CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
Satu Keluarga


__ADS_3

Darren masih di posisi menggendong Safira menuju lantai atas di mana kamar orang tuanya berada. Benar, Darren adalah putra sulung Alberto yang artinya Darren adalah abang dari Azzam. Wanita paruh baya yang meminjamkan sepatu kepada Safira adalah Mulan, mommy mereka, istri dari Alberto.


"Pak, lepasin di sini saja," ucap Safira saat berada di depan pintu kamar. Jantungnya memompa tidak karuan. Apa-apaan? Digendong pria tampan lalu masuk ke kamar? Bukankah seharusnya ada adegan lebih lanjut? Eh?


"Tolong jangan panggil saya pak pak pak! Umur saya baru 30 tahun!" bentak Darren tidak suka.


Safira menyengir heran.


"Lah bukannya umur segitu udah tua ya? Cocok kok dipanggil bapak," ucapnya namun hanya bisa terucap di dalam hati. Kalau sampai kata-kata itu terlontar, habis sudah riwayat punggung Safira.


"Kalau manggil Om gimana?" tanya Safira.


Bukannya jawaban yang di dapat Safira, melainkan tatapan datar dari atas sana.


"Dari depan tampan, dari bawah juga tampan! Eh lo mikirin apa sih, Fira?! Jangan macem-macem! Kalau dia udah punya bini gimana?!" Safira benar-benar tidak mengontrol isi pikirannya. Bagaimana bisa Safira diam sedang dirinya berada di gendongan pria tampan nan gagah sesuai seperti suami idamannya? Duh!


"Eumm, kalau gitu Mas aja gimana? Tapi kedengarannya kayak mas mas Jawa, sedangkan situ bule, ga cocok aja gitu dengarnya," celoteh Safira.


Tiba-tiba Darren menyeringai nakal sambil melemparkan tatapan tak kalah nakal kepada Safira yang digendongnya.


"Panggil saya Daddy," ucapnya sensual lalu membuka pintu kamar dengan satu tangannya. Kemudian dengan cepat mendorong pintu itu dengan kaki panjangnya tanpa menghiraukan protes dari Safira.


Saat pintu terbuka, terlihatlah sebuah kasur berukuran king size berwarna putih cerah. Saat melihat kasur, Safira tambah panik.


"Om lepasin dong om! Aduhhh saya masih muda ini, Om! Masih 22 tahun! Saya masih bocah, Om! Tolonglah lepasin saya, Om!" rengek Safira sambil terus memberontak.


Namun, tenaga Darren lebih kuat dan teratur sehingga Safira tidak bisa lepas begitu saya dari dekapannya.


"22 masih bocah? Kalau saya tidur*n kamu sekarang juga bakal jadi bayi!" seru Darren membuat Safira semakin memberontak.


Gerakan liar yang diciptakan Safira membuat Darren kehilangan keseimbangan hingga akhirnya mau tak mau Darren melemparkan Safira ke kasur yang ada di sana.


Safira yang kaget dilempar seperti itu tampak terdiam. Tidak ada reaksi. Mungkin efek shock.


Namun diamnya Safira tidak lama karena dia sadar bahwa dirinya kini sedang terancam.


"Gimana empuk kan kasurnya?" tanya Darren menggoda Safira.


"Om jangan mendekat atau saya teriak?" ancam Safira.

__ADS_1


"Haha, coba saja teriak. Saya ga takut," jawab Darren sombong.


Safira tidak berbohong dengan dengan ancamannya. Saat Darren melangkah, saat itu pula dirinya berteriak histeris.


"Shttt! Diam kamu!" bentak Darren sambil menutup telinganya.


Namun Safira acuh, dirinya makin histeris berteriak.


"Diam atau saya sumpal mulut kamu itu pakai selimut?" ancam Darren.


Darren tidak punya pilihan lain selain mengancam, kalau tidak dihentikan bisa-bisa pecah gendang telinganya.


Seketika itu pula Safira terdiam lalu mundur menjauh dari Darren.


Darren yang melihat Safira ketakutan seakan-akan hendak dilec*hkan menjadi kesal.


Loh loh loh? Gelagatmu itu emang udah mirip preman yang mau ngamilin anak orang, Darren! Kok gak sadar diri sih?


Darren melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan lain yang ada dikamar itu. Safira merasa menemukan celah untuk kabur. Saat Darren sudah sepenuhnya masuk ke ruangan itu, Safira langsung berlari sekencang-kencangnya. Tidak peduli jika harus menyeker, yang penting dirinya selamat dari kandang harimau.


