
Tubuh Lion menegang ketika ia mendapatkan izin dari sang istri untuk menuntaskan kebutuhan biologisnya sekarang. Dengan susah payah ia meneguk air ludahnya sendiri semakin merasa haus tiap memandang wajah Sasha yang mengharap hal yang sama seperti yang ia inginkan.
"Sasha aku harus-"
Sasha tahan tangan Lion, tak membiarkan pria itu bangkit meninggalkannya. "Lion aku tau kau sudah sangat sesak, kita hanya perlu berhati-hati Lion.."
Lion menggeleng keras menahan rasa lapar tubuhnya yang ingin segera melahap Sasha. Otaknya masih bisa berpikir sehat saat ini dan ia harus pergi sebelum pertahanan terakhirnya runtuh juga.
Lion singkirkan tangan Sasha yang menahannya. Diciumnya dengan lembut tangan itu.
Sasha menahan nafas merasakan betapa hangatnya nafas Lion saat mencium lama tangannya.
Lion kemudian beralih memberikan kecupan di dahi Sasha yang telah dihujani keringat akibat dari ulah tangan nakalnya. Sasha menutup mata merasakan sentuhan lembut bibir Lion di dahinya yang seakan mengguyur tubuh panasnya sehingga ia jauh merasa lebih nyaman sekarang.
"Tidurlah sayang, selamat malam."
Dengan langkah setengah berlari tuan muda Astrada itu melesat masuk mengunci dirinya di dalam kamar mandi. Ia guyur tubuhnya dengan air dingin dengan tergesa tanpa perduli kini bajunya pun basah. Berharap rasa panas dalam dirinya padam.
"Cih, dasar kau binatang Lion!" Hinanya pada dirinya sendiri dengan geraman rendah. Ia remas rambutnya kasar dengan frustasi.
"Bagaimana bisa kau berniat menyerang istri mu sendiri yang begitu lemah hanya karena nafsu gila mu Lion.. " ucapnya kecewa pada dirinya sendiri yang baru saja mengecewakan istrinya yang dengan gilanya ia pancing begitu saja.
Ditariknya dalam-dalam udara di sekitarnya. Matanya menerawang memandang langit-langit kamar mandi. "Cepatlah besar Avian. Daddy sudah sangat merindukan mommy mu sekarang." Gumamnya dengan suara serak masih terbelenggu oleh nafsunya.
Disisi lain Sasha termenung menatap kamar mandi yang kini tengah diisi oleh suaminya. Sasha benar-benar merasakan euforia luar biasa mengingat suaminya yang begitu buas itu bahkan masih sanggup menahan diri disaat ini. Pria yang baru saja seperti singa yang sudah membuka mulut siap makan benar-benar melepaskan mangsanya begitu saja karena memikirkan dirinya dan juga si buah hati dalam perutnya yang mulai sedikit menonjol.
Dengan langkah hati-hati Sasha turun dari ranjang mendekati pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Lion." Panggil Sasha dengan suara lembutnya. Sasha tau Lion mendengarnya, jelas pria itu sengaja tak meresponnya sekarang. Sasha tersenyum kecil. "Biarkan aku membantu mu tuan Astrada."
Lion membuang nafas berat. "Ini bukan masalah baby, setiap hari aku mengalaminya. Kau tidur lah.." tolaknya dengan lembut.
"Aku istri mu Aolion. Biarkan aku melayani mu setidaknya dengan tangan ku. Bukankah itu menyakitkan?" Bujuk Sasha karena ia benar-benar merasa kasihan pada suami yang seakan tersiksa sendirian demi menjaganya dan si buah hati.
__ADS_1
"Buka pintunya ya?" Pinta Sasha dengan nada lembutnya.
Klek!
Senyum di wajah Sasha mengembang mendengar suara kunci pintunya kini telah Lion buka. Ia pun dengan segera masuk menuju suaminya untuk membantu mengurangi sedikit rasa panas pada tubuh suaminya yang masih membara itu.
.
Lion eratkan rangkulan pada tubuh Sasha yang terbaring nyaman disisinya. "Kau sudah tidur?"
"Belum.." jawab Sasha pelan seperti gumaman.
Lion menoleh mendapati istrinya ini tengah menutup mata. Lion terkekeh pelan melihat betapa menggemaskannya Sasha sekarang. Diciumnya wajah Sasha beberapa kali meski sejujurnya Lion lebih ingin menggigitnya.
"Lion Tidur..!" Jengkel Sasha karena Lion terus saja membuatnya geli dengan terus menciuminya.
