CEO Serakah

CEO Serakah
BAB II : Hewan peliharaan


__ADS_3

Dirinya yang baru masuk dunia permodelan memang tidak begitu seterkenal seorang artis. Ia tak perlu mengenakan masker, topi ataupun jaket tebal untuk menutupi identitasnya saat berbelanja. Orang-orang hanya akan menganggapnya salah satu dari jutaan wanita cantik yang ada. Karena itu lah ia bisa menikmati acara berbelanjanya tanpa terbebani.


"Cobalah."


Sasha menoleh kaget mendengar suara yang baru kemarin ia dengar. Melihat Sasha yang menoleh kearahnya, Aolion pun sedikit memberinya senyuman. "Baju itu akan cocok dengan mu." Lanjutnya.


"Tuan bodyguard, apa anda sedang berbelanja juga?" Tanya Sasha mengabaikan saran dari si tuan. Ia tau baju ini akan cocok tapi ini terlalu kekanakan. Baju dengan motif HelloKitty memang kesukaannya. Tapi membelinya di depan orang ini pasti akan memalukan.


Aolion mengerutkan dahinya. "Apa aku terlihat seperti seorang bodyguard untuk mu?"


"Maaf apa saya salah?" Balas Sasha dengan polosnya.


Aolion menghela nafas menyerah. "Tidak, anggap saja begitu." Sahutnya tak begitu senang.


"Itu artinya saya salah!" Protes Sasha jengkel melihat pria ini seakan menganggapnya bodoh sama seperti pertemuan pertama mereka. "Baiklah saya minta maaf, jadi anda ini siapa?"


Bibir Aolion sejenak terdiam sebelum akhirnya menyebutkan nama panggilan yang ia rasa akan cocok keluar dari mulut mungil seorang Sasha. "Lion."


"Pffft, hahaha.. saya.. saya yakin anda sangat suka menggigit ketika kecil!" Sasha tidak bisa menahan tawanya mendengar nama dari pria kekar di depannya.


"Tidak. Aku tidak suka menggigit ketika kecil," Bantah Aolion dengan raut wajah seriusnya membuat tawa Sasha mereda. Tubuhnya mendekat dengan tatapan yang ia fokuskan hanya pada sosok gadis muda di depannya. Melihat Sasha yang terlihat gelisah dengan jarak ini membuat Aolion tak bisa menahan senyum puasnya. Matanya beralih turun fokus pada bibir merah muda milik Sasha. "Tapi aku mulai menyukainya, ketika aku dewasa."


Blush!


Sasha tidak bisa menahan diri untuk tidak merona. Bagaimana pun ia sudah cukup umur untuk mengerti kalimat-kalimat seperti ini. Pria ini, mesum!


"Aha..ha.. ha.. gigitan orang dewasa tentunya sangat menyakitkan tuan Lion.. sebaiknya anda berhenti." Sasha berusaha bergeser melepaskan diri dari zona berbahaya yang Aolion buat.


"Tidak juga," Aolion mundur menjauh membiarkan Sasha bernafas bebas. Ia menatap tubuh kecil Sasha yang ada di hadapannya. "Kau akan menyukainya."


Sasha yang sibuk menenangkan diri tak sempat mendengar dengan jelas kalimat dari Aolion. Ia kembali mendongak menatap pria itu. "Anda mengatakan sesuatu tuan Lion?"


Lion menggeleng. "Tidak ada. Sebaiknya kau ambilah baju itu. Aku bisa membayangkan kau memakainya. Tidak terlalu buruk." Ujarnya berkomentar. "Yeah meskipun aku lebih suka kau memakai baju yang disana."


Sasha menoleh kearah mana mata pria itu tertuju. Wajahnya yang baru saja sembuh kini kembali memanas. "Itu bukan baju, itu pakaian dalam tuan Lion!" Geramnya jengkel karena terus mendapat godaan dari pria ini.


Ia berlalu pergi berniat meninggalkan Lion, tapi tak ia duga pria itu terus mengekorinya bak anjing peliharaan.


"Tuan Lion, apa anda sedang mengikuti saya? Semua barang disini barang wanita." Sasha berujar tanpa menoleh kearah pria dibelakangnya.

__ADS_1


"Apa aku boleh berkata jujur?" Lion bertanya balik.


"Tentu saja anda harus jujur..." Sahut Sasha tak begitu perduli dan sibuk melihat-lihat alat kosmetik di meja etalase.


"Karena aku merindukan nona."


"Benarkah?" Balas Sasha tak berminat. "Tapi kemarin anda terus menatap saya tajam hingga membuat saya takut. Bahkan anda juga mengerjai saya dengan mengambil kembali minum yang sudah anda berikan."


"Ah itu, maaf saja jika itu membuat nona Sasha tersinggung. Saya hanya merasa tak senang karena terlalu ramai saat itu." Terlalu ramai yang melihat mu tertidur damai membuat ku jengkel Sasha. Lanjut Lion dalam hati.


"Hmm" gumam Sasha sambil membuka salah satu model bedak dan sedikit menciumnya. "Jadi anda melampiaskannya pada saya?"


