
Safira bersusah payah mengatur deru napasnya. Hanya mengenakan sehelai handuk untuk menutupi bagian bawahnya, kini Darren mulai berjalan perlahan mendekati Safira.
"Dengan pakaian seperti itu kamu ingin keluar? Bahkan dalaman saja sepertinya kamu tidak pakai," ledek Darren lalu melirik bagian dada Safira. Dua benda kembar itu terlihat bergantung di tempatnya dengan tenang. Max saja sampai hendak melompat dari posisi saat melihat bulatan kecil yang tercetak di kemeja Safira.
"Jangan liatin saya begitu!" ketus Safira. Matanya melirik ke segala arah, yang jelas bukan Darren yang dilihatnya. Safira tidak mau bertatap mata dengan pria itu.
Darren langsung mengeluarkan senyum tipis. Mencurigakan.
"Saya bukan liatin kamu. Saya lagi liatin baju saya yang mahal," seru Darren beralasan.
"Ayolah, Baby Girl. Kita bukan anak-anak lagi. Kita sudah sama-sama dewasa. Pasti kamu juga mau kan disentuh oleh pria tampan seperti saya?" seru Darren dengan percaya dirinya.
"Dih kepedean!" cecar Safira menolak pria itu.
Sebenarnya Safira mau melakukan ritual malam pertama. Ya walaupun takut-takut, tapi pengen juga sih. Siapa suruh tubuh Darren begitu menggoda! Namun, ada satu hal yang sangat menggangu pikiran Safira saat ini.
Memang benar yang dikatakan Darren tadi, kalau dirinya memang tidak pakai dalaman. Tapi itu hanya bagian atas. Kalau bagian bawah, Safira memakainya. Pakai punya suami! Eh, maksudnya pakai punya Pak Darren.
Mau ditaruh di mana muka Safira nantinya kalau Darren melihat kol0rnya terpasang di tubuh seorang wanita. Ahh pengen kabur saja rasanya, batin Safira bergejolak.
Karena enggan menunggu lebih lama, tanpa meminta izin lagi Darren pun mulai menjulurkan tangannya menggapai dagu Safira. Tubuh safira mendadak kaku, sulit sekali menolak.
Melihat tidak ada penolakan dari sang istri, Darren pun langsung melahap bibir manis itu dengan liar. Safira saja sampai memukul-mukul dada suaminya memberi kode untuk berhenti. Namun Darren malah makin menjadi.
"Mmh! Mmhh-!" Safira hampir kehabisan napas akibat ulah suaminya.
Darren masih tidak mengerti dengan kode Safira. Mau tidak mau, Safira pun mendorong tubuh Darren dengan kekuatan penuh. Karena Darren di posisi tidak siaga saat ini, dorongan Safira tadi membuatnya terjatuh tersungkur ke lantai. Akibat pergerakan yang tidak terkontrol, jadinya handuk Darren pun terbuka.
"Halo dunia!" sapa Max begitu ceria saat berhasil keluar dari handuk.
Safira melotot tidak percaya melihat aset pribadi yang dimiliki Darren. Benda itu kah yang nantinya akan—?
"Mana muat heh!" batin Safira yang sepertinya ketakutan lagi. Mana mungkin benda itu bisa masuk ke dalam sana.
Nyalinya selalu naik turun setiap saat. Kadang berani kadang takut. Tapi emangnya siapa sih yang gak takut lihat batangan segede itu!
"Aww, sakit! Kenapa kamu dorong-dorong saya sih?!" keluh Darren sambil mengelus bagian belakangnya yang sakit. Darren tidak sadar kalau Max saat ini sedang tebar pesona ke istrinya itu. Dia pikir handuk masih menutupi Max saat ini.
Mendengar keluhan suaminya, Safira bukannya menolong, malah balik badan dan menatap dinding.
Darren pun jadi kesal melihat tingkah istrinya. Mau tak mau Darren akhirnya berdiri sendiri.
Tepat saat dirinya berdiri tegak, Darren sadar kalau handuknya terlepas. Darren pun mengurung Max lagi menggunakan handuk yang sama.
Author turut sedih untukmu, Max. Baru juga mau menyapa dunia, eh udah dikurung lagi.
"Ayo kita mulai lagi," ajak Darren dengan entengnya.
__ADS_1
Safira dengan cepat menggeleng kuat. Dirinya benar-benar takut sehabis melihat Max tadi.
Max jadi bingung, padahal dirinya begitu lucu dan mempesona, apa yang harus ditakutkan?
"Enggak mau!" tolak Safira. Dirinya masih dalam posisi menatap dinding. Takut disapa Max lagi.
"Ayolah, Baby Girl. Saya janji kali ini akan lebih lembut," bujuk Darren berusaha mendekati istrinya kembali.
"Kalau aku bilang enggak mau ya enggak mau!" bentak Safira lalu berlari dengan cepat menuju kasur. Safira segera menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
"Safira ...," panggil Darren masih tetap berjuang. Safira menggelengkan kepalanya di dalam selimut.
Darren mengusap wajahnya frustasi. Belum apa-apa, istrinya sudah ketakutan seperti ini. Bagaimana saat dipertemukan dengan Max nanti?
"Ayolah, Baby. Kita mulai lagi ya?" bujuk Darren begitu lembut. Dirinya mulai menarik-narik selimut Safira. Namun Safira makin menguatkan pertahanannya.
"Nggak mau!" teriak Safira untuk kesekian kalinya.
