
"Kok Abang—" Belum sempat pertanyaan Azzam terlontar, tiba-tiba Mulan alias mommynya datang menghampiri sambil mengoceh.
"Azzam! Kamu ini dicariin kemana-mana ternyata ada di sini! Mommy capek tau muter-muter nyari kamu! Ayo cepetan ke depan, kita mau mulai potong kue!" oceh Mulan.
"O-oke, Mom! Jangan marah-marah gitu dong. Masa Mommy marahin aku didepan pacar aku sih? Turun dong harga diri aku, Mom," sungut Azzam lucu.
Dara yang dibicarakan merasa canggung.
"Biarin aja, biar Dara tau kelakuan kamu itu kayak mana! Yuk Dara! Kita pergi ke depan duluan. Biarin aja tuh bocah di sini, biar kita aja yang potong kuenya," celoteh Mulan begitu lihai. Maklumlah, namanya juga ibuk-ibuk.
"Hehe oke, Tan," jawab Dara canggung.
Saat mereka sibuk berdebat, tanpa mereka sadari Darren kini tengah memberikan sepatu itu kepada Safira.
"Nih pakai! Acara intinya sudah mau mulai," titah Darren pada Safira.
Safira hanya bisa menurut. Dirinya takut membantah karena takut salah lagi.
"Kamu juga Darren! Buruan ke depan!" suruh Mulan.
Mulan baru menyadari keberadaan Safira.
"Eh ada kamu, gimana muat ga sepatunya?" tanya Mulan.
Safira tersenyum canggung.
"Muat kok, Tante. Makasih ya, nanti Safira kembalikan secepatnya," tutur Safira sopan.
"Wah, bagus kalau gitu. Kamu sebenarnya ke sini sama siapa? Sendirian?" tanya Mulan. Pasalnya baru kali ini Mulan melihat gadis itu.
"Saya tadi pergi sama Dara, Tante. Saya temennya Azzam," jawab Safira.
"Loh? Temennya Azzam ya?" tanya Mulan antusias.
Safira mengangguk. Darren sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan dua wanita beda generasi itu.
"Aa, pinter banget sih Azzam nyari temen! Cantik cantik semua," kekeh Mulan begitu puas.
"Ah, Tante bisa aja!" ucap Safira malu-malu beruang. Darren yang melihat tingkah Safira menjadi geli sendiri.
Menyadari dirinya sudah berlebihan, Safira pun kembali ke mode anggun.
Mulan mengajak keempatnya menuju kue tiga tingkat yang dihias semanis mungkin. Walaupun Azzam laki-laki, tetapi jiwanya sangatlah lembut. Oleh karena itu kue yang dipilihkan Mulan adalah kue yang elegan dan manis.
Saat acara selesai, para tamu pun bubaran.
__ADS_1
"Yuk pulang, Fir!" ajak Dara.
"Daraaaa!" Tiba-tiba Azzam datang sambil berteriak.
"Astaga, Zam! Lo kayak anak kecil aja! Kenapa lagi? Gue kan mau pulang," ucap Dara tidak ada romantis-romantisnya.
"Eumm, sayang... Aku kan mau ngantar kamu," rengek Azzam lebay.
Safira dan Dara sama-sama menganga tidak percaya melihat sosok di depannya. Ini beneran Azzam?
"Zam, ini kamu?" tanya Safira spontan.
Azzam malah memberengut lalu mendempet Dara.
"Iss, Azzam! Ga usah begini dong!" ketus Dara.
"Kan aku mau jadi pacar yang baik, Daraaa. Masa gitu aja ga boleh, aku anterin kamu ya? ya? ya?" pinta Azzam sekali lagi.
Dara bimbang. Menuruti permintaan pacarnya atau bagaimana. Satu sisi dirinya tidak enak dengan Safira.
"Eum, gue pulang sendiri aja. Gapapa, kalau lo mau berduaan sama Azzam, Dar," ucap Safira merasa tidak enak.
Dara makin tidak enak hati dibuatnya.
"Eh, ga bisa gitu, Fir! Lo ikut kami aja, bolehkan Zam? Biar ga ada setannya," bujuk Dara dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Azzam!" bentak Dara namun terdengar manja di telinga Azzam.
"Iya, Sayang? Kenapa?" jawab Azzam lucu.
