CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
Tujuan Darren


__ADS_3

Setelah meeting kemarin, kini resmi sudah Darren menjadi CEO di perusahaan tempat Safira dan Dara bekerja. Azzam pun menjabat sebagai co-CEO perusahaan itu.


Desas-desus tentang hubungan Azzam dan Dara membuat karyawan kantor heboh. Tak sedikit dari mereka yang menggunjing serta menyindir Dara seolah-olah Dara adalah wanita penggoda.


Namun Dara bukanlah wanita yang lemah. Sindiran mereka tidak ada artinya bagi seorang Dara. Prinsip yang dianutnya adalah jika itu bermanfaat maka akan aku ingat, jika tidak bermanfaat maka tidak akan pernah kudengarkan.


"Fir, makan di kafe yok! Lagi pengen makan ramen nih," ajak Dara kepada Safira yang kini masih berkutat dengan komputernya.


"Lo ngidam?" ceplos Safira.


"Dih, enak aja! Lo kira gue perempuan apaan! Blom nikah udah bunting duluan!" gerutu Dara.


Safira tertawa lucu melihat sahabatnya yang misuh-misuh.


"Sorry, Dar. Kerjaan gue belum kelar. Lo makan sama Azzam aja ya? Bukannya itu gunanya pacar ya?" cekikik Safira.


Dara memberengut kesal. Walaupun sudah punya pacar, tapi sahabat ya tetap sahabat. Tidak bisa ditukar posisinya oleh pacar.


"Nah, itu mas pacar datang," seru Safira saat melihat Azzam datang dengan senyuman secerah mentari pagi, padahal ini sudah siang.


Dara langsung menoleh ke arah sang pujaan hati. Ya, walaupun terkesan cuek, namun cinta Dara tidak bisa dibilang main-main.


"Kafe yuk, Beb! Kamu juga ikut yok, Fir!" ajak Azzam to the point.


Azzam begitu manis. Setiap hari panggilan sayang untuk Dara selalu di-updatenya. Kadang Safira iri, namun demi persahabatan ia rela mengorbankan cinta pertamanya.


"Aku banyak kerjaan, Zam. Kalian berdua aja deh, next time aku ikut!" jawab Safira menolak dengan halus.


Azzam hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti lalu mengajak Dara untuk beranjak pergi. Azzam pun memaksa Dara untuk menggandeng lengannya.


Memang terkesan red flag, namun kalau tidak dipaksa Dara tidak akan pernah punya inisiatif untuk melakukannya. Entah malu atau memang tidak terpikir olehnya. Mau tidak mau Azzam lah yang harus meminta duluan.


"Gue yakin secepatnya gue bakal terbiasa, Dar," gumam Safira sambil memandangi keduanya yang kini telah menjauh.


Tiba-tiba sebuah berkas mengenai kepala Safira. Lamunannya buyar seketika.


"Di mana Azzam?" tanya Darren pada Safira.

__ADS_1


Safira memutar bola matanya malas. "Kok nanya saya, Pak?" Safira balik tanya. Kini dirinya sudah memantapkan diri memanggil dengan sebutan "pak". Jika Darren protes maka Safira akan mengatakan dengan tegas kalau itu adalah bentuk profesionalisme seorang bawahan kepada atasannya.


"Kamu kan temannya Dara, Dara pacarnya Azzam. Di mana ada Dara di situ ada Azzam," jawab Darren tidak mau kalah.


Safiramemutuskan untuk mengalah. Tidak ada gunanya juga berdebat dengan seorang Darren.


"Mereka makan siang di kafe sebelah," jawab Safira lalu beralih ke komputernya, melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.


"Tolong kamu panggilkan Azzam," suruh Darren pada Safira.


Safira langsung melirik sinis pada Darren. "Loh, Pak? Inikan jam istirahat, wajar dong mereka sekarang lagi berduaan. Bapak jangan ngelanggar privasi gitu dong! Saya juga sekarang lagi istirahat, bapak gak bisa seenaknya nyuruh-nyuruh saya!" cecar Safira tanpa bisa mengontrol mulutnya.


"Berani kamu sama saya?" tanya Darren penuh penekan. Entah kenapa setiap mendengar pertanyaan itu membuat nyali Safira ciut, takut dirinya benar-benar dipecat dan berakhir menjadi gelandangan di jalanan.


