CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
Suami dan Istri


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang, Safira langsung berendam di bak mandi dengan pakaian lengkap. Saat semua sudah basah kuyup barulah Safira sadar kalau dirinya tidak membawa sehelai baju pun.


"Lah trus gue pakai apaan?!" panik Safira begitu telat. Mau meminjam baju Darren rasanya juga gengsi. Apalagi Safira tidak suka dengan pria itu. Pria yang sudah menukarnya dengan sejumlah uang.


"Ah masa bod*hlah! Pake handuk aja cukup kan ya?" Safira berusaha menenangkan dirinya sendiri. Namun lama-kelamaan Safira jadi semakin kepikiran. Jika dirinya tidur dengan hanya memakai handuk, pasti Darren akan melakukan yang tidak-tidak padanya.


"Agh! Trus gimana dong?!" Safira jadi frustasi sendiri.


Safira pun memilih untuk menyelesaikan mandinya saja dahulu, baru memikirkan cara mendapatkan pakaian nantinya.


"Pak ...," panggil Safira ragu-ragu dari dalam kamar mandi. Tidak ada pilihan lain, Safira mau tidak mau harus meminjam baju Darren.


Memang Safira awalnya berani menawarkan diri, tapi aslinya dia sendiri pun ketakutan. Dirinya berani berucap seperti itu karena kesal dengan perbuatan Darren alias suaminya itu.


Tidak ada jawaban apapun dari Darren. Safira pun berspekulasi bahwa Darren saat ini sedang tertidur atau pergi keluar.


Perlahan Safira membuka pintu kamar mandi dan mengecek keadaan. Ternyata benar, Darren saat ini sedang tertidur di atas kasur dengan posisi telentang.


Safira pun memberanikan diri mengendap-endap menuju lemari besar. Pasti semua pakaian Darren ada di situ, batinnya.


"Mau ngapain kamu di situ?" tanya Darren yang tiba-tiba terbangun. Jantung Safira rasanya sudah tidak dalam posisi normal.


Safira pun jadi kelabakan. Kenapa Darren bangun secepat itu?! Geramnya kesal.


"Jangan lihatin saya, Pak!" tegas Safira. Kini posisinya membelakangi Darren.


Melihat tingkah Safira, Darren akhirnya tersenyum puas. Darren merasa Safira yang dirinya kenal sepertinya sudah kembali. Inilah Safira yang Darren kenal. Safira yang malu-malu seperti kucing.


"Kenapa? Kamu istri saya loh sekarang," ucap Darren terdengar begitu mes*m di telinga Safira. Bulu-bulu di tubuhnya terasa tertarik semua.


"Kamu sendiri yang menawarkan diri tadinya untuk sa—"


"Cukup, Pak! Jangan bahas-bahas itu lagi!" Safira langsung berbalik menghadap ke arah suaminya. Entah kenapa dirinya merasa malu dan kesal saat diingatkan dengan kelakuannya yang berani menawarkan diri itu.


"Jangan banyak gerak. Nanti handukmu melorot," kekeh Darren lalu beranjak pergi ke kamar mandi. Kini gilirannya untuk mandi.


Safira langsung memegang erat handuknya karena takut benar-benar melorot, atau mungkin dilorotkan oleh orang lain. Eh?


"Pak! Saya minjam baju ya!" teriak Safira saat Darren sudah masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari Darren. Entah memang tidak mendengar atau sengaja tidak menjawab.


Namun yang sebenarnya terjadi adalah ... Darren kini tengah berjuang bersama dengan Max di kamar mandi. Ya, tentu saja semua ini karena ulah Safira. Siapa suruh dirinya menampakkan diri dengan hanya memakai sehelai handuk seperti itu.


Sedangkan Safira kini tengah meneliti setiap baju yang ada di lemari Darren. Tidak ada kaos, hanya ada kemeja beragam warna. Dan itu membuat Safira frustasi lagi dan lagi. Masa iya harus pakai kemeja malam-malam?


Dan satu lagi ... tidak ada dalaman sama sekali yang Safira punya. Dengan terpaksa Safira pun memakai dalaman milik Darren. Aneh memang, tapi mau bagaimana lagi. Ya masa tidak pakai bawahan apapun?


Safira memilih untuk memakai kemeja berwarna silver milik Darren. Kemeja itu terasa besar di tubuhnya.


"Safira," panggil Darren yang baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Safira yang melihat pemandangan itu pun jadi ketar-ketir. "Gila ... kok bisa seseksi itu!" batinnya berteriak. Safira bahkan tidak sadar dirinya tengah menatapi intens tubuh Darren saat ini. Lihat ke perutnya itu ... ah sialan! Pikiran Safira langsung menjalar kemana-mana.


"Kita perlu bicara serius," ucap Darren lalu berjalan menuju ranjang masih dengan kostum yang sama. Hanya handuk yang menutupi bagian bawahnya itu. Sedangkan Safira hanya diam di tempat. Tepat di depan lemari.