Keluar dari kandang Harimau, masuk ke kandang buaya. Itulah yang dialami Safira.


Niat hati untuk kabur, kini malah bertemu dengan sejoli yang entah dari mana.


Mau tak mau Safira pun menoleh.


"Eh Dara." Safira berusaha bersikap seperti biasa di depan Dara. Bagaimana pun dalam kasus ini Dara tidak bersalah.


"Lo mau kemana? Kok buru-buru? Lah itu kaki lo kenapa nyeker?" tanya Dara saat melihat bagian bawah Safira.


"Eum, itu ... ini ... sepatu gue tadi heelsnya patah. Jadi gue lepas dua-duanya. Rencananya gue mau pulang lebih awal," jelas Safira.


Dara dan Azzam saling lempar pandang.


"Kenapa harus pulang sih, Fir? Pinjem sepatu Mommy gue aja ya? Pasti ada yang cocok kok," saran Azzam tidak ingin Safira pulang. Acara ulang tahunnya belum selesai.


"Eum gapapa deh, Zam. Gue pulang aja. Oh iya selamat ya buat kalian. Saran gue sih cepetin lo nikahin aja Daranya, Zam. Soalnya yang mau sama Dara itu banyak alias ngantri!" gurau Safira.


Manipulatif. Beda di hati beda di mulut. Itulah Safira. Namun, niat jahat sama sekali tidak pernah terlintas di kepalanya untuk menghancurkan hubungan sahabatnya itu. Yang dirinya inginkan adalah terbiasa dan berharap semua ini cepat berlalu dan terlupakan.

__ADS_1


"Zam, kalo ga salah kamu punya Abang kan ya? Kenalin ke Fira aja, biar kita jadi satu keluarga," kekeh Dara.


"Nanti aku kenalin ya, Fir. Kalo ga salah, dia bakalan datang hari ini," sambung Azzam.


"Makanya lo jangan pulang dulu! Coba deh lo liat di sini, banyak om om tipe lo tau! Tuh circle pak Alberto aja banyak yang ganteng-ganteng!" celetuk Dara lalu diikuti tawa dari Azzam.


Mereka terus berceloteh menjodoh-jodohkan Safira. Tanpa mereka sadari, Safira sedang berjuang menahan tangis. Mengapa cinta pertama begitu menyakitkan? Bolehkah Safira iri pada Dara?


"Gak malu kamu nyeker begitu di acara pesta kayak gini?" Suara bariton mengalihkan fokus ketiganya.


"Bang Darren!" seru Azzam lalu segera mendekati abangnya.


"Abang?!" Safira kaget.


"Oh pantas saja dia bisa berbohong tentang calon ipar tadinya!" batin Safira menjawab teka-teki yang sedari tadi belum terjawab di pikirannya.


"Iya, ini kenalin abang gue, Bang Darren. Dia baru balik dari Amerika," jelas Azzam semangat memperkenalkan Abang kebanggaannya pada kedua sahabatnya.


"Fir! Liat tuh, tipe lo banget kan! Udah fix inimah kita iparan!" bisik Dara kepada Safira.


Safira reflek menggelengkan kepalanya.


"Jangan ngarep deh kamu, Dar! Spek kayak dia mah ga mungkin mau sama gue!" balas Safira juga berbisik.


"Gue ga mau sama om-om mesum begitu, Dar! Gila aja! Pasti sugar baby nya lebih dari satu, fix sih!" rengek Safira dalam hatinya.


"Loh Abang kenapa bawa-bawa sepatu cewek?" tanya Azzam saat melihat high heels yang ditenteng Darren.


"Ini punya Mommy, dipinjamin ke dia," jawab Darren sambil menatap Safira dengan tatapan tak terbaca.


Sedangkan Safira merasa sedikit bersalah telah kabur dari Darren. Ternyata Darren masuk ke ruangan itu untuk mengambilkan sepatu untuknya.


"Abang kenal Safira?" tanya Azzam antusias.


"Baru liat tadi," jawab Darren masih terus melayangkan tatapan pada Safira.


Merasa tidak tahan karena terus-terusan ditatap seperti itu akhirnya Safira meminta maaf.


"Maaf ya, Om! Saya tadi kabur gara-gara takut...."

__ADS_1


"Takut apa?" sela Darren.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Safira. Dirinya hanya menunduk sedalam-dalamnya.


__ADS_2