CEO Serakah

CEO Serakah
BAB XX : Hadiah untuk Lion


__ADS_3

Alya tertawa gemas melihat betapa polosnya Sasha saat menantikan jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan. "Ini masih enam bulan jadi masih tidak begitu terasa tapi cukup merepotkan karena dia terlalu banyak menendang."


Sasha mengangguk-angguk antusias. "Bagaimana dengan tidur mu?"


"Tentu saja kita hanya bisa tertidur menyamping atau terlentang. Kau tak perlu cemas kau akan menimpanya. Khayalan itu tak akan terjadi." Jawabnya seakan tau apa yang Sasha pikirkan.


Sasha kembali mengangguk seakan mendapat ilmu baru. "La-lalu.. apa.. benar-benar tidak apa-apa ketika hamil besar berhubungan 'itu'?" Tanya Sasha malu-malu. "Pasalnya suami terus berharap aku segera mencapai usia enam bulanan, itu.. itu membuat ku cemas.."


Alya mendengus. "Semua laki-laki ternyata sama ya. Febian juga sama, dia langsung menyerang ku setelah yakin bahwa kandungan ku sudah sehat dan akan baik-baik saja."


Wajah Sasha mulai memanas. "Ja-jadi tidak papa ya.."


"Tapi kau harus memperingatkan suami mu agar tidak lupa diri!" Tegas Alya.


Sasha mengangguk patuh dengan wajahnya yang begitu memerah. "Tentu saja!"


Alya benar-benar gemas dengan perempuan muda ini.


"Bisa tolong kau panggilkan robot mu itu? Aku ingin berkata kue buatannya benar-benar sangat nikmat." Minta Alya.


Sasha mengangguk. "Mil."


Syung!


Meski sudah sempat terkejut, tapi melihatnya datang terbang menghampiri dari kejauhan membuat Alya tetap saja terkaget-kaget kagum. "Kau bahkan bisa memanggilnya dengan suara pelan dari jarak sejauh ini!?"


"Apa ada yang anda butuhkan nyonya?" Tanya Mil dengan ramahnya.


"Namanya Mil ya," Alya bangun dari duduknya. Ia merunduk dengan hati-hati menyentuh Mil. Mik terlihat jelas sangat senang ketika ia belai. "Seperti hewan peliharaan!" Kagum Alya.


Sasha mengangguk setuju. "Kau benar, mereka berdua menggemaskan dan cerdas!"


"Kue buatan mu sangat lezat Mil, terimakasih." Puji Alya tulus.


"Saya akan senang jika nyonya Willson sering datang kemari mengunjungi nyonya kami. Tuan Astrada berpesan anda harus sering-sering menemani istrinya." Jawab Mil sekaligus menyampaikan pesan dari Lion untuk Alya.


Alya mendongak kaget. "Secepat ini dia tau aku datang? Sepertinya teknologi di tempat ini terlalu jauh lebih maju ya.."

__ADS_1


"Aku juga tak begitu mengerti tapi memang Lion sangat memantau diri ku dengan baik. Jadi meski aku hanya bersama dua robotnya ini, aku tetap merasa aman." Timpal Sasha tenang.


.


Melihat mobil suaminya sudah masuk ke halaman rumah membuat Sasha bersemangat segera keluar kamar berniat menyambutnya.


Mil yang berjaga di luar kamar segera ikut berlarian mendampingi sang nyonya takut-takut Sasha terjatuh karena ia berlarian sekarang.


Tepat ketika pintu utama membelah diri mempersilahkan sang pemilik rumah masuk, Sasha pun langsung berhambur memeluk tubuh suaminya.


"Hey hey babe, ada apa ini?" Kaget Lion karena Sasha yang langsung menubruknya cukup keras hingga membuatnya sedikit terdorong ke belakang.


Lion mengusap punggung Sasha pelan. "Ada apa Sasha?"


"Aku merindukan mu." Sasha mengutarakan perasaannya. Ia eratkan pelukannya, semakin menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang suaminya. Menghirup aroma segar Lion yang mengguar. Sudah Sasha duga, pria ini memang tak berkeringat.


Lion terkekeh pelan mendengarnya. "Kau merindukan ku? Coba tunjukkan wajah mu." Pintanya lembut.


Sasha menggeleng menolak dan masih tetap memilih memeluk Lion erat. "Aku malu." Jujurnya. Karena memang saat ini wajahnya sudah begitu merah sekarang.


"Ayolah sayang, aku juga harus melihatnya." Mohon Lion. "Ya?"


Lion tangkup wajah Sasha dengan kedua tangannya. Ia angkat wajah itu agar mau melihatnya. "Lihatlah betapa menggemaskannya diri mu sekarang." Celetuk Lion menggoda.


