CEO Pengganti Cinta Pertama

CEO Pengganti Cinta Pertama
Kita Yang Akan Buat Keluarga Baru


__ADS_3

Dara langsung berlari ke luar, berharap Jacob dapat membantunya menghentikan tindakan yang akan dilakukan Darren. Sampainya di depan, Dara pun melihat Jacob sedang memperhatikan mesin mobil. Tampaknya pria itu sedang memperbaiki sesuatu.


"Jacob," panggil Dara.


Jacob langsung menoleh.


"Lo?" ucap Jacob lalu menutup kap mobil dan menghampiri Dara di ambang pintu.


"Kenapa?" tanya Jacob.


"Pak Darren masuk ke kamar sama Safira," jelas Dara.


"Loh? Bukannya tadi Safira sama lo?" tanya Jacob heran. Kok bisa?


"Ya gimana dong! Pak Darren maksa maksa banget, lo tau kan Pak Darren itu atasan gue?! Mana berani gue sama dia!" oceh Dara kesal.


"Dih, mana gue tau lo itu bawahannya bang Darren!" jawab Jacob.


Bukannya membantu, Jacob malah diam saja. Tidak melakukan tindakan apapun.


"Yaudah sih, biarin aja. Namanya juga suami istri, wajar dong berduaan di kamar," seloroh Jacob begitu santai.


"Tapi kalo ketahuan Tante Mulan sama Pak Alberto gimana?!" tanya Dara.


"Ya jangan sampai ketahuan! Udahlah, gue mau lanjutin kerjaan gue, ganggu aja lo!" ucap Jacob lalu kembali membuka kap mobilnya. Membiarkan Dara sendirian di ambang pintu dengan kekesalan.


"Ihh! Kenapa sih tu orang?!" kesal Dara lalu masuk kembali ke rumah. Ia menutup pintu dengan kasar, mengekspresikan kekesalan. Namun, Jacob acuh saja saat mendengarnya.


Dara memilih untuk mengadu pada Azzam. Meminta bantuan Jacob sama saja bohong!


Dalam satu kali percobaan, telepon Dara langsung diangkat oleh Azzam. Dara pun menceritakan semuanya, termasuk Darren yang sudah mengancamnya.


"Kamu ke sini aja, Beb. Biarin Jacob yang jagain mereka. Nanti kalau Daddy sama Mommy nanyain kamu, aku yang bakal jawab," ujar Azzam dari seberang telepon.


"Emang boleh gitu?" tanya Dara polos.


"Boleh dong, biar nanti kalau Daddy sama Mommy pulang, terus mereka kepergok, jadi Jacob yang disalahin," kikik Azzam.


"Oh iya! Kamu pinter banget deh! Bagus deh kalau tuh bule dimarahin!" gumam Dara. Dara memang menyimpan dendam pribadi pada pria itu.


"Yaudah, aku jemput ya?" ucap Azzam.


"Eh gak usah, By. Aku mesan ojol aja, biar cepet. Kamu tunggu aku di sana," cegah Dara.


Setelah memutuskan panggilan, Dara langsung memesan ojol dan kemudian mengemasi barang-barangnya.


Saat ojol sudah di depan rumah, barulah Dara keluar. Ia tak sengaja melihat Jacob yang sepertinya masih sibuk dengan mesin mobilnya. Entah apa yang pria itu lakukan sejak tadi. Namun Dara memilih untuk tak peduli.

__ADS_1


"Eh mau kemana lo?!" teriak Jacob saat melihat Dara berlari menuju gerbang.


"KANTOR!" Dara balas teriak.


*****


Safira yang baru memasuki kamar suaminya merasa takjub. Baru kali ini dirinya masuk ke kamar laki-laki. Nuansa kamar itu gelap. Dinding-dinding betonnya dicat abu tua. Begitu pula dengan kasur yang berada di tengah yang berwarna abu.


"Gelap ya, tapi kayaknya enak kalo dipakai tidur," gumam Safira sambil mengamati sekelilingnya.


Netranya tak sengaja melihat sebuah foto yang dibingkai rapi di sebuah meja kecil. Di dalam foto itu terdapat foto Darren dan seorang wanita yang tidak Safira kenali.


"Cantik," batin Safira.


"Sepupu kah? Atau adiknya?" Safira menerka. Entahlah, tidak ada jawaban.


Safira melirik ke foto lainnya. Kali ini dia melihat foto Darren sekeluarga. Ada Alberto, Mulan, Darren, dan juga Azzam. Senyum bahagia di wajah mereka terlihat jelas, kecuali Darren. Pria itu tetap mempertahankan ke"maskulinan"nya. Sok ganteng ih.


"Keluarga mereka harmonis ya, beda sama keluarga gue," gumam Safira tulus dari hati. Tanpa terasa bulir-bulir air mata mengalir kembali di pipinya.


"Jika keluargamu dulu tidak harmonis, kita bisa buat keluarga baru yang harmonis, Baby Girl," ucap Darren yang tiba-tiba berada di belakang Safira. Safira tidak mendengar langkah kaki pria itu sama sekali. Aneh.


"M-mas? Kok kamu ada di sini? Dara mana?" tanya Safira sambil menghapus air matanya. Enggan terlihat cengeng untuk kesekian kalinya.


"Kamu mau kan membuat keluarga baru bersama saya? Kita akan buat keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Kita bakal jadi orang tua yang baik buat anak-anak kita nantinya. Kamu mau kan, Safira Jihanna?" ucap Darren begitu lembut.


