CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
TPS (Tim Penculikan Safira)


__ADS_3

Alberto dan Mulan pulang ke rumah utama terlebih dahulu. Rencana untuk menculik Safira tanpa sepengetahuan Darren masih dipikirkan oleh mereka.


"Mas ... masa sih anak kita nikah gak pake acara?!" oceh Mulan yang masih saja tidak ikhlas dengan pernikahan Darren.


"Honey ... kamu jangan marah-marah ya, nanti tensi kamu naik," ujar Alberto yang sedang menyetir mobil.


Mulan tidak bisa seikhlas itu. Pokoknya pernikahan anaknya harus ada pesta! Kalau perlu mereka harus nikah ulang!


Karena merasa suaminya pun mulai menjengkelkan, Mulan memilih untuk tidur saja.


Alberto yang melihat istrinya terus-terusan marah, jadi risau. Tanpa sepengetahuan Mulan, Alberto menelpon dokter Yohan, dokter langganan keluarga Alberto.


"Yohan, kamu ke rumah ya sekarang! Cek kondisi Tante Mulan," seru Alberto melalui telepon.


Sampainya di rumah utama, Alberto maupun Mulan sama-sama mengistirahatkan diri. Keduanya benar-benar lelah karena pulang mendadak dari LN.


Selang 20 menit, datanglah dokter Yohan di kediaman Alberto. Mulan sudah menebak kalau Yohan pasti dipanggil oleh suaminya kesini.


Setelah pemeriksaan, Yohan mengatakan kalau tensi Mulan memang sedikit menaik. Tapi masih kategori aman.


"Emangnya Tante kenapa? Sampai-sampai tensinya naik?" tanya Yohan. Yohan memang akrab dengan keluarga Alberto, karena mereka sering bermain di rumah ini dulunya. Selain Yohan, juga ada Harry dan adik kelas mereka yaitu Jacob.


"Darren nikah gak bilang-bilang, makanya tensi Tante naik!" sungut Mulan tidak habis-habisnya mengoceh.


"D-d-darren nikah?!" Yohan tergagap.


"Nikah sama siapa?" tanya Yohan begitu gugup. Dirinya takut nama Safira yang akan disebut. Kalau benar, berarti dirinya sudah kalah telak dari Darren.


"Sama Safira, kamu kenal?" jawab Alberto membantu menjawab pertanyaan Yohan.


Deg! Bak disambar petir, badan Yohan mendadak kaku. Jantungnya berhenti berdetak sejenak. Ahh, belum juga bertanding sudah tereliminasi ini namanya!


"Ke-kenal, Om," jawab Yohan sedikit kecewa. Cinta sentuhan pertamanya sudah hilang.


"Ehmm, Yohan," panggil Mulan.


"Iya, Tan?" sahut Yohan.


Alberto diam menyimak.


"Kamu sama yang lain bantuin Tante dong! Bantu nyulik Safira. Tante mau ngasih pelajaran ke Darren," pinta Mulan menghasut Yohan.


Lama Yohan terdiam. Namun setelahnya, senyum mencurigakan mulai timbul di wajah cerah milik dokter Yohan.

__ADS_1


"Boleh tuh, Tan! Aku ajakin yang lain deh. Kebetulan Jacob baru nyampe ke Indonesia semalam," seru Yohan. Dirinya menelpon satu persatu temannya.


*****


"Safira ... saya mau ngajak kamu ke pantai siang ini. Kamu mau kan?" seru Darren saat Safira sedang bersantai menonton televisi.


Darren ikut duduk di sebelah Safira walaupun tidak dihiraukan sejak tadi.


"Gak mau. Punyaku masih sakit!" ketus Safira tanpa menoleh sama sekali.


"Baby ... maaf ya. Kasih saya kesempatan sekali saja buat menembus kesalahan ini," pinta Darren memelas.


Safira diam. Dirinya tetap fokus menonton televisi. Sialnya malah muncul iklan.


Safira mengganti fokus ke ponselnya. Darren jadi frustasi sendiri karena Safira masih saja mengacuhkannya.


Safira melihat ada chat masuk dari Dara. Safira membaca pesan Dara lalu tersenyum.


"Kalau mau ngajak aku ke pantai besok aja! Kalau udah sembuh!" ucap Safira lalu beranjak pergi dari sofa.


Darren memandangi punggung wanita itu dengan sedih. Ah, ternyata susah juga membujuk wanita.


Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Dengan lemah Darren pun menuju pintu dan membukanya. Kini tampaklah Harry yang berdiri kaku di depan pintu.


"Da-darren," sapa Harry gugup.


