
Melihat Sasha yang terlihat jauh lebih pendiam pagi ini membuat Lion gelisah. Bahkan pagi ini ia tak mendapatkan ciuman selamat pagi yang biasa Sasha berikan untuknya.
Lion yang tak mau dirundung gelisah akhirnya pun memilih bertanya. "Apa ada yang mengganggu mu sayang? Apa kau merasa tidak enak badan?"
Sasha tersentak kaget karena ia sedang melamun sejak tadi. Sendok ya bahkan tak bergerak sejak tadi dan hanya dua suapan yang baru masuk ke dalam mulutnya. "Ah maaf, sepertinya aku terlalu banyak melamun. Kau tak perlu khawatir, aku baik-baik saja."
"Sungguh?" Lion tak begitu percaya.
Sasha tersenyum manis berusaha menghilangkan keraguan Aolion terhadapnya. "Ya, aku baik-baik saja."
Lion mengangguk mengerti. "Katakan saja pada ku atau Mil dan Hil jika ada sesuatu yang mengganggu mu."
Sasha mengangguk patuh. "Aku mengerti." Sasha melanjutkan acara sarapan paginya. "Oh ya, hari ini aku akan keluar bersama Alya. Aku akan menemaninya berbelanja kebutuhan bayinya karena saat ini sudah mendekati hari kelahirannya."
Lion menghentikan kunyahan mulutnya. Kepalanya terangkat menatap istrinya. "Dia sebentar lagi akan melahirkan? Selama ini dia hamil?"
Sasha mengernyit tak mengerti. "Tentu saja dia hamil sudah delapan bulan ini, apa kau tak lihat perut besarnya itu?"
"A-ah.. " sahut Lion dengan suara pelan. Ia kini tengah memutar otaknya memikirkan sesuatu.
Perubahan kehamilan Sasha yang lebih cepat jelas karena ia yang mempercepat pernikahan mereka. Helian yang tak sempat menyentuh istrinya juga karena ia memang berusaha sejak kedatangannya kemari. Tapi putra keluarga Willson yang lahir secepat ini, ini tidak ada kaitannya dengan dirinya.
Lion sangat yakin tak ada hal yang membuatnya menghasilkan perubahan pada keluarga teman Sasha itu. Nyonya Willson memang melahirkan lebih dulu dibanding istrinya, tapi itu disaat usia Sasha dua puluh lima tahun. Sekarang istrinya masih dua puluh tiga, kenapa dia sudah mau melahirkan?
Sasha pegang tangan Lion, menyadarkan pria itu dari lamunannya. "Apa yang kau pikirkan? Pikiran mu terlihat keluar sekali hanya karena kabar Alya, tidak biasanya kau peduli begini.."
"Hm, aku hanya," Lion menampilkan senyuman untuk menghilang rasa penasaran istrinya. "Aku jadi tidak sabaran karena ingin melihat anak ku juga!"
Sasha mendengus pelan. "Dasar!"
"Ngomong-ngomong.." Lion menatap istrinya hati-hati. "Apa kau tau anaknya itu laki-laki atau perempuan?"
"Katanya sih perempuan, padahal mereka sudah menyiapkan nama laki-laki, mereka jadi harus memikirkan nama lagi katanya." Sasha melahap makanannya setelah memberi jawaban pada suaminya.
Lion membeku. Ia memaksakan tetap tersenyum biasa. "Perempuan..? Apa, itu sudah pasti?"
Sasha mengangguk. "Kenapa kau sangat ingin tau begini? Kau terlihat aneh Lion," celetuk Sasha enteng namun cukup membuat Lion gelagapan.
"Ah tidak, aku hanya, kita kan harus memberinya hadiah sesuai dengan kelaminnya." Lion beralasan.
__ADS_1
"Hmm," Sasha hanya menyahuti dengan gumaman dan pembicaraan berakhir disini.
.
"Maaf ya merepotkan mu, suami ku sibuk akhir-akhir ini jadi dia tak bisa menemani ku berbelanja perlengkapan si baby," ucap Alya tak enak hati.
Sasha menggeleng tak mempermasalahkan. "Aku juga sekalian ingin melihat-lihat." Sahutnya enteng. "Bukankah kau suka biru? Itu disana semua bertema Doraemon!"
Alya menoleh kearah tangan Sasha mengarah. "Ayo kesana!"
Sasha mengangguk. Keduanya berjalan kearah tempat yang Sasha tunjuk tadi.
"Katanya tanpa alasan pak Helian sudah tidak menunjukkan diri lagi sejak insiden lengan nya itu ya, padahal beritanya berkata beliau sudah baik-baik saja.."
"Itu benar, semua tinjauan dilakukan oleh wakilnya."
Sasha angkat boneka Doraemon di depannya.
"Bukankah tuan Aolion juga tak muncul bahkan saat pamannya terluka?"