"Tentu saja tidak."


Sasha menoleh. Ia angkat satu alisnya meminta penjelasan.


"Melihat nona Sasha membuat ku merasa jauh lebih tenang." Jawab Lion menghilangkan rasa curiga Sasha padanya. "Bukankah sekarang aku tidak lagi menakuti nona Sasha?"


Sasha menatap tak mengerti pria di depannya. Dengan tubuh yang sebugar ini dan wajah yang bisa terlihat begitu sangar, bagaimana bisa sekarang dia tampak seperti hewan peliharaan yang sedang mencari perhatian padanya?


"Jadi, kau ini.. fans ku?"


"Benarkah? Sebutkan tanggal lahir ku!" Pinta Sasha menuntut bukti.


"Sembilan September tahun sembilan puluh. Karena itu nona Sasha selalu menyukai angka sembilan, bahkan berencana memiliki impian menikah di tanggal sembilan pula." Jawab Lion dengan begitu terbukanya.


"I-impian apa maksud mu," Sasha membalik badan memunggungi Lion. Ia segera berlalu meninggalkan pria itu. Bagaimana bisa dia tau hal seperti itu? Ia yakin tak pernah membicarakan hal memalukan ini di depan media. Atau mungkin pernah? Sasha berusaha mengingat-ingat.


"Apa saya salah? Nona Sasha tak perlu khawatir. Mimpi sekecil itu pasti mudah mewujudkannya!"


Karena aku yang akan mengabulkannya untuk mu, nyonya Astrada.


.


Sasha menghembuskan nafas letih. Tubuhnya ia jatuh bebaskan diatas sofa panjang rumahnya. Ia tak menyangka pria itu benar-benar terus mengekorinya hingga banyak menarik perhatian. Yang menyebabkannya mereka tertarik bukan karena dirinya, tapi karena si tuan nakal itu yang terlalu tampan.


Dengan wajahnya yang semenawan itu, mengapa dia sangat berantusias mengejar ku? Aku yakin akan sangat mudah baginya mendapatkan wanita yang sama seperti ku. Pikir Sasha heran.


Ia angkat ponselnya dan mengarahkan layar ke wajahnya. "Sepertinya wajah ini tidak begitu spesial" gumam Sasha pelan memandangi pantulan wajahnya di layar hitam.

__ADS_1


Drrt! Drrt!


Sasha mengernyit melihat layar ponselnya yang tiba-tiba menyala. Mereka yang tau nomornya hanyalah mereka yang nomornya pun ia simpan. Tapi ini nomor asing dari mana?


Ia menghembuskan nafas lagi memikirkan sepertinya harus mengganti nomor. Dimatikannya layar panggilan itu mengabaikan orang yang menghubunginya.


Ting!


Sebuah notifikasi pesan masuk.


From : Unknow


To : Sasha


'Apa aku mengganggu waktu nona? Maaf kan aku nona, meski kita baru berpisah tapi aku tidak bisa menahan tangan saya untuk menghubungi nona Sasha..'


Sasha melebarkan matanya menatap tak percaya isi pesan yang jelas sangat menggambarkan siapa pengirimnya. Anak anjing itu, apa dia benar-benar setergila-gila ini!?


Dengan segera ia bangun dari rebahannya lalu menghubungi nomor tanpa nama ini. "Katakan dari mana kau dapat nomor ini? Apa, apa kau menguntit ku?!" tanya Sasha sedikit melirik was-was sekitarnya.


tawa dari Aolion membuat Sasha mengernyit tak senang.


"Tentu saja tidak nona, bukan hal sulit bagi ku mendapatkan nomor ini." jawab Lion dengan entengnya. "Ah ya, benar juga. Nona kan tidak tau pekerjaan saya."


Sasha terdiam. Yang Lion katakan benar. Pria ini hanya memberinya nama tanpa memberitahukan statusnya. Melihatnya bisa mendapatkan nomor ini dengan mudah membuatnya mulai merasa ngeri. "Apa kau, seorang hacker?" tanya Sasha memastikan.


"Aku tidak bisa bilang tidak. Aku memang cukup handal tapi itu bukan perkerjaan tetap ku." balas Lion membuat Sasha kian cemas.


"Apa nona mengenal Helian Astrada?" tanya Lion berbasa-basi.


"Berhenti bercanda, siapa yang tidak mengenal presiden-" Sasha tak melanjutkan kalimatnya. "Kau putra-tidak, pak Helian hanya memiliki dua putri. Apa kau anak simpanannya!?" pekik Sasha kaget sendiri dengan dugaanya.


Ditempatnya Lion tidak bisa menahan tawanya karena membayangkan betapa menggemaskannya calon istrinya itu. "Tidak begitu nona, bagaimana bisa anda dewasa dengan menggemaskan seperti ini?" goda Lion.


"Tutup mulut manis mu itu Lion! jadi kau ini siapa?"


"Aku hanya keponakannya." jawab Lion santai. "Keponakan yang berhasil menjadikannya presiden. Aolion Astrada."


DEG!

__ADS_1


__ADS_2