CEO Serakah

CEO Serakah
BAB XVI : Mimpi


__ADS_3

Bruk!


"Akh!"


Lion memutar kursi kuasanya ketika suara kericuhan memasuki Indra pendengaran. Matanya menatap merendahkan sosok pria dengan tampilan kacau yang tengah tersungkur di lantai.


"Kau gila melakukan ini pada paman mu sendiri hah?!! Aku keluarga mu Aolion! Aku lah keluarga mu!" Teriak Helian seperti raungan amarah yang besar.


"Mendengar mu mengatakan itu membuat ku semakin jijik karena bergelar Astrada sama seperti mu paman." Ucap Lion jujur.


"Apa?" Kaget Helian mendengar kalimat merendahkan yang keluar dari mulutnya. "Ka-kau.."


Lion taut kan kedua tangannya di depan wajahnya. Matanya yang tajam kini memancarkan kebencian membuat suasana ruangan megah ini terasa sesak. "Aku membiarkan mu masih diposisi mu karena aku tak mau membuat nama Astrada kotor. Aku tak mau istri ku merasa malu juga karena harus menyandang gelar yang dipenuhi darah ini. Jadi sebaiknya kau tidak banyak berulah paman."


"Brengsek! Kau telah dibutakan oleh jal-"


Dor!


"Argh! Arrgh!!!" Jerit Helian begitu kesakitan karena sebuah peluru kecil yang berhasil menembus bahu kirinya. Ia tergeletak berguling menyedihkan di lantai karena rasa sakit yang tak begitu terasa mengingat ia masih sangat sadar.


Lion menurunkan jari telunjuk yang ia gunakan untuk menembak sang paman. Semua bawahannya yang kini ada di ruangan yang sama pun dibuat shock melihat hal ini. Tangan yang mengeluarkan peluru. Mereka tau atasannya ini adalah si jenius yang berbahaya, tapi tak ada yang mengira bahwa tidak hanya otaknya yang berbahaya namun seluruh tubuhnya. Memikirkannya membuat bulu kuduk mereka merinding memikirkan apakah tuan mereka itu masih lah seorang manusia seperti mereka atau bukan.


Lion bangkit dari kursinya menuju sang paman yang masih mengerang kesakitan. Ia berjongkok menatap sang paman dengan pandangan menyedihkan. "Ini hanya sedikit hadiah dari ku paman."


Helian menatap Lion dengan wajah pucat nya. Ia menggeleng keras meminta pengampunan.


Lion tersenyum menyeringai. "Jika kau berani datang berkunjung lagi, maka akan ada hadiah yang jauh lebih besar lagi yang bisa ku berikan untuk mu."


Lion segera berdiri menatap tak perduli seonggok manusia yang kini bersimbah darah di dekat kakinya. "Bawa sampah ini pergi dan segera bersihkan."


"Baik tuan!"


Melihat tuannya dalam suasana hati yang buruk membuat Alan tegang. Disaat seperti ini terkadang tuannya butuh sesuatu untuk pelampiasan amarahnya. Namun siapa yang sanggup menerima kegilaan dari sosoknya yang mengerikan.


Tuan muda Astrada yang merenggut nyawa keluarganya sendiri di usia mudanya, pria bengis yang dianugerahkan kejeniusan yang semakin membuatnya berbahaya. Entah bagaimana bisa nyonya Astrada yang bagai kelinci kecil itu merasa nyaman tertawa bahagia di dekat orang yang tiap waktu bisa saja melahap habis dirinya.

__ADS_1


"Alan."


Tubuh Alan menegang. "Ya tuan!" Jawabnya cepat tak mau membuat tuannya menunggu sedetikpun.


"Setelah semuanya bersih, bawa istri ku kemari." Aolion memberi perintah dengan dinginnya.


Alan menatap ragu punggung kekar sang tuan. "Tuan yakin?"


Lion menoleh ke belakang, menatap Alan tajam. "Apa kau menyuruhku mengucapkan dua kali?"


Alan menunduk takut. "Saya akan membawakan nyonya dengan selamat segera Tuan!"


"Hn."


Lion menutup mata berusaha menekan emosinya. Ketika ia berusaha menenangkan gejolak dalam tubuhnya bayangan sang istri melintas. Senyum lebarnya yang indah dengan tatapan yang polos. Memikirkannya membuat Lion mendengus geli karena mulai merasa bahwa ia kembali menjadi gila.


Ia membuka matanya. Langkahnya mendekat ke jendela besar ruangannya yang menunjukkan kota tempatnya tinggal. Matanya menatap lurus pada satu tempat jauh disana. Tempat malaikat kecilnya berada.


