CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
Tebusan


__ADS_3

"Kamu itu asisten saya, Safira. Udah berani kamu sama saya?!"


Safira sudah tidak bisa mengelak dan kabur dari Darren lagi. Ini memang murni kesalahannya karena telah meninggalkan tanggung jawab. Di saat detik-detik dirinya pasrah, dirinya tak sengaja memandang label yang tergantung di lehernya.


"Tapi, Pak," ucap Safira.


Darren yang tadinya hanya berdiri pun mengambil kursi kosong dan ikut bergabung dengan ketiganya.


"Apa?" tanya Darren seram.


Safira menelan salivanya dengan susah payah. "Sa-saya kan belum resmi jadi asisten bapak," seru Safira memberi alasan.


Alis Darren bertaut mendengar jawaban Safira. "Ah iya benar juga," batinnya.


"Yasudah, hari ini kamu urus semua itu! Pokoknya habis jam istirahat kamu sudah harus di ruangan saya!" tegas Darren lalu beranjak dari duduknya.


Entah mengapa ada sedikit perasaan bahagia di hatinya karena melihat Safira hari ini. Ya walaupun ada drama sedikit tadinya.


"Cih! Keenakan di Azzam ditempel-tempel dua wanita kayak gitu!" batin Darren sedikit iri pada adiknya.


Darren balik ke kantor dan berjalan menuju ruangan personalia, alias HRD. Dirinya sendiri yang akan mengurus pemindahan jabatan Safira. Biar lebih cepat, katanya.


Tak butuh waktu lama urusan itu pun selesai. Karena atasan sendiri yang memintanya. Darren langsung mengirimi pesan singkat pada Azzam menyuruhnya membawa Safira ketika jam masuk nanti.


"Fira ... bang Darren nyuruh kamu langsung ke ruangannya nanti," lapor Azzam saat membaca pesan dari abangnya.


"Gak nyangka gue, Fir! Hebat juga lo tiba-tiba jadi asisten pribadi pak Darren!" ucap Dara memuji sahabatnya.


Sedangkan Safira merasa bingung harus bahagia atau sedih dengan semuanya. Kemarin dirinya menerima tawaran ini bukan semata untuk balas budi, tetapi juga dengan maksud menghindari satu ruangan dengan Dara. Tapi kini semuanya sudah membaik. Rasanya Safira enggan melanjutkannya. Apalagi mengingat kejadian memalukan di rumah sakit waktu itu. Ingin resign tapi jaman sekarang susah cari kerja.


Setelah selesai makan dan istirahat, Safira kembali ke mejanya terlebih dahulu untuk mengambil beberapa barang. Setelah itu barulah dirinya pergi ke ruangan Darren.

__ADS_1


"Kamu siap-siap, kita akan ketemu klien di luar," tegas Darren saat Safira baru sampai. Belum sempat Safira bernapas damai, kini sudah ada kerjaan yang harus dilakukannya.


"Tapi, Pak," ucap Safira.


"Tapi apa lagi?!" Suara Darren tidak sengaja meninggi. Pasalnya Darren sedikit kesal mendengar Safira yang selalu saja mengatakan "Tapi, Pak".


"Saya nanti di depan klien bapak harus ngapain?" tanya Safira serius. Dirinya benar-benar tidak tau apa tugasnya jika berhadapan dengan klien.


"Diam dan jangan mengganggu," jawab Darren singkat lalu mengemasi barang-barangnya. Safira pun mengikuti kemana Darren melangkah.


Sampainya di sebuah restoran, Darren dan Safira segera masuk dan menjumpai kliennya. Safira tak menyangka di sana juga ada orang yang ingin sekali dirinya hilangkan dari muka bumi. Tak lain dan tak bukan dialah Rusen alias Ucen.


"Kenapa kamu bawa baj*ngan ini?!" celetuk Darren pada Harry temannya sekaligus kliennya hari ini.


"Duduk dulu, Ren," ucap Harry berusaha santai menanggapi Darren.


Darren pun duduk. Sedangkan Safira masih ragu untuk ikut bergabung dengan para lelaki itu.


"Tidak. Kamu duduk di sebelah saya saja," tegas Darren tidak mau dibantah. Mau tidak mau Safira pun menurut. Dirinya menggeser sedikit kursinya ke kursi Darren. Dirinya takut Ucen nekat melec*hkannya lagi.


