CEO Serakah

CEO Serakah
BAB III : Lamaran


__ADS_3

"Kau.. siapa?"


"Aolion Astrada nona." Ulang Lion dengan santainya tak tau bahwa saat ini petir tak kasap mata tengah menyambar Sasha yang ia idolakan hanya karena pengakuannya barusan.


Sasha tertawa kaku. "Ha,ha.. ha.. ka-kau berniat menipu ku? Tuan muda Astrada tidak suka menggoda wanita seperti mu.." meski begitu dengan tergesa Sasha menuju kamarnya untuk menyalakan komputernya. Karena ia sendiri tak tau bagaimana rupa keturunan terhormat itu.


"Itu hanya rumor nona, tentu saja aku menyukai wanita. Ah tidak, maksud ku hanya nona Sasha yang ku suka hehe.."


Tak!


Sasha menutup mulutnya menahan pekikannya saat gambar pemuda terhormat di negaranya ini memenuhi layar komputernya. Wajah ini, benar-benar wajah pria yang menemaninya belanja siang tadi. Wajah Lion!


"Tu-tuan muda Aolion.." gagap Sasha dengan tubuhnya yang kaku.


"Hoho, sepertinya nona Sasha mencari tau tentang ku ya, aku jadi malu" ucap Lion dengan malu-malu. "Bagaimana? Apa foto ku yang di internet juga tampan dengan diri ku yang nona lihat? Jika menurut nona jelek, akan ku minta orang lain untuk menggantinya sesuai selera nona Sasha."


Apa disaat seperti ini hal itu penting!?


Sayang sekali Sasha hanya bisa meneriakkan hal seperti itu dalam hatinya yang tak bersuara. Di kepalanya kini ia sibuk melihat rekaman ingatan dua pertemuannya dengan seorang Aolion. Menghitung berapa kali ia telah berlaku kurang ajar untuk menghitung berapa banyak hukuman yang akan ia terima.


"Nona Sasha tolong katakan sesuatu, jangan membuat ku berdebar menantikan penilaian dari nona!" Desak Lion mengabaikan keadaan Sasha yang seakan mati rasa di tempatnya.


"Apa nona Sasha baik-baik saja? Sepertinya aku harus datang sendiri ke kamar nona untuk memastikan!"


"Kau apa!? Tidak tidak! Aku-em.. saya, saya baik-baik saja sekarang, haha.. saya hanya masih sedikit terkejut, maafkan saya.." jawab Sasha tergesa setelah kesadarannya kembali berkat kalimat Aolion yang seakan mengancamnya.


"Jika nona memakai bahasa formal pada ku itu akan membuat ku sedih nona, tolong tetap panggil aku Lion seperti sebelumnya.." mohon Lion dengan suara merengeknya. "Bagaimana jika ku panggil dengan Sasha saja lalu Sasha juga memanggil ku Lion. Ini sangat bagus bukan?" celetuk bocah itu tanpa berpikir panjang.

__ADS_1


Mana bisa bocah! Teriak Sasha dalam hati, sekali lagi. Sasha mulai merasakan denyutan di kepalanya. Bahunya yang sebelumnya terasa ringan kini mulai dijatuhi beban hanya karena seorang Astrada.


"Apa kau tak senang jika aku bergelar Astrada? Baiklah kita bisa menggantinya. Aku tak keberatan memakai marga Berlyn!" Ucap Aolion dengan begitu ringannya semakin membuat Sasha tertohok.


"To-tolong jangan mengatakan hal-hal yang aneh Li-lion.. " uwaaaa, canggungnya. Bagaimana bisa aku menganggap pria terhormat ini sebagai hewan peliharaan sebelumnya. Ku rasa aku benar-benar gila!


Tunggu!


Jika dia Aolion Astrada, itu artinya orang-orang itu bukan berbisik-bisik karena ketampanannya saja, tapi juga karena dia seorang Astrada bukan!?


Dengan secepat kilat tangannya kembali bergerak mencari hal yang seketika ia cemaskan.


"Apa tidak boleh?" Keluh Lion yang tidak Sasha pedulikan. Gadis itu kini tengah sibuk mencari sesuatu yang-


"Ya Tuhan.." Sasha menatap tak percaya. Seingatnya ia baru sampai dan langsung dihubungi pria ini. Tapi berita ini begitu cepatnya meluas hingga menjadi trending utama di media berita.


"Sasha sedang membaca berita hari ini ya? Benar-benar berita yang jelek bukan?" Ucap Lion berpendapat setelah menduga apa yang sedang Sasha lakukan. Ia tidak menduga sebenarnya, ia memang sedang melihat pujaan hatinya melalui layar Tv lebarnya.


