
Acara berlangsung dengan singkat. Semua dilalui tanpa kendala mengingat pemilik acara adalah seorang tuan yang terhormat. Lion terus mewanti-wanti para pekerjanya agar tidak ada satu pun kesalahan. Dalam kegelisahan yang besar ia berhasil mengucapkan sumpah janjinya untuk menjamin kebahagiaan sang istri dihadapan beberapa tamu yang ia undang.
"Sasha."
Tidak hanya Sasha, Lion pun ikut menoleh ketika nama istrinya keluar dari mulut seorang pria. Pandangan matanya menajam menatap tak suka pria di depan mereka sekarang.
"Zen, kau datang?" Sambut Sasha ramah.
"Ck," decak Lion tak senang karena Sasha tersenyum untuk pria lain sekarang.
Zen mengulurkan tangannya dengan senyum simpulnya. Ia tak mengira akan mendoakan wanita yang ia sukai agar berbahagia dengan pria lain sekarang. "Semoga kau selalu sehat dan bahagia Sasha."
"Terimakasih-"
Belum sempat Sasha membalas jabatan tangan Zen, Lion sudah lebih dulu meraih tangan pria itu. Menjabatnya sembari tersenyum angkuh. "Tanpa doa mu pun dia akan bahagia bersama ku tuan Faillin. Terimakasih sudah datang ke acara pernikahan kami."
Zen mendengus tak percaya. Pria terhormat ini lah yang akan langsung menendangnya tanpa basa-basi. Bisa ia lihat percikan kebencian dari mata Aolion atas kehadirannya. Sudah ia duga, pesan itu tidak mungkin Sasha tulis sendiri. "Sebaiknya anda berhati-hati tuan Aolion. Sedikit saja anda melukainya saya akan langsung mengambilnya dari mu." Ucapnya memperingatkan.
Lion menghempas kasar tangan Zen. Ia membawa pergi istrinya menjauh dari Zen.
"Kalian rival? Sejak kapan kalian saling mengenal?" Tanya Sasha pada suaminya.
"Tentu saja sejak aku menyukaimu!" Ketus Lion tak senang karena istrinya membicarakan pria barusan. "Kenapa? Apa kau jadi teringat kenangan indah karena melihatnya?" Tuduhnya tajam.
Sasha mencubit keras membuat Lion mengasuh kesakitan. "Kita baru saja menikah tuan Astrada. Sebaiknya kau bersikap baik agar mendapat jatah malam pertama mu!" Ancamnya serius.
Lion tersenyum kaku. "Aku tau kau hanya bercanda istri ku, kau tak akan benar-benar serius membuat ku harus menunggu lagi kan?"
Sasha tersenyum miring. "Bukankah selama ini kita tak pernah bercanda Lion?"
"Sasha ~ " rengek Lion mengejar langkah istrinya yang pergi meninggalkannya begitu saja.
.
__ADS_1
(Lion POV)
Sudah dua bulan sejak pernikahan yang ku adakan untuk Sasha berlangsung. Semua berjalan terlalu normal hingga membuat kecemasan ku meningkat. Aku bahkan tidak bisa membiarkan istri ku tanpa kamera pengintai. Setiap gerak-geriknya selalu ku pantau bahkan di kamar mandinya.
Rasa takut akan dirinya yang mungkin bersedih atau kecewa membuat ku cukup sulit berkonsentrasi dalam berkerja.
"Padahal sudah jelas dia bahagia, tapi kenapa aku gelisah?" Gumamnya tak mengerti akan apa yang ia pikirkan selama ini. Jika hal ini terus berlanjut hingga masa depan bukankah semuanya akan baik-baik saja?
Kenapa kau terus memanggil ku Sasha? Apa yang tak ku tau?
Ku acak rambut ku frustasi karena tidak juga menemukan titik terang letak kesalahan yang ku buat.
Tok! Tok!
"Lion, bolehkah aku masuk?" Tanya sang istri yang kini berada di ambang pintu yang terbuka lebar.
