CEO Serakah

CEO Serakah
BAB VIII : Kencan


__ADS_3

"Lion" panggil Sasha dengan suaranya yang hati-hati.


"Hm?" Gumam Lion karena mulutnya masih asik dengan makanan yang Sasha buat.


"Eemm, jika kau tidak sibuk..-"


"Aku tidak sibuk." Potongnya cepat agar Sasha tidak segan mengutarakan keinginannya. "Katakan lah, ada apa?"


Sasha tersenyum simpul. Sudah ia duga, Lion pasti akan bereaksi seperti ini. "Aku ingin berkencan sebelum menikah." Ucapnya jujur akan keinginannya. "Meskipun sehari tidak masalah. Aku tau kau sibuk."


"Sudah ku katakan aku tidak sibuk baby, kita bahkan bisa terus berkencan hingga hari pernikahan kita." Balas Lion santai. "Kencan seperti apa yang kau inginkan? Ke luar negri?"


Sasha menggeleng cepat. "Aku tak mau lelah sebelum menikah, cukup dekat sini saja."


Aolion mengangguk. "Kau mau gaya kencan seperti apa? Jalan-jalan bergandengan tangan, atau melakukan malam panas di hotel mewah?"


Sasha berdecak pelan melihat Lion sepertinya sangat merekomendasikan pilihan kedua yang pria itu ajukan. "Aku hanya ingin bermalam di pantai Lion. Aku menyukai langit malam pantai."


Lion meminum segelas air putih agar tenggorokannya jauh lebih terasa lega. "Aku tau pantai mana yang akan ku sukai. Kita bisa bersiap sekarang."


"Sekarang? Langsung?" Kaget Sasha. "Tapi kau sudah siap untuk berangkat!"


"Masih ada asisten ku yang bisa menggantikannya sayang. Lagi pula siapa yang berani menegur ku jika aku bolos berkerja? Aku atasan tertinggi mereka." Sombong Aolion.


Sasha hanya bisa menghela nafas pasrah melihat betapa semena-menanya orang kaya ini. "Baiklah aku hanya menurut."


.


Angin segar langsung menyambutnya ketika kakinya semakin mendekat kearah laut. Langit yang cerah membuatnya bersyukur Lion mengingatkannya untuk membawa topi pantainya agar tidak silau.


"Bagus bukan?" Lion meminta pujian dari hasil pekerjaannya.


"Bagus sih tapi.."


Lion menoleh kearah perempuan disampingnya. "Masih ada yang kurang?"

__ADS_1


Sasha mengangguk. Ia balas menatap Lion. "Pantai sebagus ini harusnya memiliki banyak pengunjung tuan Lion. Apa anda menggusur semua orang?" Tanya Sasha dengan senyum manis penuh ancamannya.


"Tidak." Jawab Lion.


Sasha tak langsung percaya begitu saja. Ia tetap menatap curiga kearah Lion. "Sungguh? Aku tidak suka kau berbohong Lion."


"Tak mungkin ada nyali untuk ku menipu mu sayang. Aku sungguh tidak mengusir orang-orang karena memang tak ada orang yang perlu ku usir." Jawab Lion jujur.


"Maksud mu?"


"Pulau ini sudah dimiliki keluarga Astrada sejak dulu. Ini pulau yang ayahku hadiahkan untuk hari kelahiran ku. Dan sekarang.." Lion mengambil tangan Sasha. Mengecup punggung tangan gadis itu. Memberinya senyuman yang menawan. "Ini menjadi milik mu."


"What!?"


"Tapi tentunya ini tidak gratis." Lion menarik tubuh Sasha hingga menempel erat padanya. Melingkarkan tangannya diseputar pinggang wanitanya. "Beri aku satu ciuman panjang yang menggairahkan maka pulau ini akan menjadi milik mu."


Sasha menggeleng tak percaya. "Itu tidak setimpal!" Tolaknya merasa terlalu terbebani jika harus menerimanya hanya dengan memberikan sebuah ciuman.


"Ini setimpal babe, aku malah merasa untung besar dengan melakukan transaksi ini" balas Lion dengan suara yang penuh semangat menantikan bayarannya. "Jadi, apa kau mau?"


Ia pun dengan senang hati mulai meraih bibir Lion. Lion tersenyum puas lalu mulai memejamkan matanya menikmati setiap gerakan amatiran Sasha ketika menciumnya.


Benar-benar menggemaskan.


"Emmn.. Linng.." Sasha menepuk-nepuk bahu kekar Lion agar mau melepaskannya. Namun seakan tak perduli Lion malah kian merapatkan tubuhnya.


