
Siang itu, Yohan, Harry, dan Azzam kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing. Dara tidak ikut Azzam balik ke kantor karena Mulan memintanya untuk menjaga Safira di rumah. Mulan dan Alberto berencana untuk keliling memberikan oleh-oleh ke beberapa kerabatnya. Meninggalkan Safira hanya berdua dengan Darren tentu saja bukan ide yang bagus.
"Dara, saya mau ngomong sama Safira. Kamu pergi dulu ya?" bujuk Darren pada Dara.
Dara yang sudah mendapatkan surat resmi menjaga Safira, tidak segan-segan menolak permintaan laki-laki yang menjabat sebagai atasannya di kantor itu.
"Maaf ya, Pak. Tante Mulan udah nitipin Safira ke saya. Kata Tante, bapak gak boleh dibiarin berdua sama Safira," jawab Dara dengan bangganya.
"Please, Dara ... kamu jangan ikut-ikutan mereka dong! Kalau kamu di pihak saya, saya naikin deh gaji kamu," tawar Darren tak kehabisan akal.
Dara terkekeh geli melihat tingkah Darren. Kayaknya Dara udah ketularan Azzam deh, seneng liat Darren menderita.
"Kalau mau naik gaji, tinggal minta ke Pak Alberto, Dar. Gak usah nurutin dia," jawab Safira ketus pada Darren.
Jujur Safira merasa kasihan melihat suaminya yang frustasi seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Mertua yang nyuruh kok. Lagi pula memisahkan diri dari Darren juga ada baiknya. Safira tidak perlu melayani suaminya itu untuk sementara, hitung-hitung proses pemulihan diri sebelum nantinya akan digunakan kembali.
"Nah bener tuh! Maaf ya, Pak. Saya kali ini gak di tim bapak dulu," tolak Dara penuh ejekan.
Demi apapun Darren benar-benar kesal di situasi seperti ini. Semua orang begitu kompak membulinya.
"Mas, aku mau tidur. Kamar tamu di mana?" tanya Safira pada suaminya. Tiba-tiba saja matanya jadi berat, mungkin efek kelelahan.
"Kamar tamu? Untuk apa kamar tamu? Kamu tidur di kamar saya, kamar kita," ucap Darren.
Mendengar sepasang suami istri itu menyebut-nyebut kamar, Dara mendadak canggung. Mau pergi, tapi sudah diberi amanah. Ya kali amanah gak dilakuin.
"Sini saya anterin," seru Darren sumringah.
Membayangkan Safira tidur di kamarnya membuat perasaannya menggebu-gebu. Pasalnya kamarnya itu belum pernah di masuki wanita manapun kecuali Mulan, mommynya.
"Ah, aku kenapa jadi kayak abg baru puber ya?" batin Darren heran sendiri. Padahal usianya sudah menginjak angka tiga puluh, tapi mendadak kelakuannya seperti Azzam yang kekanakan. Efek punya istri kali ya?
__ADS_1
"Gak usah, Mas. Kamu tunjukin aja kamarnya di mana. Biar aku sama Dara yang nyari," tolak Safira mentah-mentah.
Melihat ekspresi Darren, Safira langsung curiga. Pasti suaminya itu merencanakan sesuatu di luar dugaannya.
"Kamu gak bakal ngerti, Baby. Biar aku yang anterin ya," jawab Darren. Tuhkan, liat aja tuh logatnya pake aku-kamu. Manis benerrr. Pasti ada apa-apanya.
"Terserah kamu deh, Mas. Yuk, Dar." Safira menarik tangan Dara.
Darren pun menuntun kedua wanita itu menuju kamar pribadi miliknya.
Sampainya di depan pintu kamar, Darren tidak langsung membukakan pintu untuk Safira maupun Dara.
"Maaf sebelumnya, Dar. Saya punya prinsip kamar saya gak boleh dimasukin sembarang orang. Bahkan Azzam aja saya marahin kalau ketahuan masuk ke sini. Jadi ... maaf banget. Kamu gak boleh masuk ke kamar saya," ucap Darren menjelaskan.
