
"Jadi dia si anak baru yang langsung memikat mata tuan muda Astrada? Bukankah dia seperti anak kecil?"
"Syuut! Pelan kan suara mu! Bagaimana pun sekarang dia wanita tuan, kau tidak boleh sembarangan berbicara!"
Sasha meremas pelan lengan baju yang Lion pakai. "Harusnya aku mendengarkan mu, aku menyesal Lion.. " sesalnya mengingat beberapa waktu lalu ia yang memaksa untuk keluar rumah. Kini sekarang ia sadar mengapa calon suaminya ini menyarankannya untuk tetap anteng di dalam rumah.
Lion menghela nafas pelan melihat wanita disampingnya nampak tak nyaman dengan orang-orang di sekeliling mereka. Ia lepas tangannya yang didekap gadis mungil ini. Dirangkulnya tubuh Sasha agar menempel padanya. Saat Sasha mendongak menatapnya, ia balas tatapan mata itu dengan senyuman lembutnya. "Tidak papa gadis kecil, tunggu lah selama sepuluh menit. Mall ini akan segera kosong."
"Hah?" Bingung Sasha tak dapat mencerna dengan cepat.
"Apa maksudnya tempat ini sudah disewa? Ini kan untuk umum!"
Sasha menoleh mendengar kericuhan di belakangnya. Terlihat dimatanya beberapa petugas mall tengah menggiring para pelanggan mereka untuk segera keluar. "Apa.. ini?" Tanya Sasha masih sembari memperhatikan orang-orang itu.
Cup!
Lion mencium pipi Sasha agar gadis itu kembali memperhatikannya seorang. "Mana mungkin aku membiarkan mu merasa tak nyaman."
"Tapi bagaimana kau melakukannya? Kau kan disamping ku sejak tadi" herannya.
"Itu bukan hal yang harus kau pikirkan sweety, cari lah apa yang kau butuhkan sepuas mu sekarang." Jawabnya dengan nada yang hangat.
Sasha tak mengerti lagi bagaimana bisa pria ini menggunakan koneksinya hanya karena ia sedikit mengeluh. Sepertinya ia harus berhenti mengeluh agar orang-orang tidak terkena imbasnya seperti ini.
"Kenapa kau terus menatap ku? Apa ketampanan ku semakin membuat mu terpesona Sasha?" Tanya Lion dengan senyum angkuhnya yang menyebalkan seperti biasanya.
Sasha menghela nafas pasrah. Ia lepas tangan Lion dari tubuhnya dan pergi dari pria itu. "Akan ku selesaikan urusan ku dengan cepat. Sebaiknya segera kau buka mall ini untuk umum."
"Sesuai permintaan mu tuan putri." Balas Lion dengan patuh seperti biasanya.
'Ao...'
Langkah Lion yang akan mendekat kearah Sasha berhenti. Ia berbalik memastikan suara samar yang memanggilnya.
Tidak ada siapapun di dekatnya. Tidak ada sosok yang ia duga sebagai pemilik suara tadi. Apa itu hanya halusinasi?
Atau Sasha memang-
"Lion?"
__ADS_1
Lion tersentak kaget ketika suara lembut Sasha menegurnya. Ia tersenyum lembut menyadari bahwa Sasha sepertinya mengamatinya sejak tadi. "Maaf aku sedikit melamun, apa sudah selesai?"
Lion terdiam ketika tangan lembut Sasha membelai wajahnya. Senyumnya sedikit memudar. Kini ia hanya terfokus dengan wajah cemas dari Sasha.
"Apa kau sakit? Wajah mu tiba-tiba pucat Lion, kau juga cukup berkeringat" cemas Sasha menyadari perubahan pria ini yang ia abaikan beberapa saat lalu. "Apa yang kau pikirkan?"
Diraihnya tangan mungil Sasha dari wajahnya. Ia genggam tangan itu dengan lembut. Dikecupnya dengan penuh kasih sayang.
Tangan yang akan membelainya. Tangan yang akan mengurusnya. Tangan yang akan terus membuatnya merasa nyaman saat ia sentuh.
"Aku takut kehilangan mu Sasha. Memikirkannya saja membuat ku sesak." Jujur Lion.
Sasha mendengus pelan melihat betapa lemahnya pria ini. Ia belai rambut Lion dengan satu tangannya yang tidak ia gunakan. "Kita bahkan belum memulainya Lion. Percaya lah pada Tuhan. Selama kau menyerahkan urusan mu pada Tuhan, maka Tuhan akan mengurusnya dengan baik."
"Hmm.." gumam Lion pelan.
Kedua permata hitamnya menatap bumi yang ia pihak dengan pandangan kosong. Apa kau baik-baik saja disana....
Istri ku?
.
"Lihat lah angsa buruk rupa kini sudah menjadi seorang tuan putri!" Goda Alya menatap kagum sosok Sasha dengan gaun pengantinnya.
Alya berdecak sebal. "Pemikiran bodoh macam apa itu! Gaun ini lah yang akan membuat mereka semakin melihat mu. Gaun ini secara khusus Tuan Astrada desain untuk mu sebaiknya kau tidak membuatnya kecewa."
