
"Jadi kau hanya ingin berkata hubungan mu dengan keluarga mu tidak baik seperti yang media katakan?"
Lion mengangguk membenarkan ucapan istrinya.
"Apa pelaku penembakan kemarin juga kau Lion?" Tanya Sasha meminta jawaban. Tidak, sebenarnya Sasha sudah tau. Ia hanya ingin Lion mengatakannya sendiri.
"Hm, hubungan kami memang sudah sampai ke tahap itu." Jawab Lion jujur. "Tapi kau tenang saja sayang. Pria tua itu tak akan bisa menyentuh mu bahkan seujung kuku pun." Tambah Lion agar istrinya tidak cemas.
"Dia seorang presiden Lion! Bagaimana bisa kau setenang ini? Apa yang akan kau lakukan jika dunia tau?" Cerca Sasha tak bisa tenang begitu saja seperti apa yang Lion harapkan.
Lion menghela nafas panjang. "Sudah ku duga kau akan khawatir." Ia genggam kedua tangan Sasha dengan lembut. "Aku sungguh tidak sedang menyombongkan diri ku ketika aku meminta mu untuk tidak cemas. Karena faktanya memang tidak ada yang perlu ku cemaskan."
"Lion tetap saja-"
"Sasha dengar aku." Potong Lion meminta perhatian. "Dia memang seorang pemimpin negara ini tapi apa kau lupa siapa yang menjadikannya bisa mendapatkan posisi itu?"
Sasha terdiam. Benar saja ia melupakannya. Suaminya lah yang membuatnya berhasil menduduki posisi tertinggi negara ini yang artinya suaminya jauh lebih tinggi darinya.
Lion tersenyum puas telah berhasil membuat istrinya sedikit merasa tenang. "Aku melakukan sedikit kesalahan hingga membuat orang itu berkuasa. Tapi kau tak perlu cemas, kekuasaan ku masih jauh lebih tinggi diatasnya."
Sasha membuang nafas berat. "Sebenernya siapa yang ku nikahi ini." Keluh Sasha.
Lion tertawa gemas. "Aku hanya pria polos yang kau jerat dengan pesona kacau mu Sasha. Benar-benar malang sekali nasib ku ini kan?"
Sasha mengernyit tak senang akan pernyataan tersebut. "Kau lah yang mengurung ku untuk diri mu sendiri tuan Aolion."
Lion angkat tubuh Sasha yang semula duduk disampingnya kini sudah berada diatasnya. Ia baringkan tubuhnya dan membawa tubuh Sasha berbaring juga menimpanya. "Perut mu tidak tertekan kan?" Tanya Lion cemas.
Sasha menggeleng. "Tidak masalah."
Lion belai rambut Sasha yang tergerai. "Sasha boleh kah aku bertanya?"
Mendengar yang meminta izin terlebih dulu sepertinya ini cukup sensitif. "Katakanlah." Sasha mengizinkan.
"Jika aku meninggalkan mu demi menemui mu, apa kau akan membenci ku?" Tanya Lion karena terus merasa terganggu akan sesuatu.
"Aku akan membenci mu jika kau tidak kembali." Sasha memberi jawaban. Sasha mengangkat setengah tubuhnya. Menatap Lion yang berbaring dibawahnya. "Apa kau berencana meninggalkan ku?"
Lion tersenyum kecut. "Mana mungkin aku sanggup. Aku hanya bertanya sungguh."
__ADS_1
"Kau mencurigakan Lion." Tuding Sasha.
Tangan Lion terangkat membelai wajah istrinya. "Sungguh aku hanya bertanya. Kau pikir pria seperti ku bisa bertahan pergi jauh dari mu?"
Sasha tak beranjak. Ia masih menatap wajah Lion mencari sesuatu disana. Ia merasa yakin Lion memang menyembunyikan sesuatu dari pembahasan kali ini tapi ia benar-benar tak bisa menemukan sesuatu di mata pria itu.
Seperti yang Lion katakan. Pria itu tak bisa bertahan lama jika jauh darinya.
Sasha membuang nafas berat. "Kau selalu menyebut ku bunga yang indah bukan?"
Lion singkirkan rambut Sasha yang menghalangi wajah cantiknya. "Tentu saja. Kau bunga terindah ku yang berharga."
"Karena itu kau harus selalu menjaganya Lion, karena bunga akan layu tanpa mataharinya." Tukas Sasha menyelipkan permohonannya. "Jadi jangan buat alasan apapun untuk pergi. Apapun Lion. Bahkan jika alasan itu adalah diriku."
Tangan Lion berhenti bergerak. "Hmm, aku janji."
Bohong.
Entah sudah yang ke berapa kalinya Lion membohongi wanita yang ia cintai ini. Meski begitu ia masih tetap berpikir bahwa semua yang ia lakukan adalah untuk Sasha dan ia merasa ia tidak meninggalkan Sasha. Pemikiran yang egois memang jika hanya berpikir bahwa Sasha bahagia saat ini. Padahal nyatanya ia tak bisa melupakan kecemasannya mengenai 'istrinya' yang terus memanggil-manggil dirinya.