Dahinya mengernyit. "Tidak. Lupakan rencana itu. Jalanan yang kasar bisa membuat hasil jerih payah ku di perutnya terluka." Celetuknya membatalkan niatnya memanggil sang istri. Ia juga teringat janjinya yang akan bercerita mengenai keluarganya pada sang istri dan ia belum siap untuk itu.


"Apa saya harus melakukan perbaikan jalan tuan?" Tanya Alan memastikan mungkin tuannya ingin melakukan pembangunan demi kenyamanan sang istri seperti biasanya.


Alan terkejut luar biasa. Pembangunan jalan raya yang biasa dilakukan pemerintah saja menurutnya sudah ide yang tidak biasa, tapi ternyata tuannya ini jauh lebih gila lagi dan ia tidak bisa mengikuti kegilaannya.


Tak mendapati jawaban dari Alan membuat Aolion membalik tubuhnya menatap pria tersebut. "Apa ada masalah Alan?"


Alan menggeleng kaku. "Berapa.. waktu yang anda berikan?" Tanya Alan sedikit cemas.


"Lima belas hari." Jawab Lion dengan senyum miringnya.


Alan menganga tak percaya. Membuat gedung sebesar ini dalam lima belas hari itu omong kosong jika manusia biasa yang mengatakannya. Tapi jika itu keluar dari mulut manusia satu ini, itu artinya itu lah yang akan terjadi.


"Bisa tolong beri petunjuk berapa ribu orang yang harus saya pekerjaan agar selesai dalam lima belas hari?" Tanya Alan yang memang tidak bisa memperkirakan harus memperkerjakan sebanyak apa.


"Cukup puluhan arsitektur saja. Robot-robot ku lebih cepat dari manusia." Jawab Lion enteng.

__ADS_1


Alan tersenyum kagum. Tidak ada keraguan lagi sekarang mengenai proyek besar dadakan ini. "Saya akan segera mengurusnya tuan!"


.


'Berita mengejutkan! Presiden tercinta kita bapak Helian Astrada entah bagaimana kronologinya kini sedang dirawat karena sebuah luka tembak di bahu kirinya! Pihak keamanan juga keluarga masih belum ada yang buka suara mengenai hal menggemparkan ini.'


Pip!


'Luka tembak di bahu kiri! Peluru bahkan belum dapat dianalisa dari negara mana! Serangan yang di duga dari ******* ini-'


Pip!


Sasha menyerah. Semua acara televisi nasional tengah membicarakan hal yang sama. Helian yang baru beberapa waktu lalu terusir dari rumahnya kini sudah bertamu di rumah sakit ternama bahkan akan dirujuk ke rumah sakit luar negri. Mau dipikir bagaimana pun ini pasti ada hubungannya dengan suaminya.


Tapi menembak pamannya sendiri? Seorang Lion yang selalu seperti anjing kecil? Membayangkannya saja tidak bisa.


"Apa tak ada pesan dari majikan mu Hil?" Tanya Sasha sembari memijat pelipisnya pening.


"Tidak ada nyonya. Pesan terakhirnya hanya berkata bahwa beliau akan membawakan es krim vanila pisang saat pulang nanti." Jawab Hil sesuai dengan apa yang ia dapatkan.


Sasha menghela nafas. Ia jatuhkan tubuhnya ke samping menatap bosan layar tv yang gelap mengkilap hingga memantulkan bayangannya. "Sepertinya aku melewatkan banyak hal karena lebih dulu dibuat terpesona olehnya... " gumam Sasha pelan.


Matanya beberapa kali terpejam ketika ia memikirkan Lion yang entah sedang sibuk dengan apa di tempatnya. Tepat sebelum ia hanyut dalam dunia gelap, bayangan suami sempat terlihat.


"Kau kejam Ao! Ao..!"


Jreng!


Sasha tersentak mendengar teriakan parau suara yang sangat ia kenali. Ketika matanya terbuka ia bisa melihat sosoknya sendiri tak jauh darinya. Sosoknya yang tengah berlutut menangis menderita. Dan seketika rasa sesak juga takut datang seketika padanya.


'Lion bangunkan aku Lion! Aku tak mau melihatnya lagi, ku mohon bangunkan aku'


"Kau sudah mengambil semua yang kau mau Ao.. ku mohon bawa aku juga.. hiks.. Ao.. ku mohon.. "


'Lion cepat bangunkan aku!!' Sasha seakan tau apa yang akan terjadi ia benar-benar berharap tak dapat mendengarnya lagi namun tubuhnya seakan dipajang paksa agar mau menyaksikannya.

__ADS_1


'Aolion!'


"Aolion!"


__ADS_2