CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
Pelaku yang Sama dari Masa Lalu


__ADS_3

Beberapa hari terakhir Darren sengaja untuk tidak berinteraksi dengan Safira. Darren memutuskan untuk mencoba melupakan Safira dan mencari wanita lain yang tak kalah seksi yang bisa dijadikan pemuasnya.


"Di dunia ini wanita bukan cuman dia!" tekad Darren begitu yakin untuk mencari pengganti Safira. Namun hati tidak bisa bohong, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, keinginan untuk mendapatkan Safira masih begitu besar.


Darren sekarang sedang menuju ruangan Azzam yang berada tepat di samping ruangannya. Ada beberapa berkas yang ingin dirinya berikan pada Azzam.


Ah sial ada Safira! Padahal Darren sudah berhasil bertahan sampai 2 hari untuk tidak bertemu dengan gadis yang begitu menggoda di matanya itu. Tapi kini takdir malah mempertemukan mereka di depan ruangan Azzam.


"Kenapa dia ada di depan ruangan Azzam?" gumam Darren sedikit penasaran. Karyawan biasa sangat jarang berada di lantai ini karena menjadi area khusus untuk para petinggi perusahaan.


"Dasar tidak sopan!" tuduh Darren begitu saja tanpa menanyakan kejelasan terlebih dahulu pada Safira.


Safira yang tadinya hanya diam sambil tertunduk di depan pintu pun menolehkan wajahnya.


"Pak Da ... Darren?" Safira sesegukan. Pipinya sudah basah karena air mata. Bahkan eyeliner yang digunakannya pun luntur dan membuat wajahnya semakin kacau.


Darren yang melihat Safira menangis menjadi kebingungan sekaligus panik. Apa Safira menangis karena dikatain tidak sopan olehnya tadi? Tidak mungkin, pikir Darren.


"Safira?" panggil Darren dengan nada lembut. Dirinya tidak tega membentak wanita yang sedang menangis. Darren mau tak mau harus bersikap lemah lembut untuk sementara.


Safira yang merasa malu karena kedapatan menangis di depan Darren langsung lari dan pergi dari lantai tempatnya berada.


Saat melihat Safira pergi, sebenarnya Darren punya niatan untuk menahan Safira dan menanyakan tentang tangisan itu, tapi Darren urung melakukannya. Dirinya sudah bertekad untuk jaga jarak dari Safira. Darren memilih untuk melanjutkan maksud dan tujuannya tadi.


Saat berada di depan pintu dan bersiap untuk mengetuk, tiba-tiba Darren mendengar suara yang cukup menganggu pendengarannya.


"Decapan? Astaga apa yang terjadi di dalam sana," panik Darren.


Darren tidak menyangka kalau Azzam adiknya yang tengil itu bisa berbuat hal seperti ini. Darren mengira adiknya itu hanya bisa bergurau dan mengganggu orang saja. Ternyata oh ternyata di luar dugaannya.


Lalu siapa lawan mainnya? Dara? Dara gadis pendiam itu? Mungkinkah?


"Apa ini ada hubungannya sama tangisan Safira tadi?" terka Darren seolah-olah detektif yang tengah menghadapi kasus yang serius.


Darren mengurungkan niat untuk memberikan berkas-berkas yang dipegangnya. Dirinya jadi kebingungan karena terlalu banyak berpikir.


"Mereka terlibat cinta segitiga? Hah? Terlalu lucu," gumam Darren masih mencoba menebak-nebak kejadian sebenarnya.


Darren melihat dokumen-dokumen menumpuk di mejanya dengan tidak selera.


"Ah, mending aku pergi ke luar," ucap Darren lalu pergi keluar dari ruangannya.

__ADS_1


*****


Safira memilih untuk bolos kerja. Dirinya lelah. Bukan lelah fisik, melainkan lelah batin. Safira mengira rasa cintanya pada Azzam sudah terkubur di dalam sana, namun ternyata tidak. Hatinya begitu hancur saat mendengar ungkapan cinta yang dilontarkan Azzam untuk Dara yang tidak sengaja ia dengar saat hendak memanggil Dara di ruangan Azzam. Bahkan yang lebih sakitnya lagi, suara-suara aneh yang mereka ciptakan saat itu tersimpan jelas di memorinya.


"Udahlah, Safira? Lo mau berharap apa lagi? Berharap Azzam balas cinta monyet lo itu? Mimpi lo, Fir!" batin Safira.


Saat sampai di depan lobi, Safira tak sengaja berpapasan dengan laki-laki yang tak asing di matanya.


Ucen!


"Safira? Ini beneran lo? Gila ... gak berubah ya lo? Malah makin gede aja tuh balon gue liat-liat," seloroh Ucen tanpa malu mel*cehkan Safira untuk kesekian kalinya.


Safira kembali memutar masa lalu yang tersimpan begitu jelas di memori otaknya. Masa lalu yang pahit sekaligus berharga bagi Safira. Saat dirinya hampir terl*cehkan, saat itu pula Azzam muncul bagaikan pahlawan untuknya.


Mengingat Azzam, membuat dirinya kembali meneteskan air mata. Tubuhnya bergetar karena menahan tangis.