"Kamu diam di rumah aja, biar saya yang mengantar mereka pulang," ucap Darren yang muncul diantara mereka.
Sudah pasti Azzam menolak. Dara adalah pacarnya, mengantarkan pulang Dara juga berarti tugasnya.
"Eh? Kan Dara pacar aku, Bang! Gak bisa gitu dong, pokoknya aku aja yang ngantar mereka! Gak mau tau!" protes Azzam.
"Kalau mau protes, protes ke Daddy sana. Yuk Girls, kita pulang!" seru Darren lalu mengajak kedua gadis itu menuju mobilnya.
Sebenarnya Safira ingin menolak, tapi Dara malah menariknya mengikuti kemana Darren pergi.
"Bang Darren, kata Azzam baru pulang dari Amerika kan? Abang disana kerja atau kuliah?" tanya Dara saat di dalam mobil, mencoba mengakrabkan diri.
"Kerja," jawab Darren seadanya. Berbeda sekali waktu dirinya menjahili Azzam.
"Ohh, terus di—"
__ADS_1
"Berisik, Dar! Kenapa jadi cewek kepoan gitu sih?" celetuk Safira merasa gelagat Dara sangat aneh. Dara pasti berencana menjodoh-jodohkan Safira lagi.
"Kenapa? Kamu cemburu?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Darren. Sontak Safira langsung melototkan matanya pada laki-laki yang tengah menyetir itu.
Sedangkan Dara menutup mulutnya tidak percaya. Ternyata jalannya untuk menjadi iparan dengan Safira begitu mulus.
"Dih, geer banget," ucap Safira jutek lalu terdiam. Takut salah bicara lagi.
"Udah fix inimah kita iparan, Fir!" bisik Dara yang menghasilkan cubitan pedas di perutnya.
*****
Mata Safira begitu berat untuk terbuka. Acara ulang tahun Azzam semalam membuat tenaganya terkuras habis. Niat hati ingin mengambil cuti, tapi sayang gaji.
Dengan tenaga seadanya Safira pun melangkah gontai memasuki kantor yang menjadi sumber penghasilannya.
Karena tidak fokus pada jalan, tiba-tiba Safira menabrak seseorang yang membuat dirinya terpental mundur. Bokongnya perih karena benturan yang di dapatnya.
"Aduhh! ****** gue! Akh gila sakit banget!" ucap Safira sambil mengelus-elus bagian belakangnya. Perlahan ia berusaha berdiri.
"Gapapa?" tanya seseorang yang Safira kenali suaranya.
"Om lagi? Cukup om cukup! Capek saya ketemu sama om melulu!
Pergi deh! Jangan sampai ketahuan Dara!" ketus Safira sedikit emosi karena sakit yang didapatinya.
"Berani kamu sama saya?" tanya Darren begitu mengintimidasi nyali Safira.
"Darren!"
Seketika keduanya menoleh ke sumber suara. Safira yang tadinya terduduk di lantai langsung berdiri secepatnya setelah melihat siapa yang datang.
Alberto datang dengan begitu gagahnya dengan setelan jas yang begitu cocok dengan pembawaannya.
"Safira? Kamu kenapa?" tanya Alberto begitu ramah.
"Oh, enggak apa-apa, Pak. Saya tadi ga sengaja kesenggol Titan," jawab Safira menyindir Darren.
"Titan?" tanya Alberto heran lalu tersenyum.
Seketika Safira terpanah.
"Buset! Kalau dia ga ada bini, udah gue pepet ni bapak-bapak!" batin Safira terpesona dengan senyum Alberto.
"Oh iya Darren. Kamu tunggu di ruangan Daddy aja dulu ya, kalau ruang meeting udah siap, baru kamu Daddy panggil kesana. Jangan keluyuran kemana-mana! Daddy gak mau buang-buang waktu untuk pergantian CEO lagi!" ucap Alberto lalu pergi berlalu yang sebelumnya sudah berpamitan kepada keduanya.
__ADS_1
"Kamu dengar tadi kan? Saya itu bakal jadi CEO di sini, seharusnya kamu itu hormat sama saya," ucap Darren dengan begitu sombongnya.
Safira ingin sekali melontarkan makian dan cacian kepada pria jangkung di hadapannya. Hanya saja mengingat beliau adalah atasannya, dengan sekuat tenaga Safira menahan emosinya.