CEO Serakah

CEO Serakah
BAB XVIII : Letupan cinta remaja


__ADS_3

Seperti perkataan Lion sebelumnya, Mil benar-benar membuatkan menu hidangan laut yang memang sangat membantu memperbaiki harinya yang sempat kacau oleh mimpi yang bahkan tak lagi ia ingat.


"Jujur aku penasaran akan hal ini Lion." Sasha membuka perbincangan santainya di meja makan.


"Hmm?" Lion bergumam menyahuti. "Apa?"


"Kau bisa membuat robot yang kemampuan memasaknya melebihi koki terbaik dunia, tapi kenapa kemampuan memasak mu sendiri bahkan tidak bisa di setara kan dengan seorang pemula?" Tanya Sasha ingin tau. Benar-benar hanya ingin tau tanpa berniat mengejek suaminya.


"Hm, itu karena yang ku lakukan ketika membuat Mil dan Hil hanyalah memasukan data semua yang tertulis pada resep-resep makanan para chef terbaik dan mereka itu robot otomatis. Mereka jauh akan lebih sempurna ketika melakukannya." Lion menjelaskan secara ringkasnya. "Tapi Sasha, makanan yang kau bilang tidak layak cerna itu adalah satu-satunya makanan buatan ku langsung yang hanya pernah kau mencobanya selama ini."


Sasha tersenyum manis. "Aku tidak merasa terhormat tuh!" Ia masukan potongan lobster ke dalam mulutnya tanpa perduli raut muka suaminya yang lesu. Kini bahkan Lion sudah memelototi Mil yang sedang membersihkan alat masak yang barusan ia pakai.


Sasha sudah tak mengerti lagi. Suaminya ini benar-benar terlihat semakin gila setiap harinya.


Setelah merasa kenyang Sasha pun langsung berpindah duduk ke pangkuan Lion. Memang sejak masa kehamilannya ini jujur saja ia akui dirinya kian manja pada suaminya. Dan tentu saja Lion tidak masalah akan hal itu. Ia malah cukup senang ketika Sasha melekat padanya.


"Kau tau kan seharusnya kita membahas sesuatu malam ini?" Sasha mengingatkan.


Lion mengeratkan dekapannya, menyamankan posisi Sasha dalam pangkuannya. "Aku tau tapi sepertinya kita harus menundanya. Aku tak mau hari ini hari mu kembali buruk."


"Aku juga tak ingin membahasnya untuk beberapa waktu ke depan." Ujar Sasha. Kepalanya ia dongakkan ke atas menatap suaminya. Jarinya bergerak abstrak pada rahang Lion. "Aku ingin melihat kembang api."


Lion terkekeh pelan mendengar permintaan polos sang istri. "Hanya itu?"


Sasha mengangguk. "Tapi bisakah kita melihatnya di taman depan?"


Lion mengangguk mengizinkan. "Bawakan perlengkapan musim dingin Sasha Hil. Di luar berangin jadi kau harus tetap hangat."


Hil melesat terbang ke lantai atas untuk membawakan apa yang tuannya minta.


"Ini semua perlengkapannya tuan."


Lion menggeser Sasha agar duduk sendiri di kursinya. Satu persatu ia pakaikan. Di mulai dari mantel hangat, sarung tangan, kaos kaki, syal, hingga sepatu musim sepatu hangat berbulunya.


"Apa ini tidak terlalu panas?" Tanya Sasha mulai merasa tak nyaman.

__ADS_1


"Ini musim gugur sayang, cuaca berangin malam hari dingin." Jawab Lion.


"Tapi rumah ini tidak terasa dingin meski luas." Balas Sasha membantah.


"Itu karena aku memang membuat rumah ini menjadi hangat. Udara dingin akan ternetralisir ketika menyentuh dinding rumah ini. Bahkan di musim bersalju pun kau akan terasa hangat tanpa pakaian jika di dalam sini." Lion menjelaskan.


"Bahkan teknologi seperti itu sudah bisa kau rancang?" Sasha tak percaya.


Lion tersenyum miring. "Sepertinya kau belum mengenal baik siapa suami mu ini." Lion gendong Sasha ala bridal style. "Alan sudah menyiapkan seratus buah petasan besar. Apa cukup?"


"Secepat itu dia bergerak?" Kaget Sasha. "Apa kau memperkerjakan nya terlalu keras!?"


"Dia mendapat bayaran yang setimpal untuk kecekatannya." Sahut Lion enteng.


"Berapa gaji sir Alan perbulannya?" Tanya Sasha penasaran.