Darren telah menemukan cela di mana dirinya bisa menyentuh Safira tanpa pengawasan Dara.
"Loh? Kalau gak dibolehin masuk kenapa tadi nawarin kamar?!" sungut Safira merasa kesal pada suaminya. Mending tadi langsung ke kamar tamu.
"Kalau kamu mah boleh, Baby Girl. Yang gak boleh itu Dara," seru Darren dengan senyuman manis.
"Tapi kan Mommy udah nyuruh Dara buat jagain aku, kalau aku di dalam, Dara juga harus di dalam dong?" sungut Safira.
"Ya gimana ya, prinsip saya dari kecil ya begitu," jawab Darren tidak menerima alasan.
Safira tahu Darren pasti akan memanfaatkan kondisi ini. Huh, mau tak mau dirinya harus menahan kantuk.
"Kalau Dara gak boleh masuk, aku tidur di depan aja deh. Biar lebih aman," seru Safira pada akhirnya.
Darren tidak menduga kalau istrinya itu malah memilih tidur di sofa daripada masuk ke kamarnya tanpa Dara. Darren kembali memikirkan taktik lain, namun nihil. Otaknya sudah kehabisan akal.
"Lo tidur aja di dalem, Fir. Biar gue yang jagain pak Darren supaya gak mepet-mepetin lo," ucap Dara yakin. Dirinya tidak mau Safira tidur di sofa.
__ADS_1
"Wah, makasih banyak, Dara. Tinggal satu langkah lagi," batin Darren. Tanpa sadar dirinya tersenyum-senyum sendiri.
"Bener nih?" tanya Safira menyakinkan.
Dara pun mengangguk.
"Bapak harus nunggu di ruang santai ya? Bapak gak boleh ke kamar dengan alasan apapun," titah Dara.
"Cih, dasar bocah. Kamu gak sadar ya kalau saya punya kartu as buat ngancem kamu?" batin Darren begitu senang saat berhasil menemukan cara mendekati istrinya lagi.
"Oke, no problem," jawab Darren dengan yakinnya. Ia melemparkan senyum manisnya kepada Safira sebelum gadis itu masuk ke kamar.
Setelahnya Darren pun pergi mengikuti Dara.
"Dara. Saya tau kamu sama Azzam udah pernah berbuat hal di luar batas saat di kantor," seru Darren mulai membuka kartu.
Dara langsung membalikkan tubuhnya menghadap Darren.
"Ma-maksud bapak? Hal di luar batas gimana?" tanya Dara pura-pura tidak mengerti.
"Mending kamu biarin saya deketin Safira daripada kelakuan kalian saya aduin ke daddy and mommy. Kebayang gak sih gimana ekspresi mommy nantinya pas tau kalian udah ... sebelum nikah?" ancam Darren menakut-nakuti gadis itu.
Dara diam seribu bahasa. Pikirannya berkecamuk. Ia bingung bagaimana Darren bisa tau kelakuannya saat itu. Dara mengira ruangan Azzam itu kedap suara, tapi bagaimana bisa Darren ....
"Gimana? Boleh kan saya nemuin istri saya sekarang?" tanya Darren dengan penuh percaya diri. Ia yakin seratus persen Dara pasti tunduk padanya.
Dara hanya diam sambil mengangguk. Mulutnya bingung mau berbicara apa. Satu sisi takut, satu sisi malu. Malu ketahuan melakukan yang tidak-tidak oleh Darren.
"Okey, good girl!" seru Darren sumringah lalu putar arah.
Dengan semangat yang menggebu ia melangkahkan kaki menuju kamarnya.
__ADS_1
"Your husband coming, Baby Girl," gumam Darren begitu gembira.
Sementara itu, Dara kini tengah berlari keluar rumah mencari keberadaan Jacob.