CEO Serakah

CEO Serakah
BAB XXII : kebencian si sulung


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu sejak pembicaraannya dengan Alya, namun ia tak juga kunjung membagi keresahannya pada sang suami. Bukan karena tanpa alasan, Lion akhir-akhir ini jauh lebih sibuk. Meski pria itu tetap pulang tepat waktu dan menemaninya sampai tidur, tapi ia akan kembali berkerja di ruang kerjanya setelah Sasha tertidur. Karena kantor pusat barunya sudah jadi, jadi hanya butuh berjalan sebentar melalui jembatan kecil karena ruangan Sasuke sengaja dihubungkan dengan kamarnya agar istrinya bisa mengunjunginya kapanpun.


Seperti sekarang, Lion akan beranjak setelah memastikan Sasha tidak terbangun lagi. Ia tanpa mau menimbulkan banyak suara segera pergi menuju ruang kerjanya.


Tubuhnya ia jatuhkan begitu saja diatas kursi kerjanya. Punggungnya bersandar dengan kepalanya yang mendongak menatap langit-langit.


"Bagaimana kehidupan ku disana setelah aku merubah permulaannya? Apa mungkin aku bahkan menambah seorang anak karena menikahi Sasha lebih lama?" Racaunya memikirkan masa depan.


Tok.. Tok.. Tok..


Lamunan Lion buyar seketika. Pupilnya melirik pintu dari sudut matanya tanpa menoleh. "Masuk."


Alan masuk setelah menerima izin. "Helian Astrada telah kembali setelah mengobati lukanya di Jerman tuan."


Lion kembali memandangi langit-langit. "Lalu?"


"Ia menarik simpati dengan mengarang bahwa ia melindungi pengawalnya yang akan tertembak *******." Alan memberikan laporannya.


Lion mendengus tak percaya. "Dia berencana naik lagi?"


"Ya tuan. Dengan begitu dia akan merasa anda tidak bisa membunuhnya." Jawab Alan.


"Pemikiran yang bodoh." Komentarnya. "Lenyap kan sebelum ia mencalon kan diri. Keberadaannya benar-benar mengganggu." Titahnya.


"Baik tuan."


"Alan." Panggil Lion masih tidak mempersilahkan pria itu pergi. "Beberapa waktu lalu istri ku berbicara dengan mu buka?"


Deg!


Alan mulai berkeringat dengan wajahnya yang pucat. Aura kemarahan tuannya yang begitu menekan membuatnya gemetar. "Ya-ya tuan. Nyonya membicarakan tentang anda saat itu..."


Mata tajam Lion meredup. "Membicarakan ku?"


Kini Alan sedikit bisa bernafas lega. "Ya Tuan. Nyonya menanyakan apa perkerjaan yang tuan lakukan selama ini."


Dahinya mengernyit. "Kenapa dia tidak menanyakan hal itu langsung pada ku?"


"Itu.. nyonya bilang tuan terlalu sulit dipercaya untuk ukuran manusia.. " lapor Alan ragu takut-takut tuannya marah meski ia hanya seorang penyampai pesan sekarang.

__ADS_1


Sudah ku duga, dia pasti akan curiga. Lion menghela nafas berat. "Apa ada lagi?"


"Nyonya bertanya pada saya itu.." Alan menunduk dalam ragu untuk mengatakannya.


"Apa?" Desak Lion.


"Nyonya menanyakan apa saya tidak takut pada tuan karena nyonya bilang beliau sendiri terkadang merasa takut dengan tuan." Jawabnya dengan suara pelan.


Deg!


"Sasha.. takut pada ku?" Ulangnya tak percaya. Sasha yang selalu tersenyum manis menyambutnya? Sasha yang selalu memeluk hangat dirinya? Dia takut pada ku?


Apa karena Helian?


Tangan Lion mengepal erat. Sial.


"Maaf atas kelancangan saya tuan!" Alan menginterupsi tuannya yang tengah tenggelam dalam emosinya. "Saya rasa wajar nyonya memiliki rasa seperti itu. Siapapun akan merasakan hal yang sama melihat kemampuan anda yang sekarang. Saya yang telah melayani anda pun tidak bisa membiasakan diri dengan baik dengan peningkatan ini. Sekali lagi maafkan saya!"


Ah tentang itu ternyata. Lion menghela nafas pendek. Sepertinya ia harus berhenti berpikir bagaimana cara membuat Sasha nyaman dengan pengetahuannya. Sudah saatnya ia hanya perlu menjalani saja sambil menantikan diri hingga pada masa dimana sebelum ia memutar waktu.