Benar saja, selama Darren dan Harry membicarakan masalah kerja sama, Ucen tidak berhenti memandangi Safira dengan tatapan penuh nafsu.


Darren pun tidak buta. Dirinya juga melihat dengan jelas perbuatan bejat lelaki itu. Namun Darren memilih untuk membiarkannya. Membiarkan bukan berarti melepaskan.


Akhirnya kesepakatan telah didapat. Darren langsung mengajak Safira pulang. Darren kasihan melihat Safira yang seperti merasa tidak nyaman saat di restoran tadi.


"Tunjukkan arah rumahmu, biar saya antarkan pulang," ucap Darren saat menyetir mobilnya. Selama ini Darren tidak pernah menggunakan yang namanya sopir, dirinya selalu membawa mobil sendiri. Walaupun Safira asistennya, Darren tidak memberikan tanggung jawab itu ke Safira.


"Tapi ini masih jam 3, Pak," jawab Safira heran. Kenapa dirinya disuruh pulang secepat ini?


"Ini perintah, Safira." Darren menekankan perkataannya sekali lagi.

__ADS_1


Safira menurut dan menunjukkan jalan ke kontrakannya. Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya mereka pun sampai di depan kontrakan sederhana yang di sewa Safira.


Darren tidak ikut turun dari mobil saat sampai di depan kontrakan Safira. Dirinya hanya berpamitan melalui kaca mobil. Setelah berpamitan Darren pun putar balik dan berniat untuk kembali ke kantor.


Safira merasa sangat lelah hari ini, apalagi saat pertemuannya dengan Ucen tadi. Dirinya juga hanya bisa berdiam diri saat lelaki itu memandanginya. Bukan hanya fisik yang lelah, tapi batinnya juga.


Sangking lelahnya Safira sampai lupa mengunci pintu kontrakannya. Safira langsung terlelap saat tubuhnya menempel di kasur empuk miliknya.


Bugh! Safira terbangun karena suara yang berisik. Alangkah terkejutnya Safira saat melihat dua pria tengah baku hantam di kamarnya.


Safira lebih terkejut saat melihat kemejanya yang sudah terbuka beberapa kancing. Tanpa bisa ia cegah, air matanya pun jatuh.


"Pak ... Apa maksudnya ini, Pak? Kenapa saya ...?" tanya Safira dengan suara tercekat.


"Baj*ngan ini nyoba buat merk*sa kamu!" ucap Darren begitu geram lalu melayangkan tinju pada Rusen yang kini sudah memar sana-sini. Saat Rusen terjatuh dan tersimpuh di lantai, Darren langsung menendang kepala lelaki itu. Darren sudah tidak peduli mau lelaki itu hidup atau mati, yang jelas dendamnya terbalaskan.


Saat Darren mengantarkan Safira pulang, Rusen mengikuti keduanya. Melihat ada kesempatan emas, Rusen langsung melancarkan aksinya. Namun hal itu berhasil dicegah oleh Darren.


Safira menjerit saat Darren menendang Rusen begitu kuat. Dirinya langsung menangis sesegukan sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Safira meraung meratapi nasibnya yang malang.


"Gue benci tubuh ini," batin Safira.


Darren melemparkan Rusen ke luar dengan penuh kekesalan. Setelahnya ia pun kembali masuk ke kamar Safira.


"Handphone kamu tertinggal di mobil saya. Pas saya balik ke sini, pria itu sudah masuk ke kontrakan kamu," papar Darren berusaha menjelaskan keadaan yang terjadi saat ini pada Safira. Safira memang tidak mengetahui apapun karena posisinya saat itu sedang terlelap.


Safira diam. Dirinya tidak menanggapi perkataan Darren. Darren melihat Safira dengan perasaan sedih. Gadis itu kini tengah menatap kosong ke depan. Dirinya sudah tidak bersemangat untuk hidup.


"Terima kasih karena bapak udah baik sama saya ... dan udah nolongin saya untuk kedua kalinya. Saya akan balas jasa bapak untuk yang kedua kali ini," ucap Safira begitu datar dan lemah. Pandangannya tidak berubah.


"Saya tidak minta balasan apapun," sanggah Darren.

__ADS_1


"Saya akan bayar jasa bapak dengan tubuh ini. Tubuh yang selalu diincar laki-laki! Saya akan berikan tubuh ini untuk bapak sebagai tebusannya," seru Safira dengan santainya. Sedangkan Darren terkejut bukan main mendengar penuturan gadis itu.


__ADS_2