CEO Serakah

CEO Serakah
BAB XII : Hari-hari masa kehamilan


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya?! Apa istri ku baik-baik saja? Katakan apa yang terjadi padanya?! Kenapa dia terlihat kesakitan???" Lion langsung menghujani sang dokter dengan pertanyaan-pertanyaannya.


"Nyonya Astrada baik-baik saja tuan, hanya saja mungkin karena kehamilan usia dini dengan tubuhnya yang cukup renta seakan belum siap jadi beliau sedikit mengalami rasa sakit dan pusing yang membuatnya semakin lemah dan terjatuh." Jawab sang dokter menjelaskan kondisinya.


"Ini salah ku.. ini salah ku.. harusnya tidak seperti ini.. dia.. " racau Lion dengan tubuhnya yang gemetar kaku tak berdaya. "Harusnya aku tak terburu-buru.. harusnya memang aku tak segera menikahinya.. dia.. dia seharusnya tidak secepat ini.. "


"Tuan, nyonya akan baik-baik saja selama ia mengonsumsi vitamin dan tidak melakukan hal berat, jadi Anda tidak perlu khawatir." Sang dokter buka suara melihat betapa kacaunya kondisi Aolion dibandingkan sang istri. Benar-benar sosok pria yang sangat mencintai istrinya. Tidak, lebih tepatnya pria ini benar-benar menggilai istrinya.


Sasha tersenyum geli melihat suaminya yang tidak kunjung mendapat ketenangan meskipun sang dokter sudah menjelas kondisinya.


"Anda boleh pergi dokter. Terimakasih." Sasha mempersilahkan karena ia rasa sudah tidak ada lagi yang harus wanita itu lakukan disini.


"Baik nyonya. Saya harap anda segera pulih. Saya permisi." Pamit sang dokter undur diri meninggalkan kedua pasangan suami istri ini.


"Lion kemari lah.." pinta Sasha dengan suara lemahnya. Karena sejak tadi Lion seakan tidak benar-benar memandangnya. Pria itu tenggelam dengan pikirannya sendiri sembari menatapnya kosong.


"Lion..." Panggilnya lagi karena masih belum digubris.


"Aolion.."


Lion tersentak kaget saat tangan istrinya menggapai tangannya. Ia menatap istrinya yang baru saja menegurnya. "Sasha maafkan aku, aku,"


Sasha angkat kedua tangannya memberi isyarat agar pria itu memberinya sebuah pelukan. "Kemari lah.."


Lion menghembuskan nafas berat. Ia pun menuruti kemauan sang istri. Memeluk dengan hati-hati harta berharganya ini. Seakan sedikit sentuhan saja akan membuatnya hancur. "Aku hanya menyesal tak memikirkan kehamilan muda terkadang bukan hal yang selalu berjalan lancar. Harusnya kita bicarakan ini terlebih dahulu. Apa masih sakit?"


Sasha menggeleng dalam pelukan Lion. "Aku tidak sakit Lion, aku hanya merasa pusing dan juga lemas. Kau tak perlu berlebihan. Setelah kehamilannya memasuki usia lima bulanan pasti semuanya akan baik-baik saja." Ujar Sasha dengan niat untuk tidak semakin membuat sang suami cemas. "Anak mu pasti kuat Lion, percayalah. Dia akan menjadi jagoan yang akan melindungi ku sama seperti ayahnya."

__ADS_1


Dicium berkali-kali kepala Sasha dengan penuh kasih sayang. Rasa takutnya akan kehilangan sang istri mulai sedikit mereda dengan belaian tangan kecil dari Sasha yang terus mengusap rambutnya. Semua yang ia mulai akan ia rapikan dengan baik. Lion tak akan membuat ini menjadi penyesalan.


.


"Kau berhenti berkerja?!" Kaget Sasha dengan keputusan sang suami.


Dengan bangganya Aolion menganggukkan kepala menyatakan diri sebagai pria pengangguran.


"Tapi-tapi kenapa?" Heran Sasha dengan kejutan di pagi hari ini.


"Tak mungkin kan aku membiarkan mu kesepian, bosan dan jenuh di rumah tanpa ku" Ia memberikan alasan mogok kerjanya dengan santai. "Orang ku akan mengurusnya sayang, tenang saja. Kau masih bisa hidup nyaman bahkan jika aku tak berkerja sekalipun."


