
Aolion tersenyum masam mendengar pertanyaan yang Sasha ajukan padanya. Tidak, itu bukan lah sebuah pertanyaan. Itu jelas adalah sebuah hinaan untuknya. "Kau menghina ku?"
Sasha tersenyum lebar dengan wajah innocentnya. Ternyata dugaan dalam kepalanya itu benar. "Pengendalian diri mu sangat lemah ya Tuan muda Astrada. " Ejek Sasha dengan puasnya. "Benar-benar singa yang buas." Lanjutnya membelai dengan begitu lembut garis rahang sang pria.
Aolion menarik nafas berat, menatap Sasha dengan wajah putus asanya. "Jika kau sudah tau hal itu, bukan kah seharusnya kau berbelas kasih pada ku dan segera menyetujui lamaran ku sekarang juga?" Desak Lion tak sabaran bak anak kecil yang ingin ke toilet untuk menuntaskan panggilan alamnya.
Sasha tertawa kecil melihat betapa lucunya pria ini. "Jika pun aku berkata iya, kita tak bisa menikah hari ini juga Lion. Kita harus menyiapkan banyak hal-"
"Kita bisa. Karena aku sudah menyiapkan semuanya." Potong Lion cepat. "Apa itu artinya iya?" Lanjutnya penuh harap.
Sasha berkedip lucu menatap pria yang begitu menantikan jawabannya. Ia tak mengira disaat pria itu dengan enteng melamarnya yang ia pikir hanya lamaran asal-asalan, ternyata dibalik sikapnya yang terlihat santai dia sudah mempersiapkan semuanya. "Kau.. sungguh?" Tanya Sasha memastikan.
"Aku tak pernah seserius ini sebelumnya." Jawab Lion dengan sangat yakin. "Persiapan ku untuk melamar mu tidak semudah yang kau kira Sasha, banyak hal yang harus ke selesai kan."
"A-aku rasa jika hari ini terlalu tiba-tiba, ini juga sudah tengah hari. Media bahkan masih sibuk memastikan apakah kita berpacaran atau tidak, jadi.. ku rasa, apa tidak masalah kalau minggu depan?" Ia tak tau lagi alasan rasional macam apa yang membuatnya menolak Lion. Dirinya akan dianggap tidak berakal jika menolaknya bukan?
"Tanggal sembilan." Dengan malu-malu Sasha menyarankan tanggalnya.
Aolion tersenyum puas mendengar jawabannya. Ia mengangguk setuju. Satu minggu lebih baik daripada satu bulan. "Tanggal sembilan." Sepakatnya.
"Ngomong-ngomong, jika semua siap, bagaimana bisa kau yakin tanpa bertanya pendapat ku?" Tanya Sasha dengan wajah merengut tak senang. Bagaimana pun juga ini pernikahan mereka berdua.
"Karena aku yakin kau akan suka Sasha, sama seperti aku yakin kau akan menyukai ku, semua yang ku persiapkan untuk mu juga hanyalah sesuatu yang akan kau sukai." Balasnya dengan semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil Sasha. Ia hirup dalam aroma tubuh yang mengguar dari seorang Sasha. Aroma yang sangat membuatnya candu.
"Mengapa kau sangat begitu terlihat tak sabaran dalam mendekati ku Lion? Kau bahkan tak memberi ku kesempatan untuk mengenal mu lebih dulu" tanya Sasha penasaran. Meski sebenarnya ia bersyukur dengan tindakan Lion yang langsung menunjukkan keseriusannya, membuat ia tak perlu curiga pria kaya ini hanya akan bermain-main dengannya.
"Aku memang bukan orang yang bisa bersabar terhadap mu Sasha," matanya yang sempat terpejam karena terbuai aroma Sasha kembali terbuka, menatap lekat mata coklat kemerahan milik wanita yang ia damba. "Aku tak mau memberi kesempatan untuk seseorang menarik perhatian mu. Di mata mu, kau hanya boleh melihat ku Sasha. Apa aku terdengar sangat egois?" Tanyanya cemas.
