
Setelah memantau kamera bahwa sang pujaan hati sudah terlelap, Lion pun dengan segenap keberanian yang tipis memberanikan diri masuk ke dalam kamar. Langkahnya begitu pelan layaknya maling yang tengah menyusup.
Kepalanya sedikit mengintip kearah sang istri yang masih meringkuk membelakanginya.
"Bagus, tidak terbangun!" Soraknya dengan suara pelan menyerupai bisikan.
"Kau seperti orang bodoh yang ingin memperkosa istri mu sendiri sekarang Lion."
"!?"
Sasha membalik badan. Matanya terbuka lebar dengan pandangan yang masih begitu segar. "Apa aku sudah mengizinkan tuan Astrada masuk?"
Lion menjatuhkan selimut yang sudah ia angkat. Kedua tangannya terangkat layaknya pelaku pencurian yang tertangkap basah. "Aku janji tidak akan menyentuh mu! Aku akan menjamin hal dengan mempertaruhkan nama Astrada!" Ucapnya begitu penuh kesungguhan.
Sasha memutar bola matanya tak mengindahkan. Mana mungkin ia akan mempercayai omong kosong suaminya ini. Meski begitu ia tetap mengangkat selimut disampingnya, mengisyaratkan sang suami agar segera terbaring di sampingnya.
"Yes!" Seru Lion. Dengan gesit ia segera berbaring dan memeluk tubuh sang istri. "Aku menyayangi mu Sasha."
"Tidur Lion, ini sudah malam." Jawab Sasha dengan suara lirihnya karena sudah mulai mengantuk.
Lion menurut patuh. Ia memejamkan matanya berusaha tertidur.
Belum lama Lion terlelap nyenyak, sesuatu sudah kembali membangunkannya. Tidak hanya dirinya, tapi si kecil yang ada di tengah-tengah selangkangannya juga ikut terbangun kaget.
"Sasha...?" Lirih Lion mulai merasa cemas.
Sasha mengangkat wajahnya menatap sang suami yang terlihat kesakitan dengan dahinya yang berkeringat. Matanya menatap berbinar wajah sang suami. "Seksi."
Lion mengerutkan dahinya tak mengerti. Bagaimana bisa di tengah malam begini Sasha tiba-tiba menyerangnya secara terang-terangan.
"Argh!" Lion mendesah kaget saat tangan yang terasa menggenggam sesuatu yang sudah membengkak dibawah sana mulai mengerat.
"Sasha.. " lirih Lion menahan diri. "Ku mohon lepaskan.. kita tidak bisa.."
__ADS_1
Sasha menyuruk kan wajahnya ke leher Lion. Mengendus bau pria itu dengan rakus. "Aku hanya ingin sedikit menyentuhnya tadi" ucapnya dengan nafas hangat yang terasa menggelitik saat menerpa kulit leher Lion. "Tapi ketika terbangun, 'itu' lebih menggemaskan ternyata." Ucapnya dengan ceria.
Lion dengan tangan gemetar mendorong Sasha agar sedikit menjauh dari tubuhnya. Ketika terlepas perasaan ingin lebih malah semakin kuat ketika ia mendapati wajah polos Sasha yang menatapnya sedih karena ia telah menjauhkannya dari 'mainan' miliknya.
"Sasha, kau bisa memainkannya nanti. Sepuas mu. Tapi tidak sekarang Baby, itu menyakitkan untuk ku." Ujar Lion masih dengan kewarasannya. Bagaimana pun saat ini usia kandungan sang istri masih lah muda. Ia tidak bisa kehilangan kendali sekarang.
"Tapi Lion.. aku menginginkan nya.." ucap Sasha ambigu. Wajahnya yang seolah akan menangis itu membuat Lion menghembuskan nafas frustasi.
"Aolion.. " mohon Sasha memelas.
Kenapa wanita ini menjadi seorang perayu disaat ia tidak bisa menyentuhnya sih!? Pikir Lion frustasi.
"Apa kau tidak bisa tidur?" Tanya Lion berharap.
Sasha menggeleng.
Lion menarik nafas berat. Ia dengan sangat-sangat terpaksa membawa tangan Sasha kembali ke tempat dimana wanita itu ingin menyentuh. "Segera lah tidur jika kau sudah puas ya?" Minta Lion dengan lembut.
Sasha mengangguk patuh. Ia memberikan satu kecupan di dagu sang suami. "Aku janji tak akan lama."
Apa ini balas dendam?! Oh ayolah, ini terlalu keterlaluan! Batin Lion berteriak.
"Bagaimana bisa sebesar ini masuk.." gumam Sasha masih fokus pada apa yang ia pegang. "Lion, apa kau tidak sakit saat memasukan ini?"
