalu segera membuka kancing baju dokter itu dan meraba-raba dadanya. Sama seperti yang ia lakukan pada Darren tadi!
"Yohan! Kamu jangan diam aja, cepat bius!" bentak Darren melihat Yohan yang diam saja saat diraba-raba oleh Safira. Enak saja! Ada kecemburuan di hati Darren melihat Safira membelai pria lain dihadapannya.