CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
Duda Tanpa Anak


__ADS_3

Darren sungguh emosi melihat Safira digendong begitu mesra oleh pria lain. Mengesampingkan kemanusiaan, Darren pun akhirnya menendang aset berharga milik Harry. Sedikit bertenaga, hanya sedikit.


Dengan begitu Darren pun terlepas dari Harry dan meninggalkan pria itu yang kini histeris sambil memegangi asetnya yang nyeri.


Karena tidak ada lagi lift yang tersisa, Darren memilih untuk menggunakan tangga darurat. Masa bodoh dengan penampilannya yang hanya memakai sandal rumahan, kaos biasa, dan celana pendek.


"Awas lo, Yohan! Beraninya lo nyentuh istri gue!" geram Darren sambil mempercepat langkahnya.


Saat Darren tiba di lobi, Safira berserta para rombongan penculik itu sudah masuk mobil. Darren mengumpat kasar.


"Agh, si*lan! Mau ke mana mereka bawa-bawa Safira?!" umpatnya.


Ah iya! Darren tiba-tiba teringat Harry. Darren yakin laki-laki itu pasti tau kemana mereka membawa Safira, istrinya.


Dengan cepat Darren kembali ke lantai 6 tempat apartemennya berada. Saat sampai di lantai apartemen, Darren melihat Harry yang masih bersimpuh di lantai sambil memegangi barang pribadinya.


"Cepat kasih tau gue, ke mana orang-orang itu bawa Safira?!" tanya Darren mengintimidasi Harry.


Harry bergeming. Orang-orang sudah menyuruhnya untuk tutup mulut, mau bagaimanapun kondisinya.


"Tolonglah, Ry! Kasihani gue. Emangnya lo gak kasihan liat gue dipisahin sama istri sendiri?!" Darren memelas, memanfaatkan kelembutan hati Harry.


Namun Harry tetap diam. Ia berusaha menekan rasa sakit yang dirinya alami akibat tendangan Darren tadi.


"Ry! Tolonglah!" Darren menjadi kesal melihat Harry hanya diam tak menjawab.


"Males ah! Ngapain kasihan sama lo? Lo aja gak kasihan sama gue! Tega-teganya Lo nendang b*rung gue," jawab Harry misuh-misuh. Harry jadi ikutan emosi. Jarang-jarang Harry emosi seperti ini.


Darren juga tidak heran kenapa Harry berani membentaknya seperti itu. Ya emangnya siapa sih yang gak marah kalau b*rungnya ditendang?


Akhirnya Darren meninggalkan Harry sendirian. Ia masuk ke apartemen dan mengambil ponselnya. Satu persatu dari orang-orang itu diteleponnya.


Mulai dari Safira, namun tidak diangkat. Sampai tiga kali Darren mencoba menghubungi istrinya, tapi satupun tidak diangkat. Darren mencoba menelpon Azzam, Jacob, dan Yohan. Hasilnya sama saja, satupun dari mereka tidak ada yang mengangkat telepon darinya.


Entah kenapa Darren kepikiran untuk menelpon Dara.


Dara kini tengah berada di rumah utama milik Alberto. Saat Darren menelponnya, ia langsung melaporkannya pada Mulan.


"Tante, pak Darren nelpon aku," adu Dara.


"Jawab aja. Kasih tau kalau istrinya Mommy yang culik," jawab Mulan.

__ADS_1


Darren yang merasa mendapat pencerahan setelah menelpon Dara, langsung bersiap tancap gas ke rumah utamanya.


Saat keluar dari apartemen, Darren melihat Harry yang masih bersimpuh di tempat yang sama. Seketika hatinya merasa bersalah.


"Mau dibantuin gak lo?" tawar Darren sambil mengulurkan tangannya pada Harry.


Dengan raut wajah merengut Harry pun menerima uluran tangan sahabatnya.


"Gil* lo, Ren! Kalau gak fungsi lagi b*rung gue gimana?!" sungut Harry kesal.


"Sorry .... Lo sih pake acara nahan-nahan gue segala," jawab Darren.


Keduanya kini berada di dalam mobil Darren. Harry memang tak membawa mobil. Tim penculikan Safira kompak memakai satu mobil saja tadinya, mobil Jacob.


"Kenapa sih pake acara culik-culikan segala?!" tanya Darren pada Harry.


Harry yang masih meringis kesakitan pun menjawab, "Tante Mulan marah gara-gara lo nikah gak bilang-bilang," jawab Harry.


"Ya gimana mau ngabarin, itukan mendadak. Gue aja gak kepikiran bakal nikah di hari itu," seru Darren.


Lama keduanya terdiam. Harry tiba-tiba jadi kepikiran tentang pernyataan Darren tentang Rusen.


"Oh iya, Ren," ucap Harry.