"La-lalu apa yang akan kau lakukan dengan berita-berita bohong ini? Ah jika anda sibuk, saya bisa menggantikan anda untuk mengatakannya pada media!" Sasha memberikan saran.


"Tidak, pasti mereka akan berkata yang tidak-tidak pada Sasha." Tolak Aolion dengan penuh perhatian. "Biar aku saja yang tangani. Mereka seharusnya tidak sembarangan menulis berita!"


Sasha tersenyum kecut. "I-itu benar." Tangannya meremas kuat mouse putih miliknya. "Tidak masuk akal sekali kan mereka menyebut kita kekasih."


Aolion menahan tawa melihat ekspresi Sasha yang terlihat menahan kekesalannya. "Tentu saja. Harusnya mereka menyebut kita sepasang suami-istri bukan? Apa mata mereka buta tidak melihat betapa cocoknya kita berdua."


"Tolong berhenti bercanda tuan Aolion!" Sasha meneriaki ponselnya dengan gemas menahan amarahnya. Ternyata memang tidak bisa baginya menghormati pria yang terus menggodanya ini. Tidak, benar-benar tidak bisa. Tidak mungkin ia bisa berlaku sopan pada pria muda yang tidak memiliki wibawa seperti Aolion. Mendengar pria itu berbicara dan melihatnya bertingkah, bagi Sasha itu telah menghapus gelar besar Astrada milik Aolion.

__ADS_1


Aolion tertawa puas kini bisa membuat Sasha kembali lepas tak memperdulikan statusnya. "Dibanding aku, sepertinya Sasha jauh lebih ingin menggigit sekarang."


"Yeah sepertinya kau benar, harusnya aku juga menyandang nama Lion dalam nama ku." Ucap Sasha menekankan kata Lion untuk menunjukkan emosinya.


"Tidak, singa tidak cocok untuk Sasha yang begitu manis. Sasha itu lebih pantas menjadi kucing."


"Haruskah itu kau pikirkan?" Dipeganginya kepalanya yang terasa pening. Ia terdiam mengingat sesuatu. Bukankah seharusnya banyak panggilan atau pesan masuk di ponselnya. Sampai saat ini tak ada notifikasi apapun yang ia dengar.


"Apa yang Sasha pikirkan?" Tanya Lion melihat raut wajah Sasha yang tampak kebingungan melihat ponselnya. Yeah meskipun ia tau apa yang gadis itu pikirkan tapi ia harus bertanya dulu bukan, atau ia akan ketahuan memata-matai gadis kecil itu.


"Tidak, aku hanya terkejut karena hingga saat ini hanya telpon dari mu yang masuk." Jawab Sasha jujur.


"Oh itu, tentu saja itu karena aku tak ingin diganggu saat sedang berbicara dengan Sasha." Jawab Lion dengan entengnya. Matanya bergulir menatap layar laptop diatas mejanya. "Semua panggilan dan pesan tak berguna itu masuk pada ku." Ucapnya dingin.


Huwaa, benar-benar hacker sejati. Puji Sasha dalam hati melihat betapa cepatnya Lion bertindak. Yeah meski tingkahnya memang sedikit mengejutkan namun tidak bisa dipungkiri bahwa dia ada jenius Astrada.


"Meski ini kau lakukan untuk dirimu sendiri tapi terimakasih." ucap Sasha tulus sembari tersenyum mengingat betapa cepatnya tindakan Aolion hanya untuk berbincang menenangkan dirinya. Jika saja pria ini tidak menghubunginya dan membuatnya membuka sendiri berita ini. Pasti panggilan-panggilan dari orang-orang akan terus berdatangan membuatnya stress.


Pria ini seakan tau apa yang akan terjadi dan datang membuatnya jauh lebih baik.


Aolion tak tau lagi mengapa senyuman manis itu seakan mampu membunuhnya. Ia memang selalu sulit menghadapi perempuan yang satu ini. Disaat itu, ataupun saat ini. Mana mungkin ia bisa memberikan masa muda Sasha ini pada pria lain. Mengingat hal itu membuatnya mendengus tak senang.


"Sasha,"


"Hm?" Sasha menanggapi dengan gumaman.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanyanya lagi setelah cukup lama tidak mendapat jawaban dari Aolion.

__ADS_1


Aolion menghembuskan nafas kasar. Ia mendengus pelan menyadari betapa tidak sabarannya dirinya ini.


"Bisakah kita menikah segera?" tanya Aolion setelah menyerah dengan kesabarannya yang begitu tipis.


__ADS_2