
Darren menyibak rambut Safira yang sedang tertidur. Melihat wajah lelah sang istri, membuat hatinya merasa bersalah.
Akibat dirinya yang terlalu ganas karena kecemburuan, Safira jadi kewalahan. Darren pun sadar tindakannya salah, apalagi mengingat hal ini adalah baru kedua kalinya bagi Safira. Pasti Safira merasakan sakit yang teramat.
Dengan yakin Darren memilih untuk libur mengantor besok. Semua pekerjaan akan dialihkan ke Azzam. Dirinya akan fokus menjaga dan merawat Safira.
*****
Darren bangun lebih cepat dari Safira. Setelah mandi, Darren langsung menyiapkan sarapan. Satu-satunya masakan yang bisa ia masak adalah nasi goreng dan telur mata sapi.
Setelah menata sarapan di meja makan, Darren pun mendekati Safira yang masih terlelap.
"Sayang ... bangun yuk," ucap Darren lembut. Sesekali ia mengguncang pundak istrinya perlahan.
Safira pun mulai sayup-sayup membuka matanya. Saat melihat wajah Darren terpampang di depannya, Safira langsung cemberut dan memutar badan membelakangi suaminya.
"Sayang ... kamu kenapa?" tanya Darren masih belum peka.
"Gak usah manggil-manggil sayang!" sungut Safira kesal.
"Baby Girl ...." Darren mengubah panggilannya.
"Auk ah!" Safira tambah kesal. Rupanya pria itu tidak menyadari kesalahannya semalam. Hukuman ya hukuman, tapi gak gini juga. Tega sekali, batin Safira. Safira merasa seperti boneka pemu4s saja.
Karena tidak mau disentuh oleh Darren, Safira memilih untuk pergi ke kamar mandi. Namun, baru satu langkah turun dari ranjang, bagian intinya terasa nyeri dan pedih. Safira sampai menitihkan air mata karena sulit menahan rasa sakit dan juga kesal.
"Sa-sayang, kamu kenapa?" Darren panik.
Safira menepis tangan Darren dari tubuhnya. Ia memaksakan diri ke kamar mandi, walaupun dengan kaki yang bergetar. Darren juga tidak berani menyentuh istrinya, takut istrinya itu tambah marah.
*****
"Honey ... kamu hari ini kerja di ruangan aku aja ya. Aku kayaknya gak sanggup sendirian, aku butuh penyemangat," adu Azzam saat menjemput Dara untuk pergi ke kantor.
"Loh? Tumben banget," respon Dara.
"Bang Darren hari ini libur, jadi semua kerjaannya aku yang ngerjain," sungut Azzam cemberut.
"Ohh, oke deh aku temenin yah," jawab Dara lalu melakukan pat-pat di kepala pacarnya. Saat itu juga senyum Azzam mengembang.
Di saat sedang fokus-fokusnya bekerja, Dara tiba-tiba mendapatkan panggilan telepon dari Darren. Dengan segera ia menekan tombol hijau.
"Halo, Pak," ucap Dara.
Azzam yang mendengar suara Dara langsung mengalihkan pandangan. Azzam mulai memperhatikan Dara.
"Eum ... gimana ya. Saya juga bingung, Pak. Safira tu aneh, gak bisa ditebak. Hm gini deh, coba bapak ajak dia jalan-jalan kemana gitu, kayaknya dia bakalan seneng," ujar Dara.
"Boleh tuh, Pak. Safira belum pernah liburan kemana-mana, jadi menurut saya ke situ juga oke," ungkap Dara.
"Oke, siap. Sama-sama, Pak," seru Dara mengakhiri panggilan.
Azzam yang penasaran pun menghampiri Dara.
"Itu tadi bang Darren?" tanya Azzam.
__ADS_1
Dara mengangguk. Ia pun menjelaskan bahwa Darren tadinya menelpon untuk menanyakan bagaimana cara membujuk Safira yang sedang merajuk.
"Oh jadi mereka bakalan ke sana?" tanya Azzam tiba-tiba bersemangat.