"Siapa yang kecewa pada hasil karya ku?"
Keduanya menoleh mendapati Lion yang kini berdiri diambang pintu. Sasha berlarian kecil menghampiri pria menawan yang beberapa saat lagi akan menjadi suaminya. "Lion apa aku sudah pernah memuji mu tampan sebelumnya?" Ucapnya dengan sorot mata yang berbinar menatap Lion.
Lion terkekeh pelan. "Aku lah yang harusnya bertanya-tanya, pujian seperti apa lagi yang bisa ku berikan untuk mu."
Alya menatap kagum dua pasang manusia yang begitu mempesona. Ia tak mengira akan secocok ini mereka berdua. Bagai kisah tuan putri dan seorang pangeran. Bahkan sikap manis Aolion pun benar-benar membuatnya takjub.
Sasha benar-benar manusia dengan keberuntungan yang besar!
Sasha kalungkan tangannya di seputar leher Lion. Meski sepatu haknya sudah sedikit menambah tingginya namun ia harus tetap berjinjit agar bisa meraih wajah Lion. "Aku mencintai mu, Lion!"
Lion tak membalasnya karena Sasha sudah lebih dulu menciumnya.
__ADS_1
'Kau kejam Ao..!'
Deg!
Lion yang sempat memejamkan matanya menikmati sentuhan Sasha langsung membuka matanya. Tubuhnya membeku tak lagi membalas ciuman Sasha.
Menyadari ada yang aneh dengan Lion membuat Sasha memberi jarak agar bisa melihat raut wajah Lion. "Lion..?" Panggilnya pelan.
Lion menatap Sasha dengan tangannya yang gemetar di wajah gadis itu. "Sasha.." panggilnya lirih.
"Ada apa Lion?" Tanya Sasha cemas. Alya yang merasa suasana tiba-tiba berubah pun menatap cemas keduanya dari tempatnya.
Sebentar lagi akan diadakan acara pernikahannya, tapi apa yang sebenarnya terjadi pada mempelai pria ini?
Lion menggertakkan giginya menahan emosinya. "Harusnya, harusnya aku memang tidak mengajak mu menikah sekarang."
Kedua pupil Sasha membulat sempurna. Tubuhnya kaku dengan bibirnya yang bergetar tak sanggup bersuara.
"Apa maksud anda tuan Astrada? Acaranya akan di mulai satu jam lagi dan omong kosong apa yang kau bicarakan sekarang?!" Tukas Alya penuh amarah.
Sasha menunduk menggenggam gaunnya erat. "Lion, apa kau pikir ini lucu?"
"Tidak Sasha kau salah paham! Aku mencintai mu! Aku-"
"Lalu apa yang sebenarnya kau mau Lion!?" Bentak Sasha keras. "Kau lah tergesa-gesa ingin menikahi ku! Kau yang membuat semua tau bahwa aku lah wanita mu! Dan sekarang kau ingin semuanya berhenti begitu saja? Apa karena kau seorang Astrada jadi kau merasa tak masalah dengan hal ini?" Ucapnya dengan kekecewaan yang besar. Sasha bahkan tak tau pasti sejak kapan ia menangis. Ia pun tak tau ia menangis karena merasa dipermainkan, ditipu atau dikhianati.
"Maafkan aku Sasha, aku seharusnya tidak mengatakan itu, aku bersumpah aku mengatakannya bukan karena memiliki maksud mempermainkan mu atau apapun, aku takut aku hanya akan membuat mu kecewa nantinya.. sungguh.." jelas Lion berusaha tidak membuat Sasha terus menangis. Ia raih wajah Sasha, menghapus air mata yang seperti belati untuknya. "Ku mohon jangan menangis Sasha, aku mencintaimu.."
"Hiks.. hiks.. Lion sekarang belum terlambat untuk mu jujur pada ku.. putuskan lah sebelum aku semakin membenci mu.." balas Sasha parau.
Lion menggelengkan kepalanya. Ia menarik nafas dalam berusaha meyakinkan dirinya. "Aku takut jika kau tak bahagia bersama ku tapi jika kau benar-benar bersedia, aku akan tetap menikahi mu. Kau pun harus berjanji pada ku bahwa kau hanya akan berbahagia dengan ku." Lion tersenyum lembut berusaha menenangkan Sasha-nya. "Bisakah?"
Sasha mengangguk pelan.
Alya menghela nafas berat. "Semua pasti mengalami hal seperti itu tuan Astrada. Seharusnya anda meyakinkan diri anda sebelum bertemu Sasha hari ini. Anda benar-benar membuat kesalahan!" omel Alya.
"Oh tidak! Kita harus cepat memperbaiki riasan mu!" seru Alya gelagapan. "Sasha kemari lah cepat!"
Lion melepaskan Sasha membiarkannya kembali bersiap. Meski ia sudah berusaha keras untuk yakin pada dirinya namun suara bisikan yang menghantuinya terus membuatnya gelisah.
__ADS_1
Sasha, ku mohon.. jangan sampai kau terluka karena ku.
Ku mohon...