
Tin!
Sasha mengangkat satu alisnya melihat mobil hitam mengkilap yang berada di depan pagar rumah sederhananya. Rasanya tidak mungkin Alya membawakan mobil semewah ini hanya untuk menjemputnya.
Langkahnya terhenti ketika kaca mobil turun menunjukkan sosok pemilik mobil yang akan ia dekati. "Aolion!?" serunya tak percaya. Sepagi ini pria yang membuatnya sulit tidur sudah memulai aksinya untuk kembali menghantuinya!? Sasha bahkan belum sempat menyingkirkan pria ini dari otaknya tapi sekarang sosoknya sudah ada di depan matanya.
"Cepat masuk lah tuan putri, para anjing itu sudah sulit untuk ditahan." Tukas Aolion mendesak.
Sasha membuka pagar rumahnya segera tak mau membuat pria terhormat itu menunggu. Saat ia akan masuk, suara kamera yang bersahutan dan kericuhan membuatnya menatap kaget ke arah ujung gang tak jauh dari rumahnya. Ia segera bergegas masuk ke dalam mobil. "Me-mereka?"
"Pengawal ku sudah menahan mereka sejak kemarin, sudah saatnya mereka beristirahat. Karena itu aku menjemput mu." Aolion nyalakan mobilnya bersiap melaju. "Aku harap kau tidak berteriak Sasha, karena kita harus cepat."
"Kena-kyaaa!"
"Aolion! Kau gila!!!!"
Setelah perjalanan bak menuju pintu kematian itu usai, Aolion bahkan seakan tidak pernah puas membuat Sasha kesal.
"Ini.. ini bukan tempat ku berkerja tuan muda.." ucapnya lemah karena masih merasa lemas setelah dibawa dengan kecepatan yang begitu tinggi. "Aku yakin gelar jenius mu bukan pajangan, kau.. kau tak mungkin lupa tempat kita pertama kali bertemu bukan..?"
"Tantu saja," balas Aolion dengan pasti. "Karena itu aku tak membawa mu kesana. Disana jauh lebih parah dari di komplek mu Sasha. Akan lebih aman jika kau disini."
"Disini maksud mu di tempat mu berkerja?!" Kesal Sasha yang mulai bisa kembali meneriaki Lion. "Pagi hari adalah waktu yang cukup sensitif tuan Lion. Sebaiknya kau antar aku ke tempat kerja ku. Memangnya kau mau menanggung hidup ku jika aku tidak berkerja huh?!"
"Itu kan memang tugas ku." Jawab Aolion enteng tak memikirkan wajah Sasha yang memanas karena kalimatnya itu. Aolion tersenyum kecil melihat Sasha yang sibuk menyembunyikan wajah meronanya.
Di lepasnya sabuk pengaman miliknya. Ia angkat dagu Sasha agar mendongak menatap matanya. Tanpa permisi ia daratkan bibirnya mengecup singkat bibir mungil Sasha.
Sasha mematung merasakan sentuhan lembut dari bibir Aolion. Matanya berkedip lucu setelah Aolion menjauhkan wajahnya dari wajah Sasha. "Bukankah ini yang pertama?"
Sasha mengangguk kaku. "Pertama.. "
Wajah Sasha semakin memerah sepenuhnya mulai menyadari apa yang terjadi padanya sekarang ini. Aolion baru saja menciumnya!
"Akhirnya." Sasha menoleh kearah Aolion yang belum menyelesaikan kalimatnya. Tangan pria itu membelai dengan begitu pelan rambut hitam kecoklatan milik Sasha. "Aku mendapatkannya."
Sasha menarik nafas kuat. "Apa.. hanya ini yang kau inginkan dari ku?"
__ADS_1
Aolion mendengus pelan. disentilnya keras dahi Sasha hingga membuat gadis itu mendesis kesakitan.
"Ish! Apa yang kau lakukan!?" Protes Sasha kesal sembari mengusap dahinya yang memerah karena ulah tangan nakal Aolion.
"Harusnya aku yang bertanya apa yang kau pikirkan dengan otak kecil mu itu eh?" Balas Aolion heran. Lion condongkan tubuhnya kearah Sasha untuk membantu Sasha melepas sabuk pengamannya. "Tentu saja ada banyak hal yang ku ingin dari mu Sasha, Karena itu lah,"
Wajahnya terangkat menatap lekat wajah Sasha yang kini begitu dekat dengan wajahnya. "Kita harus menikah agar bisa melakukan semuanya."
Sasha menggigit pelan bibir bagian dalamnya. "Kau, mesum Lion."
Aolion tersenyum lebar. "Sepertinya kau yang mesum Sasha. Bagaimana bisa kau memikirkan hal seperti itu sedangkan aku hanya memikirkan kehidupan rumah tangga yang sederhana?" Goda Aolion dengan jahilnya.
"Apa?! Aku-aku bukan begitu, aku hanya-"
"Aku mencintai mu Sasha." Potong Aolion membuat Sasha terdiam menatap matanya. "Karena itu lah, kau juga harus mencintai ku."
"Bagaimana jika aku tidak?" Tanya Sasha memastikan.
Aolion tersenyum miring, menantang perempuan di depannya. "Apa kau pikir kau punya pilihan Shavicha Berlyn?"
Sasha berdecak pelan. "Kau licik!" Ketusnya sebelum ia keluar meninggalkan Aolion di dalam mobilnya.
