CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
Mantan


__ADS_3

"Saya siap jadi asisten bapak," ucap Safira yakin. Safira mengira ini ide yang bagus agar tidak sering bertemu dengan Dara.


"Hari ini juga kamu mulai kerja jadi asisten saya!" tegas Darren begitu senang. Tapi sekuat tenaga ia sembunyikan ekspresi gembiranya itu.


Safira dan Darren jalan berdampingan menuju lift. Beberapa karyawan melihat mereka dengan tatapan penasaran maupun iri.


"Loh Safira mana?" tanya teman satu divisi Safira.


"Tadi pagi dia sama Pak Darren pake lift khusus, kayaknya sekarang lagi di ruang Pak Darren," jawab salah satu karyawan yang tadi lagi sempat melihat keduanya.


"Lucu ya, yang satu gatal ke Pak Azzam, yang satunya lagi gatal ke Pak Darren," sindir karyawati yang punya sifat iri dengki.


Dara yang baru datang dari toilet langsung emosi mendengar mulut nyinyir wanita itu.


Ekhem!


"Maksud lo apa?!" sinis Dara tanpa segan walaupun itu seniornya.


"Lo pasti ngerti maksud gue," jawab seniornya begitu menantang. "


"Emang kenapa kalau kami bisa dapatin atasan? Lo iri? Jangan iri dong, makanya jadi cantik biar dilirik atasan! Diliat dari modal muka aja lo udah gak mampu, apalagi diliat dari akhlak!" lawan Dara tanpa ampun. Dara memang pendiam, tapi dia tidak suka diusik. Disenggol sedikit saja dia pasti membalasnya.


Senior tadi merasa emosi karena dihina seperti itu oleh juniornya. Bahkan di depan semua karyawan.


"Heh! Kurang ajar ya lo! Dasar cewe gatel!" Wanita itu terpancing emosi dan mencoba menarik rambut Dara. Namun Dara langsung menghindar dan membalas mendorongnya.


"Maju lo sini! Gue bisa gebukin lo sampe memar!" tantang Dara.


"Heh, berhenti kalian berdua! Balik ke meja masing-masing!" bentak Herman selaku ketua divisi mereka. Kedua wanita itu pun balik ke meja masing-masing setelah memberikan tatapan tajam satu sama lain.


*****


"Pak, tugas saya ngapain?" tanya Safira pada Darren yang kini tengah memperhatikan laptopnya.


Darren pun mengalihkan perhatiannya.


"Emm, sebentar," ucap Darren lalu mengambil sebuah iPad.


"Kamu cek schedule saya hari ini," suruh Darren begitu serius. Gara-gara semalam dirinya membolos, kerjaannya jadi menumpuk. Mau tidak mau hari ini Darren harus bekerja ekstra.


"Kenapa? Kamu gak bisa main iPad?" tanya Darren saat melihat Safira terdiam dengan iPad yang dipegangnya.


Safira menggeleng. Matanya tak lepas dari iPad itu.


"Cakep banget Pak, iPad nya. Pasti mahal kan? Saya dari zaman SMA pengen banget beli iPad kayak gini! Tapi baru hari ini saya kesampaian megang iPad," seru Safira begitu takjub. Enak yah jadi orang kaya, batinnya.


Darren memandang Safira begitu dalam.


"Lucu. Moodnya mudah sekali berubah," batin Darren tergelitik.


"Udah gak sakit hati lagi?" ejek Darren saat melihat Safira begitu senang.


Safira yang ditanya begitu langsung cemberut.


Seketika Darren terpaku. Ah lucunya. Rasa pengen gigit.


"Tolong ya, Pak. Jangan bahas itu lagi. Saya lagi berusaha mendam rasa sakit hati saya. Jadi Bapak jangan mancing-mancing saya," tegas Safira.


Darren tertawa kecil. "Iya deh iya. Lucu aja gitu, kemarin kamu nangis-nangis gak jelas sekarang senyum-senyum sama iPad," jawab Darren.


Entah kenapa Safira merasa Darren saat ini begitu nyaman diajak bicara. Tidak ada Darren yang sombong dan pemaksaan lagi.


"Gimana gak senyum sih, Pak. Ini iPad pasti mahal! Trus pasti isinya canggih-canggih, kalau dipake ngegambar pasti enak, stylusnya ada kan?" celoteh Safira begitu bersemangat.


Darren mengambil sebuah benda pipih dan panjang dari lacinya lalu memberikan benda itu ke Safira.


"Ini stylusnya, coba kamu pake ngegambar," ucap Darren lalu memberikan stylus itu pada Safira.


Safira dengan semangat yang menggebu langsung mengambil stylus itu lalu menggunakannya.

__ADS_1


"Eum, saya boleh download satu aplikasi gak, Pak?" tanya Safira malu-malu. Pasalnya di iPad itu belum ada aplikasi yang sering Safira pakai untuk menggambar.


"Download saja," jawab Darren.