"Kalau dipikir-pikir, setelah menikah bukankah memang sudah tak pernah terlihat lagi?"
"Sasha! Lihat ini! Bukankah ini lucu?" Alya mengangkat sebuah boneka Doraemon besar dengan model penyihir.
Sasha mengangguk setuju dengan pendapat Alya. "Tapi Alya, sepertinya kau lupa bahwa kita membeli sesuatu untuk bayi yang akan lahir, bukan ulang tahun anak usia tiga atau empat tahun." Sasha mengingatkan.
"Boneka kan tak akan basi meski disimpan tiga atau empat tahun ke depan." Alya memberi argumen dan tetap memasukan boneka besar itu dalam list barang yang ia beli hari ini.
Sasha mendengus pelan. "Cepatlah beli semua yang benar-benar akan kau butuhkan. Kau tak bisa terlalu lama berbelanja seperti ini nyonya Willson."
"Baiklah baiklah," patuh Alya.
Meski Sasha sudah memintanya untuk mempersingkat waktu, yang namanya wanita jika sudah di tempat belanja tentu akan sangat betah. Sasha baru sampai rumah setelah hari mulai sore padahal mereka pergi sekitar jam sepuluh pagi.
"Selamat datang nyonya!" Sambut Mil. "Mau saya siapkan air hangat?"
"Tidak Mil. Apa Lion ada di ruangannya?" Tanya Sasha sembari memasuki rumahnya.
"Ya nyonya. Beliau masih di ruangannya." Jawab Mil.
__ADS_1
Sasha pun melangkah menuju ruangan dimana katanya suaminya berada. Saat ia sudah di depan pintu kaca, pintu itu segera membelah memberi akses untuknya masuk. "Lion kau sibuk?"
"Tidak terlalu," jawab Lion tanpa melihat istrinya yang kini mendekat dari arah belakang. "Bagaimana kegiatan belanja mu?"
"Ah ya, karena itu keluar aku jadi teringat akan sesuatu yang harusnya kita bahas."
Lion memutar kursinya. Saat ia memutar kursi, dihadapannya sudah ada istrinya yang menatapnya seakan menuntut sesuatu. Lion mengangkat satu alisnya. "Apa aku melupakan sesuatu?"
Sasha mengangguk. "Helian Astrada. Kau melupakannya."
"Haruskah kita membahasnya? Itu bukan pembahasan yang menyenangkan untuk seorang ibu hamil." Ungkap Lion tak yakin jika harus diminta mengatakannya. Istrinya baru memasuki usia enam bulan. Kandungannya baru dalam tahap aman.
"Lalu kau menyuruhku untuk terus gelisah karena tak tau apapun?" Sasha memberi pilihan lain yang jelas tak mungkin juga suaminya pilih. "Aku baik-baik saja Lion. Biarkan aku tau tentang keluarga mu. Tentang Astrada."
Lion menghela nafas pasrah. Ia tarik pelan tangan Sasha agar jatuh dalam pangkuannya. "Aku memang tak pernah menang dari mu ya." Lion mengecup sekilas pipi merona Sasha sebelum memulai ceritanya.
"Helian Astrada adalah orang yang menginginkan ku terus menjadi poinnya. Seperti yang kau tau, aku memiliki kelebihan yang tidak banyak orang lain miliki dan dia menginginkan itu." Lion memulai ceritanya.
"Lalu kau baru melakukan pembantahan sekarang?" Tanya Sasha memastikan dugaannya.
Lion mengangguk. "Itu karena aku terlambat menyadari bahwa aku hanya dijadikan sebagai anjing peliharaannya selama ini. Melihat hewan yang telah ia jinakan lepas tentu saja itu membuatnya berusaha mengendalikannya lagi."
"Dengan memanfaatkan ku ya," tambah Sasha menebak secara tepat lagi.
"Kira-kira begitu lah hubungan kami yang perlu kau tau."
Cup!
Lion mengecup bibir Sasha sekilas. "Untuk lain-lainnya, itu bukan hal penting yang harus kau tau. Sudah cukup kan?"
Sasha menggeleng. "Bagaimana cara mu yang selama ini selalu dikendalikan bisa lepas begitu saja bahkan hingga bisa menyerang balik?"
"Tentu saja karena suami mu ini jauh lebih kuat darinya sayang," sombong Lion. "Jika dulu aku tak termakan provokasinya sudah pasti tak mungkin pria itu bisa memiliki kenyamanan dan status tinggi seperti ini. Sekarang istirahat lah, aku yakin kau pasti lelah."
"Pertanyaan terakhir Lion." Sasha meminta satu kesempatan lagi.
Lion mengangguk mengizinkan. "Katakan lah."
"Apa aku pernah mengenal mu sebagai sosok Ao?"
__ADS_1