
Semua terlihat sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Berjalan kesana kemari dengan membawa sesuatu yang mereka butuhkan. Teriakan perintah berkicau disana sini kian memperpadat keadaan ruangan yang sudah padat oleh manusia dan alat elektronik yang berserakan.
Melihat kehebohan yang sebelumnya tidak terjadi membuat ku mengernyit. "Apa kita akan kedatangan tamu spesial dalam pemotretan kali ini? Mengapa tak ada yang mengatakan hal ini pada ku?" Tanya ku pada asisten ku, Alya.
"Presdir pimpinan perusahaan yang produknya akan kau iklankan datang berkunjung. Katanya sih hanya melintas." Jawab sang asisten santai sembari sedikit merapikan rambutku agar jauh terlihat rapi lagi. "Kau tak perlu melakukan apapun Sasha, dia hanya akan melihat proses pemotretan mu lalu pergi. Meski usianya masih muda, tapi dia cukup kolot dan tidak suka di dekati wanita."
"Ooh.. baguslah, jadi tak ada pidato yang perlu ku hafalkan untuknya." Balas ku santai dan kembali memejamkan mata membiarkan orang-orang disekitar ku merias wajah cantik ku.
Seperti yang Alya katakan pada ku sebelumnya, ketika diri ku sibuk berpose dengan alat tidur elektronik yang dibuat oleh perusahaan besar ternama, orang-orang lainnya sibuk menyambut dan menyalami beberapa orang penting yang datang. Orang yang merancang tempat tidur yang ku naiki saat ini.
Padahal kini ia tengah terbaring memejamkan mata seakan tertidur nyenyak di atas benda yang begitu empuk dan hangat ini, namun dirinya seakan bisa melihat seseorang kini tengah menatapnya tajam hingga membuatnya merinding. Dengan segera ia membuka mata menghentikan pemotretan karena rasa terintimidasi yang mengganggu konsentrasinya.
Tubuhnya ia dudukkan diatas kasur, menatap orang-orang yang memberikan tatapan bertanya kearah ku. "Maafkan saya, kita ulang..-"
Kalimatnya tak ia lanjutkan. Senyumnya yang meminta pengertian sedikit memudar ketika matanya bertemu pandang dengan bola mata yang menatapnya tajam.
Ternyata benar. Memang ada sepasang bola mata yang menatapnya tajam tepat kearahnya. Dua pasang bola mata berwarna hitam jauh lebih hitam dari milik orang-orang yang pernah ia lihat. Saking hitamnya, dua manik hitam itu bahkan seperti bersinar. Dan sialnya lagi, pemiliknya cukup tampan.
"Sasha?"
Tubuhku sedikit tersentak dari lamunan ku yang terpikat oleh pemilik mata hitam itu. Kepala ku menoleh kearah sang ketua yang tadi menegur ku, lalu tersenyum berusaha terlihat senormal mungkin. "Ah ya, kita bisa mulai lagi sekarang ketua."'
"Baik! Ayo mulai lagi, semuanya cepat bersiap!"
Aku menarik selimut, kembali membaringkan tubuh ku berusaha menyamankan diri. Pria mengerikan itu, apakah bodyguard dari si tuan muda kaya? Pikir ku mencoba menduga-duga mengingat tubuhnya yang kekar dan begitu tinggi. Jika saja dia tidak menjadi bodyguard pasti pria itu bisa menjadi model pria yang sangat populer dengan wajah tampannya itu.
Pemotretan yang biasanya berjalan dengan mudah kini lumayan memakan waktu. Aku tak mengerti mengapa pria itu terus mengawasinya dengan begitu mengintimidasi. Padahal ia tak berniat melakukan apapun atau pun mendekati mereka.
"Istirahat sebentar! Kita lanjut setelah istirahat!" Seru sang direktur acara.
__ADS_1
Ku hela kan nafasku lalu turun dari ranjang menuju tempat biasa yang ku gunakan untuk duduk. Disana sudah ada asistennya yang selalu siap untuknya. "Alya bisa tolong ambilkan minum?"
Belum sempat Alya pergi mengambil apa yang ku minta, sebotol minuman sudah terulur untuk ku. Ku dongakkan kepala ku melihat siapa yang memberi ku botol minuman ini.
Si Tuan Bodyguard.
Butuh pengendalian diri yang cukup besar untuk ku menahan teriakan ku sendiri. Pria yang sejak tadi mengamati ku kini berada tepat di depan ku tanpa ku sadari kapan ia datang. Apa dia hantu!?
Ku tolehkan kepala ku kearah Alya untuk memastikan. Melihat Alya nampaknya menyukai rupa si bodyguard ini itu artinya Alya juga melihatnya. Fyuuh, sepertinya aku terlalu dramatis. Hantu memang tidak mungkin tampan.