Wajah Sasha sudah merah padam. Meski Lion bilang tempat ini milik pribadi tapi tetap saja ini tempat terbuka. Dan lagi, dari ketiga ciuman yang telah mereka lakukan, ini adalah ciuman paling agresif yang Lion lakukan.


Tubuh Sasha begitu merinding merasakan sentuhan tangan Lion yang meraba liar punggungnya.


pria ini, lepas kendali!


"Ngh!" Sasha menutup matanya erat begitu merinding merasakan sentuhan Lion. Ini pertama kalinya ia secara intens mendapat sentuhan seperti ini.


"Akh!" Pekik Lion langsung melepaskan diri dari Sasha. Ia menyentuh bibirnya yang mengeluarkan darah karena ulah gigi Sasha yang tak ragu menggigitnya.

__ADS_1


"Sasha apa ingin membuat ku sariawan!?" Protes Lion kesakitan.


Sasha yang baru saja bisa bernafas lega sibuk menghirup udara takut-takut ia tak memiliki kesempatan lagi untuk bernafas. Sasha mendelik tajam ke arah Lion. "Pria sialan.. haah.. haah.. " ia menarik nafas kuat-kuat. "Kau.. kau bahkan tidak memberiku waktu.."


Menghela nafas merasa bersalah melihat kondisi Sasha yang cukup kacau. Bagian punggung bajunya bahkan jadi kusut karena ulah tangan-tangan nakal miliknya.


"Baiklah aku akui aku salah. Aku hanya merindukan mu-"


"Apa kau bercanda!? Sejak kemarin aku bersama mu bodoh!" Kesal Sasha.


Lion tak menanggapi lagi. Sasha tak akan mengerti sorot kerinduan yang ia maksudkan dan ia pun tak mau membuat Sasha mengerti. Toh tidak lama lagi kerinduannya akan terbayar.


Sasha akan menjadi seperti Sasha-nya yang sudah pernah ia miliki.


Dibelainya rambut coklat kemerahan milik Sasha dengan lembut. Sentuhannya membuat Sasha melunak. Wanita itu kini tidak lagi menatapnya tajam. Lion tersenyum. Ia bawa dengan lembut tubuh Sasha dalam pelukannya. Tangannya masih berkerja membelai rambut Sasha. "Aku tak masalah kau menggigit ku Sasha, tapi ku harap kau melakukannya di tempat lain."


"Kau mesum!" Sasha mendorong keras tubuh Lion. Memang ya, pria itu hanya bertopeng lembut saja tapi isi otaknya tidak jauh dari hal-hal seperti itu.


Lion terkekeh puas berhasil menjahili calon istrinya. Ia mengekori Sasha yang pergi meninggalkannya dengan langkah menghentaknya yang menunjukkan kekesalannya. Benar-benar lucu. Yeah tidak bisa ia pungkiri mau bagaimana pun Sasha nya ini masih lah muda.


"Sayang untuk apa kau malu-malu begitu, sebentar lagi juga kita akan melakukan hal yang lebih dari ini!" Teriak Lion dari belakang.


Wajah Sasha kian memanas. Ia menggigit bibir bawahnya gemas. Pria tak tau malu itu benar-benar menyebalkan.


.


Melihat Sasha yang termenung di balkon memandangi langit malam membuat Lion menghampirinya. Ia peluk dari belakang sehingga mengangetkan wanita itu. "Aku mencari mu sejak tadi Sasha, apa yang kau pikirkan?"


Sasha mengusap tangan yang melingkari perut ratanya. Ia sandarkan kepalanya pada tubuh kekar yang menopang di belakangnya. Wangi segar langsung tercium. Pria ini baru selesai mandi ternyata.


"Aku memikirkan orang tua ku." Sasha mulai buka suara. "Jika saja mereka masih hidup, ibu pasti akan sangat menjamu menantunya ini dengan begitu bahagia. Beliau pasti akan memamerkan mu pada teman-temannya."


Lion tak menanggapi. Tangannya semakin mendekap erat berharap Sasha tak lenyap karena larut dalam perasaannya yang kini tengah bersedih.


"Ayah juga. Ayah akan sangat bangga punya menantu seperti mu dan juga cemas. Dengan status mu yang tinggi ini, beliau pasti khawatir aku akan mudah terbuang." Lanjutnya sembari tersenyum kecil membayangkan keluarga yang hanya tersisa dalam kenangan.

__ADS_1


Lion cium cukup lama rambut Sasha. Menghirup dalam aroma shampo yang Sasha pakai. "Terimakasih telah tumbuh dengan baik Sasha. Terimakasih."


__ADS_2