
Keduanya terdiam dalam keterkejutan mereka masing-masing. Lion yang terkejut karena sadar ia baru saja meneriaki Sasha, dan Sasha yang terkejut karena tiba-tiba Lion meneriakinya dengan raut wajah yang begitu marah.
"Sasha aku-"
"Tidak papa Lion, sepertinya kau dalam suasana hati yang buruk pagi ini. Harusnya aku tidak perlu banyak bicara." Potong Sasha cepat tak ingin mendengarkan apapun.
Lion meraih tangan Sasha. "Tidak Sasha ku mohon dengarkan aku."
Sasha menarik tangannya dari Lion. Ia berikan senyum simpul kearah sang suami. "Sepertinya sudah saatnya kau berkerja, sudah terlalu lama kau menyulitkan tuan Alan. Pergilah bersiap."
Lion tak lagi berani memanggil nama Sasha. Ia biarkan wanita itu pergi meninggalkannya sendirian di halaman rumah mereka.
Tangannya mengacak kasar rambutnya. "Arg!" Teriaknya frustasi. Harusnya ia bisa mengendalikan diri disituasi penting seperti ini. Wanita hamil muda di pagi jauh lebih sensitif. Ia yang sudah pernah melewati masa ini harusnya tau benar hal itu tapi ia tetap melakukan kesalahan.
"Dasar kau bodoh Aolion! Bodoh!"
"Apa ada yang anda inginkan nyonya? Bagaimana cara agar kami dapat menghibur anda?"
Suara terbata-bata dari sebelah kirinya membuat Sasha menoleh. Disana terdapat robot rumah tangga cerdas yang Lion ciptakan untuk menggantikan semua tugas orang-orang yang beberapa waktu lalu ia perkerja kan.
Sasha menghela nafas. "Kemari lah Mil." Titahnya.
Mesin berwarna putih dengan bagian kepala yang menyerupai figuran Hello Kitty itu mendekat kearah sang nyonya yang harus ia layani sesuai program yang Tuannya atur. "Saya siap melayani anda nyonya Astrada."
Sasha membawa benda yang saat ini berukuran kecil itu ke dalam pangkuannya. "Apa aku menyebalkan Mil?"
"Tidak nyonya. Nyonya adalah wanita tercantik dan juga hebat di dunia." Jawab Mil dengan senyum lucunya.
Sasha tersenyum kecil mendapati jawaban otomatis yang selalu sama setiap kali ia meminta pendapat pada Mil tentang dirinya. Jawaban yang sudah Aolion persiapkan. Dengan kata lain ini adalah jawaban dari Aolion.
"Benar kan? Aku cantik kan?" Tanya Sasha lagi.
"Ya nyonya. Nyonya adalah wanita tercantik dan juga hebat di dunia."
__ADS_1
Sasha tertawa gemas. Diusapnya kepala sang robot dengan lembut sebagai bentuk pujian. "Kau luar biasa Mil!"
Lion tersenyum lega melihat istrinya sudah tersenyum lagi sekarang. Layaknya suasana hati yang begitu labil, dia pun mudah memperbaiki moodnya juga.
"Apa hanya dia yang luar biasa?" Tanya Lion sembari menghampiri keduanya yang tengah berada dalam kursi ayunan Ganting di dekat kolam. "Bagaimana dengan pembuatnya?"
Sasha menoleh melihat Lion yang datang padanya. "Sepertinya aku sudah menyuruhnya berkerja tuan Lion. Kenapa kau masih disini?" Tanya Sasha dengan nada judesnya.
Lion berlutut dihadapan Sasha. Digenggamnya kedua tangan mungil Sasha dengan lembut. "Maafkan aku Sasha, aku tau aku salah. Harusnya aku tidak berteriak seperti itu pada mu dengan alasan apapun." Ia cium jari-jari mungil Sasha yang ada dalam genggamannya. "Sungguh aku menyesal melakukannya Sasha.. "
"Sungguh kau menyesal?" Tanya Sasha meragukan.
Lion mengangguk dengan wajah memelasnya. "Katakan bagaimana cara ku membuktikannya agar kau mau memaafkan ku."
"Apa kau punya ide Mil?" Tanya Sasha pada benda besi yang sejak tadi anteng dalam pangkuannya.
"Tuan akan merusak perangkat saya jika saya memberi saran pada nyonya." Jawab Mil jujur.