"Makasih ya, Pak. Bapak baik deh hari ini!" puji Safira sambil tangannya mengotak-atik iPad yang begitu mulus itu.


Tiba-tiba Safira sadar.


"Astaga, Pak! Maaf Pak maaf, saya jadi kebablasan mainin iPad Bapak, saya jadi gak fokus sama kerjaan saya," ucap Safira tidak enak hati.


"Hahaha, baru nyadar kamu?" tanya Darren mengejek Safira. Sebenarnya mau Safira menggambar sampai sejam pun dirinya tidak masalah. Apasih yang enggak buat calon istri.


"Sekali lagi maaf, Pak," ucap Safira lalu fokus pada tugasnya.


Demi apapun Darren merasa tidak memiliki rasa capek hari ini. Biasanya baru 30 menit saja dirinya sudah bosan dan rasanya ingin kabur dari kantor. Tapi hari ini, sudah 2 jam dirinya duduk di kursi tapi masih begitu bersemangat karena ada wanita cantik yang menemaninya.


"Ahh, Zam! Pe'... lan dong." Samar-samar suara Dara terdengar di ruangan Darren.


Safira yang mendengar lenguhan sahabatnya itu pun shock. Bahkan tangannya berhenti bergerak.


"Pak?" tanya Safira spontan. Dirinya kebingungan di situasi seperti ini.


Darren pun tidak tuli. Dirinya tau betul suara apa yang tadi terdengar. Namun dirinya memilih untuk pura-pura tidak mendengar.


"Ya?" jawab Darren dibuat biasa saja seolah tidak ada apa-apa.


"Bapak dengar tadi?" tanya Safira. Mungkin dirinya salah dengar, batinnya.


"Dengar apa?" tanya Darren pura-pura tidak tau.


"Akhh... gak kuat! Stop! Stop! Stop!" Suara Dara makin membabi buta. Reflek Safira menutup telinga karena begitu malu mendengar suara-suara seperti itu.


"Kalau gak nyaman kita keluar saja," tawar Darren pada Safira. Safira yang masih shock pun menuruti apa saja ucapan Darren.


Keduanya pun keluar dan masuk ke dalam lift.


"Untuk apa?" tanya Darren heran. Apa salahnya?


"Maaf gara-gara saya, bapak terpaksa keluar," jawab Safira pelan.


"Bukan gara-gara kamu. Saya juga ngerasa gak nyaman sama suara seperti itu," jawab Darren lagi.


"Maaf," ucap Safira lagi. Dirinya memilih berdiri di belakang Darren karena malu pada atasannya itu.


"Sekarang maaf untuk apa lagi?" tanya Darren.


"Maaf karena Dara membuat bapak gak nyaman di kantor," lirih Safira. Ia sedikit merasa bersalah karena sahabatnya telah membuat atasan tidak nyaman di ruangannya sendiri.


"Jangan minta maaf buat kesalahan orang lain. Ini salah mereka berdua, bukan cuman Dara tapi Azzam juga bersalah dalam hal ini," jelas Darren.


Safira pun terdiam, dirinya tidak tau mau menjawab apa. Tapi dirinya tetap merasa bersalah.


"Pak, kita balik aja ke ruangan lagi. Saya gak papa kok," ucap Safira saat pintu lift terbuka.


Darren menarik napasnya begitu dalam lalu membalikkan badan menghadap Safira. Tinggi gadis itu hanya mencapai dagunya. Jadi Darren sedikit menunduk untuk bicara pada gadis itu.


"Saya sudah bilang kalau saya juga terganggu sama suara mereka, jadi kita gak akan balik ke sana sekarang! Lagipula saya sering kerja diluar kantor," ucap Darren memberi pengertian kepada Safira.


Safira hanya bisa mengangguk dan pasrah.


"Jadi sekarang kita mau kemana, Pak?" tanya Safira mengekori Darren di parkiran.


"Rahasia," jawab Darren singkat lalu membukakan pintu mobil untuk Safira.


"Eh, gak perlu repot-repot, Pak. Saya bisa buka sendiri," ucap Safira tak enak hati. Masa bos yang bukain pintu ke karyawannya? Kan kebalik!


"Sudah terlanjur," jawab Darren.


"Em, saya duduk di kursi belakang aja deh, Pak." Safira masih berusaha bernegosiasi dengan Darren.

__ADS_1


Darren sedikit kesal pada Safira. Ia sudah berharap bisa menyetir dengan ditemani gadis cantik disebelahnya. Tapi gadis itu malah memilih untuk duduk di kursi belakang. Bahkan dirinya rela membukakan pintu mobil itu untuknya. Bos mana coba yang bisa kayak gini, batin Darren.


"Kamu kira saya sopir kamu?"


