
Safira menggeliat karena merasa terusik dengan sesuatu. Perlahan dia membuka mata. Saat matanya terbuka sempurna, Safira mendapati wajah sayu Darren yang kini tengah menatapnya sambil tersenyum.
"Pak?" ucap Safira. Safira sebenarnya sadar kalau posisinya saat ini tengah memeluk Darren, tapi dirinya memilih untuk tetap di posisi ini, karena Safira merasa sedikit nyaman.
"Tidurlah lagi. Ini masih malam," ucap Darren begitu lembut. Tangannya terjulur ke rambut Safira lalu membelainya perlahan.
Jujur saja, Safira bingung mau bersyukur atau bersedih atas pernikahannya dengan Darren. Darren bukanlah cintanya Safira. Walaupun begitu, Safira merasakan kalau dirinya akan mudah jatuh cinta pada pria ini.
Sejak awal Safira sudah Darren memanglah tipe laki-laki idamannya. Tipe laki-laki dewasa yang bisa melindunginya dan menyayanginya. Dilihat dari segi fisik saja, Darren sudah sangat masuk ke tipe idaman Safira. Ya walaupun awalnya Safira merasa takut melihat wajah pria itu.
Safira akhirnya tersenyum penuh arti. Safira merasa ini semua pasti takdir dari Tuhan. Tuhan tahu Safira sudah lelah karena berjuang sendiri di kehidupannya dan hampir menyerah. Karena itu, Tuhan mendatangi Darren sebagai suaminya di dunia ini. Pria yang akan menjaga dan menyayanginya. Sebagai bayaran karena sejak kecil Safira tidak pernah mendapat kasih sayang dari laki-laki yang seharusnya jadi cinta pertamanya, yaitu sosok ayah.
Tanpa bisa dikendalikan, air mata Safira langsung meluruh dan mulai menangis sesegukan.
Darren yang melihat Safira menangis seperti itu, langsung bingung bercampur panik.
"Fira? Kamu kenapa?" tanya Darren pada istrinya.
Safira menggelengkan kepala. Sesekali Darren menghapus air mata istrinya menggunakan jari.
"Sedih," jawab Safira begitu ambigu.
Darren mengerutkan dahinya bingung. Kenapa istrinya bisa tiba-tiba sedih? Padahal Darren hanya menyuruh tidur.
"Kenapa bisa sedih hmm?" tanya Darren begitu lembut. Selembut suara ombak pantai yang biasanya dijadikan alunan tidur orang-orang.
"Bapak kenapa mau nikahin saya sih?" Bukannya menjawab, Safira malah melontarkan pertanyaan kepada Darren.
"Tentu saja karena saya suka sama kamu," ungkap Darren. Sejak awal bertemu Darren memang sudah menyukai Safira. Ya walaupun menyukai fisiknya saja. Wajar, karena itu pertemuan mereka yang pertama. Namun seiring berjalannya waktu, Darren menyukai Safira secara kepribadian.
Safira yang mendengar jawaban Darren, langsung menghapus air matanya. Dirinya ingin percaya pada jawaban pria itu, tapi masih ragu. Ucapan laki-laki perlu diteliti menggunakan logika terlebih dahulu, tidak bisa langsung dipercaya.
Safira memang terbilang gadis yang lemah dan sulit untuk membela diri. Tidak seperti Dara yang pendiam namun memiliki karakter yang tegas. Dara akan menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan. Berbeda dengan Safira yang selalu memendamnya sendirian.
Tapi karena itulah Darren jadi jatuh cinta ke wanita itu. Kepribadiannya yang begitu rapuh membuat Darren ingin melindungi gadis itu dengan seluruh kekuatan yang ia punya. Apalagi setelah Darren tau kalau istrinya itu punya hubungan buruk dengan yang namanya keluarga. Darren jadi semakin yakin untuk memberikan kebahagiaan untuk istrinya.
"Bapak yakin?" tanya Safira.
Darren mengangguk sebagai jawaban.