Tangis Safira pecah saat itu juga. Ia langsung memeluk Darren tanpa izin. Semua air mata dan kesedihan yang ia miliki, ditumpahkan di bahu suaminya itu.


Jujur saja, Darren tidak pernah setulus ini pada wanita. Ya iya sih, dulu ia pernah tulus pada seorang wanita, tapi tidak mendapatkan balasan yang baik dari pihak wanita itu.


Namun, kini ia telah yakin untuk mencintai Safira dengan tulus. Dirinya percaya pada Safira. Safira pasti tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang wanita itu lakukan padanya dulu.


"Mas yakin? Atau itu cuman kata-kata? Jangan buat aku baper, Mas. Aku takut kecewa sendiri," ucap Safira masih merasa nyaman di pelukan Darren.


"100% yakin," jawab Darren.


"Kalo aku nyakitin Mas?" tanya Safira lalu melepaskan pelukan. Kini ia menatap serius mata suaminya.


"Emangnya kamu mau nyakitin saya? Berani kamu sama saya?" tanya Darren, yang kini membuat tawa Safira pecah.


"Iya deh iya, ampun Pak CEO! Gak berani saya," ucap Safira cekikikan.


Keduanya kini saling melempar senyum. Perasaan bahagia begitu terpancar dari wajah keduanya, ya walaupun dibalut nuansa kamar yang suram.


"Gimana? Ganteng kan saya di foto ini?" tanya Darren pada istrinya.


"Ganteng sih ganteng, tapi kamu gak senyum, Mas. Padahal yang lain pada senyum. Bagusan kamu yang di foto ini," jawab Safira sambil menunjuk foto pertama yang ia lihat. Di foto itu senyum Darren begitu terpancar.

__ADS_1


"Fo-foto ini," ucap Darren tergagap. Wajahnya berubah datar dan suram.


Darren membawa foto itu, lalu membuangnya ke tong sampah.


"Loh, Mas? Kok dibuang?" tanya Safira bingung dengan tingkah suaminya.


Tanpa menjawab, Darren pun mengajak Safira duduk di tepian ranjang.


"Foto itu masa lalu saya. Saya sekarang hanya mau fokus pada masa depan, yaitu kamu, Baby Girl. My wife is only you," ujar Darren sambil memegang tangan Safira dengan lembut. Sesekali mengelusnya.


Safira yang mengetahui kalau wanita cantik di foto itu adalah mantan Darren, merasa sedikit cemburu. Darren sampai membawa foto itu ke kamarnya bahkan tertata rapi serta dibingkai mewah, yang artinya wanita itu cukup mengesankan di hati suaminya.


"Gitu ya? Oke deh," jawab Safira datar. Dirinya acuh.


"Kamu gapapa, Baby? Kok kayak kesal? Kamu marah ya? Cemburu? Cemburu sama foto tadi?" tanya Darren yang melihat perubahan ekspresi istrinya.


"Aku mau tidur, Mas. Boleh ya? Aku ngantuk," ucap Safira ingin menghindari Darren. Ia mau memendam rasa cemburunya dan menghilangkannya dengan tidur.


"Baby Girl, listen to me. Saya sudah gak ada perasaan apa-apa lagi dengan Queena kecuali benci. Saat ini wanita yang saya sayangi itu cuman kamu dan mommy," ucap Darren berusaha menjelaskan perasaannya. Darren tidak mau Safira berspekulasi sendiri yang malah akan membuat kesalahpahaman.


"Benci juga termasuk perasaan kan, Mas?" jawab Safira lalu mengambil posisi untuk tertidur.


"Baby Girl ...," panggil Darren.


Safira masuk ke selimut. Dirinya sudah bersiap untuk terpejam namun Darren malah menarik paksa selimutnya.


Tanpa babibu Darren langsung mengukung istrinya itu.


"Kamu gak percaya sama saya?" tanya Darren.


Safira membuang muka, namun Darren langsung menahannya. Secepat kilat Darren langsung memberikan cium4n yang begitu lembut kepada Safira. Darren seolah-olah ingin menunjukkan perasaannya yang begitu tulus melalui kontak fisik. Berharap Safira dapat merasakannya.


Setelah dirasa cukup, Darren pun melepaskannya. Darren terkekeh saat melihat ekspresi istrinya yang seperti anak bayi yang kehilangan dotnya.


"Kamu merasakannya, Baby Girl? Tapi saya rasa ciuman itu belum cukup untuk membuktikan ketulusan cinta saya," ujar Darren.


Safira yang sejak tadi sudah berdebar kini makin berdebar. Darren hari ini menjelma sebagai pria super duper romantis. Untung Safira manusia, bukan coklat. Takutnya meleleh.


"Terus harus gimana?" tanya Safira asal.


"Lebih dari ciuman," jawab Darren lalu tersenyum mes*m.


"Eitsss, cium boleh, pegang boleh, tapi ga boleh masuk ya, Mas. Dokter Yohan bilang tadi kalau masih sakit jangan dipaksain. Punyaku masih sakit dikit," seru Safira.


"Emangnya sakit banget ya?" tanya Darren meringis. Sulit membayangkan perih yang dialami Safira.


"Gak juga sih, cuman sakit aja dikit," jawabnya.

__ADS_1


"So ... suamiku tersayang. Kamu puasa dulu ya beberapa hari, demi aku. Bisa kan?" ucap Safira begitu manja.


Ah, gimana mau puasa, kalau digoda begini saja Darren sudah gentar.


__ADS_2