Sasha menepuk jidatnya lelah. Padahal rumah sudah penuh dengan para wanita dan pria yang sudah berumur untuk membantu semua perkerjaan. Namun kini Aolion pun ikut andil membuat ramai rumah. "Aku benar-benar tak pernah menduga akan menikah dengan seorang pengangguran.." ia menghela nafas pasrah.


Lion berlutut membelai perut yang masih rata milik istrinya. "Sayang, kau tidak boleh membuat mommy mu sakit ok? Kau harus jadi jagoan kecil yang kuat. Daddy menunggu mu baby"


Lion sandarkan kepalanya pada perut sang istri. Sasha pun meletakan tangannya diatas kepala Lion, membelai rambut pria itu dengan lembut.


.


"Sasha" panggil Lion.


"Hmm?" Sasha menoleh menghentikan gerakan tangannya yang sedang menggulir layar tab nya. Dahinya mengernyit melihat sang suami yang tengah mengangkat bra miliknya dengan pandangan yang sedang mengamati. "Apa yang mau kau lakukan dengan itu Lion?"


"Bukankah ukuran mu sudah bertambah sayang? Kita harus buang semua ini dan menggantinya dengan ukuran cup C kan?" Celetuknya sembari balas menatap sang istri.


"Hmm, aku juga berniat mengajak mu keluar hari ini," balas Sasha dengan gumaman tak berarti karena ia kembali sibuk pada benda kotak yang ia pegang di tangannya. "Ngomong-ngomong Lion, bagaimana cara mu tau perubahannya? Kau bahkan bisa menebak ukuran ku. Apa terlihat jelas?"

__ADS_1


"Itu tentu saja karena aku tiap hari menyentuhnya." Jawab Lion dengan entengnya.


Sasha mendengus jengah mendengar betapa tidak tau malu nya suaminya ini. Sasha meremas kuat tab yang ia pegang sebagai penyalur rasa malu yang ia alami akibat dari kalimat frontal suaminya. "Dasar pria mesum." Hinanya dengan sarkatis, berusaha tidak terlihat terlalu tenggelam dalam godaan Lion. "Seingat ku kau adalah pria yang dengan penuh percaya diri berjanji tidak akan menyentuh ku selama masa kehamilan." sindir Sasha sinis.


"Aku hanya menyentuhnya saat kau tidur Sasha, kau juga tidak terganggu kan?" Balas Lion enteng tanpa rasa bersalah sambil kembali memasukan bra yang barusan ia pegang kembali ke dalam sangkarnya.


"Atau kau mungkin diam-diam menikmatinya?" Goda Lion sembari mengerling nakal ke arah sang istri.


"Pria memalukan!" Ejek Sasha secara gamblang karena semakin dibuat memanas oleh Lion. Ia yakin kini wajahnya sudah sangat merah.


Lion berkaca pinggang, menatap istrinya yang kini memicing tajam menunjukkan sikap permusuhan padanya dengan wajah merona nya yang menggemaskan. Ia tersenyum menyeringai menunjukkan raut wajah angkuhnya. "Baby apa kau tak ingat siapa suami mu ini? Aku tidak suka menyombongkan diri tapi kau lah yang memaksa ku melakukannya. Aku pria tampan jenius Sasha. Tidak tepat jika kau memberikan hinaan untuk ku."


Sasha memutar bola matanya jengah melihat betapa tidak mau mengalah nya tuan Astrada satu ini. Ia menopang dagunya menatap Lion serius. "Keluar lah Lion, kau bisa kembali setelah satu jam."


Lion mengangkat satu alisnya tak mengerti akan perintah istrinya barusan. "Apa kau ingin donat coklat dengan lima belas butir potongan kacang diatasnya lagi?"


"Tidak." Jawabnya cepat. "Aku sedang tidak ingin melihat mu."


Lion memiringkan kepalanya menatap istrinya heran. "Kau... sungguh?"


Sasha hanya mengangguk sembari tersenyum sebagai jawaban.


Lion mengangkat tangan pasrah. "Baiklah aku turuti, aku akan keluar" Lion berbalik badan melangkah menuju pintu kamar lalu keluar.


"Aku akan di depan pintu Sasha, ingat lah bahwa suami mu sedang bersedih layaknya gelandangan di depan pintu kamar! Kau harus segera berbelas kasih dan meminta ku masuk mengerti?!"


Sasha membuang nafas keras mendengar ocehan tak masuk akal dari Lion yang kini sudah ada di luar kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2