"Yakin bukan karena merasa kasihan dengan saya?" tanya Safira lagi.
Safira sudah berpikir keras mencari jawaban dari sudut pandang mana Darren menyukainya. Safira selalu beranggapan dirinya adalah orang yang sangat miris dan patut dikasihani. Karena itulah Safira tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada siapapun. Safira tidak memiliki kepercayaan diri untuk bisa mengunggulkan dirinya sendiri. Satu-satunya kelebihan yang ia punya terletak pada tubuhnya yang menarik. Tapi Safira tidak pernah menganggapnya karena hal itu pernah menjadi traumanya di masa lalu.
"Perasaan saya ini sudah campur aduk menjadi satu dan berakhir menjadi rasa cinta," jawab Darren yang entah dari mana mendapatkan kata-kata sepuitis itu.
"Cih, tau apa bapak tentang cinta!" ketus Safira namun langsung tersenyum. Dirinya sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya lagi. Safira semakin yakin untuk memupuk perasaan ini menjadi cinta. Karena memang Darren lah yang seharusnya ia cintai.
"Dih, emangnya kamu tau?" ledek Darren. Sedetik kemudian Safira menggeleng lucu sambil tersenyum. Aghh, lucu banget istri gue! Batin Darren begitu gemas.
__ADS_1
Cup! Satu kecupan mendarat di kening mulus Safira.
"Jangan panggil saya bapak lagi. Saya bukan bapak kamu," seru Darren lalu membelai wajah istrinya. Mimpi apa Darren semalam sampai-sampai bisa menikahi gadis incarannya ini.
"Terus aku harus manggil apa dong?" Safira sudah tidak malu lagi bermanja-manja dengan Darren. Safira sudah merasa nyaman sepenuhnya berada di dekat Darren. Semua masa lalu kelam yang ia punya rasanya terbayarkan dengan keberadaan Darren di sisinya.
"Panggil saya Daddy," goda Darren dengan suara sensualnya.
"Nanti pak Alberto yang noleh," kekeh Safira.
Darren langsung cemberut. Susah sekali menyuruh Safira memanggilnya Daddy. Kan Darren juga mau gitu ngerasa jadi sugar Daddy nya Safira.
Safira yang gemas melihat reaksi suaminya langsung menghadiahkan kecupan sekilas di bibir suaminya.
"Ngomong-ngomong soal Pak Alberto ... gimana kalau nanti pak Alberto tau kita udah menikah?" tanya Safira.
Jujur saja Safira merasa risau karena keluarga Darren sama sekali belum tau tentang pernikahan ini. Dara yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri saja belum tahu tentang pernikahannya.
"Kita bakalan adain resepsi pernikahan secepatnya. Supaya dunia tau kalau kamu itu istri sah saya," seru Darren lalu memberikan sebuah kecupan. Membalas perbuatan istrinya tadi.
"Gak pake gituan juga gapapa, Pak. Yang penting kita terdaftar di KUA aja. Saya gak mau orang-orang nuduh saya kumpul kebo sama bapak," jelas Safira.
"Yakin gak mau bikin pesta? Sekali seumur hidup loh ini," goda Darren. Emang ada ya wanita yang gak suka pesta, batinnya.
"Emm, tapi kalau bapak maksa sih saya gak bisa nolak."
"Ehh?!" Safira kira Darren akan memaksakan diri untuk menggelar pesta itu, tapi kenapa jadi ....
Darren kembali mencuri kecupan di bibir istrinya itu. Gemas.
"Pesta itu pasti kita buat, kok," ucap Darren disertai senyuman manisnya.
Lama keduanya berbincang sampai akhirnya sama-sama terlelap.
*****
"Baby Girl, kamu gak mau bangun untuk sarapan?" bisik Darren di telinga Safira yang masih tertidur. Kini Darren sudah rapi menggunakan pakaian mengantornya.
Darren juga sudah menyiapkan sarapan seadanya untuk mereka berdua makan. Dua piring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi sudah tertata rapi di meja makan minimalis miliknya.