Aku yang sempat terenyuh akan pemikiran ku bahkan tak menyadari kini bidadari ku datang ke ruang kerja pribadi ku. Ku hela kan nafas panjang berusaha mencari kedamaian agar tak membuatnya cemas meski sepertinya sudah terlambat. Dari raut wajahnya jelas kini Sasha tengah mengkhawatirkannya.
Sasha menggeliat bersandar pada ku. Ku belai rambutnya dengan penuh kehati-hatian. "Apa yang sebenarnya membuat mu gelisah Lion, aku tau sepertinya kau sengaja tak ingin mengatakan hal itu pada ku. Tapi kau yang seperti ini terus membuat ku cemas.." tukas Sasha dengan suaranya yang lemah.
"Tak ada yang perlu kau khawatir kan Sasha, maaf aku membuat mu cemas. Aku hanya sedang berpikir keras hadiah apa yang harus ku berikan pada mu untuk ulang tahun mu bulan depan." Bohong ku.
Aku bahkan tidak memikirkan hal itu sama sekali karena sudah ku putuskan akan ku beri apa istri ku itu. Akan ku lakukan persis seperti seharusnya agar semua berjalan sesuai yang terjadi dimasa depan.
"Harus kah kau membohongi ku seperti ini Lion?"
Deg!
Mulut ku terdiam tak berani bersuara. Sasha melepaskan diri dari pelukan ku, menatap ku dengan sorot matanya yang begitu dalam. "Apa maksud dari buku merah mu itu Lion?"
"Kau.. membacanya?"
"Ya." Jawab Sasha secara tegas.
__ADS_1
Ku telan ludah ku susah payah. "Seberapa jauh, kau membaca buku itu?" Tanya ku berusaha memberanikan diri.
Sasha mendengus remeh. "Maksud mu kau ingin memastikan aku tau semua atau tidak? Aku membaca semua yang kau tulis Lion. Semuanya."
"Sasha itu-"
"Bagaimana bisa kau merencanakan masa depan sedetail itu suami ku, Kau bahkan tak membicarakannya dengan ku, bukan kah itu licik namanya?" Tuding Sasha cemberut. "Kau bahkan sudah menamai anak kita nantinya. Dari mana kau tau bahwa anak kita yang lahir pertama adalah seorang putra?" Sasha terus berceloteh tak membiarkan ku bernafas lega setelah lepas dari dugaan terburuk ku.
Ku pikir dia tau bahwa aku telah memutar waktu meninggalkan dirinya dimasa depan. Sungguh secara tulus aku bersyukur bahwa dia adalah gadis ceroboh yang sangat tidak peka.
"Baiklah aku minta maaf sayang, aku janji akan membicarakan tentang masa depan kita bersama mu." Ucap ku berusaha melerai sikap kekanakannya.
"Tapi kau belum menjawab ku Lion. Bagaimana bisa kau langsung menamai anak kita yang pertama dengan nama laki-laki? Bagaimana jika dia perempuan, apa kau tidak membuat nama cadangan?"
Tentu saja karena putra pertama kita memang akan terlahir sebagai pria yang gagah, jawab ku dalam hati.
"Kau saja yang tentu kan. Aku tak begitu pandai memikirkan naman perempuan, karena nama 'Sasha' terus yang akan muncul di kepala ku." Sahutku sedikit merayunya.
Sasha berdecak pelan tak menanggapi kalimat godaan ku. "Eemm, Chika terdengar menggemaskan.. ato Shana? Bagaimana dengan Shilla? Shilla Astrada, bagus kan?"
Ku cium aroma shampo yang Sasha gunakan untuk rambutnya. "Hmm, nama yang cantik."
"Apa kecemasan mu sudah hilang?" Tanya Sasha tiba-tiba membuat ku kaget.
Ku ulas senyuman untuknya. "Terimakasih Sasha, maaf aku tak ingin membuat hari mu buruk karena hal sepele jadi aku tak ingin menceritakannya pada mu."
Sasha mengangguk tak mempermasalahkan. "Aku tau kau selalu mengusahakan yang terbaik untuk ku tapi,"
"Tapi apa?" Tanya ku penasaran.
Sasha tersenyum lebar. Senyuman yang membuat ku was-was.
"Bisakah kau lepas Cctv di kamar mandi kita sayang?"
__ADS_1