CEO Serakah

CEO Serakah
BAB XI : Aolion Junior


__ADS_3

Aolion tersenyum kaku mendapati istrinya kini menatapnya garang. "Sasha, aku hanya, kau tau, aku tak bisa tidak melihat mu.." Lion berusaha keras membujuk istrinya dengan membuat alasan.


"Tidak kah kau puas hampir tiap malam melucuti pakaian ku tuan Astrada?" Tukas Sasha masih dengan senyum mematikannya.


"Tentu saja itu tidak cukup-"


Glek!


"Tidak, tidak! Maksud ku itu, aku hanya ingin memastikan mu tetap aman dimana pun itu!" Dengan cepat Lion mengalihkan perhatian Sasha. "Kau tau kan kalau kamar mandi itu berbahaya, bagaimana jika kau tidak bisa meminta tolong saat terjadi sesuatu di dalam?"


Sasha menghela nafas panjang. Ia jelas tau bahwa itu hanya alibi dari sang suami. "Baiklah kau bisa memiliki semua rekaman itu Lion."


Lion menatap berbinar istrinya. "Kau benar-benar wanita bijak yang pengertian istri ku!" Pujinya kagum.


Sasha melepaskan diri dari pangkuan Aolion. "Silahkan tidur di ruangan ini tuan Astrada, semoga tidur mu nyenyak."


"Sasha...!"


.


Melihat Lion yang kesulitan dengan dasinya Sasha pun menghampiri untuk mengambil alih.


"Aku tak tau kenapa sejak minggu lalu kau berkata akan mengurus semuanya agar aku tak kelelahan, tapi jika hanya sekedar ini aku tak akan kelelahan Lion." Sasha usap kemeja suaminya agar semakin terlihat rapi. "Sudah."


Sebelum Sasha pergi dari hadapannya ia sempatkan diri mengecup pipi kanan Sasha. "Kau harus istirahat istri ku. Jangan tunggu aku pulang. Aku menyayangi mu."


"Jika kau tak ingin membuat ku lelah maka pekerja kan saja seorang juru masak. Aku sudah tidak sanggup lagi jika harus masak masakan mu Lion." Sasha mengutarakan gagasannya.


"Pekerja wanita akan membuat mu cemburu." Tukas Lion yakin.


"Kalau begitu-"


"Aku yang akan cemburu jika kau memasak masakan pria lain, bahkan jika itu pria tua berkumis sekali pun!" Potong Lion tegas. "Aku akan belajar memasak sayang, tunggu lah sebentar lagi. Kau akan merasakan masakan terenak hasil karya tangan suami mu."


Cup!


Sasha menghela nafas pasrah. "Apa aku terlihat sakit akhir-akhir ini?"


"Tidak. Aku tak akan membiarkan mu terlihat seperti itu tentunya." Jawab Lion pasti.

__ADS_1


"Kalau begitu katakan pada ku kenapa aku tak boleh memasak?" Sasha menuntut penjelasan.


Cup!


Lion kembali daratkan bibirnya diatas permukaan bibir Sasha. "Karena aku mencintai mu. Aku pergi dulu. Segera hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi."


Sasha mengangguk patuh pada perintah suaminya. "Berhati-hatilah."


Sasha hela kan nafasnya pelan. Kini tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain malas-malasan. Sebelumnya Sasha masih diizinkan berpergian menemui teman wanitanya, namun sudah satu minggu ini Lion melarangnya melakukan apapun yang berpotensi membuatnya lelah.


Sasha jatuhkan tubuhnya diatas sofa hitam empuk yang menghadap kearah tv. Ia buka ponselnya. "Hari ini tanggal.."


"!?"


Dengan segera ia lempar ponselnya itu lalu bangkit ketika ada hal penting ia ternyata terlewatkan. Dengan cepat ia buka laci perkakasnya mencari benda kecil yang ia butuhkan.


Alat tes kehamilan.


Bagaimana bisa ia lupa bahwa sudah hampir dua bulan ia terlambat menstruasi. Dengan segera ia masuk ke dalam kamar mandi untuk memeriksanya.


Lion tersenyum lebar melihat kini Sasha tengah bersorak bahagia memandangi alat tes pack yang ia pakai. "Sepertinya hari ini aku harus pulang cepat."


"Apa ada acara penting dengan nyonya malam ini Tuan?" Tanya sang asisten yang mendengar suara tuannya.