"Gue mau nanya soal Rusen. Kata lo dia ngancurin hidup Safira, emangnya dia ngapain?" tanya Harry begitu penasaran.


Darren pun menceritakan apa yang ia ketahui dan dengar dari Safira. Darren juga memberi tahu pada Harry kalau dirinya berniat menghancurkan Rusen. Harry yang dasarnya memiliki hati yang lembut sebenarnya tidak tega, tapi Darren tetap menegaskan kalau dirinya akan menghancurkan Rusen, dengan atau tanpa persetujuannya.


Keduanya pun berdiaman sampai akhirnya tiba di rumah utama. Satpam rumah dengan sigap membukakan pagar untuk sang majikan.


Di sana sudah bertengger rapi mobil Jacob, Yohan, Harry, serta motor gede milik Azzam.


Darren langsung masuk dengan terburu tanpa menunggu Harry lagi.


"Safira .... Baby, di mana kamu?" teriak Darren saat mencari-cari keberadaan istrinya di rumah itu.


Darren akhirnya menemukan istrinya serta yang lain di lantai 2. Mereka sedang asyik bergurau di ruang santai. Mulan dan Dara mendempet istrinya tanpa celah. Seolah takut Darren akan membawa kabur Safira.


Darren juga melihat Yohan di sana. Dokter berkulit putih itu kini tengah menatap Safira dengan senyuman.


Kekasalan di hati Darren semakin menjadi.

__ADS_1


"Safira ...," panggil Darren begitu lembut, mengesampingkan kekesalannya pada Yohan.


Sontak semuanya menoleh.


"Maaf, kamu siapa ya?" tanya Alberto pura-pura tidak mengenali putranya sendiri.


"Daddy! Apa ini, Dad? Kenapa istri aku diculik begini?" rengek Darren pada daddynya.


"Kinipi istri iki dicilik bigini," nyinyir Mulan begitu gemas dengan putra sulungnya.


Darren benar-benar merasa terpojokkan. Dirinya menatap Safira seolah meminta belas kasihan, namun Safira malah memberikannya senyuman mengejek.


"Mommy, dia siapa ya? Kok ada di sini sih?" ucap Safira mengikuti drama Alberto.


Darren merengut kesal. Apa sih maksudnya ini?


"Kamu gak kenal saya? Coba lihat leher kamu itu, siapa yang buat kalau bukan saya?!" sungut Darren tidak tahu malu. Alberto langsung menoyor kepala putranya.


Muka Safira memerah karena suaminya itu terang-terangan mengatakan kalau semua bercak merah di tubuh ini adalah mahakaryanya.


Para anggota tim penculikan Safira kompak menertawai Darren yang mendapatkan perlakuan kdrt dari kedua orang tuanya.


"Aduh, kasian banget deh yang baru kawin udah dipisahin dari bininya," ejek Jacob.


"Fira kok lo mau sih sama cowok tua begitu? Udah tua, garang, emosian lagi." Azzam memanas-manasi.


"Ck! Aku enggak gitu kok, Baby. Jangan dengerin mereka ya .... Mending sekarang kita pulang," bujuk Darren.


"Enak aja bawa-bawa pulang menantu Mommy! Pokoknya beberapa hari ini, Safira tinggal di sini dan tidur sama Mommy!" lawan Mulan.


Darren langsung terdiam saat Mulan mengatakan kalau Safira akan tinggal di sini. Itu berarti kesempatan Darren untuk bermesraan dengan istrinya semakin sedikit.


"Ide bagus, Tan. Lagi pula yang aku lihat kayaknya Safira kondisinya lagi gak fit. Jalan aja kayak kesusahan banget," ungkap Yohan.


"Heh! Diem lo! Jangan ngurusin bini gue! Kayak gak punya bini aja!" sungut Darren tidak suka mendengar perhatian Yohan pada Safira.


"Bang Yohan kan emang gak punya bini, Bang," seloroh Jacob mengundang tawa semua orang, kecuali Darren dan Yohan.


Darren merasa jadi anak buangan di sini. Boro-boro disambut hangat, dikasih tempat duduk aja enggak.


"Mom, please ... kami kan baru nikah, masa iya udah dipisahin begini?" rengek Darren. Ah, muka sama kelakuannya sungguh tidak sinkron. Apalagi saat melihat jenggot yang tumbuh di dagunya itu.

__ADS_1


"Nikah? Kapan kamu nikah? Mommy gak tau tuh. Coba liat sini buku nikahnya," sindir Mulan.


Darren mati kutu. Gimana mau nunjukin buku nikah kalau buku nikahnya gak ada? Mau tak mau dirinya harus cosplay duda tanpa anak beberapa hari ini. Kasihan kamu, Darren.


__ADS_2