
"Peringatan! Peringatan! Orang yang tercatat dilarang masuk harus segera keluar!"
"Apa-apaan ini!? Aku paman pemilik rumah ini dasar kau barang rongsokan!"
Brak!
"Akh! Robot sialan!"
Suara-suara ricuh yang begitu jelas mengusik membuat acara nonton Tv Sasha terusik. Meski terdengar samar namun ia yakin ia mendengar robot kembar Mil dan Hil sendang ricuh di halaman.
Sasha mendekat kearah jendela yang memperlihatkan halaman depan untuk memastikan. Matanya membulat kaget. Pak Presiden!?
Padahal saat pernikahan mereka pria itu maupun keluarganya tidak ada satu pun yang menampakkan diri. Berbeda dengan Sasha, sanak saudara jauhnya masihlah ada yang datang namun dari keluarga Astrada benar-benar tak ada satu pun yang hadir. Tapi mengapa sekarang mereka datang? Bahkan tepat setelah sang suami pergi beberapa menit lalu.
Sasha menghela nafas mempersiapkan diri. Meskipun dikatakan bahwa suaminya adalah orang yang jauh lebih terhormat dari pria tua itu, tapi tetap saja statusnya ini hanyalah seorang rakyat yang harus menghormati pemimpinnya.
Menyadari kehadiran nyonya nya, Hil langsung bergerak kearah sang nyonya meninggalkan Mil yang bersiaga menghalau pengganggu di depan.
"Nyonya dilarang mendekat pada pria berbahaya. Nyonya harus tetap di dalam agar aman. Nyonya dilarang mendekat pada pria berbahaya." Ucap Hil mencegah Sasha agar tidak semakin keluar.
"Tidak papa Hil, aku mengenalnya. Dia paman tuan mu." Balas Sasha.
"Tidak Nyonya. Tuan melarang anda berdekatan dengan Helian Astrada. Tidak berdekatan dengan Helian Astrada. Tidak."
Sasha mengernyit heran. "Itu perintah dari tuan mu?"
"Ya nyonya."
Apa Aolion sangat marah karena mereka tak ada yang datang mewakili keluarganya?
"Tolong segeralah masuk nyonya!" Pinta Hil.
"Tapi aku-"
"Hey kau! Cepat suruh robot sialan ini menurun kan senjatanya! Berani sekali dia mengancam membunuh presiden!?" Teriak seorang pria yang masih di halau Mil di gerbang sana.
Mil sampai mengeluarkan senjata? Sepertinya ini terlalu berlebihan jika memang hanya sekedar karena hal itu.
Sasha menghela nafas panjang. Ia berbalik kembali menuju rumah. "Aku yakin kau sudah mengirim data kedatangan tamu kita ini pada tuan mu, jadi kau hanya perlu memastikannya agar tidak memasuki wilayah Astrada kita. Katakan pada Aolion agar dia tidak terburu-buru."
__ADS_1
"Baik nyonya!" Jawab Hil patuh.
"Cih wanita sial-"
Krek!
Mil menyiapkan senjatanya siap meluncur untuk membungkam mulut orang yang terdeteksi akan mengumpati nyonya nya.
"Ka-kau pikir aku takut pada robot mainan seperti mu?"
"Kau bisa mencobanya jika kau mau paman." Tawar Lion dengan angkuh. "Ku harap jantung mu selamat."
"Selamat datang tuan Lion!" Sambut Hil dan Mil serentak saat tuannya sudah kembali. Seketika gerbang terbuka mempersilahkan sang pemilik rumah masuk. Tentu saja Helian tak akan berani mendekat karena si penguasa telah kembali.
"Dimana nyonya kalian?" Tanya Aolion datar dengan matanya yang begitu tajam menatap ke depan.
"Nyonya di dalam menunggu anda Tuan." Jawab Hil.
"Hn, kalian masuklah. Tua bangka itu tak akan berani menginjakkan kakinya selama ada aku disini." Ucapnya dengan nada bicaranya yang begitu dingin nan tajam.
Helian mengepal tangannya menatap punggung sang ponakan dengan geram. Bocah ingusan yang dulunya mudah ia kendalikan entah bagaimana jadinya seakan tali kekang yang telah ia buat tiba-tiba lepas begitu saja hanya karena seorang wanita.
Shavicha Astrada, wanita yang telah berani merebut peliharaan berharganya. Ia harus menjadikan wanita itu sebagai tali kekang baru untuk Aolion!
Mendengar langkah keras yang terburu-buru membuat Sasha menoleh. Tepat ketika ia menoleh Lion langsung menerjangnya, bahkan hingga membuatnya sedikit terdorong ke belakang.
Sasha tidak begitu terkejut ketika pria ini tiba-tiba memeluknya. Ia terkejut karena tubuh Lion jelas gemetar hebat dalam pelukannya. "Lion..?" Panggil Sasha. "Kau baik-baik saja?"