"Emm." Safira menggeliat kemudian duduk. Dirinya menguap begitu lebar, tak sadar bahwa Darren tengah mengamatinya dengan seksama dari jarak dekat.
"Awas masuk lalat," kekeh Darren lalu menepuk-nepuk lembut kepala istrinya.
"Cepat bangun, kita sarapan," seru Darren lalu berjalan duluan ke meja makan.
Safira pun menepuk-nepuk pipi untuk menyadarkan diri. Saat dirasa sudah sadar sepenuhnya, Safira pun menguatkan selimut untuk menutupi tubuh. Kemeja yang semalam ia kenakan entah dimana rimbanya.
"Aww!" pekik Safira saat berusaha turun dari ranjang. Bagian pribadinya terasa perih.
__ADS_1
Darren yang tadinya tengah menuangkan air langsung terbirit menuju kasur dan menolong Safira yang tersimpuh di lantai.
"Pelan-pelan," ucap Darren membantu Safira berdiri. Namun Safira malah meringis. Akhirnya Darren pun menggendong Safira lalu mendudukkannya di tepi ranjang.
"Ada yang sakit?" tanya Darren lembut. Posisinya saat ini berlutut di depan Safira.
Safira mengangguk. "Itu saya sakit, Pak," adu Safira manja.
Darren menjadi sedikit merasa bersalah. Akibat ulah dirinya semalam, istrinya jadi kesakitan seperti ini.
"Yaudah, kamu di sini aja. Saya ambilin makanan," seru Darren.
Safira menahan tangan Darren yang hendak beranjak. "Bapak makan aja duluan, saya nanti nyusul. Saya mau mandi dulu aja, baru siap-siap pergi kerja," ujar Safira.
"Kamu istirahat saja. Hari ini tidak usah masuk kerja dulu," saran Darren.
Safira pun menurut. Dia juga masih merasa nyeri.
"Saya sudah belikan kamu baju untuk sehari-hari, beserta ********** juga," seru Darren sedikit mengejek Safira.
Pipi Safira memerah karena menahan malu. Kenapa harus bahas-bahas itu lagi sih?!
Darren pun mengusap kepala Safira sebelum pergi mengambil makanan. Keduanya sepakat makan di atas kasur.
*****
"Abang nginap di apartemen lagi?" tanya Azzam. Keduanya berada di ruang kerja Darren.
"Ya," jawab Darren singkat. Matanya sibuk membaca laporan keuangan perusahaan selama beberapa bulan terakhir. Kepalanya sedikit pusing karena melihat penurunan kinerja perusahaan. Di kondisi seperti ini bagaimana dirinya bisa menggelar pesta? Sepertinya pesta pernikahan akan diundur sampai kondisi stabil.
"Aku udah lama gak ke sana, ntar sore aku main ke sana ya," seru Azzam. Apartemen itu dulunya memang punya mereka berdua. Tapi karena Azzam lebih suka tinggal di rumah, maka apartemen itu pun dialihkan menjadi milik Darren pribadi.
"Gak bisa," cegah Darren tanpa menoleh sama sekali.
"Kenapa? Aku cuman mau liat aja kok, sekalian mau liatin game aku yg dulu. Masih ada Abang simpan kan?"
"Gak bisa," jawab Darren lagi.
"Kenapa sih? Bentaran doang!" bujuk Azzam. Dirinya benar-benar merindukan game yang dulu sering dia mainkan di apartemen itu.
"Di apartemen ada Safira," jawab Darren santai.
Azzam menutup mulutnya tak percaya. Ternyata abangnya selama ini sudah ....
"Kenapa? Gak usah kaget begitu! Safira itu istri aku, wajar dong kalau kami tinggal di tempat yang sama!" jawab Darren sedikit ketus.
Mengingat Safira pernah mencintai Azzam, entah kenapa Darren jadi sedikit sensitif dan ketus pada adiknya itu.
Azzam yang mendengar jawaban Darren terkejut bukan main. Istri? Lah kapan kawinnya?!
__ADS_1