Sasha tak menyangka ia akan berjalan di tempat penuh teknologi yang tidak bisa ditemui diluaran sana. Pria jenius disampingnya ini benar-benar sesuatu yang langka.
"Berhenti menatap ku seperti itu Sasha, kau membuat ku malu." Ledek Lion.
Sasha memicing. Dalam hati ia tarik kembali semua pujian yang sempat ia buat untuk Aolion. "Benar-benar tidak bisa dipercaya. Bagaimana bisa sikap mu bernilai besi sedangkan otak mu bernilai berlian?" Cibir Sasha tanpa ragu.
"Mulut mu semakin ahli menghina ku ya, aku harus mengajari mulut mu agar lebih berguna lagi Sasha." Timpal Lion menanggapi hinaan calon istrinya.
"Hal yang berguna?" Tanya Sasha meminta penjelasan.
Aolion tempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri. "Mencium ku misalnya." Balasnya sambil mengerling.
Sasha menoleh cepat memastikan tak ada yang mendengar ucapan atasan tak senonoh ini.
"Tenang saja kucing kecil, di lantai ini hanya ada robot yang berkerja. Karena aku tak suka disentuh siapapun jika itu bukan dirimu."
__ADS_1
Sasha melirik tuan muda terhormat disampingnya dengan pandangan curiga. "Sepertinya berita mengenai Aolion Astrada yang tak suka didekati wanita itu bohong. Darimana keahlian merayu mu ini berasal jika bukan dari merayu wanita!"
"Aku seorang jenius Sasha. Merayu gadis polos seperti mu bukan hal sulit," ia rendahkan kepalanya, mendekatkan mulutnya kearah telinga Sasha. "Apa lagi kau menyukai wajah ku bukan?" Bisiknya menggoda.
Aolion berlalu mendahului Sasha yang terus ia buat malu. Wanita itu butuh waktu, jadi sebaiknya ia berjalan di depan agar dia bisa menenangkan dirinya.
Sasha mengangkat wajahnya menatap punggung lebar Aolion yang mendahuluinya. "Benar-benar, tidak butuh waktu satu bulan." Gumamnya tak mengira akan semudah ini jatuh terjun bebas ke dalam perasaan yang bergemuruh ini.
.
Sudah dua jam Sasha berada di ruang kerja Lion yang hanya dipenuhi dua warna. Abu-abu dan hitam. Melihat Sasha yang tak bisa melakukan banyak hal membuat Aolion merasa kasihan pada mahluk mungilnya itu. Ia tompang dagunya menatap Sasha yang duduk di sofa tak jauh dari meja kerjanya. "Kau bosan Sasha?"
Sasha mengangguk jujur. "Bosan."
"Kemari lah!" Ajak Aolion.
Sasha mematuhinya. Ia mendekat menuju tempat Lion duduk menyelesaikan tugas-tugasnya. "Ada apa?"
Tangan Lion ia lingkarkan di seputar perut Sasha. Menyandarkan kepalanya di perut rata gadis itu. "Biarkan aku istirahat sebentar lalu akan ku izinkan kau bermain game terbaru buatan ku disini."
"Kau..-kau harus berkerja Lion.." Sasha berusaha mendorong bahu Lion agar melepaskannya. Namun usahanya itu tak membuahkan hasil apapun. Aolion tak bergerak sedikit pun dari posisinya. Bahkan semakin menyamankan diri menempel padanya.
Setelah merasa cukup puas beristirahat, diberinya sedikit kelonggaran lalu ia tarik pelan Sasha hingga jatuh dalam pangkuannya.
Sasha bergerak tak nyaman dalam pangkuan Lion. "Lepaskan Lion, sebaiknya kau siapkan saja kursi lain untuk ku."
"Tidak mau." Diletakkannya kepala Aolion diantara leher dan bahu Sasha. "Aku lebih suka kau duduk dipangkuan ku seperti ini."
"Ish, berhenti lah mengendus ku seperti itu! Apa kau anjing?" Cerca Sasha kesal karena rasa geli yang Lion timbulkan. "Bukankah kau mengajak ku bermain?"
Aolion terkekeh pelan. "Baiklah baiklah," ia gunakan satu tangannya untuk menggerakkan mouse nya, sedangkan satu tangannya lagi ia pakai untuk terus menawan Sasha agar tidak menjauh darinya. "Ini, cobalah." Ia serahkan kendali komputernya untuk Sasha.
Sasha menatap antusias layar komputer didepannya. Ia mulai menyibukkan diri dengan permainan yang Lion buat.
Aolion mengeratkan dekapan kedua tangannya yang melingkar diseputar pinggang Sasha. Matanya terpejam dengan kepalanya yang masih ia sandarkan di bahu Sasha. "Jangan banyak bergerak Sasha, kau tak ingin merasakan sesuatu yang berbahaya bukan?" bisik Aolion dengan suara rendahnya.
Sasha tolehkan sedikit kepalanya yang membuat hidung mereka saling bersentuhan. Kelopak mata Lion yang sebelumnya terpejam kini mulai terbuka menunjukkan permata hitamnya.
__ADS_1
Lion tersenyum melihat wajah Sasha yang begitu dekat dengannya. "Kau tak perlu khawatir Sasha, aku masih bisa menahan diri ku untuk mu Sasha."
Sasha menangkup wajah Lion, sudut bibirnya sedikit tertarik membentuk senyum manisnya. "Sebarapa kuat pertahanan mu ini Tuan Lion?" tantang Sasha.