Melihat Safira yang kini menunduk, Darren menjadi kesal lalu pergi meninggalkan Safira di meja kerjanya.


"Pak, mau saya panggilin Azzam nya?" tanya Safira sedikit berteriak, karena jarak mereka lumayan jauh.


"Tidak perlu!" ketus Darren tanpa menoleh sama sekali.


*****


Darren adalah pria yang penuh kebebasan. Bertahun-tahun berada di luar negeri membuatnya terbiasa bergonta-ganti wanita. Lalu saat pulang ke Indonesia dirinya langsung disuguhkan wanita yang begitu seksi seperti Safira. Bagaimana Darren tidak frustasi?


Menyewa wanita memang hal yang cukup mudah bagi Darren. Namun Darren juga punya pilihan. Dia hanya meniduri wanita-wanita yang menarik di matanya. Salah satu wanita itu adalah Safira. Namun sialnya, Safira selalu saja jual mahal padanya.


Darren ingin nekat, namun lagi-lagi rencananya harus gagal. Safira adalah sahabat Dara dan Dara adalah pacarnya Azzam, adiknya. Hal itu membuat Darren berpikir seribu kali untuk berbuat nekat pada Safira.


"Kenapa bentuknya bisa begitu menggoda?" gumam Darren setengah mendes*h. Tanpa bisa ia cegah, kebanggaannya menegang begitu saja.


"Ahh, bahkan dengan membayangkannya saja kamu sudah bangun, Max," desis Darren sambil berusaha menekan hasratnya.


"Sebaiknya aku harus cari asisten pribadi yang bisa ku suruh mencari wanita bayaran!" decaknya.


*****


Beda tempat beda situasi. Kini di kafe samping kantor tempat mereka bekerja Azzam tengah asyik menyuapi Dara. Tentu saja dengan seribu bujukan.

__ADS_1


"Ayo buka mulutnya, Honey," tuntun Azzam sambil menyodorkan sesendok nasi goreng miliknya.


Masih dengan wajah yang dibuat biasa saja, Dara pun melahap nasi goreng itu.


"Kamu ga capek ya ganti-ganti panggilan kayak gitu, Zam?" tanya Dara terheran-heran. Pasalnya belum hitungan jam, kini panggilan untuknya sudah berubah.


"Capek? Enggak kok, malah aku suka panggilan kamu lebih bervariasi," jawab Azzam sambil tersenyum manis. Senyum manisnya tidak pernah pudar jika berhadapan dengan Dara.


"Kamu aja tuh yang ga pernah manggil aku pake panggilan spesial!" sungut Azzam begitu lucu dan berhasil membuat Dara tertawa.


"Iya deh iya, manggil apa ya enaknya?" tanya Dara pada Azzam.


Azzam yang tadinya memberengut, kini mengembangkan kembali senyumnya. Namun bukan senyuman manis seperti sebelumnya, namun kali ini adalah senyum penuh arti.


"Panggil aku Daddy," usul Azzam tanpa malu.


Dara yang sedang minum jus jeruknya sampai terbatuk-batuk karena usulan nyeleneh dari Azzam.


"Daddy? Heh, ingat umur lo ya! Lo itu lebih mudah tiga bulan dari gue. Sok sok an minta panggil Daddy!" celetuk Dara.


Memang ya pasangan satu ini tidak bisa konsisten sama sekali. Kemarin pakai lo-gue, tadi pakai aku-kamu, sekarang berubah lagi menjadi lo-gue.


"Yaudah panggil baby aja. Kan aku muda," usul Azzam lagi. Pokoknya harus ada panggilan sayang!


"Umur kamu udah 22 tahun. Muda apanya?" celetuk Dara lagi. Menjadi kepuasan tersendiri baginya saat Azzam merasa kesal sendiri.


"Kan intinya lebih muda dari kamu!" sungut Azzam sedikit kesal. Ternyata susah juga bernegosiasi dengan pacarnya itu.


"Yaudah deh, aku manggil kamu Hubby aja gimana?" tanya Dara.


Mendengar kata "Hubby" membuat mata bahkan wajah Azzam menjadi berseri-seri. Akhirnya! Seorang Azzam punya panggilan spesial dari Dara.


"Udahkan, Hubby?" goda Dara.


Mendengar itu, Azzam dengan lebay meleyotkan badannya ke lantai, tanpa malu sama sekali.


Azzam emang gak punya malu, tapi Dara yang malu!

__ADS_1


__ADS_2