"Kau puas?"


Alan balas memandangnya bingung. "Saya tidak mengatakan apapun tuan. Apa ada masalah?"


Lion mengerutkan dahinya. "Kau tak mendengar apapun?"


"Tidak tuan." Jawab Alan jujur.


"Hm, pergi lah. Kau sudah berkerja dengan baik."


"Terima kasih tuan!"


Lion bersandar pada punggung kursi. Kepalanya mendongak menatap langit-langit. Otaknya terus memutar pendapat mempertimbangkan sesuatu. "Haruskah aku mengatakan kebenarannya?"


'aku akan membenci mu sekali pun kau pergi karena diri ku'


Kalimat jawaban yang Sasha pernah berikan membuatnya tak mau lagi memikirkan keputusan itu. Dibenci istrinya bukan lah hal yang mau ia dapatkan setelah melakukan perjuangan ini.


.

__ADS_1


.


"Mommy, kenapa daddy pergi meninggalkan Anna? Apa Daddy marah dengan Anna?" Tanya seorang gadis kecil yang kini tengah terbaring dipangkuan sang bunda.


"Tidak Shanna, Daddy mu mana mungkin bisa marah pada malaikat cantik ku ini," jawab sang ibu dengan nada lembutnya. Tangannya membelai dengan penuh kasih sayang rambut kemerahan putri kecilnya. "Mommy hanya tak bisa mengikuti jalan pemikiran Daddy mu itu.." Sasha memaksakan senyuman untuk menghibur putri bungsunya. "Daddy mu itu kan memang terkenal dengan otaknya yang rumit!"


Avian berdecak pelan mendengar obrolan dua perempuan Astrada ini. "Fakta bahwa Daddy pergi tidak bisa terus Mommy bela. Berhenti membohongi adik ku mom!" Tukas seorang anak laki-laki dengan nada tak senangnya.


"Avian jaga mulut mu!" Tegur sang ibu marah. "Kau bisa kecewa padanya tapi tidak di depan adik mu Vian!"


Putra sulung Astrada itu hanya memutar bola matanya bosan. "Sampai kapan ibu akan terus bersikap seolah pria itu akan pulang? Daddy hanya pria egois yang mementingkan dirinya sendiri mom! Dia tak akan kembali!"


"Avian!"


Mata hitam legam si sulung kini terlihat jelas dipenuhi oleh amarah dan juga kebencian. "Aku tak akan mengakui orang yang meninggalkan keluarganya sebagai Daddy ku mom. Tak akan pernah."


Sasha menatap punggung putranya dengan air mata yang menggenang.


Dia tak bisa mencegah kemarahan Avian terhadap Aolion yang sudah hampir dua tahun tidak mendampingi mereka sekarang ini. Avian bukan lagi anak kecil yang bisa ia kendalikan seperti Shanna. Dia sudah tumbuh menjadi remaja yang mana sama pintarnya dengan sang ayah. Hal itu membuat Sasha tak mungkin bisa membohongi putranya itu. Kebencian Avian pada Aolion membuatnya pun perlahan mulai tak bisa menahan kekecewaannya.


Ao, apa kau puas?


"Hiks.. mom.. kenapa mommy menangis.. "


Sasha tersentak kaget. Dipangkuannya kini putri kecilnya sudah mulai menangis karenanya. Sasha dengan segera menyeka air matanya. "Tidak sayang mommy hanya.. mommy hanya merindukan Daddy mu sayang.. kau tak perlu menangis juga.."


Shanna bangun merangkak memeluk mommynya. "Kalau begitu suruh Daddy pulang mommy.. hiks.. Anna juga kangen Daddy.. Anna mau Daddy.. huwaa.. Anna mau Daddy..."


"Sudah sudah sebentar lagi juga Daddy akan pulang.. Daddy mu pasti akan pulang setelah urusannya selesai," Sasha membelai rambut panjang putrinya dengan lembut. "Kau jangan menangis sayang, Daddy akan marah kalau kau menangis,"


"Tidak, aku tak mau Daddy marah nanti daddy tidak pulang.."


Sasha tersenyum. Membiarkan putrinya tetap memeluknya seperti ini. "Anak pintar."


"Anna kan putri Mommy dan Daddy!"


"!"


Sasha tersentak kaget terbangun dari tidurnya. Bisa ia rasakan sedikit rasa basah pada bantal tidurnya.

__ADS_1


Apa itu tadi?


__ADS_2