"Aku benar-benar tak menyangkan kau sangat menggemaskan Sasha. Harusnya tak ku lepas Cctv di kamar mandi agar momen beberapa waktu lalu bisa terabadikan."
Lion seakan tak bisa menghentikan tawanya jikalau harus mengenang kejadian di kamar mandi beberapa menit yang lalu.
"Aku benar-benar terkejut saat kau bilang akan melakukannya. Tapi melihat tangan mu gemetar kebingungan saat memegangi 'milikku' membuat ku bahkan langsung melupakan hasrat ku begitu saja. Kau benar-benar hebat sayang!" Puji Lion diselingi hinaan dalam maknanya.
"Cih, lain kali tak kan ku perduli kan burung kecil mu itu!" Sakura berbalik memunggungi Lion.
Lion terkekeh gemas melihat istrinya yang terlihat marah padanya. Di peluknya dari belakang tubuh Sasha dengan lembut. "Sepertinya kau tidak memperhatikannya dengan baik ya, 'punya' tidak kecil sayang. Terakhir kita melakukannya bahkan milik mu masih sangat sulit untuk ku masuki."
"Tutup mulut vulgar mu tuan Astrada! Jangan pendengarkan anak ku hal-hal buruk." Tegas Sasha berusaha acuh dari godaan suaminya. Beruntung kini ia memunggungi Lion, jadi pria itu tidak tau bahwa kini wajahnya sudah sangat merona.
"Sedikit nakal tidak papa sayang. Aku yakin dia akan mengikuti jejak ayahnya." Sahut Lion enteng.
"Tidak. Anak ku tidak boleh mirip dengan mu!" Tolak Sasha tegas sembari menyingkirkan tangan suaminya dari tubuhnya.
Lion berdecak tak senang. Ia kembali memeluk istrinya. Menarik tubuh wanita itu agar menempel padanya. "Anak ku tentu saja harus mirip dengan ku. Aku lah yang berkerja keras dalam proses pembuatannya!"
__ADS_1
Sasha mendecih pelan. "Dasar tidak masuk akal!"
"Faktanya memang begitu nyonya Astrada. Aku lah yang selalu bergerak-"
"Tidur Lion!"
"Hahaha, baiklah baiklah.."
.
"Suami mu bahkan berbuat segila itu hanya untuk alasan kecil begitu!?" Alya menggeleng tak percaya. Dirinya yang diboyong mendadak hanya dengan alasan agar Sasha sering ditemani saja sudah membuatnya shock berat, tapi ia tak menyangka pria itu bahkan membuat gedung perusahaan yang menghabiskan bertriliun uang yang mungkin bagi Lion seperti potongan kertas saja.
Sasha menghela nafas panjang. "Aku tak bisa menahan kemauannya. Semuanya berjalan seperti yang pria itu inginkan." Ujar Sasha setengah mengeluh dengan perilaku suaminya itu.
Alya menatap Sasha detail seakan tengah men-scan tubuh Sasha dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Oke lah dia jatuh cinta pada pandangan pertama, itu memang terkadang terjadi di sebagian kecil manusia tapi sampai tergila-gila begitu bukankah itu artinya dia maniak?" Celetuk Alya berpendapat.
"Aku yakin sebenarnya dia sudah mencintai mu jauh lebih awal sebelum melamar mu." Tambah Alya.
Sasha terdiam sejenak untuk berpikir. "Alya, apa menurut mu dia akan marah jika aku menanyakan hal ini padanya?"
Alya mengernyit tak mengerti. "Untuk apa dia marah. Ini bukan hal buruk. Dia bahkan mungkin akan senang karena kau menyadarinya, yeah jika itu benar."
"Pasalnya aku memang berpikir demikian.." timpal Sasha dengan gumamannya yang masih dapat Alya dengar. "Dia, seakan tau apapun tentang ku. Bahkan ketika aku belum menginginkan sesuatu terkadang dia sudah menyiapkannya seakan tau aku akan memintanya." Tambahnya memberi pernyataan yang cukup mengganggunya.
"Wow! Bukankah itu luar biasa?!" Puji Alya terpukau.
Sasha menggeleng. "Itu cukup membuatku gelisah."
"Kau takut?"
Sasha menggeleng. "Aku hanya merasa ada sesuatu yang ku lewatkan. Perasaan itu seperti mengejar ku dan membuat ku gelisah."
Alya mengangguk-angguk mengerti. "Cobalah kau bicarakan pada suami mu. Kalian ini suami istri, masalah seperti ini mungkin terlihat sederhana tapi jika terjadi salah paham mungkin semuanya akan berakhir tidak baik."
__ADS_1