Sasha tak bisa pungkiri, benda ini benar-benar dibuat cerdas. Ia bahkan bisa memperkirakan dengan watak Lion itu ia pasti akan mendapat dampaknya seperti yang ia katakan.
"Nyonya luar biasa!" Mata Mil kini berbentuk bintang menunjukkan betapa kagumnya ia pada sosok pahlawan kuat di depannya.
"Cih, dasar robot murahan! Bisa-bisanya dia mudah terpengaruh dan membangkang dari tuan-akh! Akh! Sasha aku tidak lagi!" Teriak Lion di akhir kalimatnya karena Sasha tanpa belas kasih menarik telinganya.
"Nyonya ikat saja tangan dan kaki tuan di ranjang, lalu telanjangi tuan,"
Blush!
Wajah Sasha memerah padam mendengar ide dari hasil otak Mil. Lion sendiri hanya mendengus jengkel. Mau bagaimana pun ini salah robot yang ia program. Tentu saja cara analisanya sama seperti otaknya. Ini adalah model hukuman yang sama yang akan ia berikan jika Sasha berulah padanya suatu saat.
"Lalu nyonya-"
"Berhenti Mil!" Teriak Sasha tak sanggup lagi mendengarnya.
__ADS_1
Aolion tersenyum jail. Ia letakan kepalanya pada pangkuan Sasha, menatap wajah Sasha yang tengah memerah, menggemaskan. "Aku siap merima hukuman apapun dari mu tuan putri." Tantang Lion dengan berani pada istrinya.
Sasha menatap sebal kearah Lion. Bagaimana bisa Lion yang saat ini harus memohon belas kasihnya terlihat seakan berada diatasnya, mengendalikan dirinya.
"Jadi apa perintah mu, nyonya Astrada?" Tanya Lion menuntut jawaban.
Sasha berdecak jengkel. "Gantikan semua tugas Mil memasak. Aku tidak menerima masakan hambar!"
"Baik nyonya!" Jawab Lion dengan semangat. Ia turunkan Mil dari pangkuan Sasha. Ia condong kan wajahnya kearah Sasha. "Beri aku satu ciuman!"
Sasha mengangkat satu alisnya.tak mengerti.
"Agar aku yakin bahwa kau tidak lagi marah pada ku." Jelas Lion.
Sasha mendengus singkat. Ia tau ini hanya modusnya, namun dirinya tetap menunduk memberikan satu kecupan hangat untuk sang suami yang begitu tampan ini.
.
Diambilnya sisir di tangan Sasha, ia gantikan tugas menyisir rambut panjangnya. Dengan hati-hati ia mulai menyisirnya. "Apa kau yakin aku harus pergi besok?" Tanya Lion mengingatkan pembicaraan mengenai perkerjaannya bersama Sasha saat makan malam tadi.
"Ya Lion, kau sudah terlalu lama membolos meninggalkan kursi mu." Jawab Sasha serius karena tak ingin lagi diragukan oleh Lion. "Lagi pula perut ku sudah mulai besar bukan? Anak mu akan baik-baik saja. Mil dan Hil juga akan selalu mengawasi ku menggantikan mu."
Lion menghela nafas berat. Rasanya kecemasannya akan segala keraguan dari perbuatannya ini tak pernah bisa hilang begitu saja dari benar Lion.
Lion letakan sisir yang baru saja ia gunakan di meja rias depan Sasha. Matanya menatap lurus kearah cermin dimana pantulan wajah Sasha berada. "Jika kau membutuhkan ku tolong segera hubungi aku secepatnya. Secepatnya Sasha." Titahnya tegas tak ingin dibantah.
Sasha putar tubuhnya menghadap kearah Lion. Ia kalungkan tangannya di seputar leher pria itu. Menarik Lion agar mendekat padanya. "Aku janji."
Lion menyerah. Lagi pula memang sudah saatnya ia datang dan mengurus masalah sang paman yang mulai mengusik perusahaannya. Dengan hati-hati ia angkat tubuh Sasha. Membawanya ke kasur mereka.
Lion belai wajah Sasha yang terlihat sayu karena terserang rasa kantuk. Ia kecup sekilas bibir mungilnya lalu beralih mencium dahinya. "Tidurlah kucing manis ku, aku menyayangi mu."
"Hmm.." gumam Sasha lirih dan mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
Lion menatap wajah Sasha dengan lembut. Semuanya akan baik-baik sa-tidak, tapi harus. Semuanya harus baik-baik saja.