
"Aolion! Tidak! Aaarg! Tidak Lion!"
Lion membulatkan matanya kaget melihat istrinya tengah menjerit ketakutan diatas sofa dengan tangan meremas sandaran sofa dengan kuat. Ia yang baru melihat dari luar ruang tv segera berlari cepat menghampirinya.
"Sasha! Sasha buka mata mu Sasha! Itu hanya mimpi Sasha! Buka mata mu aku disini!" Lion menggoyang keras tubuh Sasha yang begitu berkeringat. Tangannya membelai wajah pucat sang istri cukup kuat.
Lion menatap gusar wajah sang istri yang tak juga kunjung membuka mata. Ia angkat sedikit tubuhnya, di peluknya kuat tubuh mungil sang istri yang menggigil ketakutan. Dengan cepat ia meraup bibir sang istri. Menciumnya dengan sangat intens berharap apa yang ia lakukan dapat membangunkan sang istri.
"Hmm.. mmh.." Sasha mulai merasa jauh lebih tenang. Tubuhnya yang begitu tegang seketika lemas benar-benar memasrahkan tubuhnya pada sosok hangat yang kini mendekapnya erat.
Dengan perlahan matanya terbuka. Tepat di depan wajahnya kini wajah sang suami yang terlihat jelas begitu cemas terpampang jelas. Satu tangannya terangkat berusaha meraih wajah suami. Jelas terlihat tangan mungilnya gemetar ketika ia mulai menyentuh wajah suaminya.
Sentuhan jari lentik Sasha membuat Lion memberanikan diri membuka matanya. Matanya kini tepat berhadapan langsung dengan mata kecoklatan istrinya. Bibirnya yang sempat diam kini mulai bergerak lembut memagut bibir istrinya.
Sasha yang mulai merasa tenang pun membalas ciuman sang suami. Tangannya mengalung menekan kepala Lion agar lebih mendekat padanya. Keduanya kembali memejamkan mata menenangkan diri pada ketakutan masing-masing dari mereka.
Cukup lama mereka melakukannya hingga mereka tau mereka harus mulai berbicara membagi ketakutan mereka sekarang.
Keduanya saling berpandangan cukup lama. Lion pun tak henti-hentinya membelai wajah Sasha. Menyeka keringat yang membasahi wajah cantik Sasha yang kini terlihat begitu kacau dan menyesakkan baginya. Meski begitu Lion tersenyum berusaha untuk tidak semakin membebani sang istri. "Mau es krim dulu?"
Sasha mengangguk setuju.
Cup!
Lion kecup dahi Sasha sebelum akhirnya beranjak mengambil plastik belanjaan yang sempat ia lempar di depan ruang tv ini ketika ia berlarian.
Jay buka kan kotak es krim yang ia beli di depan istrinya. "Tak terlalu dingin. Mau ku bawakan yang baru?"
__ADS_1
Sasha menggeleng. Ia ambil sendok yang ada di tangan Lion. Menyendok es krimnya lalu memakannya. "Ini masih layak makan, ini saja." Sahutnya.
Lion mengangguk menuruti. "Makanlah."
"Kau membawakannya seakan kau tau bahwa aku akan membutuhkannya sama seperti biasanya." Celetuk Sasha sebelum memasukan kembali sesendok es krim ke dalam mulut kecilnya.
Lion terkekeh pelan. Ia rapikan rambut Sasha dengan satu tangannya karena satu tangannya lagi masih sibuk memegangi kotak es krim milik istrinya. Matanya menatap wajah cantik istrinya yang mulai kembali segar tak sepucat sebelumnya. "Mungkin karena kita sepasang takdir. Semua tindakan ku tergerak untuk memenuhi keinginan mu Sasha."
"Lion."
Lion tak menyahuti panggilan Sasha. Mulutnya tertutup rapat mempersiapkan diri untuk pembicaraan yang akan keduanya bicarakan.
"Aku takut.. " suara Sasha kembali terdengar gemetar. Matanya mulai berlinang dengan wajahnya yang memerah.
Lion tau ini adalah hal yang akan ia hadapi namun rasanya ia masih tidak sanggup melihatnya. Ia letakan kotak es krimnya. Dibawanya tubuh Sasha dalam pangkuannya. Ia peluk tubuh Sasha cukup erat. "Tak ada yang perlu kau takutkan Babe, tak ada. Akan ku buat itu selalu menjadi tidak pernah ada jadi kau tak perlu takut."