Sasha mengangguk membenarkan pertanyaan Lion. "Egois." Jawabnya dengan senyum manisnya menunjukkan bahwa ia tidak mempermasalahkan keegoisan Lion. Bahkan ia malah merasa cukup senang mendapati seorang yang bagai pangeran begitu amat mendambakannya seperti ini. "Sepertinya karena ini pula kau tak menyukai perkerjaan ku. Mengajak ku menikah jika cara mu untuk membuat ku berhenti bukan?"
Lion tersenyum lebar tanpa rasa bersalah. Mengecup cepat pipi Sasha."Bagaimana bisa kau sepintar ini sayang? Aku jadi khawatir tidak bisa memonopoli dirimu jika kau terlalu peka seperti ini"
Sasha mengalihkan pandangannya dari Lion, mengerucutkan bibirnya menunjukkan ketidak senangannya. "Tidak kah kau sadar mata mu yang menghantui ku selama pemotretan, bahkan itu membuat ku bermimpi buruk!" Ketus Sasha yang mulai jengkel karena mengingatnya lagi. "Kau benar-benar berubah ketika di pertemuan kedua dan sekarang, benar-benar mengerikan. Apa kau akan terus seperti ini tiap aku berkerja?"
__ADS_1
"Mana ada Sasha, kau kan sudah tidak butuh pekerjaan itu lagi. Kau pikir calon suami mu ini tak cukup untuk membiayai mu?" Balas Aolion santai.
Sasha menoleh menatap Lion kaget. "Maksud mu, aku.. akan langsung berhenti?"
"Kau bahkan sudah berhenti sekarang, aku sudah membayar semua denda kontrak yang batal." Jawab Lion dengan entengnya.
Sasha memicing tak senang. "Ini kan urusan ku, kau seharusnya membicarakan hal ini dulu pada ku."
"Aku janji akan selalu memenuhi keinginan ratu ku ini, bisa kah kau memaafkan ku?" Mohon Lion dengan rayuannya.
Sasha memalingkan wajah menghindari Aolion. Licik sekali, bagaimana bisa dia sangat pandai memanfaatkan ketampanannya itu. Sasha membatin kesal karena luluh hanya dengan sedikit rayuan dari Aolion. "Lupakan itu, bawa saja aku ke persiapan yang sudah kau buat. Aku ingin melihat!" Ketusnya tak mau lagi berdebat mengenai ketidakterimaannya. Bagaimana pun ia tau bahwa dirinya akan kalah dari seorang Astrada.
"Dua jam lagi aku ada rapat, apa tidak papa kau- tidak tidak, akan ku majukan rapatnya sekarang. Setelahnya kita keluar melihat persiapan ku untuk mu." Putusnya tak ingin membuat kekasih nya ini terlalu lama menantinya.
"Kau tidak perlu mempercepatnya Lion, aku bisa menunggu disini." Sasha berusaha memberikan perhatiannya.
Lion menggeleng menolak. "Bagaimana bisa aku membuat Sasha ku menunggu hanya untuk melihat gaun pernikahannya, akan ku persingkat rapatnya. Jika kau bosan, datang lah ke lantai tujuh belas di ruang rapat. Robot di luar bisa kau mintai tolong jika kau tak tau letaknya."
"Aku mengerti aku mengerti, cepat pergilah..." Usir Sasha ingin segera melepaskan diri dari Lion.
"Lion!"
"Aish, baiklah baiklah yang mulia ratu." Lion menyerah. Dengan berat hati ia turunkan Sasha dari pangkuannya.
Cup!
"Aku menyayangi mu." ucapnya sebagai ganti dari salam perpisahan. Sasha tersenyum simpul. "Aku tau Lion, pergi lah."
.
Rapat yang biasanya harus memakan waktu tiga jam, kini hanya menghabiskan satu jam. Itu bahkan masih membuat Lion berlarian di lorong dengan tergesa karena baginya ia sudah terlalu lama membuat Sasha-nya menunggu. Dirinya bahkan tidak melirik sedikit pun betapa mengenaskannya para karyawan yang ia buat berkerja keras untuk mempersingkat waktu rapat.
Pintu otomatis terbuka saat ia sudah mulai mendekat kearahnya.
__ADS_1
"Sasha! Aku maaf membuat mu lama..." suaranya yang begitu bersemangat langsung secara otomatis memelan ketika sosok Sasha mulai terlihat dipandangnya dalam keadaan terlelap damai.