Ucen yang melihat Safira menangis menjadi punya alasan untuk menyentuh tubuh Safira. Gadis yang tak sempat digapainya.


"Duh, Fir. Kenapa sih? Jangan nangis dong," ucap Ucen sok menenangkan padahal tangannya merayap kemana-mana.


Safira segera menepis tangan kotor milik baj*ngan itu.


Saat itu lobi memang sepi karena ini masih jam kerja. Security pun lokasinya jauh di dekat gerbang sana.


"Fira ...." Lagi-lagi Ucen melakukan modusnya.


Tanpa Ucen sadari ada sepasang mata yang sejak tadi mengamati keduanya. Tangan Darren mengepal saat melihat ada laki-laki yang dengan kurang ajarnya merendahkan Safira.


"Udah gue bilang jangan sentuh gue!" bentak Safira karena Ucen tidak mau menjauh darinya.


"Dih, gak usah sok jual mahal, Fir! Berapa sih harga lo? Sini gue bayar!"


Bugh! Tiba-tiba satu bogem mentah mendarat di pipi kurus milik Ucen. Darah segar pun mengalir dari mulutnya karena bibirnya yang sobek.


"Bangs*t! Beraninya lo ...."


Baru hendak mengumpat, Ucen langsung mengatup mulutnya saat melihat Darren lah yang telah meninjunya.


"Pak Darren?" tanya Ucen.


"Siapa kamu?" tanya Darren heran karena laki-laki itu mengenal namanya. Sedangkan Darren baru hari ini melihat wajahnya.

__ADS_1


Ucen langsung berdiri tegak dan membersihkan darah yang ada di mulutnya. Walaupun tidak bersih sempurna.


"Saya Rusen, Pak. Asisten pribadi yang di kirim Pak Harry ke sini," jawab Ucen begitu lugas.


Safira melongo tidak percaya. Ucen? Jadi asisten pribadi? Emangnya Ucen mampu?


"Kamu pergi menghadap ke Harry dan katakan saya tidak jadi meminta asisten darinya," ucap Darren begitu tegas.


Melihat kelakuan Rusen alias Ucen terhadap Safira tadi membuat Darren seribu persen yakin untuk menolaknya. Ya, Darren memang meminta bantuan temannya—Harry untuk mencari asisten pribadi.


"Gak bisa gitu dong, Pak. Kan kita semua sudah sepakat," protes Ucen tidak rela ditolak begitu saja.


"Di sini saya bosnya. Saya berhak menentukan siapa-siapa saja yang diperbolehkan masuk ke perusahaan ini. Dan pastinya bukan laki-laki kurang ajar seperti kamu!" tegas Darren.


Sejenak Safira terkagum dengan CEO nya itu. Ketegasannya begitu silau di pandangan seorang Safira. Apalagi saat ini jarak mereka cukup dekat. Darren berdiri di depan Safira, seolah-olah melindunginya dari Ucen.


"Cih, dasar CEO gila! Semua ini gara-gara lo, Safira!" cecar Ucen membabi buta.


"Gue?" Safira menolak untuk disalahkan. Di sini dialah korbannya.


"Jangan salahkan Safira!" bentak Darren lalu memberikan tinju di sisi muka yang belum terkena bogem mentahnya.


Ucen ambruk ke lantai. Karena punya fisik yang tidak memadai, Ucen dengan mudahnya ambruk bahkan pingsan. Padahal baru dua kali pukulan.


Darren memanggil security dan menyuruhnya untuk membawa Ucen ke perusahaan Harry. Entah mengapa setelah kejadian ini, rasa solidaritas Darren pada Harry sedikit berkurang. Padahal belum tentu Harry tau tentang kelakuan asisten pribadi yang dikirimnya untuk Darren itu.


"Makasih, Pak," ucap Safira begitu Ucen dan security itu pergi.


"Saya tidak suka menolong orang, itu berarti kamu harus membayar jasa saya tadi," jawab Darren begitu pintar memanfaatkan situasi. Apakah ini berarti dirinya bisa mendapatkan seorang Safira?


"Bayar pakai apa?" tanya Safira lagi.


Azzam juga pernah menolongnya tapi tidak pernah meminta balasan, sangat berbeda dengan sang Kakak. Bukan dari segi muka saja, dari segi kepribadian pun dua bersaudara itu berbeda jauh.


Darren tidak menjawab melainkan memberikan senyuman yang begitu mencurigakan.


"Pak, gak baik loh minta balasan pas udah nolong orang. Mending ikhlasin aja, anggap sedekah. Toh adik bapak, si Azzam juga pernah nolongin saya, gak ada tuh minta balasan, seharusnya bapak lebih baik daripada Azzam dong," seru Safira mencoba negoisasi. Safira takut ada harga mahal yang harus dibayarnya.


"Saya bukan Azzam! Lagi pula kenapa jadi membahas Azzam? Kamu suka sama Azzam?" Darren berusaha memancing Safira agar sedikit demi sedikit Darren bisa mengetahui kehidupannya.


Safira yang ditanya begitu langsung mati kutu. Mulutnya kelu, takut salah menjawab dan membuat orang-orang jadi salah paham.

__ADS_1


__ADS_2