
Daripada berada di pesta ini, Safira memilih untuk pergi kearah pintu keluar. Ia ingin pulang.
"Perhatian semuanya." Suara lembut dari Azzam menghentikan langkah Safira. Gadis itu berbalik dan memperhatikan keduanya yang kini berdiri di depan sana.
"Sebelumnya Azzam berterima kasih kepada rekan-rekan dan tamu-tamu yang sudah menyempatkan hadir di sini, di hari ulang tahun Azzam. Tak lupa juga, terima kasih kepada Daddy yang sudah mensponsori pesta Azzam," ucap Azzam tanpa filter.
Tamu undangan tertawa mendengar celotehan Azzam yang begitu lucu di telinga mereka. Tapi tidak dengan Safira, dirinya sama sekali tidak fokus mendengarkan ucapan Azzam. Dirinya hanya fokus melihat sepasang manusia yang kini tengah berdiri begitu serasi diatas sana.
Lagi dan lagi, hatinya pedih. Dadanya sesak, seakan-akan gumpalan jantungnya diremas oleh sebuah tangan tak kasat mata.
"Oke, Azzam kebanyakan basa basi ya? Langsung intinya aja deh," ucap Azzam serius.
"Di hari ulang tahun Azzam yang ke 22 ini, Azzam mau mengutarakan perasaan Azzam pada wanita yang berdiri di sebelah Azzam ini. Gimana menurut kalian? Cantik kan? Pilihan Azzam oke kan?" ucapnya malah bertanya kepada para tamu.
Sontak para tamu bersorak ria.
"Cakep banget, Zam!"
"Aduh, meuni geulis pisan!"
"Pinter banget kamu milih pasangan, Zam!"
Masih banyak lagi puji-pujian dari para tamu yang dilontarkan untuk Azzam dan Dara. Alberto yang melihat tingkah laku absurd anaknya hanya bisa menggelengkan kepala.
Safira akhirnya memilih untuk pergi mengurung diri ke toilet saja. Ia sudah tidak sanggup lagi. Bahkan kakinya terasa lemas.
Di situasi yang sudah seburuk ini, heels yang dipakainya malah patah. Ia pun terperosok di lantai.
"Aduh sakit ...," lirih Safira sambil menangis.
__ADS_1
Sebenarnya sakit di kakinya tidak seberapa, namun suasana hatinya sedang sensitif. Sakit sedikit saja pasti menangis.
"Aduh, kamu gapapa, Sayang?" tanya wanita paruh baya yang sangat cantik. Mata sipitnya itu membuatnya terlihat seperti aktris Korea.
"Eum gapapa kok, Tante. Terkilir dikit aja sih," ucap Safira lalu berusaha tegak.
Dengan susah payah Safira berdiri. Mau tidak mau dia harus melepas sepatunya yang satu lagi, agar tidak terlihat pincang.
"Sepatu kamu patah, pakai punya Tante aja ya? Gak mungkin kan kamu nyeker di sini," ucap wanita itu begitu lembut.
Safira ingin menolak tapi benar kata wanita itu, tidak mungkin Safira menyeker di acara pesta seperti ini.
"Darren! Sini kamu!" teriak wanita tua itu.
Tak lama seorang pria jangkung datang menghampiri.
"Kenapa, Mom?" tanya pria itu dengan suara baritonnya.
"Kamu ambilin heels warna peach di kamar Mommy ya? Mommy mau pinjemin dia," ucap wanita baik hati itu pada anaknya yang bernama Darren.
Darren menatap Safira dengan mata yang datar. Sontak Safira menunduk sedalam-dalamnya. Entah mengapa nyalinya ciut, takut diterkam oleh pria di depannya. Padahal jika ponsel pintar Safira dibuka, yang pertama kalian lihat adalah foto aktor tampan brewokan seperti pria di depannya itu.
"Eh, jangan repot-repot, Tante. Saya aja yang ambil sendiri sepatunya. Tante sebut aja arahnya dimana, biar saya yang kesana sendiri. Itupun kalau Tante percaya sama saya," ucap Safira mencoba memutus kontak apapun dengan Darren.
"Oh gitu? Yaudah, Darren kamu temenin dia ke kamar Mommy, baru bantu dia cari sepatu yang dia mau ya." Tampaknya wanita itu salah paham.
"Bukan gitu maksud Fira, Tante. Maksud aku... bi-"
"Udah, biar Darren yang anterin kamu." Belum selesai Safira bicara, wanita itu langsung memotong pembicaraannya.
__ADS_1
"Ayo ikut saya," ucap Darren lalu berjalan mendahului Safira.
Safira mau tak mau mengikuti kemana arah pria jangkung itu berjalan. Dengan langkah gontai dan kepala yang tertunduk Safira terus mengikuti langkah pria itu.
Darren yang tadinya berjalan dengan santai, tiba-tiba terusik dengan bisik-bisik wanita yang tertangkap di telinganya.
"Heh, liat tuh. Gelandangan dari mana ya? Pake gaun pasaran gitu, coba liat deh kakinya, nyeker gak tuh? Kok bisa ya Azzam punya tamu modelan begitu?" ucap wanita-wanita tukang nyinyir itu.
Darren berbalik untuk melihat Safira di belakangnya.
"Pantes dikatain gelandangan," lirih Darren lalu berjalan menghampiri Safira.
"Kamu siapanya Azzam sih? Kok bisa sampe ke sini?" cecar Darren lalu mengangkat tubuh gadis malang itu dan menggendongnya dengan gaya bridal.
"Ehh?!" pekik Safira terkejut karena Darren mengangkatnya tiba-tiba tanpa persetujuannya. Jantung Safira sudah dag-dig-dug tidak karuan. Ternyata begini ya rasanya jadi princess yang digendong-gendong pangerannya. Eh?
"Diam! Saya lagi baik nyelamatin harga diri kamu," ucap Darren datar.
Masih dengan Safira di gendongannya, Darren berjalan menghampiri kerumunan wanita yang tadi menggunjing Safira.
"Kalian lihat apa? Oh penasaran ya sama dia?" tanya Darren sambil menunjuk Safira dengan tatapannya.
"Kenalin, dia Fira. Calon adik iparnya Azzam. Derajat dia lebih tinggi daripada kalian disini, jadi jangan sembarangan menggunjing orang lain! Paham?" ucap Darren tegas lalu berlalu meninggalkan kerumunan wanita yang kini sedang terheran-heran. Calon ipar katanya?
Sedangkan Safira hanya bisa diam di posisinya. Mau memberontak pun tidak bisa, yang ada situasi makin ricuh.
"Pak, turunin saya ya? Saya berat loh, kasian nanti bapak keberatan," pinta Safira mencoba negoisasi dengan Darren.
"Kamu meragukan otot saya? Bukan cuman ngangkat kamu, banting kamu juga saya bisa!" jawab Darren tanpa menoleh sama sekali.
__ADS_1
Safira yang mendengar kata "bantingan" langsung diam seribu bahasa. Takut dirinya benar-benar dibanting.