"Mendekatlah! Bentuknya lebih bagus jika di lihat dari dekat," seloroh Darren sengaja menggoda Safira yang sepertinya terpana dengan perut seksinya itu.


Safira pun langsung menggelengkan kepala untuk menyadarkan pikirannya sendiri. Ah malu sekali rasanya ketahuan berpikiran kotor seperti ini.


"Cih, siapa juga yang lihatin perut bapak! Saya udah sering liat yang begituan, Pak. Punya bapak mah biasa aja di mata saya!" elak Safira lalu berjalan mendekati suaminya. Loh suami?


Safira pun duduk berhadapan dengan Darren di atas ranjang. Keduanya kini mulai fokus dan serius. Eum, sebenarnya dua-duanya sama-sama gak fokus sih. Yang satu liatin perut suaminya, yang satu lagi liatin dada istrinya. Heh!


"Mari kita luruskan masalah uang 500 juta itu," seru Darren memulai pembicaraan.


Safira hanya diam. Dirinya memilih untuk menyimak.


"Saya sama sekali tidak bermaksud untuk membeli kamu seperti barang, Safira. Kamu harus tahu itu," jelas Darren.


"Sedikit pun tidak ada niat saya untuk menukar kamu dengan sejumlah uang," sambung Darren.


Safira langsung memutar bola matanya malas setelah mendengar ucapan Darren.


"Jadi maksud bapak, saya gak ada harga gitu? Gak bisa di tukar sama uang sama sekali gitu kan?" kesal Safira.


Darren melongo tidak percaya. Perasaan arah bicara tadinya bukan ke situ. Kenapa jadi melipir ke sana? Memang yah wanita tuh banyak aja alasannya buat nyari masalah.


"Bukan gitu Safira ...," sanggah Darren masih berusaha lembut pada istrinya.

__ADS_1


"Auk ah! Males! Semua cowok tuh emang gak ada yang bener!" oceh Safira.


"Kalau Azzam?" Entah kenapa nama adiknya terucap begitu saja dari mulut Darren. Darren ingin mendengar jawaban Safira tentang Azzam. Apakah sama seperti cowok-cowok yang Safira maksud itu?


"Ya! Azzam juga sama!" jawab Safira ketus.


"Loh? Bukannya Azzam itu crush kamu?" pancing Darren lagi.


"Azzam juga sama gilanya! Dia tuh udah berani berbuat yang enggak-enggak sama Dara, padahal mereka cuman pacaran!" jawab Safira lagi. Sebenarnya Safira tidak mau membahas ini, tapi sudah terlanjur terucap. Mau di apakan lagi.


Lagi pula dirinya memang kecewa pada pasangan itu, terlebih pada sahabatnya itu. Safira masih ingat saat Dara mengatakan kalau dirinya tidak mau bunting sebelum halal, tapi kenyataannya dia malah melakukan proses mencetak anak!


"Namanya juga cinta," jawab Darren asal. Dirinya bingung mau mengatakan apa lagi. Pembicaraan yang seharusnya serius, malah menjalar kemana-mana. Tidak terarah.


"Cih cinta apanya! Cinta tuh boong, ga ada cinta yang bener!" judes Safira lalu membuang muka dari suaminya.


Darren merasa dirinya sudah gila. Seharusnya dirinya marah dan kesal pada Safira yang begitu kekanakan, tapi entah kenapa dirinya malah merasa gemas pada istrinya itu. Apalagi saat ini Safira sedang musuh-musuh sambil memakai baju miliknya.


"Safira ...," panggil Darren dengan suara beratnya. Bahkan terdengar sedikit serak. Tubuhnya sedikit mencondong ke depan untuk mendekati istrinya.


Safira langsung merinding satu badan. Suara Darren terdengar lebih seram dari suara harimau di telinganya.


"A-apa?!" Suara Safira terpatah-patah.


"Ini malam pertama kita kan? Bagaimana kalau—"


Belum sempat Darren mengutarakan keinginannya. Safira langsung turun dari ranjang dan melemparkan bantal ke wajah Darren dengan kuat. Untung saja itu bantal, bagaimana kalau kursi yang di lempar Safira?


"Pria mes*m! Gil*!" cecar Safira mulai ketakutan.


"Hei, tenanglah dulu! Kenapa kamu panik seperti mau diperk*sa saja?!" balas Darren frustasi karena gadis itu susah sekali disentuh.


"Memang itu mau bapak kan?!" jawab Safira lagi. Dirinya mulai berjalan mundur perlahan.


"Kita sudah sah, Safira. Kalau suami istri mah bukan pemerk*saan namanya!" jawab Darren.


Namun Safira tidak peduli. Kini dirinya sudah berada di dekat pintu. Safira berniat kabur dari apartemen ini.


"Mau kemana kamu?! Mau keluar dengan pakaian seperti itu?!" tanya Darren dengan suara datar. Sepertinya laki-laki itu mulai serius lagi sekarang.

__ADS_1


__ADS_2