"Aku tidak baik-baik saja Sasha." Jawab Lion jujur mengutarakan kondisinya. Nafasnya memburu karena sulit baginya untuk bernafas. Tubuhnya lemas setelah melihat Sasha yang masih berdiri menyambutnya. Sasha-nya baik-baik saja. Dia masih baik-baik saja.
Lion membelai rambut Sasha, memeluknya kuat untuk memastikan bahwa wanita itu masih ada dalam pelukannya.
"Lion apa yang kau takutkan?" Sasha mengangkat tangannya membelai kepala Lion dengan penuh kelembutan. "Aku disini, bersama mu."
Belaian tangan mungil Sasha mulai melunturkan rasa takutnya yang membuncah. "Hm.." gumamnya membenarkan apa yang Sasha katakan. "Kau disini. Bersama ku. Akan selalu seperti itu Sasha."
Lion mulai memberanikan diri melihat kondisi Sasha. Tak ada warna merah di wajah cantiknya. Semuanya baik-baik saja.
"Lion!" Panggil Sasha meminta perhatian.
__ADS_1
Lion tersentak kaget kini mulai bisa kembali menatap fokus kearah Sasha dengan benar.
Sasha berdecak pelan. "Sebenernya kemana pikiran mu? Apa kau meninggalkan rapat penting?"
Lion tersenyum. Wanita ini benar-benar tau cara mencairkan suasana dan selalu membuatnya nyaman. "Tidak sayang, aku hanya sedang berpikir kenapa kau terlalu cantik? Itu membuat ku cemas." Balasnya bergurau.
Sasha mendengus tak mau mempercayainya. "Berhenti lah berbohong. Aku tau kau memikirkan kedatangan paman mu bukan?" Melihat kediaman Lion tiba-tiba membuat Sasha semakin yakin. "Aku istri mu Lion. Ku mohon jangan sembunyikan apapun dari ku."
Lion belai sisi wajah Sasha dengan penuh kasih sayang. "Kau terlalu berlebihan Sasha. Aku janji hal seperti ini tak akan terjadi lagi jadi ku mohon tolong jangan membuat mu berpikir terlalu berat. Aku tak mau kau dan jagoan kita terluka."
"Mana mungkin aku berlebihan. Mil dan Hil bahkan menodongkan senjata yang tak pernah ku bayangkan ada dalam tubuh mereka." Tukas Sasha tak mau berpaling dari masalah kali ini. "Apa paman mu datang karena aku?"
Lion benci ini. Wanita ini terlalu peka terhadap hal-hal yang seharusnya tidak ia tau. Ia selipkan rambut Sasha ke belakang telinganya. "Aku harus kembali berkerja sayang"
Sasha mengernyit. "Kau tak mau mengatakannya?" Tanyanya cukup tersinggung.
Lion menggeleng. "Akan ku ceritakan setelah aku pulang, aku janji."
Sasha mengangguk patuh. Setidaknya Lion tidak berusaha menipu atau menyembunyikannya. Ia dekap tubuh kekar Lion sebelum melepasnya pergi lagi. "Aku akan menunggu."
"Mau ku bawakan sesuatu?" Tawar Lion berbaik hati.
Sasha mendongak tanpa melepaskan dekapannya. "Akan ku kabari jika ada yang ku inginkan."
"Baiklah aku mengerti." Lion merendahkan kepalanya agar bisa mengecup bibir Sasha sebelum ia pergi. "Selain kerabat mu yang datang kau dilarang menghampiri mereka Sasha. Terutama 'mereka' yang Mil dan Hil hadang." Lion menegaskan.
Sasha mengangguk patuh. "Pergilah."
Dengan berat hati Lion pun pergi meninggalkan Sasha sendirian. Setelah pintu mobil tertutup secara otomatis Lion pun langsung mengeluarkan alat komunikasi pribadi miliknya untuk menghubungi seseorang.
"Beri aku jadwal Helian Astrada, sudah saatnya kita tunjukkan siapa pemegang kendali disini." Ucap Lion pada orang yang ia hubungi.
"Baik Tuan!"
Pip!
Senyum miring penuh maksudnya terlihat jelas diwajahnya sekarang. "Si bodoh itu sepertinya masih mengira bahwa aku masih bisa ia kendalikan lagi. Tidak tau diri!"
Wush!
__ADS_1
Ia pijak semakin kuat pedal gas yang kian mempercepat kecepatan mobil biru kebanggaannya. "Kau yang memaksa ku keluar kandang paman." Ucapnya bengis membayangkan wajah pamannya yang telah berani ingin memanfaatkan istrinya untuk keserakahannya.
"Akan ku perlihatkan siapa yang mengendalikan disini."