Dara mengangguk. Matanya memicing mencurigai gelagat Azzam.
"Mau ngapain lagi kamu?!" judes Dara.
Azzam menyengir. "Gimana kalau kita ikutin mereka?" ajak Azzam.
"Gak ada! Pokoknya aku gak mau ikut!" tangkis Dara cepat. Kenapa sih Azzam doyan banget ngusik abangnya?
"Gimana nanti kalau ketahuan pak Darren? Emang kamu berani?" tanya Dara menakut-nakuti Azzam.
"Ya enggak berani lah. Makanya jangan sampe ketahuan, kita ngintip aja, bukan join kok," elak Azzam.
Dara jadi tergoda dengan tawaran Azzam. Tapi dirinya masih bimbang.
"Emang mereka pergi ke pantai itu kapan?" tanya Azzam.
"Siang ini berangkat," jawab Dara.
"Duh gimana, kita kan masih kerja?" Azzam jadi bingung sendiri.
Di saat Azzam dan Dara yang kebingungan, tiba-tiba pintu ruangan terketuk.
Saat Azzam membuka pintu, tampaklah sepasang suami istri yang tak lain dan tak bukan adalah Alberto dan Mulan.
"Loh Daddy? Mommy?" ucap Azzam.
"Bang Darren di apartemen," jawab Azzam. Dirinya masih linglung dengan kehadiran orang tuanya yang tiba-tiba. Setahu Azzam jadwal mereka pulang bukan hari ini.
"Sama Safira?" tanya Alberto tampak tenang, tidak seperti Mulan yang sepertinya merasa snagat kesal.
"Ya iyalah, Dad ... kan mereka udah nikah," jawab Azzam gemas dengan daddynya. Masa gitu aja pake nanya.
Dara yang menyadari kedatangan kedua orang tua Azzam langsung menyusul. Dara langsung mencubit perut Azzam dan berbisik, "Ajak masuk dulu orang tua kamu!" bisiknya gemas. Orang tua datang kok gak disuruh masuk, malah diajak ngomong di depan pintu.
"Ngobrolnya di dalam aja Tante, Pak," ucap Dara sopan lalu mempersilahkan keduanya masuk.
"Oh iya, emang yah kamu ini, Zam! Kenapa gak nyuruh kami masuk dari tadi?!" oceh Mulan.
"Loh? Mommy sih yang langsung nyerocos gitu aja, kan aku jadi gak tau mau nyuruh masuknya kapan," protes Azzam.
Dara menyenggol kaki pacarnya. "Udah yuk, Tan. Masuk dulu," ucap Dara sopan.
Mulan tersenyum ramah pada Dara lalu menatap sinis pada Azzam. Ini yang anak kandung siapa sih?!
Akhirnya Alberto dan Mulan pun masuk. Keempatnya langsung duduk di sofa dan mulai membicarakan hal serius.
"Kapan mereka menikah?" tanya Alberto.
Dara memandang ke arah Azzam. Namun Azzam hanya diam.
"Mereka nikah dua hari yang lalu, Pak," jawab Dara.
__ADS_1
"Dua hari yang lalu? Apa alasannya?" tanya Alberto lagi.
Dara mau menjawab tapi ragu. Dirinya takut salah bicara.
"Eum, emangnya Pak Darren belum ada melapor ke Tante ya?" tanya Dara terlebih dahulu.
"Gak ada, Dara! Darren cuman ngechat Tante kalau dia udah nikah sama Safira. Gak ngasih tau apa-apa lagi. Tante baru baca chat tadi pagi. Tante hubungin Darren buat nanya lebih jelasnya, malah gak diangkat sama sekali! Makanya Tante buru-buru pulang ke Indonesia. Emang keterlaluan ya tuh anak!" cerocos Mulan begitu kesal.
Dara tersenyum canggung mendengarkan ocehan Mulan.
"Emangnya Tante gak setuju ya ... kalau pak Darren nikah sama Safira?" tanya Dara ragu-ragu. Dara mendadak takut pernikahan sahabatnya tidak direstui oleh orang tua Darren.