"Eh bukan gitu maksud saya, Pak! Tapi—"


"Saya atasan kamu, Safira. Berani kamu sama saya?" Akhirnya kata-kata andalan Darren keluar. Seperti biasa jika kata itu sudah keluar dari mulut sang Darren, Safira pun tidak bisa berbuat apa-apa. Peraturan pertama, atasan selalu benar. Peraturan kedua, jika atasan salah balik lagi ke peraturan pertama. Itu artinya atasan tidak pernah salah.


Darren menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat sudah sampai di tujuan keduanya pun turun.


"Oh kafe," batin Safira sedikit tenang karena Darren membawanya ke kafe. Jujur Safira sedikit takut kalau Darren membawanya ke tempat-tempat aneh yang hanya dijangkau oleh orang-orang kaya. Klub contohnya.


Darren berjalan begitu gagahnya saat memasuki kafe itu. Dirinya menuntun Safira masuk ke suatu ruangan.


Seketika Safira melongo saat memasuki ruangan itu. Ruangan itu begitu luas dengan sofa besar dan meja di tengahnya. Lalu ada sebuah tv yang cukup besar juga di depannya. Di ujung ruangan itu ada panggung kecil dan sebuah mikrofon.


"Ini tempat biasa saya kerja selain di kantor. Makanan di sini enak-enak, kamu setidaknya harus coba sekali seumur hidup," ujar Darren mencoba menjelaskan kepada Safira.


Safira pun mengangguk. Darren Mambawa Safira untuk duduk di sofa. Kemudian Darren mengeluarkan laptopnya dan memberikan iPad kepada Safira.


"Darren ...." Tiba-tiba seorang wanita masuk ke ruangan dan memanggil Darren.


"Luna?" gumam Darren heran. Kenapa ada Luna?


"Benar itu kamu Darren? Astaga! Kamu kok balik gak bilang-bilang?" tanya Luna lalu mendekati Darren. Safira hanya bisa diam mengotak-atik iPadnya. Membuat sikap seperti biasa dan tidak berusaha kepo.


"Kenapa harus bilang-bilang? Emang kamu siapa? Udahlah, Luna. Aku mau kerja," usir Darren tanpa segan.


Safira meneguk salivanya. Sepertinya ada perang kecil, batinnya.


"Sayang ... kamu masih marah ya sama aku?" tanya Luna manja sambil menarik-narik tangan Darren.


Safira tertegun. "Sayang? Pacar Pak Darren kah?" batin Safira berusaha menebak.


"Cukup, Luna. Hubungan kita itu udah lama berakhir. Kamu harusnya sadar diri!" bentak Darren tanpa pandang gender. Tak peduli jika itu wanita, yang jelas Luna sudah membuatnya kesal.


Luna adalah mantan Darren saat masa SMA di Indonesia. Biasalah, pria tampan pasti dipasangkan dengan wanita cantik. Waktu dulu mereka adalah pasangan terbaik satu sekolah. Bahkan mereka memiliki banyak fans.


Darren memutuskan Luna saat ketahuan berselingkuh. Tapi Luna dengan beribu alasan selalu menepis tuduhan Darren. Luna tidak pernah menganggap hubungan mereka berakhir, bahkan sampai sekarang.


Kebetulan saat Luna sedang makan dengan pacar barunya dia melihat Darren. Makanya wanita itu langsung menghampiri Darren.


"Aku gak pernah mutusin kamu, Darren! Kita gak pernah putus!" jawab Luna masih keras kepala.


"Sudahlah, Luna. Ingat umur. Kamu bukan wanita muda lagi, kenapa sibuk dengan urusan seperti ini?" ucap Darren sudah merasa tidak nyaman dengan kehadiran Luna.


"Kamu juga udah tua, Darren!" teriak Luna tidak mau dibilang tidak muda lagi.


Tanpa bisa ditahan Safira pun tertawa. Namun hanya sebentar karena kedua pasang mata itu langsung menatapnya dengan tajam.


"Wanita ini siapa?" tanya Luna pada Darren. Luna memberikan tatapan tidak suka pada Safira. Dasar ganjen, batinnya.


"Oh saya—"


"Dia calon istri saya." Baru saja Safira hendak memperkenalkan diri namun Darren langsung memotong.


"Hah?!" Luna teriak tidak terima.


"Gak bisa dong, Darren! Kamu itu punya aku, bukan dia! Seharusnya aku yang jadi istri kamu!" Luna makin ngelantur.


"Cukup Luna! Kamu itu gila! Sudah gila! Mending kamu keluar dari sini!" bentak Darren dengan suara yang menggelegar satu ruangan. Safira dan Luna sama-sama terkejut mendengar Darren murka.


"A-aku gak mau!" jawab Luna masih bisa keras kepala.


Darren yang kepalang kesal langsung menarik tangan Luna dan mendorongnya keluar ruangan. Pintu langsung dikuncinya dari dalam.


"Hah, mengganggu orang bekerja saja!" gerutu Darren saat balik ke sofa.


"Kerjakan saja kerjaan kamu! Jangan banyak mikir!" perintah Darren pada Safira yang tadinya terdiam menunduk.

__ADS_1


__ADS_2