Lion beri jarak agar ia bisa melihat wajah cemas istrinya. "Sasha ku mohon jangan berpikir yang macam-macam, kau sedang hamil baby. Aku tak mau baik kau atau pun putra ku terluka!" Mohon Lion khawatir.
"Kenapa kau selalu bilang bahwa dia akan terlahir sebagai seorang laki-laki Lion? Bagaimana jika dia perempuan, apa kau akan kecewa?" Tukas Sasha menyimpang dari pembahasan awal mereka. Ia juga bahkan terlihat seperti terlah melupakan kecemasannya.
Lion cukup senang sih istrinya tidak berpikir tentang hal buruk lagi. Tapi sepertinya ini lebih memancing hal buruk lainnya.
"Mana mungkin aku kecewa. Laki-laki ataupun perempuan mereka adalah hasil jerih payah ku. Aku bahkan tak begitu suka jika dia laki-laki!" Jujur Lion.
"Kau tak suka tapi kau seakan mengharapkan bahwa yang akan keluar adalah seorang anak laki-laki!" Cerca Sasha curiga.
"Itu karena anak laki-laki pasti akan membuat ku jauh lebih cemburu jika dia merebut perhatian mu. Aku hanya, kau tau, emm.. insting seorang ayah?" Karang Lion berharap sang istri percaya.
__ADS_1
"Ada yang seperti itu? Aku tak pernah melihat ibu mengandung lagi jadi aku tak tau ayah ku pernah begitu dan aku pun belum pernah begitu dekat pada pria lain hingga bisa saling membagi hal-hal begini." Ujar Sasha sepertinya termakan omongan Lion yang jelas sangat ngawur tak berdasar itu.
"Hahaha.. kau harus banyak belajar tentang laki-laki dari ku sayang." Balas Lion tertawa geli melihat istrinya yang mengadu. Karena memang, pasal nya di dalam rumah ini pun tidak ada manusia yang bisa diajaknya berkomunikasi selain dirinya.
Lion merendahkan kepalanya agar sejajar pada perut Sasha. "Hei jagoan, kau baik-baik saja kan?"
Sasha tersenyum geli. "Dia baik-baik saja Lion, mimpi buruk bukan masalah untuknya."
Lion cium beberapa kali perut Sasha. "Harusnya kau mengusir mimpi jahat dari mommy mu. Kau mengerti?" Tanya Lion tegas seakan ia benar-benar tengah menitah anaknya.
Sasha tertawa pelan melihat kekonyolan Lion. "Dia pasti akan menjaga ku Lion." Sasha rentangkan tangannya meminta Lion untuk mengangkatnya. "Aku ingin mandi."
Lion mengangguk. Ia gendong istrinya menuju kamar mereka. "Kebetulan aku juga belum mandi."
"Aku tidak mengajak mu Lion." Timpal Sasha ringan.
"Hey mana mungkin hahaha!" Balas Lion tak begitu perduli pada kalimat Sasha.
Dengan hati-hati di turunkan nya sang istri di lantai kamar mandi. "Mil akan membuatkan menu laut kali ini, kau suka?"
Sasha mengangguk bersemangat menatap suaminya dengan senyum lebar. "Itu akan semakin membuat ku merasa baik."
Lion tersenyum lega. Dengan perlahan dibukanya satu persatu kain yang menutupi tubuh indah sang istri. "Mimpi mengerikan itu aku harap tidak datang lagi pada mu Sasha. Jangan buat aku cemburu lagi jadi tolong ingat untuk hanya memimpikan ku."
Sasha tersenyum geli melihat betapa pencemburunya pria tampan ini. "Baiklah baiklah tapi bisakah kau singkirkan tangan mu dari dada ku Lion?" Sasha memperingatkan dengan nada cerianya.
Lion balas tertawa. "Sepertinya tubuh ku sudah sangat lapar akan tubuh mu hingga tanpa sadar tangan ku sudah menyentuhnya begitu saja."
__ADS_1
"Berhenti menipu ku Lion. Kau jelas-jelas masih sangat sadar." Timpal Sasha jengah dengan suaminya yang selalu beralasan.