Febian memandang tak percaya. Meski terlihat datar namun raut kebanggaan terlukis jelas di wajah tuan yang selama ini ia layani. "Selamat atas kehamilan nyonya tuan! Saya akan selalu bersiaga untuk nyonya!"


"Hn."


Tring ~ Tring ~


Mengerti nada khusus itu, Febian segera menunduk memohon undur diri.


Lion tersenyum bahagia melihat istrinya menghubunginya. Ia jawab panggilan itu dengan perasaan yang begitu lapang.


"Apa kau merindukan ku istri ku?" Tanyanya berbasa-basi.


"Lion apa kau sedang melihat ku sekarang? Buka lah rekaman Cctv kamar kita!" Seru Sasha penuh semangat.


Lion terkekeh pelan. "Baiklah baiklah honey," Lion nyalakan kembali komputer yang sempat ia matikan. Bisa ia lihat kini istrinya tengah melambai kearahnya. "Aku sudah melihat mu sayang, apa yang kau lakukan dengan berdiri diatas kasur seperti itu? Kau tidak melompat-lompat kan?"

__ADS_1


"Hehehe, tidak. Aku hanya mau menunjukkan ini!" Sasha mengangkat tinggi alat tes pack yang ia pakai. "Kita akan menjadi mommy anda daddy Lion!"


"Ck, kenapa si Astrada junior terlalu cepat di perut mu sih? Aku rasanya belum siap membagi mu sayang." timpal Aolion berpura-pura cemberut. "Sepertinya aku terlalu bersemangat membuatnya."


"Jangan bercanda, jelas sekali kau sekarang pasti sedang asik membanggakan diri sendiri." Sahut Sasha dari tempatnya.


"Kau benar-benar sangat mengerti suami mu ya," jawab Lion tak berniat mengelak. "Turunlah dari kasur mu. Aku tak mau kau terjatuh atau melompat-lompat lagi."


"Baik bos!"


"Aku mencintai mu Sasha."


"Aku juga, Lion."


Dengan mengemudi bak orang kebelet ingin menuntaskan hajat, Lion pun sampai di kediaman tempatnya beristirahat hanya dalam sepuluh menit. Seusai memajang rapi si jagoan merah mengkilap favoritnya Lion pun segera menuju masuk berniat menghampiri istrinya yang jelas tengah menantinya di kamar mereka.


Ceklek!


"Sasha!"


Senyumnya memudar kala mendapati ternyata istrinya tidak ada di kamar mereka. Seingatnya terakhir ia lihat di rekaman harusnya Sasha sedang menunggunya di kamarnya.


Ia melangkah keluar berniat mencari istrinya.


"Sasha kau dimana?"


"Lion.. Akh.. sshh, Lion aku disini!" Sebisa mungkin Sasha memanggil Lion dengan keadaannya yang begitu lemas. Tangan yang tengah ia jadikan pegan


Lion menegang. Ia dengan secepat kilat kembali masuk kamar berlarian kearah suara Sasha yang terdengar kesakitan.


Brak!


Dengan kasar ia buka pintu kamar mandinya. Hatinya seakan tercubit melihat Sasha yang terduduk dengan wajahnya yang pucat sembari bersandar pada closet. Satu tangannya ia gunakan untuk berpegangan dan tangan lainnya ia pakai untuk memegangi perutnya.


"Sasha!"


Lion segera memeriksa keadaan istrinya. Tidak ada benturan atau pun darah sekarang. "Sayang apa yang terjadi!?" cercanya cemas. ia gendong istrinya, membawanya keluar dari kamar mandi. Dengan sangat hati-hati ia baringkan Sasha diatas kasur mereka. "Aku-aku.. aku akan menghubungi dokter sekarang, aku-"


"Lion tenang lah.." Sasha buka suara melihat jelas betapa mengerikannya ekspresi yang suaminya buat. Pria itu seakan menjadi gila sekarang. Ia bahkan merasakan dengan jelas bahwa tangan Lion begitu gemetar saat menyentuhnya. "Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman, tak perlu takut."

__ADS_1


Lion yang seakan kehilangan kontrolnya kini mulai bisa sedikit mengatur degupan jantungnya yang memburu. Ia keluarkan ponselnya segera tak lagi ingin membiarkan istrinya merasa sakit. "Minta dokter kandungan segera datang pada ku secepatnya Febian. Kau punya waktu sepuluh menit!"


Sasha kau harus baik-baik saja!


__ADS_2