Sasha mengembung kan kedua pipinya. Bibirnya mengerucut sebal. "Apa lucu jika istri mu sendiri merindukan mu?"


Lion rendahkan kepalanya mengecup singkat bibir mungil Sasha gemas. "Tentu saja aku senang. Tenang saja Sasha. Tidak lama lagi pembangunan gedung utama di samping rumah kita akan segera selesai. Kau bisa langsung menemui ku kesana jika kau merindukan ku lagi saat aku sedang berkerja."


Sasha menganga tak percaya. "Mak-maksud-maksud mu pembangunan besar-besaran itu adalah gedung buatan mu!?"


Lion mengangguk. "Kantor ku yang sekarang terlalu jauh untuk mu. Jadi ku buatkan yang lebih dekat agar kau bisa mengunjungi ku setiap saat."


"Berapa banyak uang yang kau buang hanya untuk hal seperti itu Lion?!" Sasha memukul dada bidang pria itu tak percaya. "Ya Tuhan, harusnya kau tak melakukannya! Perusahaan mu yang sekarang bahkan hanya lima belas menit dari sini!"


"Lima belas menit itu cukup untuk membuat mu menghabiskan tiga potong kue buatan Mil. Aku tak mau waktu mu terbuang dalam perjalanan." Balas Lion membantah.


"Lagi pula Sasha, aku tak mengerti mengapa kau terdengar begitu mencemaskan keuangan ku. Apa kau menghina ku?"

__ADS_1


Sasha menggeleng cepat. "Aku hanya, aku masih belum terbiasa.."


"Jika kau mau aku bahkan juga bisa membuat rumah teman mu yang pagi ini datang itu berada di depan rumah kita." Celetuk Lion enteng.


"Sungguh!?" Sasha berseru terlalu bersemangat. Menyadari keinginannya yang begitu jelas terbaca membuatnya tersentak kaget. "Ah tidak, aku tidak benar-benar mengharapkannya.."


Lion terkekeh pelan. "Katakan pada teman mu itu untuk bersiap pindah dalam lima hari."


Sasha menggigit bibir bawahnya gemas sendiri melihat betapa berkuasanya suaminya ini. "Apa.. ada sesuatu yang bisa ku berikan sebagai imbalan agar aku setimpal?"


Lion semakin merapatkan tubuhnya pada Sasha. "Apa kau akan memberikannya?"


Sasha mengangguk. "Selama itu bukan hal yang aneh aku akan memenuhinya."


Senyuman Lion mengembang menatap bersemangat kearah istrinya. "Setuju."


Sasha terus bergerak gelisah. Tangannya meremas kuat kasur yang ia tiduri, menahan diri agar tidak menyingkirkan Lion dari tubuhnya. Dirinya sama sekali tidak bisa memejamkan mata karena terganggu oleh setiap pergerakan yang Lion lakukan pada tubuhnya.


"Sssh.. Lionnh.." panggil Sasha gelisah. Ia melirik kearah suaminya yang masih begitu nyaman mengendusi tubuhnya. "Bisakah kita engh.. tidur sekarang?"


"Hmm.." Lion tak begitu menyahuti karena ia tengah asik sendiri dengan kegiatannya. Ia buka mulutnya meraup kulit leher Sasha. Menghisapnya lembut.


Tubuh Sasha meremang merasa geli yang amat kuat karena leher termasuk titik tersensitif baginya. "Lion.. " lirih Sasha.


Lion melepaskan hisapannya pada kulit Sasha. Menyandarkan kepalanya di ceruk leher wanita yang tubuhnya terasa gemetar dalam rengkuhannya. "Kau bisa tidur lebih dulu sayang, kau tak perlu menemani ku."


Sasha menatap sayu pria disampingnya ini. Tubuhnya begitu lemas juga terasa panas. "Aku tak akan bisa tidur jika tangan mu terus meraba liar tubuh ku.. " ucapnya parau.


Melihat wajah Sasha yang begitu satu dengan pipinya yang memerah membuat Lion gemas sendiri ingin segera menerkamnya. Ia dengan cepat mengangkat tubuhnya menawan bibir Sasha dengan agresif.


Sial!


Lion meremas kuat seprei kasurnya. Menguatkan diri untuk mengiklas kan diri menjauh dari tubuh istrinya. Keduanya terengah tersiksa akan nafsu yang mereka pancing sendiri.


"Tidurlah." Lion memberi perintah dengan suara beratnya.


Sasha mengangkat satu tangannya membelai wajah suaminya. "Bagaimana jika kita lakukan dengan hati-hati..?"

__ADS_1


"!?"


__ADS_2