.
Sasha menurunkan gelas yang masih berisikan susu coklatnya. "Ada apa Mil?"
"Tamu pertama akhirnya tiba! Tamu pertama!" Seru Mil nampak bersemangat.
Sasha mengangkat alisnya. Lion mengizinkan seseorang menjadi tamunya?
"Tunjukan pada ku." Titah Sasha pada Mil.
Wajah Mil seketika berubah menjadi rekaman bagian depan rumah Sasha. Disana terlihat seorang wanita yang terlihat canggung berjalan di halaman sedang menuju rumahnya.
Matanya melebar. "Itu Alya!"
Sasha tak percaya ia benar-benar mendapat kunjungan 'normal' dalam rumahnya. Dengan segera ia keluar menemui Alya yang telah Hil sambut di depan sana.
"Alya!" Panggil Sasha setengah berteriak saat ia melihat Alya dipandu Mil ke dalam rumahnya.
Alya menoleh mendengar teriakan cempreng itu. "Ya Tuhan Sasha!"
__ADS_1
Baik Alya mau pun Sasha keduanya bergegas mendekat seakan lupa bahwa dalam perut mereka terdapat mahluk hidup sekarang.
Sasha mendekapnya erat. "Kau lama sekali datangnya, aku merindukan mu!"
"Aku baru berhenti berkerja minggu lalu, waktu ku tak seluang dirimu nyonya Astrada." Sindir Alya.
Sasha tertawa geli. Ia lepaskan pelukannya, menatap Alya dari atas sampai bawah. "Lihat lah betapa sehatnya si Willson junior." Sasha menatap Alya kagum yang masih sempat berkerja bahkan ketika ia hamil.
Alya mendengus tak percaya. "Dia sangat merepotkan ku akhir-akhir ini. Daripada milikku, aku lebih kagum pada gen hebat yang bersemayam dalam perut mu."
"Akan kau beri nama siapa putra pertama mu?" Tanya Sasha penasaran.
"Jaydent Willson." Jawab Alya. "Itu nama yang suami ku pilihkan."
Sasha membungkuk menatap perut besar Alya. "Kau harus berteman dengan anak Tante ya Jay."
Sasha kembali menegakkan tubuhnya. "Ayo duduk. Robot rumah tangga ku sudah menyiapkan hidangan dengan penuh semangat karena kau tamu pertama yang ia layani. Ku harap kau menyukainya."
"Ah ya itu!" Alya teringat sesuatu. "Robot kecil yang menyambut ku juga terlihat begitu antusias. Tuan Astrada benar-benar luar biasa bisa menciptakan benda ramah seperti itu."
Sasha mengajak Alya bercengkrama di taman dalam ruangan yang Lion buatkan agar ia tak perlu keluar ketika musim dingin.
"Bagaimana hari-hari pernikahan mu? Sepertinya kau cepat beradaptasi meski perubahannya terlihat begitu drastis." Ucap Alya berkomentar setelah mengamati Sasha yang terlihat begitu nyaman sekarang.
Sasha tersenyum bangga. "Aku juga tak tau mengapa. Tapi Lion selalu membantu ku terbiasa."
"Apa tak ada kesulitan? Kau bisa bercerita pada ku sekarang." Celetuk Alya berharap Sasha tidak menyembunyikan apapun darinya.
Sasha menggeleng menghilangkan kecemasan temannya. "Aku baik-baik saja selama ini. Bahkan terlalu baik-baik saja hingga membuat ku cemas takut-takut ini hanya mimpi."
"Sungguh?" Alya tak yakin. "Kau selalu berkata baik-baik saja juga dalam pesan mu. Aku khawatir kau tak berani mengeluh takut suami mu akan tau. Bagaimana pun juga kalian bukan pasangan yang lama saling mengenal. Perselisihan bukan hal yang aneh jadi jika ada sesuatu ku mohon jangan kau simpan sendiri."
Sasha tertawa geli. "Kau pasti terlalu banyak melihat drama amatiran dimana tokoh utama pria dan wanita terpaksa menikah meski tidak saling kenal." Celetuk Sasha melihat betapa dramatisirnya sosok Alya ini.
"Aku sendiri penasaran akan hal ini tapi jujur semakin lama aku bersamanya semakin aku merasa aku sangat mengenal baik dirinya." Lanjut Sasha dengan suara yang sedikit memelan diakhir kalimatnya.
Alya menatapnya cemas. "Tapi kenapa kau tampak murung ketika mengatakannya?"
Sasha menggeleng. Ia tak mau pemikiran anehnya ini ia bicarakan. Bagaimana pun juga itu hal yang tidak masuk akal.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong perut sebesar itu, apa masih terasa nyaman?" Sasha mengalihkan pembicaraan.