"Seratus juta untuk pokoknya dan jika ada hal mendesak yang kau inginkan makan gajinya akan dilipat gandakan." Jawab Lion enteng.


"Seratus juta!?" Kaget Sasha. Matanya membulat menatap tak percaya wajah suaminya.


Sasha mematung tak membayangkan selama ini ia telah menyia-nyiakan waktunya dengan terus berpikir jika menginginkan sesuatu. "Apa aku bisa menjadi pegawai mu???" Tanya Sasha penuh harap.


Lion tertawa keras benar-benar terhibur dengan keluguan istrinya. "Aku tak mengerti cara berpikir mu Sasha. Padahal orang yang kau harap kan uangnya itu adalah pelayan mu sendiri untuk apa kau berkerja padanya. Kau hanya perlu meminta dan aku yang akan memenuhi." Ia cium pipi menggemaskan sang istri cukup lama. "Tapi akan lebih baik jika kau memberi ku hadiah tiap kali aku membuat mu senang. Apa aku terlalu tidak tau malu jika niat ku ini memiliki maksud terselubung?"


Sasha tersenyum simpul. Menatap wajah suaminya gemas. "Kau menggemaskan Lion, sungguh."


Lion tersenyum lebar. Wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia sangat senang mendapat pujian dari majikannya.


Duar!


Niat Sasha yang semula ingin memandang bunga api di langit seketika sirna. Mata hitam legam Lion seakan jauh memikat dibanding percikan yang sudah susah-susah Alan cari. Entah dimana sekarang posisi pria itu ketika menyalakan petasan tapi dengan kembang api sebesar itu seakan memenuhi langit malam diatas rumah Sasha.


Meski begitu memekak telinga juga indah di mata, namun Sasha tetap lebih memilih menikmati mata Aolion yang hanya memandangnya. Iris hitam legam yang hanya memperhatikannya. Semakin ia lihat semakin berdebar pula perasaan Sasha.


Sasha mengait tangan besar Lion. Menggenggamnya dengan lembut tanpa mengalihkan matanya dari pria itu.

__ADS_1


"Bisakah kau mengatakan kau mencintaiku Lion?" Pintanya dengan nada lembutnya.


Lion semakin melebarkan senyumnya. Diciumnya tangan Sasha yang menggenggam tangannya. "Aku mencintai mu Sasha, sepanjang waktu ku hanya ku habiskan untuk mencintaimu. Jadi aku harap kau mau memaklumi keserakahan ku yang berharap terus kau cintai."


"Aku.. "


"Membenci mu Ao."


Duar!


Lion membeku. Senyumnya hilang menatap tak percaya apa yang samar-samar ia dengar dari mulut istrinya. Wajah istrinya yang kini tersenyum manis membuat pikirannya runyam. Sebenernya apa yang ia dengar barusan?


Meski suara petasan sangat berisik dan mengganggu, tapi kalimat itu seakan terdengar jelas hingga membuatnya sesak padahal kini ia berada di tempat terbuka.


Sasha berpaling mulai memandangi langit yang dipenuhi kerja keras Alan malam ini. "Pasti banyak yang bertanya-tanya, perayaan apa yang terjadi malam ini. Pasti terdengar menggelikan jika mereka tau bahwa ini semua adalah hasil dari perbuatan bocah kecil yang memperbudak tuan muda Astrada yang terhormat."


"A-ah.. " tanggap Lion masih tak beralih menatap Sasha dengan raut mukanya yang kaku. "Anu, Sasha?"


"Hm?" Sasha menoleh ketika Lion memanggil namanya. "Ada apa?"


"Apa kau.. " Lion nampak ragu mengatakannya. Ia mengatupkan bibirnya rapat. Dalam kepalanya kini ia berpikir cepat untuk menyampaikannya atau tidak.


"Lion?" Panggil Sasha meminta Lion agar cepat mengatakannya.


Lion menggeleng. Ia ukir senyuman untuk menyingkirkan kecurigaan Sasha. "Aku hanya berpikir betapa cantiknya kau yang dihujani cahaya kembang api. Bukankah ini rasanya seperti percikan cinta remaja?"


Sasha mendengus geli. "Konyol! Kita sudah dewasa tuan."


"Ah maksud mu kau lebih suka percintaan dewasa yang penuh gairah? Wah kau nakal sekali Sasha!" Ledek Lion menggoda.


"Cih, jangan lemparkan selera mu pada ku Lion!"


"Oh ayolah aku tau kau juga menyukainya." Lion memeluk tubuh Sasha dari belakang sembari menciumi leher gadis itu.


"Lion ini geli, berhentilah menggigit!"

__ADS_1


"Hahaha!"


__ADS_2