Lion menghembuskan nafas pelan. Ia dengan langkah hati-hati mendekati kursi kerjanya yang Sasha pakai untuk tidur. Di belainya rambut kecoklatan panjang milik Sasha dengan lembut. "Kau akan sakit punggung jika tidur sambil duduk begini Sasha" ucapnya dengan suara pelan.
"Emm.." lenguh Sasha sedikit merasa terganggu dengan sentuhan Lion.
Lion terkekeh pelan melihat betapa lugunya bayi besar yang sedang tertidur ini. Dikecupnya sekali pipi tembem Sasha yang begitu menggodanya. Jika saja Sasha tidak terlelap, ia pasti akan menggigit benda empuk ini. "Selamat tidur, nyonya Astrada."
.
Sasha yakin ada hal yang janggal disini. Ingatan terakhirnya adalah ia berada di ruangan Aolion, tengah duduk sibuk mengotak-atik komputer berisi data berharga milik pria itu. Tapi kini bisa ia rasakan bahwa dirinya sedang berbaring nyaman di sebuah kasur yang begitu empuk dan juga lembut. Kasur rumahnya tidak setinggi ini kualitasnya, bau ruang kamarnya juga tidak se-fresh bau mint ini. Bau yang memenuhi indra penciumannya ini tak asing untuknya. Bau tubuh Lion. Dengan segera ia membuka mata ketika nama pria itu muncul sebagai tersangka utama dalam otaknya.
Tepat saat Sasha membuka mata, Lion langsung menyambutnya dengan senyuman manis tanpa dosa. "Kau sudah bangun?" Tanyanya dengan suara lembutnya. Tangan pria itu masih aktif memainkan helai demi helai rambut Sasha yang terjuntai begitu saja. "Tidurlah lagi Sasha, ini masih gelap."
"Ini dimana Lion?" Tanya Sasha dengan nada mengancamnya menuntut jawaban.
Lion tersenyum lembut. "Kamar mu tentu saja." Jawabnya santai.
"Kamar ku tidak bercat putih Lion. Kasur ku juga tidak senyaman ini." Bantah Sasha mendengar jawaban tidak masuk akal itu. Jelas-jelas ini bukan kamar kecilnya. Luas kamar Ini bahkan sama seperti ruang tamu dan ruang tv rumahnya yang dijadikan satu.
Lion menarik Sasha kedalam pelukannya, ia memejamkan matanya berniat beristirahat. "Aku bersungguh-sungguh Sasha, ini kamar mu. Satu minggu lagi. Bagaimana? Kau suka?"
Sasha melebarkan matanya kaget. Pria ini bisa-bisanya membawanya ke rumahnya begitu saja. Ia gunakan kedua tangannya berusaha mendorong dada kekar Lion. "Lepas Lion..!"
"Sasha jangan memancing ku." Lion berkata dengan suara lirihnya yang memohon. Ia semakin mendekap erat tubuh kecil Sasha hingga seakan Sasha tenggelam dalam tubuhnya. "Tidur lah lagi, aku tak akan menyerang mu selama kau tidur karena itu lah, kau sebaiknya segera tidur agar kau aman."
Sasha berdecak pelan. "Bukankah seharusnya kau yang pergi agar aku jauh lebih merasa aman?" Gerutunya jengkel.
Lion terkekeh pelan. Ia cium wangi rambut Sasha yang begitu menenangkannya. "Kau pikir aku akan melewatkan tidur berdua dengan mu?"
"Hmm.." Sasha hanya bergumam tak berani menjawab dengan kata-kata. Ia terlalu malu jika harus berkata bahwa dirinya ini terlalu spesial untuk Lion lewatkan begitu saja. Dibalasnya pelukan hangat Lion pada tubuhnya. "Selamat tidur, Lion."
Lion membuka matanya yang sempat ia pejamkan. Senyum tipisnya terukir. Padahal ia berpikir akan sulit baginya untuk tidur kali ini. Tapi mendengar kalimat itu dari Sasha, seakan Sasha telah memantrainya agar segera tidur. Kini ia mulai tertarik kedalam dunia mimpinya. Matanya kembali terpejam secara perlahan. Tidurnya kali ini, pasti akan sangat pulas. Lion yakin itu.
__ADS_1
"Selamat tidur, sayang.."