"Iya! Tante gak setuju! Gak setuju kalau gak bilang-bilang! Apalagi mendadak begini!" ketus Mulan.
Dara sempat shock mendengar jawaban Mulan yang setengah-setengah. Namun setelah mendengarkan lanjutannya, Dara langsung bernapas lega.
"Dara ... Tante tuh udah mewanti-wanti kalau anak Tante menikah ... Tante yang bakalan turun tangan buatin pesta mewah untuk mereka, tapi ini apa?! Darren nikah gak bilang-bilang! Gimana Tante gak kesal?" rengek Mulan dengan kesalnya. Bibirnya sudah melengkung ke bawah.
"Sabar, Honey. Mungkin Darren punya alasan sendiri," ucap Alberto menenangkan istrinya.
Mulan pun langsung memeluk suaminya dari samping dan bersender pada dada Alberto. Alberto juga memberikan pelukan ke Mulan.
Dara yang dipertontonkan hal seromantis ini jadi bingung sendiri. Mau salting tapi malu sama orang tua di depannya.
"Is! Mommy sama Daddy kalau mau pelukan jangan di sini dong! Liat tuh pipi Dara jadi merah!" sinis Azzam sambil menunjuk pipi Dara.
Dara langsung melirik sinis ke arah Azzam. Gak perlu dibilang gitu juga kali! Ah bikin tambah malu aja.
Alberto terkekeh. "Jadi gimana? Sebenarnya kenapa sih mereka berdua itu bisa menikah mendadak?" tanya Alberto lagi. Dirinya masih memeluk Mulan tidak peduli dengan protes Azzam.
"Me-mere-me—" Lidah Dara kelu.
"Mereka kepergok warga berduaan di kontrakan!" jawab Azzam membantu Dara.
Mulan yang tadinya bermanja-manja pada suaminya, langsung berdiri tegak.
"Kepergok?!" teriak Mulan tidak menyangka. Jawaban Azzam sungguh di luar nalarnya.
"Astaga! Ayo, Mas! Kita ke apartemen Darren sekarang! Aku udah gak tahan sama kelakuan anak itu!" sungut Mulan lalu menarik-narik tangan Alberto untuk pergi.
"Eh tapi Tan .... Pak Darren hari ini mau ngajakin Safira ke pantai. Kayaknya sekarang lagi siap-siap," cegah Dara.
"Ke pantai? Buat apa? Honeymoon? Kenapa cuman ke pantai? Darren kehabisan uang kah sampai-sampai honeymoon cuman ke pantai?" seru Alberto yang tampaknya juga mulai kesal pada anaknya yang paling tua itu. Bikin malu keluarga Alberto saja!
"Eh, bukan begitu, Pak! Se-sebenarnya ... Safira lagi merajuk sama pak Darren. Makanya pak Darren mau ngajakin Safira ke pantai sebagai permohonan maaf," jelas Dara ketar-ketir.
"Ck, benar-benar si Darren ini! Baru dua hari menikah saja istrinya sudah merajuk. Apa sih sebenarnya yang dipelajarinya selama ini?!" Alberto merasa kesal karena Darren yang sangat tidak becus menjadi suami, menurutnya.
"Tau tuh anak kamu, Mas! Is kesal banget aku sama Darren, Mas! Gimana kalau kita culik aja menantu kita, Mas? Biar kapok tuh anak dipisahin dari istrinya!" usul Mulan.
"Setuju!!!" Azzam menyahut begitu semangat mendengarkan rencana mommynya. Sepertinya akan ada drama menarik. Azzam tidak sabar sekali melihat abang kesayangannya itu dipisahkan dengan istrinya sendiri.
"Tapi, Tan ...." Dara ingin membela Darren. Di antara mereka hanya Dara yang tahu kalau Darren begitu mencintai Safira. Darren pasti frustasi jika harus dipisahkan dengan Safira.
"Daddy setuju," jawab Alberto yang membuat semuanya tercengang. Mulan juga tidak menyangka kalau Alberto setuju dengan rencananya. Tapi syukurlah, pendukungnya jadi semakin banyak.
__ADS_1