Huft ... sabar ya, Max. Bentar lagi kok.
"Kenapa enggak mau? Tadi itu saya cuman khilaf. Tapi saya janji kok kali ini bakalan main lembut," seru Darren membujuk.
Safira merasa tidak nyaman di dalam selimut. Tubuhnya mulai kepanasan. Mau keluar, tapi takut diterkam oleh Darren.
"Takut," cicit Safira.
"Takut apanya? Saya kan sudah janji bakal main lembut kali ini. Ayolah, Baby. Saya bisa stress kalau ngebujuk kamu terus," keluh Darren hampir menyerah. Tapi Darren tidak mau kehilangan malam pertamanya dan itu harus dilaksanakan malam ini. Kalau besok kan malam kedua.
Safira langsung menutup mulutnya yang tidak bisa direm.
"Hah?" Darren bingung dengan perkataan Safira. Apanya yang kebesaran? Badannya kah? Atau ....
"Apanya yang kebesaran? ***** saya?" tanya Darren tanpa memfilter ucapannya.
"Aaa!! Diem, Pak! Saya gak mau dengar!" Safira geli mendengarkan kata-kata itu keluar dari mulut suaminya. Dikira Safira gak malu apa diajakin ngomong begitu.
"Oh jadi benar ... ternyata kamu takut sama Max," kekeh Darren lalu tertawa lucu. Darren tidak menyangka kalau Max ternyata sudah menampakkan dirinya sejak tadi.
"Siapa lagi si Max?" tanya Safira dari dalam selimut.
"***** saya," jawab Darren tanpa malu.
Safira langsung menutup telinganya lagi. Kenapa suaminya itu begitu frontal?! Dirinya frustasi.
Darren sudah tidak bisa bersabar lagi. Istrinya saat ini begitu menggemaskan. Pertahanan Darren pun sudah setipis tisu.
Darren mulai menarik paksa selimut Safira. Safira pun kalah tenaga dengan Darren hingga selimut itu berhasil terbuka. Darren melempar selimut itu ke sembarang arah lalu dengan cepat menyambar kembali bibir istrinya.
__ADS_1
Awalnya memang kasar, tapi lama kelamaan ci*man itu semakin lembut dan lebih dalam. Safira sampai mengeluarkan suara-suara merdu yang sangat disukai Max. Max seperti mendapat energinya kembali.
"Mmh—" Safira benar-benar hanyut dalam permainan Darren. Bahkan dirinya pasrah saja saat Darren mulai membuka satu persatu kancing kemejanya.
Sampai kancing terakhir terbuka, barulah satu tangan Darren mengambil alih dua benda kembar itu.
Saat dirasa istrinya sudah mulai berg*irah, Darren pun melepaskan ci*man di bibir Safira. Perlahan dirinya menatap tubuh Safira.
Ternyata benda itu benar-benar indah. Darren merasa jadi pria beruntung sedunia mendapatkan istri seperti Safira.
Tatapannya mulai menurun, dirinya sudah tidak sabar melihat rumah baru Max. Apalagi yang dia tahu, Safira saat ini tidak memakai dalaman apapun.
"Lah?" Darren ternganga melihat pakaian pribadinya terpasang di tubuh istrinya.
Safira pun langsung panik.
"Kenapa gue bisa lupa sih?!" batin Safira.
"Ah bangs*t!" teriak Safira tidak bisa terkontrol lagi. Dirinya pun langsung berlari menuju kamar mandi dan dengan cepat mengunci pintu itu dari dalam.
Darren diam di posisi yang sama. Dirinya bingung mau tertawa atau bereaksi seperti apa di kondisi seperti ini. Suasana di apartemen ini menjadi sangat canggung.
"Safira!" panggil Darren lalu menyusul istrinya.
Darren mengetuk pintu kamar mandi.
"Fira ... keluar ya. Saya tidak tertawa kok, serius.... Gak aneh sama sekali kok kamu pakai itu. Malah keliatan lucu," bujuk Darren.
Namun bukannya tenang, Safira malah semakin kehilangan kepercayaan diri. Safira malu semalu-malunya.
Karena terlampau malu, Safira pun melepaskan bawahannya dan melemparnya dengan kesal.
"Gara-gara lo gue jadi malu!" cecar Safira pada benda itu. Ini siapa yang salah ya? Hmm.
"Tau gitu, gue gak bakalan pake lo dari tadi!"
Ceklek. Pintu kamar mandi pun terbuka. Safira lupa tempat ini adalah milik Darren. Tentu saja Darren punya kunci pintu itu. Percuma saja dirinya mengunci pintu dari dalam.
Safira seketika jadi gugup. Belum hilang malunya tadi, kini ditambah lagi dengan hal memalukan lainnya.
Darren menelan salivanya saat melihat tubuh istrinya tanpa dalaman apapun. Padahal itu belum semuanya karena masih ada bagian yang terhalang kemeja yang tidak dikancing itu. Tapi, dengan melihat pemandangan seperti itu saja Max sudah bersemangat empat lima.
Tanpa babibu lagi, Darren langsung menerkam istrinya.
"Pelan-pelan ya, Pak," racau Safira saat Max kini berada di depan pintu rumah barunya.
"As you wish, Baby Girl," jawab Darren begitu menggoda.
__ADS_1
*****
"Thank you," ucap Darren saat permainan selesai. Safira hanya mampu membalas dengan senyuman. Matanya sudah tidak mampu untuk terbuka sangking lelahnya. Padahal baru pertama!