"Sepertinya nona terlihat tidak fokus." Ucapnya kembali menarik perhatian ku.
Kau pikir karena siapa aku tidak fokus huh!?
Tak mungkin kan aku berkata begitu hanya karena aku merasa tak nyaman dengan caranya terus melihat ku. Yang ku lakukan hanya tersenyum manis sembari menerima kebaikan hatinya. "Terimakasih atas perhatian anda tuan. Maaf jika ketidak cakapan saya mengganggu pikiran anda, anda bisa kembali berkerja lagi pada tuan anda."
Dia terdiam dengan raut wajahnya yang datar tanpa ekspresi. Matanya yang sempat terlihat begitu tajam bak elang kini sedikit meredup. Namun masih tetap tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Seharusnya kau tidak sembarang meminum minuman dari orang asing." Ucap sang pria dengan nada datarnya. "Kau ceroboh."
Aku cukup tersedak mendengar teguran halusnya. Ku berikan senyuman kaku sebelum membalas kalimatnya. "Di tempat seramai ini sepertinya tidak sopan jika saya mencurigai niat baik seseorang." Balas ku berusaha tidak terlihat bodoh.
"Banyak kejahatan yang dilakukan di tempat ramai." Timpalnya tak mau kalah. Padahal raut wajahnya datar seakan tak perduli, tapi kenapa pria ini begitu antusias ingin mengalahkannya? Heran ku.
Aku menghela nafas pelan. "Baiklah jadi apa ini bisa saya minum? Atau tidak?"
"Apa kau akan langsung percaya jika aku mengangguk? Tidak ada penjahat yang mengakui tindakannya nona." Jawab si pria dengan santai tak memberikan jawaban pasti.
Jadi sebenarnya dia ingin aku minum atau tidak!? Jelas-jelas tidak ada yang mencurigakan di dalam minuman ini.
__ADS_1
"Biar ku ambilkan minum untuk mu Sasha," ucap Alya akhirnya angkat suara melerai perdebatan tak penting ini.
"Kau bisa meminumnya." Si pria kembali berbicara menghentikan Alya yang akan mengambilkan minuman lain untuk Sasha. "Itu tidak berbahaya."
Sudah cukup dia mempermainkan ku. Ku teguk minumannya berusaha menetralkan diri dari emosiku. Apa dia juga sengaja menatap ku tajam ketika pemotretan?
Melihatnya yang tetap memandangi ku cukup membuat ku kembali merasa tak nyaman. Aku tersenyum berniat sedikit menyinggungnya agar segera pergi darinya. "Anda tidak sedang menunggu botol yang sudah anda berikan pada saya kan tuan?" Tanya ku hanya bercanda.
Tidak seperti perkiraan ku. Dia benar-benar menganggukkan kepalanya tanpa rasa malu mengakuinya. "Minuman itu, milik saya."
Aku tersenyum kaku menutup kembali botol minuman yang telah ku minum dengan canggung. Ku kembalikan botol berwarna biru transparan ini pada pemiliknya. "Terimakasih sudah membiarkan saya meminum beberapa teguk air anda." Sindirku dengan sopan.
"Hn."
Tidak hanya diri ku yang dibuat melongo dengan kelakuan pria aneh itu. Alya bahkan juga sama terkejutnya seperti diriku. "Alya, dia bukan fans fanatik ku bukan? Dia tidak berniat menciumi botol bekas bibir ku terus bukan?"
Alya menggeleng tak bisa menjawabnya. Ia juga tak pernah melihat seorang fans yang berekspresi datar ketika menemui idolanya. "Sayang sekali, padahal wajahnya tipe ku" keluh Alya memandangi kepergian pria yang bahkan tidak menyebutkan namanya.
Aku tersenyum geli melihat raut wajah kecewa Alya. "Tampan saja memang tidak cukup kan? masih ada isi dompet dan otak yang harus kita lihat sebelum memilih pria!"
"Pffft! kau benar Sasha" balas Alya mengerling jahil membuat ku ikut tertawa bersamanya.
.
Melihat tuannya sudah kembali beberapa orang langsung datang menghampiri. "Apa kita kembali ke kantor tuan Aolion?"
Matanya menatap lekat botol yang ada ditangannya. "Tidak. Kita kembali ke rumah." Jawabnya tegas dengan senyum miringnya yang seksi. "Rumah yang akan ditempati Nyonya."
"Baik Tuan!"
__ADS_1
Shavicha berlyn, bagaimana bisa aku membiarkan mu yang masih begitu manis dan polos jatuh ke tangan pria yang salah. Ku harap kau tidak mengumpati ku karena diri ku yang terlalu serakah padamu.