Lion menatap wajah Sasha dengan senyum masamnya. Disaat siksaan sentuhan Sasha saja sulit ia tangani, wanita ini malah memancingnya dengan pembahasan vulgar di malam hari.
"Sasha.. err.. ce.. patlah tidur.. ya?" Ucapnya setengah memohon.
"Kau tidur duluan saja Lion, aku tidak papa kau tinggal."
Aku nya yang tidak papa!! Jerit Lion dalam hati. Bagaimana pun ia tidak bisa meneriaki seorang ibu hamil. Lion menghela nafas menyerah. Ia butuh pelepasan. "Sasha, apa bisa kau mempercepat-"
"Sudah!" Sasha dengan entengnya melepaskan si Aolion kecil dibawah sana yang sudah meronta-ronta dalam sangkarnya. "Terimakasih Lion, selamat malam." Pamit Sasha langsung bergerak membelakangi sang suami.
__ADS_1
Lion termenung dengan pandangan layaknya orang bodoh.
Apa tadi itu benar-benar balas dendam?
.
"Hm?" Sasha menatap Lion aneh. "Wajah mu terlihat masam. Apa kau mimpi buruk?" Tanya Sasha.
Lion menghela nafas untuk yang kesekian kalinya pagi hari ini. "Jangan kan mimpi, tidur pun aku tak bisa." Jawabnya dengan nada yang menunjukkan betapa lelahnya dia. Lelah melawan hawa nafsu yang ingin menyerbu habis sang istri.
Sasha mengangguk-angguk mengerti. "Aku juga semalam mimpi aneh, emm.. lebih seperti menggelikan sih." Ucap Sasha mengingat-ingat mimpinya. "Bagaimana mungkin aku terlihat nakal dan menggoda mu kan, benar-benar mimpi yang aneh!"
"Haaah!?" Lion terbengong-bengong layaknya orang bodoh. Jadi setelah semua penderitaan semalam itu, bahkan Sasha hanya menganggapnya sebagai mimpi yang aneh dan bukannya erotis.
Sasha mengangkat alisnya. Ia memasukan sarapan paginya ke dalam mulut. "Ada apa?"
Lion menggeleng tak mau menjawab. Itu terlalu menyakitkan bagi mentalnya.
Seusai sarapan dengan suasana masam akibat mood Lion yang begitu hancur lebur di pagi hari, Sasha pun mengajaknya untuk berjemur di bawah cahaya matahari.
Sasha belai perutnya sendiri dengan wajahnya yang terlihat bahagia. Melihat ekspresi Sasha barusan, membuat suasana hati Lion membaik. Ia tarik pelan kepala Sasha agar mendekat kearahnya. Diciumnya dahi wanita itu dengan penuh kasih sayang. "Kau seperti penyihir cilik yang memperbudak ku dengan pesona mu Sasha." Ucapnya jujur. "Bagaimana bisa kau yang tersenyum seperti ini saja sudah membuat ku berdegup bahagia?"
Sasha menjauhkan kepalanya, mendongak menatap Lion yang jauh lebih tinggi darinya. "Kau lah yang licik Tuan Lion. Bagaimana bisa kau menjebak kelinci kecil tak tau apa-apa ini ke dalam mulut mu?" Balas Sasha dengan senyum manisnya. "Benar-benar tidak disangka aku akan menikah muda. Padahal rencana ku akan menikah ketika usia ku dua puluh tujuh tahun."
Deg!
Seketika tubuh Lion terasa kaku. Tangannya yang tengah merangkul sang istri pun sedikit gemetar. Senyumnya yang semula tulus kini berubah menjadi senyum kaku yang begitu ia paksakan. "Dua.. dua puluh tujuh? Kenapa?" Tanyanya dengan kaku.
"Emm, entahlah. Ku rasa itu usia matang yang menurut ku disaat itu lah aku baru menemukan cinta ku."
Kakinya yang sedang berpijak pada bumi terasa lemas. Tangannya yang sedang merangkul bahu Sasha pun turun melepaskan gadis itu ketika mendengar jawaban yang membuatnya teringat akan jalan kehidupan yang pernah ia lalui.
"Yeah, meskipun tak ku sangka akan jatuh cinta jauh lebih cepat." Lanjut Sasha dengan wajah cerianya. Kedua tangannya ia regangkan keatas lalu ia turunkan lagi ke masing-masing sisi tubuhnya. Matanya menatap langit pagi hari yang cerah. "Jika memikirkannya lagi, rasanya seperti waktu ku begitu dipercepat. Aku jadi sedikit cemas apa waktu hidup ku juga akan berakhir singkat karena aku sudah cukup mendapatkan segalanya sekarang."
__ADS_1
"Sasha Astrada! Apa yang barusan kau katakan?!" bentak Lion kasar membuat Sasha begitu terkejut.
"Li-on.. "