"Ada apa?!" ketus Darren. Melihat wajah Harry mengingatkannya pada Rusen. Pria yang hampir mel*cehkan istrinya.


"Gue mau ngomong sesuatu," ucap Harry lalu menelan salivanya. Matanya tidak bisa berbohong kalau dirinya gugup.


"Ngomong di sini aja," jawab Darren.


Harry menggeleng.


"Kita ngomong di ujung sana, gue takut Safira dengar," ucap Harry membual.


Kening Darren mengerut. Bagaimana Harry tau Safira ada di sini? Dari Rusen kah?


Karena merasa penasaran, Darren pun mengikuti Harry yang menuntunnya ke ujung lorong lantai apartemen.


Harry berhasil membuat posisi Darren membelakangi pintu apartemennya.


"Cepat! Lo mau ngomong apa?" desak Darren. Ia malas berlama-lama di sini. Safira pasti menunggunya dengan cemas, duga Darren.

__ADS_1


"Gu-gue ..."


Sementara itu, Yohan, Jacob, dan Azzam kini mulai mengendap-endap masuk ke apartemen Darren.


Safira hampir berteriak melihat Jacob. Karena Safira tidak mengenali siapa pria berperawakan bule itu.


Namun setelah melihat keberadaan Azzam dan dokter yang menanganinya tempo lalu, Safira pun jadi paham kalau mereka bukan berniat jahat. Safira pun langsung teringat pesan dari Dara tadi. Dara mengatakan kalau mertuanya berencana menculiknya dari Darren. Safira berpikir orang-orang inilah yang akan menculiknya.


"Apa ini, Zam?" tanya Safira memastikan.


"Kami mau nyulik kamu, sesuai perintah Mommy. Dara juga udah ngasih tau kan?" seru Azzam.


Safira pun mengangguk.


"Bentar ya, aku ambil barang dulu," ucap Safira lalu mengambil ponselnya.


Dengan tertatih-tatih ia berjalan ke arah nakas tempat ponselnya berada. Yohan menyadari ada kejanggalan dari cara berjalan Safira.


Setelah mendapatkan ponselnya, Azzam langsung memegang tangan Safira. Azzam takut Safira akan tertinggal jika mereka berlari nanti.


Dengan perlahan Jacob membuka pintu dan memeriksa keadaan. Jacob mengkode ke arah Harry untuk tetap mengalihkan fokus Darren.


Harry makin keringat dingin dibuatnya.


"Lo mau ngomong apaan sih?! Dari tadi muter-muter mulu," ketus Darren.


Harry hanya menyengir tidak menjawab. Ia selalu mencuri-curi pandang ke arah tiga orang yang tengah membawa Safira menuju lift.


"Oh iya, mumpung lo di sini, gue mau ngomong sama lo! Izinin gue buat ngehancurin Rusen. Gue gak peduli mau dia asisten atau sekretaris lo, yang jelas dia udah ngehancurin hidup istri gue! Untuk itu, gue mau ngehancurin balik hidupnya!" ucap Darren dengan menggebu. Dirinya sudah tidak sabar membuat pria m*sum itu hancur.


Harry sebenarnya cukup shock mendengar penuturan Darren, tapi dirinya lebih tegang melihat ketiga orang itu yang tampak begitu lamban.


"Lo liatin apa sih, Ry?!" Darren pun menoleh. Ketiga orang sebenarnya itu tidak sadar kalau Darren telah melihat mereka membawa Safira. Namun, Harry langsung berteriak.


"Lari!" teriak Harry begitu keras.


Safira ditarik Azzam. Lagi-lagi bagian intinya terasa nyeri.


"Aww, pelan, Zam!" sentak Safira kesakitan.


"Gak bisa, Fir! Nanti bang Darren ngejar!" jawab Azzam panik. Jacob sudah berlari duluan menuju lift. Untungnya di antara dua lift yang ada, semuanya kosong. Jacob memasuki satu lift dan langsung turun ke lobi, dirinya ingin menyiapkan mobil untuk kabur.


Yohan tidak punya pilihan lain. Daripada Safira kesakitan seperti ini, lebih baik dia yang dimaki Darren nantinya. Dengan sigap Yohan langsung menggendong tubuh Safira ala bridal style. Darren yang melihat istrinya disentuh pria lain, langsung kebakaran jenggot.

__ADS_1


Tapi sebelum Darren mengejar orang-orang itu, Harry menahan tangan Darren. Alhasil keduanya pun adu kekuatan. Walaupun muka Harry lugu, tapi soal kekuatan bolehlah diadu.


"LEPASIN ISTRI GUE!!!" teriak Darren begitu menggema di lorong apartemen ini.


__ADS_2